fbpx
Beranda Gerakan Inilah Sejarah Perseteruan Sesama Salafi Puris di Indonesia, Pengikut Salafi Jarang yang...

Inilah Sejarah Perseteruan Sesama Salafi Puris di Indonesia, Pengikut Salafi Jarang yang Tahu

Harakah.id – Dalam perkembangannya, Ja’far Umar Thalib yang diminta Abu Nida untuk membantu dakwahnya justru berulah. Hanya karena ingin diakui sebagai Salafi paling murni dan mendapat kucuran dana melimpah dari Timur Tengah, Ja’far menuduh Abu Nida, Ahmad Faiz Asifuddin, Usman Baisa, M. Yusuf Harun, Ahmad Zawawi, sebagai Sururi.

Selain Salafi-jihadi yang dikenal radikal dan ekstrem, di Indonesia juga ada gerakan Salafi puris. Dari sisi ajaran, tidak ada perbedaan menonjol dari kedua kelompok ini. Keduanya sama-sama ingin memurnikan Islam dengan cara kembali ke Al-Quran dan hadis, dan ingin meniru model beragamanya para sahabat. Keduanya juga menolak praktik-praktik yang dianggap bid’ah dan syirik, menolak taklid, dan pakaiannya juga ke-Arab-Araban. 

Namun dalam praktiknya, perbedaan keduanya menjadi sangat menonjol, terutama ketika berada di ranah politik. Kelompok jihadi tak segan menggunakan cara kekerasan ketika tidak sepakat dengan pemimpin atau sistem pemerintahan yang ada, sementara kelompok puris lebih memilih dakwah dan pendidikan daripada mengurus politik. 

Sebenarnya masih ada satu lagi, namanya Salafi Haraki. Tapi karena Din Wahid (2014) memandang mayoritas Salafi di Indonesia lebih didominasi oleh puris, saya tidak akan bahas Salafi Haraki lebih jauh di sini, apalagi Salafi Puris juga sudah sangat kompleks dan beragam seperti yang akan saya jelaskan berikut ini. 

Awal Mula Perpecahan

Sebelum bicara tentang warna-warni Salafi, saya akan jelaskan lebih dahulu awal mula kemunculannya. Meski hanya singkat yang penting runtut. 

Di Indonesia, Salafi mulai tumbuh pada pertengahan tahun 1980an ketika para alumni LIPIA telah kembali dari Arab Saudi. Salah satu aktor yang paling berpengaruh hingga saat ini adalah Chamsaha Shafwan, atau lebih dikenal Abu Nida.

Dibantu oleh dua temannya, Ahmad Faiz Asifuddin dan Aunur Rafiq Ghufron, ia mendakwahkan ajaran Salafi di sekitaran kampus di Yogyakarta dengan mendirikan daurah dan halaqah. Ia kemudian mendirikan Yayasan As-Sunnah pada tahun 1992 di Degolan, Kaliurang, Yogyakarta. 

Dalam perkembangannya, Ja’far Umar Thalib yang diminta Abu Nida untuk membantu dakwahnya justru berulah. Hanya karena ingin diakui sebagai Salafi paling murni dan mendapat kucuran dana melimpah dari Timur Tengah, Ja’far menuduh Abu Nida, Ahmad Faiz Asifuddin, Usman Baisa, M. Yusuf Harun, Ahmad Zawawi, sebagai Sururi, sebuah label untuk pengikut Muhammad Ibn Surur, salah satu pengkritik kebijakan Arab Saudi yang meminta bantuan Amerika untuk melawan Saddam Hussein (Noorhaidi, 2006).

Akibat tuduhan ini, Abu Nida dan teman-temannya dianggap sebagai kelompok yang sangat berbahaya karena dianggap telah mendukung doktrin takfiri. Doktrin ini mengesahkan cara kekerasan untuk menjatuhkan pemimpin yang dianggap sudah menyimpang dari aturan syari’at.

Dalam ajaran Salafi, doktrin ini merupakan salah satu ajaran yang dilarang sebab berani memberontak pada pemimpin yang sah (Noorhaidi, 2006). Dengan kata lain, yang dituduh sebagai  Sururi sama saja sudah menyimpang dari ajaran Salafi murni. 

Dari ulah Ja’far itulah, kelompok Salafi puris kemudian terpecah ke dalam dua jaringan besar; jaringan Abu Nida dan Jaringan Ja’far Thalib. Masing-masing mempunyai pengikut dan lembaga sendiri di seluruh Indonesia.

Abu Nida sendiri pindah ke Bantul, Yogyakarta, dan mendirikan Yayasan baru bernama Majelis At-Turots Al-Islamy pada tahun 1994. Yayasan ini kemudian terus berkembang pesat setelah dibangunnya Islamic Centre Bin Baz pada tahun 2000. 

Selain Majelis Turots Al-Islamy, terdapat juga yayasan-yayasan lain yang didirikan oleh teman-teman atau kader Abu Nida. Di Yogyakarta misalnya, ada Yayasan Pendidikan Islam al-Atsary (YPIA).

Berdirinya yayasan ini tidak bisa dilepaskan dari peran para pengajar di Majelis Turots, seperti Kholid Syamhudi, Abu Sa’ad Muhammad Nur Huda, dan Fauzan bin Abdillah. Selain sangat masif menyelenggarakan dakwah di masjid-masjid dekat kampus di Yogyakarta, yayasan ini juga aktif di internet dan media-media sosial. Tentu saja masih banyak yayasan lain yang sangat berpengaruh dan tidak bisa saya sebutkan semua di sini. 

Lalu bagaimana dengan jaringan Ja’far? Rumit. 

Perpecahan Pengikut Ja’far Umar Thalib

Pada waktu dakwah Abu Nida semakin berkembang pesat, Ja’far justru mengajak para pengikutnya untuk menggelar ritual, meminjam bahasa Noorhaidi (2006), ‘Drama Jihad’ di Ambon pada tahun 2000.

Disebut drama karena Ja’far dan pengikutnya ingin diakui secara luas sebagai garda terdepan pembela Islam, sebab konflik di Ambon pada waktu itu dianggap sebagai serangan dari Kristen. Namun lebih penting dari itu, aksi jihadnya tidak lepas dari permainan politik elit-elit militer yang kontra dengan Gus Dur yang menjadi presiden pada waktu itu.

Para pengikutnya kemudian menilai bahwa aksi Ja’far sudah menyimpang dari ajaran Salafi murni karena sudah terlibat dengan urusan politik. Ini semakin diperparah ketika Ja’far tampil di televisi, berdampingan dengan politisi dan kelompok Muslim garis keras yang mendukung dakwah lewat politik.

Zul Akmal dan Zulkarnain kemudian meminta fatwa kepada ulama Timur Tengah, Rabi’ ibn Hadi al-Madkhali, terkait perilaku Ja’far. Hasilnya adalah Ja’far diminta membubarkan drama jihadnya karena sudah menyimpang dari ajaran Salafi. 

Setelah drama jihad selesai, Ja’far kemudian ditinggal para pengikutnya. Sejak saat itu, mantan aktor drama jihad menjadi terpecah belah ke dalam banyak jaringan.

Sunarwoto (2016) mencatat bahwa setidaknya ada tiga jaringan yang saling berseteru. Jaringan pertama adalah Lukman Baabduh, mantan wakil panglima Laskar Jihad. Dalam jaringan ini juga terdapat figur-figur penting lain seperti Ayip Syafrufin dan Muhammad As-Sewed.

Jaringan kedua adalah Dzulqarnain, mantan ketua divisi fatwa Laskar Jihad, dan jaringan ketiga adalah Abu Turob al-Jawi, mantan anggota Laskar Jihad. 

Ketiga jaringan ini sama-sama suka berseteru sama lain. Perseteruannya juga tidak jauh beda dengan kasus-kasus sebelumnya. Mengklaim dirinya sebagai Salafi paling murni dan yang lain adalah Salafi menyimpang.

Salah satu contohnya adalah pada tahun 2003 ketika Lukman Baabduh melayangkan tahdzir kepada tiga figur Salafi sekaligus yang dinamai dengan RMS; singkatan dari Riau, Makasar, dan Solo atau Surakarta.

Riau ditujukan kepada Zul Akmal, Makasar kepada Dzulqarnain, dan Solo kepada Jauhari dan Mohammad Naim. Tahdzir ini muncul karena didasari oleh pemahaman bahwa ketiganya sudah menyimpang dari ajaran Salafi murni. 

Meski sempat ikrar damai pada tahun 2005, jaringan Lukman dan jaringan Dzulqarnain tetap saja masih gelut, meski tidak sampai baku hantam. Meski begitu, perseteruan keduanya tetap  kurang begitu imbang dan menarik. Pasalnya, jaringan Dzulqarnain, seperti penjelasan dari  Sunarwoto (2016), cenderung tidak ingin konfliknya diketahui oleh publik, dan kalaupun membalas, nama yang dikritik cenderung disamarkan. 

Ini berbeda dengan perseteruan Lukman dengan Abu Turob. Abu Turob bersama teman-temannya sangat masif sekali menulis kritik balasan kepada Lukman. Abu Turob sendiri menulis satu buku khusus yang diberi judul “Mengurai Benang Kusut, Atas Ulah Siluman Badut”. Frase “Siluman Badut” tidak lain adalah plesetan dari “Si Luqman Baabduh”.

Selain Abu Turob, ada Abul Fida’ Hanif bin Abdillah Ar-Riyawi, yang menulis artikel panjang berjudul “Donat Bantat Buat Lukman Badut Keparat”. Ini hanyalah beberapa contoh tulisan dari Abu Turob dan teman-temannya yang mengkritik secara ilmiah penyimpangan-penyimpangan Lukman dalam ajaran Salafi. 

Selain kepada Lukman, Abu Turob dan teman-temannya juga aktif sekali dalam mengkritik salafi-salafi lain, termasuk jaringan Dzulqarnain dan Abu Nida. Inti dari semua kritikannya tidak lain adalah mengupas bid’ah-bid’ah atau penyimpangan yang dilakukan oleh orang-orang yang mengaku Salafi. Lalu, sebenarnya apa saja penyimpangan-penyimpangan yang sudah dilakukan? Mungkin ini perlu ditulis dalam satu atau dua artikel khusus agar lebih jelas. 

Pada intinya, Salafi di Indonesia sangat warna-warni dan menarik untuk dicermati. Dibalik keaktifan mereka membid’ahkan atau menyalahkan kelompok-kelompok Muslim lain, mereka juga aktif saling membid’ahkan satu sama lain. Semua berdasar dalil dan semua ilmiah. Islam di Indonesia memang sangat menarik. 

REKOMENDASI

Mertuaku Adalah Bapak Tiriku, Tentang Hukum Pernikahan Besan dan Sebab Mahram Musaharah

Harakah.id - Penyebab lain dari munculnya hubungan mahram adalah akad pernikahan antara suami dan istri. Pernikahan ini membuat masing-masing kedua mempelai...

Syarat Jadi Wali Itu Harus Berilmu, Rekaman Dialog Quraish Shihab Ft. Gus Baha’

Harakah.id - Dalam sebuah talkshow yang dipandu Najwa Shihab, Gus Baha dan Quraish Shibab terlibat dalam dialog yang seru. Salah satu...

Takbiran Setiap Selesai Shalat Fardhu Sampai Penghujung Hari Tasyrik, Bagaimana Hukumnya?

Harakah.id - Mulai sejak Hari Arafah, Kaum Muslimin punya kebiasaan takbiran setiap selesai Shalat Fardhu. Takbiran ini dilakukan sampai selesai Hari...

Download Khutbah Ringkas Idul Adha 2020

Mampu Sholat, Tapi Belum Tentu Mampu Berqurban Allâhu akbar Allahu akbar Allahu akbar la ilaha illallâhu wallâhu akbar, Allâhu akbar wa lillahil hamd... Allahu akbar kabîra wal hamdu lillahi katsîra wa subhanallahi...

TERPOPULER

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Ada Orang yang Berkurban Tapi Belum Akikah, Bolehkah dalam Islam?

Harakah.id – Berkurban sangat dianjurkan ditunaikan oleh setiap Muslim. Tak berbeda, akikah juga diwajibkan kepada setiap anak yang lahir. Lalu bagaimana...

Jarang Disampaikan, Ternyata Inilah Keutamaan Beristri Satu dalam Islam

Harakah.id - Sunnah hukumnya bagi laki-laki untuk mencukupkan satu istri saja, sekalipun pada dasarnya ia diperbolehkan untuk menambahnya lagi.

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Hari ini kita banyak mendengar kata ijtihad. Bahkan dalam banyak kasus, ijtihad dengan mudah dilakukan oleh banyak orang, yang...