Beranda Keislaman Hadis Inilah Status Hadis Hubbul Wathan Minal Iman Menurut Buya Hamka

Inilah Status Hadis Hubbul Wathan Minal Iman Menurut Buya Hamka

Harakah.idBuya Hamka dalam bukunya “Pandangan Hidup Muslim” mengomentari hadis ini, “Demikian tersebut dalam sebuah hadits (Hubbul wathan minnal iman). Oleh karena itu, kita sekarang bukanlah sedang membicarakan ilmu seleksi hadits (Mushtalahul Hadits), tidaklah hendak kita bicarakan shahih atau dhaifnya ini karena meskipun sanad dari hadits ini kurang kuat misalnya, tetapi artinya dan maksud yang terkandung di dalamnya adalah shahih; dapat dipertanggung jawabkan!”

Tanggal 17 Agustus merupakan momen peringatan hari proklamasi kemerdekaan Indonesia. Kemerdekaan yang tak didapat dengan harga yang murah. Butuh perjuangan melawan penjajah dalam upaya menggapai kemerdekaan itu. Tak terhitung berapa banyak darah para pahlawan yang membasahi tanah ibu pertiwi.

Para ulama termasuk golongan yang amat semangat membangkitkan jiwa semangat perlawanan terhadap penjajah. Puluhan…, ratusan…, ah entahlah berapa banyak ulama yang dulu memimpin umat muslim Nusantara dalam melawan penjajah. Yang jelas banyak, amat banyak. Mereka berjuang membela tanah air ini agar bisa merdeka. 

Sebagian amat dikenal masyarakat, bahkan mendapat gelar tanda jasa sebagai Pahlawan Nasional. Tuanku Imam Bonjol, Pangeran Diponegoro, Kiai Hasyim Asy’ari, Buya Hamka, dan masih banyak lagi nama-nama ulama yang sudah begitu dikenal sebagai pejuang kemerdekaan.

Sebagian yang lain tak begitu dikenal, bahkan ada yang namanya ikut terkubur bersama jasadnya dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Ah, mungkin mereka tak begitu terkenal di bumi, namun begitu terkenal di langit.

Hanya Allah swt yang mampu membalas jasa-jasa mereka yang telah berjuang dalam upaya kemerdekaan Indonesia.

Apa yang membuat para pejuang begitu semangat berjuang melawan penjajah, memperjuangkan kemerdekaan Indonesia meski nyawa taruhannya?

Dorongan apa yang membuat Tuanku Imam Bonjol amat semangat melawan penjajah, hingga akhirnya, dirinya harus terasing ke tanah nyiur melambai Sulawesi Utara?

Pangeran Diponegoro, juga begitu semangat melawan penjajah, tak pernah kapok meski sudah diasingkan. Kiai Hasyim Asy’ari, pun amat semangat melawan penjajah, bahkan hingga menjelang akhir nafasnya, dirinya masih memikirkan bagaimana nasib bangsa ini dalam upaya mempertahankan kemerdekaan.

Syekh Yusuf al-Makasari, meskipun sudah terasing nun jauh di tanah Afrika Selatan, namun tetap semangat dan terus mengharapkan tanah air Indonesia terbebas dari penjajahan.

Buya Hamka, seakan kakinya tak pernah lelah mengitari setiap jengkal tanah Sumatera Barat dengan berjalan kaki, untuk memberi penerangan (menyebarkan informasi) seputar situasi Indonesia, plus menggalang dan mempertahankan persatuan masyarakat dalam upaya perjuangan melawan penjajah pada Agresi Militer Belanda II.

Dan masih banyak lagi para ulama (termasuk pejuang lainnya) yang amat semangat melawan penjajah dalam upaya memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Dorongan apa yang membuat mereka begitu semangat berjuang? 

Satu di antaranya adalah sebab hati mereka telah dirasuki perasaan cinta, cinta akan tanah air Indonesia. Para pejuang yang sedang kasmaran pada tanah air begitu semangat melawan penjajah, sebab mereka ingin membebaskan cintanya (tanah air) dari belenggu penjajahan.

Tersebut juga dalam sebuah hadis, “Hubbul wathan minnal iman.” Yang artinya: cinta tanah air adalah bagian dari iman.

Buya Hamka dalam bukunya “Pandangan Hidup Muslim” mengomentari hadis ini, “Demikian tersebut dalam sebuah hadits (Hubbul wathan minnal iman). Oleh karena itu, kita sekarang bukanlah sedang membicarakan ilmu seleksi hadits (Mushtalahul Hadits), tidaklah hendak kita bicarakan shahih atau dhaifnya ini karena meskipun sanad dari hadits ini kurang kuat misalnya, tetapi artinya dan maksud yang terkandung di dalamnya adalah shahih; dapat dipertanggung jawabkan!”

Demikian menurut Buya Hamka, kalau maksud hadis ini adalah shahih. Sebab memang sudah sepatutnya bahwa tanah tumpah darah tempat kita lahir adalah tanah air yang harus dicintai.

Buya Hamka menjelaskan, “Kita percaya kepada Allah dan kita mengabdi kepada Allah. Kita bersyukur kepada-Nya karena kita dilahirkan di atas setumpak dunia yang indah. Tanah air adalah nikmat Ilahi kepada kita. Di atas bumi-Nya kita dibesarkan, hasil bumi-Nya yang kita makan, air-Nya yang mengalir yang kita minum. Jadi dapat dikatakan bahwasannya karena mencintai Tuhanlah maka timbul cinta kita kepada tanah air. Rumpun cinta yang seperti ini dari tauhidlah asalnya.”

Tauhid sesungguhnya akan menghantarkan manusia pada cinta tanah air. Sebab cinta tanah air merupakan bagian dari sikap syukur pada Allah swt. Membela atau mempertahankan kemerdekaan tanah air merupakan bagian dari sikap syukur pada Allah swt. Sehingganya, muslim yang punya iman pada Allah swt pasti akan membela kemerdekaan tanah airnya. Sebab, sekali lagi, cinta tanah air bagian dari iman.

Upaya membela atau mempertahankan kemerdekaan tanah air yang dicintai itu pun harus dilandaskan niat karena Allah swt. Sebagaimana pesan dari Kiai As’ad Syamsul Arifin, “Perang itu, harus niat menegakkan agama dan arebbuk negere, merebut negara, jangan hanya arebbuk negere! Kalau hanya arebbuk negere, hanya mengejar dunia, akhiratnya hilang! Niatlah menegakkan agama dan membela negara sehingga kalau kalian mati, akan mati syahid dan masuk surga!” (Sumber “K.H.R As’ad Syamsul Arifin: Kesatria Kuda Putih Santri Pejuang” karya Ahmad Sufiatur Rahman).

Demikian, spirit cinta tanah air para pendahulu yang sepatutnya juga ada dalam diri kita sebagai muslim. Sebab cinta tanah air itu termasuk bagian dari iman.

Buya Hamka mengingatkan,“…rasa kebanggaan inilah (cinta tanah air) yang dinaikkan orang apabila suatu bangsa hendak dinaikkan pada derajat yang tinggi dan kedudukan mulia antara bangsa-bangsa. Cinta tanah air bagian dari iman!”

Jadi, semangat cinta tanah air merupakan modal dalam upaya kemajuan bangsa. Sehingga semangat cinta tanah air setiap masyarakat harus terus dijaga. 

REKOMENDASI

Fatima Mernissi dan Sekelumit Problem Keperempuanan dalam Islam

Harakah.id - Fatima Mernissi adalah salah satu perempuan yang seringkali diacu dan dirujuk kala berbicara tentang peran perempuan dalam Islam. Dia...

Di Balik Keharamannya, Ini Sepuluh Efek Buruk Minum Khamr yang Mungkin Tidak Kamu Ketahui!

Harakah.id - Minum khamr melahirkan efek mabuk dan ngefly. Bagi sebagian orang, efek ini menjadi kenyamanan tersendiri karena dengan itu mereka...

Download Khutbah Jumat, Hakikat Kewajiban Shalat Jum’at

Harakah.id - Download Khutbah Jumat Juni, Hakikat Kewajiban Shalat Jum’at. Kutbah Pertama إِنّ...

Tafsir Surah An-Nahl Ayat 97: Kehidupan yang Baik dan Imbalan Untuk Orang yang Beriman

Harakah.id - Tafsir Surah an-Nahl ayat 97 menjelaskan perkara soal kehidupan yang baik berikut imbalan untuk orang yang beriman. Berikut penjelasannya...

TERPOPULER

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...