Beranda Khazanah Inilah Syarat Poligami Menurut Muhammad Abduh, Kamu Gak Bakalan Kuat

Inilah Syarat Poligami Menurut Muhammad Abduh, Kamu Gak Bakalan Kuat

Harakah.idDi antara tokoh Islam yang gelisah terhadap praktik poligami adalah Muhammad Abduh. Ia memberikan syarat yang relatif berat bagi orang yang ingin melakukan praktik ini. Apa saja itu?

Poligami merupakan salah satu isu yang paling banyak disoroti sekaligus kontroversi yang hangat hingga sekarang. Pembahasan poligami banyak mangandung polemik dan juga perdebatan terlebih dikalangan aktivis gender.

Sepanjang sejarah isu relasi hubungan antar pria dan wanita ini terdapat pro dan kontra. Ada yang mengkampanyekan poligami sebagai alternatif untuk menyelesaikan patologi sosial dan kadang menjadi sandaran normatif yang tegas.

Pada sisi lain ada yang menolak poligami dengan berbagai macam argumentasi, karena bersifat normatif, psikologis dan juga sumber ketidakadilan baik antar relasi suami istri maupun gender. Poligami bagi peneliti Barat, juga dianggap sebagai ajaran Islam yang sangat diskriminatif perempuan dalam relasi perkawinan.

Ajaran Isalam membolehkan poligami akan tetapi juga memberikan aturan terhadap jumlah wanita yang harus dinikahi dan mengatur akan kebolehan menikah lebih dari satu Wanita. Akan tetapi dalam realita terhadap praktek poligami, yang tidak sesuai yang disyari’atkan agama Islam dan penuh tanggung jawab dapat berdampak buruk terhadap kutuhan rumah tangga. Diantaranya, dalam segi ekonomi yakni tidak mampu menafkahkan istri-istrinya, dalam segi keadilan juga tidak mampu, dan tak jarang berujung kekerasan dalam rumah tangga.

Adapun poligami juga berefek negatif terhadap psikologis yang muncul kepada istri terhadap suami yang berpoligami. Tak jarang istri yang dimadu hatinya terluka sebab sesak menahan cemburu. Karena pada dasarnya taka da satupun dari insan yang mau dimadu. Tak jarang keluarga menjadi tidak harmonis setelah suami berpoligami.

Di antara tokoh Islam yang gelisah terhadap praktik poligami adalah Muhammad Abduh. Muhammad Abduh adalah salah satu tokoh reformis dan pemikir, bakatnya meliputi hampir seluruh bidang kehidupan dan kegiatan-kegiatannya mempengaruhi banyak negeri dunia Islam.

Menurut Abduh, tidak ada satupun istri, yang mampu merelakan sepenuhnya suami untuk berpoligami. Muhammad Abduh mengibaratkan orang yang hidup dengan praktek poligami seperti seekor ayam jantan dengan beberapa ayam betina, dan si jantan tidak dapat berbagi cinta secara adil dari beberapa betina tersebut, ini berarti mesti ada yang berlebih dari sekian betina.

Apabila ada yang mengatakan bahwa berdasarkan bukti empiris, yang mana istri pertama rela di madu, ini di lihat dari dua sisi: 1) jikalau ada, hal demikian jarang (seribu banding satu) Maka yang jarang itu tidak bisa dijadikan patokan dikalangan umat. Meski banyak fenomena poligami di kalangan masyarakat. Jika ada orang mengatakan kerelaan istri-istri itu dengan satu suami berarti ada yang tidak wajar. 2) kerelaan istri-istri jarang dan hampir tidak terjadi, akan tetapi pada wanita tuna susila berganti-ganti laki-laki, perasaan suka rela sudah biasa.

Muhammad Abduh mengeluarkan fatwa terhadap hukum poligami yang menimbulkan kencaman dan kontraversi. Akan tetapi fatwa yang dikeluarkan oleh Muhammad Abduh disebabkan karena tidak jarang di antara hubungan istri-istri yang dipoligami munculnya pertengkaran dan permusuhan yang hebat ataupun perang dingin di antara mereka. Karena itu, perlu diberikan syarat-syarat poligami.

Dengan demikian Muhammad Abduh berfatwa memperbolehkan poligami jika kondisi darurat dan untuk menghindari perzinahan yang dapat menimbulkan kerusakan dan kezholiman.

Muhammad Abduh juga memberikan syarat kepada suami yang mau berpoligami. Syarat poligami itu di antaranya: a). Poligami diperbolehkan bila istri terbukti mandul serta diperkuat adanya persetujuan istri dan seijin hakim. b). Poligami tidak diperbolehkan jika mucul keraguan dalam diri laki-laki akan kemampuannya untuk bersikap adil terhadap para istrinyaa. c). Poligami tidak diperbolehkan jika kekhawatiran akan terjadinya pertikaian muncul dalam suatu perkawinan keluarga.  

Dalil yang membolehkan poligami menurut Abduh, Q.S An-Nisa ayat 3:

وَاِنْ خِفْتُمْ اَلَّا تُقْسِطُوْا فِى الْيَتٰمٰى فَانْكِحُوْا مَا طَابَ لَكُمْ مِّنَ النِّسَاۤءِ مَثْنٰى وَثُلٰثَ وَرُبٰعَ ۚ فَاِنْ خِفْتُمْ اَلَّا تَعْدِلُوْا فَوَاحِدَةً اَوْ مَا مَلَكَتْ اَيْمَانُكُمْ ۗ ذٰلِكَ اَدْنٰٓى اَلَّا تَعُوْلُوْاۗ

Dan jika kamu khawatir tidak akan mampu berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu menikahinya), maka nikahilah perempuan (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Tetapi jika kamu khawatir tidak akan mampu berlaku adil, maka (nikahilah) seorang saja, atau hamba sahaya perempuan yang kamu miliki. Yang demikian itu lebih dekat agar kamu tidak berbuat zalim.

Muhammad Abduh memahami surah An-Nisa ayat 3 tersebut, bahwasanya bilangan istri dalam ayat tersebut sudah jelas. Adapun ayat tersebut Abduh hanya menjelaskan kuantitas artinya wanita yang dinikahi baik itu istri pertama hingga keempat tidak ada masalah baik itu perawan ataupun janda. Hal ini sejalan dengan pendapat para ulama dan masyarakat pada umumnya.

Maka dapat disimpulkan bahwa dalam mengeluarkan fatwa terhadap poligami, Muhammad Abduh tetap berpegang teguh terhadap al-Qur’an dan hadis. Dan syarat poligami yang diutarakan oleh Muhammad Abduh merupakan sebuah tujuan untuk menjamin keadilan bagi wanita.

Berdasarkan penjelasan Abduh maka pihak suami tidak dapat semena-mena menggunakan ayat al-Qur’an untuk melegitimasi hukum kebolehan poligami. Jika setiap suami yang mau berpoligami maka haruslah memenuhi syarat-syarat dan hanya dilakukan dalam keadaan darurat. 

Artikel kiriman dari Ghulam Ath Thahirah, Mahasantri Putri International Institute for Hadith Sciences Darus Sunnah Jakarta

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

Ini Risalah Lengkap Syaikhul Azhar Mengkritik Keras Keputusan Taliban Melarang Pendidikan Perempuan

Harakah.id - Salah satu yang mengeluarkan kritik adalah Syaikhul Azhar, Syaikh Ahmad Tayeb. Berikut adalah pernyataan lengkap beliau. Berbagai...

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...