fbpx
Beranda Keislaman Tafsir Inilah Tuntunan Musyawarah dalam al-Qur’an yang Perlu Kalian Tahu

Inilah Tuntunan Musyawarah dalam al-Qur’an yang Perlu Kalian Tahu

Harakah.idIslam memiliki pandangan bahwa ketika melakukan musyawarah dalam bentuk apapun, wajib mengedepankan rasa saling menghormati, tidak berkata kasar, berlaku secara lemah lembut, dan tawakal.

Pada dasarnya, musyawarah dalam Islam merupakan bentuk ibadah jika dilakukan dengan cara yang baik dan sesuai ketentuan Allah SWT. Islam memiliki pandangan bahwa ketika melakukan musyawarah dalam bentuk apapun, wajib mengedepankan rasa saling menghormati, tidak berkata kasar, berlaku secara lemah lembut, dan tawakal. Allah berfirman:

وَالَّذِينَ اسْتَجَابُوا لِرَبِّهِمْ وَأَقَامُوا الصَّلاةَ وَأَمْرُهُمْ شُورَى بَيْنَهُمْ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ

Dan (bagi) orang-orang yang  menerima  (mematuhi)  seruan  Tuhannya   dan mendirikan  shalat,  sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarat antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian  dari  rezki  yang  Kami berikan kepada mereka. (QS. al-Syura/42: 38)

Di dalam Tafsir al-Qur’an Tematik Kemenag: Etika Berkeluarga, Bermasyarakat, dan Berpolitik (2009) dijelaskan, pada ayat ini terdapat empat amalan yang menyifati seorang mukmin, yaitu menjalankan perintah Allah SWT., mengerjakan shalat, bermusyawarah, dan menyisikan sebagian rezeki untuk diinfakan. Dengan kata lain, ayat ini secara tersirat memberitahukan bahwa musyawarah termasuk perilaku ibadah, karena disejajarkan dengan bentuk-bentuk ibadah lainnya.

Jika ditelaah, surat al-Syura turun di kota Makkah, artinya, musyawarah telah ada sejak zaman nabi Muhammad Saw. sebelum hijrah ke kota Madinah. Lebih lanjut, mengutip pendapat dari Fazlur Rahman, di dalam Tafsir Tematik Kemenag dipaparkan, sejatinya musyawarah bukan merupakan tuntunan yang pertama kali dicetuskan oleh al-Qur’an . Namun, musyawarah telah menjadi kondrat manusia sebagai makhluk sosial.

nucare-qurban

Teungku Muhammad Hasbi as-Shiddieqy di dalam Tafsir al-Nur, ketika menafsirkan wa amruhum syura bainahum bercerita, bahwa dulu Muhammad Saw. sering melakukan musyawarah dengan para sahabat terkait urusan-urusan yang bersifat penting. Setelah Muhammad Saw. wafat, musyawarah tetap dilakukan oleh para sahabat untuk menentukan siapa yang layak memimpin umat islam berikutnya.

Bahkan di akhir penjelasan, Hasbi as-Shiddieqy menuliskan kalimat “Syura (musawarah) adalah salah satu prinsip islam yang menentang kediktatoran dan sistem pemerintahan totaliter”. Dengan ini, dapat disimpulkan bahwa musyawarah itu bukan hanya terbatas pada persoalan-persoalan sederhana. Namun juga pada ranah yang bersifat politis, dan tentunya dilakukan untuk menetapkan keputusan-keputusan politik.

Persoalannya, hari ini, ketika melakukan musyawarah pada ranah yang bersifat politis, cenderung akan dibumbui dengan kepentingan-kepentingan politik. Bagaimana cara menghindarinya? Tentunya, dapat diawali dengan memahami prinsip-prinsip etika bermusyawarah dalam al-Qur’an, dan membentengi diri dengan berserah diri kepada Allah SWT., sebagaimana firman-Nya: 

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الأمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma ‘afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkAllah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (QS. Ali Imron/3: 159)

Meskipun konteks ayat kedua ini berkaitan dengan perang uhud, begitupun penafsiran yang melingkupinya. Namun hikmah yang terkandung bersifat umum, dan berlaku bagi setiap umat islam.

imam ath-Thabari di dalam Tafsir al-Thabari menjelaskan, maksud kalimat fabima rahmatin minallahi linta lahum adalah berkat rahmat Allah SWT., umat islam telah disifati dengan sifat lemah lebut. Kemudian Allah SWT. memerintahkan kepada Muhammad Saw. untuk memaafkan, dan memohon ampunan atas semua kesalahan yang dilakukan oleh umat islam.

Maksudnya, Allah SWT. menunjukan kepada umat islam, ada tiga sifat yang menjadi ciri seorang mukmin, yaitu lemah lembut, mudah untuk memberi maaf, dan memohonkan apunan atas kesalahan orang lain. Setelah menyebutkan tiga sifat tersebut, Allah SWT. lalu memerintahkan kepada Muhammad Saw. untuk bermusyawarah.

Setidaknya ada tiga penafsiran kenapa Allah SWT. memerintahkan kepada Muhammad Saw. untuk bermusyawarah; 1.) sesuai konteks, yaitu untuk mendengar pendapat terkait siasat dalam perang uhud; 2.) agar Muhammad Saw. memperoleh pendapat yang paling tepat; 3.) agar orang-orang beriman mengikuti sifat Muhammad Saw., yaitu menghargai pendapat, lemah lembut, dan mudah memberi maaf.

Wahbah az-Zuhaily di dalam Tafsir al-Munir memberikan tinjauan hukum terkait ayat kedua ini. Wahbah mengutip pendapat dari ibnu athiyyah, dengan menyatakan bahwa musyawarah menjadi salah satu kaidah syariat dan termasuk kategori ʿazimah (hukum asal yang bersifat wajib). Setelah memperoleh mufakat, Allah SWT. memerintahkan untuk bertawakal kepada-Nya, karena yang berhak menilai benar-salah hanyalah Allah SWT., sebagaimana kalimat di akhir ayat ini. Wallahualam bis shawab.

Artikel kiriman dari Muhammad Naufal Hakim, pegiat tafsir Al-Quran.

REKOMENDASI

Saking Beratnya Dosa Korupsi, Sampai-Sampai Rasulullah Enggan Menyalati Jenazah Koruptor

Harakah.id - Rasulullah enggan menyalati jenazah koruptor. Ini Fakta. Bukan berarti jenazah koruptor tidak boleh disalati, tapi hal itu menunjukkan kalau...

Menilik Kembali Misi “Revolusi Ahlak” yang Diusung Habib Rizieq Shihab

Harakah.id - Revolusi ahlak adalah satu adagium yang baru-baru ini diperkenalkan dan sepertinya akan menjadi arah baru perjuangan HRS, FPI dan...

Harlah, Natal dan Maulid

Harakah.id – “Harlah, Natal dan Maulid” adalah artikel yang ditulis Gus Dur pada tahun 2003. Meski sudah berusia 17 tahun, namun...

Tidak Seperti Manusia Pada Umumnya, Benarkah Rasulullah Tidak Dilahirkan Dari Lubang Kemaluan? Begini Penjelasannya

Harakah.id – Rasulullah tidak dilahirkan dari lubang kemaluan. Ada keyakinan di kalangan para ulama, bahwa baik Nabi Muhammad maupun Nabi-Nabi yang...

TERPOPULER

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Alasan Sebagian Ulama Mengapa Tak Mau Baca Surat Al-Masad dalam Shalat

Harakah.id - Ada sebagian ulama yang tak mau baca surat Al-Masad dalam shalat. Alasan mereka tak mau baca surat Al-Masad adalah...