fbpx
Beranda Khazanah Inilah Pesan Mbah Hasyim untuk Umat Islam Indonesia, FPI Perlu Merenungkannya

Inilah Pesan Mbah Hasyim untuk Umat Islam Indonesia, FPI Perlu Merenungkannya

Harakah.id Rentetan persitiwa di atas timbul pertanyaan serius. Apakah ini yang dimaksud Revolusi Akhlak ala FPI? Ataukah ini ciri kemunduruan Umat Islam dengan menebar cacian? Sudah barang tentu publik menilai kondisi umat Islam saat ini sedang tidak baik-baik saja. Situasi serupa ternyata sudah pernah terjadi pada kurun waktu 1920-an. Inilah pesan Mbah Hasyim untuk umat Islam Indonesia.

Beberapa hari ini, Indonesa diselimuti polemik perbedaan mencolok di kalangan umat Islam. Hal ini terjadi tidak lepas dengan kemunculan sosok Imam Besar FPI setelah sekian lama menetap di Arab Saudi kini telah kembali. Tidak sampai disitu, muncul kasus lain seperti perseteruan Nikita Mirzani dengan Maheer At Thuwalibi, dugaan penghinaan Habib Luthfi bin Yahya oleh Soni Ernata dan terakhir polemik isi ceramah HRS pada peringatan Maulid Nabi yang dianggap ucapannya tidak pantas untuk disampaikan.

Masih dalam suasana mengagungkan Muhammad. HRS merayakan Maulid Nabi dengan suka cita. Namun, di sela-sela isi ceramahnya ia menyingung sebutan kata tidak pantas. Ini yang kemudian menimbulkan kecaman keras dari berbagai kalangan. Sikap dan perilakunya sangat disayangkan. Peringatan Maulid Nabi yang seharusnya menjadi bahan intropeksi diri untuk meniru teladan Muhammad malah berubah menjadi adu cacian.

“Tentu perkataan yang disampaikan itu tidak elok, apalagi dalam forum seperti itu,” kata Divisi Humas Rabithah Alawiyah (wadah habaib se-Indonesia) dalam keterangannya kepada detik.com, Senin (16/11).

nucare-qurban

Rentetan persitiwa di atas timbul pertanyaan serius. Apakah ini yang dimaksud Revolusi Akhlak ala FPI? Ataukah ini ciri kemunduruan Umat Islam dengan menebar cacian? Sudah barang tentu publik menilai kondisi umat Islam saat ini sedang tidak baik-baik saja. Situasi serupa ternyata sudah pernah terjadi pada kurun waktu 1920-an. Saat itu, umat Islam Indonesia terbagi menjadi dua golongan besar.

Greg Fealy dalam Ijtihad Politik Ulama (2003) menyebutkan bahwa pada awal abad ke-20 kondisi umat Islam Hindia-Belanda terdapat dua kaum bersebrangan yaitu Tradisonalis dan Modernis, yang keduanya memikiki cara pandang tersendiri terkait ajaran Islam.

Konflik perbedaan agama pada dekade 1920-an bisa dikatakan carut marut. Tradisionalis kukuh dengan ajaran mengkawinkan budaya lama yang baik menjadi lebih baik. Sementara kaum Modernis tidak lepas dengan munculnya gerakan Pan-Islamisme yang dipelopori Jamaluddin al-Afghani, Muhammad Abduh, Rasyid Ridha dan tokoh lainnya. Mereka dengan jargon Islam Puritannya memilki pandangan baru yakni anti tradisionalis bahwa segala ihwal yang berkaitan dengan kemusyrikan seperti ziarah dan kegiatan lainnya yang tidak sesuai al-Qur’an dan Sunnah Rasul itu bid’ah, meyimpang dan harus ditinggalkan.

Perbedaan itu merambat dari tingkat lokal hingga skala nasional. Openbaar Debat adalah sebutan tren masa itu yang menyelenggarakan debat secara resmi dan terbuka terkait paham keagamaan. Bahkan kaum modernis sampai menuduh bahwa kepercayaan yang di anut kaum tradisionalis itu kafir. Tidak hanya itu, posisi kyai dalam mengajarkan praktik agama pun di kritik hingga pengetahuan yang dimiliki dianggap kolot.

Padahal Mbah Hasyim tidak demikian. Ia adalah ulama ahli hadits bergelar Hadratussyaikh. Ia bisa dikatakan sebagai salah seorang golongan modernis paling awal di Indonesia. Sejak tahun 1892 ia telah belajar ke Mekkah dan berkesempatan berguru kepada para ulama masyhur kala itu. Singkat cerita pemikiran dan kebebasan tentang keislaman (perbedaan madzhab) Mbah Hasyim semakin terbuka. Meski berbarengan dengan gencarnya gerakan pemurnian Islam M. Abduh yang berawal dari Mesir kemudian merambat ke Mekkah hingga menarik para santri Indonesia. Seperti KH. Ahmad Dahlan yang kelak mendirikan Muhammadiyah. Sementera Mbah Hasyim sebenarnya menerima gagasan yang diusung Abduh untuk membangkitkan dan memurnikan ajaran agama Islam. Namun, ia menolak pemikiran Abduh agar umat Islam harus lepas dari keterikatan madzhab.

Sepulangnya dari Mekkah. Ia lalu mengabdi dan mengajar di pesantren Gedang milik kakeknya Kyai Usman. Tidak lama, ia mendirikan pesantren Tebuireng. Ia juga mengajar dengan metode pendidikan baru hingga pembaharuan dalam ajaran agama pun dijadikan sebagai spirit perjuangan melawan penjajah. 

Metode dakwah Mbah Hasyim pun terbilang unik. Ia menuangkan gagasannya melalui penulisan kitab. Sehingga tidak heran jika Mbah Hasyim melahirkan banyak karya kitab semasa hidupnya. Kaya fenomenal yang sampai saat ini masih sering di kaji oleh berbagai kalangan yaitu kitab Risalah Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah fi Hadits al-Mawta wa Ashrat al-Sa’ah wa Bayan Mafhum al-Sunnah wa al-Bid’ah. Kitab tersebut memaparkan paradigma ahlussunnah wal jama’ah dan berisi hadits-hadits tentang kematian, tanda-tanda zaman, serta penjelesan tentang sunnah dan bid’ah.

Keunikan lain dari Mbah Hasyim setiba di Tanah Air adalah ketika ia tidak langsung menjustifikasi bahwa apa yang dilakukan para kyai tradisionalis dianggap menyimpang dan bid’ah. Seperti dikisahkan oleh Lathiful Khuluq dalam Fajar Kebangungan Ulama: Biogragi KH. Hasyim Asy’ari (2000). Di saat kaum modernis mengkritik tentang pendirian madrasah dianggap bid’ah karena tidak diajarkan Rasul, Mbah Hasyim dengan santai bahwa itu adalah sebagai bid’ah atau perbuatan yang baik dan dianjurkan.

Dengan demikian apa yang telah dilakukan Mbah Hasyim secara perilaku maupun melalui kitab Risalah Ahl Al Sunnah wal jamaah dan kitab-kitab lainnya seperti Al-Tibyan: fin Nahyi ‘an Muqota’atil Arham wal Aqoorib wal Ikhwan (Penjelasan tentang larangan memutus Tali Silaturrahmi, Persaudaraan, dan Persahabatan) sudah barang tentu memberikan pemahaman kepada kita bahwa Mbah Hasyim mencoba menjawab keberagaman dan perbedaan umat Muslim Hindia-Belanda kala itu untuk dijadikan pedoman dalam berbangsa dan bernegara.

“Mbah Hasyim mengatakan bahwa perbedaan pendapat di kalangan madzhab merupakan keuntungan bagi umat Islam dan tanda kebaikan Tuhan. Lebih lanjut, para sahabat Nabi pun mempunyai pendapat yang berbeda-beda mengenai masalah agama. Perbedaan di antara mereka tidak mengurangi kualitas mereka karena mereka masih dianggap sebagai generasi umat Islam terbaik. Para Rasul juga dikirim dengan dibekali berbagai macam hukum yang semuanya menuju ke tujuan yang sama,” tulis Khuluk.

Pada tahun 1926 melalui inisiasi Mbah Wahab untuk mendirikan organisasi, maka atas restu Mbah Hasyim berdirilah sebuah wadah yang bergerak di bidang sosial-keagamaan bernama Nahdlatul Ulama (NU). Sejak saat itulah Mbah Hasyim mencoba meyebarluaskan pemikiran keislaman di tengah-tengah masyarakat. Sebagaimana pendapat Mbah Hasyim tentang al-Muhafadhatu ‘ala Qodimi al-sholih wal akhdzu bi al-jadidil ashlah (memelihara, menjaga tradisi baik, dan membangun inovasi yang lebih baik). Ini yang kemudian menjadi dalil kaidah fiqh sunni yang terus dipegang NU sampai saat ini.

Lathiful Khuluq dalam bukunya menceritakan saat Mbah Hasyim berpidato pada Muktamar NU ke-11 di Banjarmasin. Menurutnya Mbah Hasyim memberikan pesan dan kesan yang begitu mendalam bagi para pengurus dan anggota NU terkait hidup dalam keberagaman. Ia (Mbah Hasyim) menganjurkan kepada seluruh peserta Muktamar agar mengesampingkan semua perseteruan, pertikaian dan perbedaan serta membuang semua perasaan ta’assub (fanatik) dalam berpendapat. Ia menyerukan kepada golongan tradisionalis dan modernis agar bersatu demi mencapai kekuatan Islam yang solid.

Selain itu, ia juga mengajak segenap umat Islam untuk tetap menjaga tali persaudaraan agar bersatu, menjaga kebaikan serta menghindarkan diri dari kehancuran.

“Manusia harus bersatu, agat tercipta kebaikan dan kesejahteraan agar terhindar dari kehancuran dan bahaya. Jadi, kesamaan dan keserasian pendapat mengenai penyelesaian beberapa masalah adalah prasyarat terciptanya kemakmuran. Ini juga akan mengokohkan kasih sayang. Adanya persatuan dan kesatuan telah menghasilkan kebajikan dan keberhasilan. Persatuan juga telah mendorong kesejahteraan negara, peningkatan status rakyat, kemajuan dan kekuatan pemerintah, dan telah terbukti sebagai alat untuk mencapai kesempurnaan. Satu dari banyak tujuan persatuan adalah bersemainya kebajikan yang akan menjadi sebab terlaksananya ide.” Ungkap Mbah Hasyim seperti yang dikutip Khuluq.

Menurut Buya Hamka seorang ulama modernis Muhammadiyah mengatakan bahwa “wasiat keagamaan itu tidak hanya sangat penting bagi para anggota NU, melainkan penting juga bagi seluruh umat Islam di Indonesia.” Catat Khuluk.

Demikian pesan tersirat dari seorang ulama terkemuka pada zamannya yaitu KH. Muhammad Hasyim Asy’ari. Ia lahir di Desa Gedang, Jombang, Jawa Timur pada 14 Februari 1871. Dilahirkan dari rahim pesantren. Sepak terjang semasa hidupnya tentu tidak diragukan lagi. Perlawanannya terhadap penjajah serta kontrbusinya dalam menegakkan dan mempertahankan bangsa adalah salah satu bukti betapa ia mencintai tanah airnya dengan segenap jiwa dan raga. Meski hidup selama 76 tahun yang terbentang antara tahun 1871-1947 dan hidup sebagai bangsa merdeka selama 2 tahun. Namun, kharisma, kealiman, petuah dan semangat juangnya akan tetap teringat hinggi saat ini.

REKOMENDASI

Saking Beratnya Dosa Korupsi, Sampai-Sampai Rasulullah Enggan Menyalati Jenazah Koruptor

Harakah.id - Rasulullah enggan menyalati jenazah koruptor. Ini Fakta. Bukan berarti jenazah koruptor tidak boleh disalati, tapi hal itu menunjukkan kalau...

Menilik Kembali Misi “Revolusi Ahlak” yang Diusung Habib Rizieq Shihab

Harakah.id - Revolusi ahlak adalah satu adagium yang baru-baru ini diperkenalkan dan sepertinya akan menjadi arah baru perjuangan HRS, FPI dan...

Harlah, Natal dan Maulid

Harakah.id – “Harlah, Natal dan Maulid” adalah artikel yang ditulis Gus Dur pada tahun 2003. Meski sudah berusia 17 tahun, namun...

Tidak Seperti Manusia Pada Umumnya, Benarkah Rasulullah Tidak Dilahirkan Dari Lubang Kemaluan? Begini Penjelasannya

Harakah.id – Rasulullah tidak dilahirkan dari lubang kemaluan. Ada keyakinan di kalangan para ulama, bahwa baik Nabi Muhammad maupun Nabi-Nabi yang...

TERPOPULER

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Alasan Sebagian Ulama Mengapa Tak Mau Baca Surat Al-Masad dalam Shalat

Harakah.id - Ada sebagian ulama yang tak mau baca surat Al-Masad dalam shalat. Alasan mereka tak mau baca surat Al-Masad adalah...