Beranda Tokoh Integrasi Akal, Wahyu dan Moral Islam dalam Pemikiran Harun Nasution

Integrasi Akal, Wahyu dan Moral Islam dalam Pemikiran Harun Nasution

Harakah.idHarun Nasution dikenal karena ide pembaharuannya yang mendorong pengembangan pemikiran rasional, pengakuan terhadap wahyu, dan orientasi moralitas Islam. Inilah integrasi akal, wahyu dan moral Islam dalam pemikiran Harun Nasution.

Pemikir Islam rasional begitulah sebutan yang bersandar pada Harun Nasution yang lahir di awal abad ke-20. Ia merupakan salah satu tokoh di Indonesia yang berkontribusi dalam bidang pembaharuan ajaran Islam, banyak karya – karyanya yang dinilai sebagai kritik teologi seperti Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya (1974), Pembaharuan Dalam Islam: Sejarah dan Gerakan (1978), Akal dan Wahyu Dalam Islam (1982), serta Islam Rasional (1995).

Pandangannya mengenai Iman sangat erat dengan akal dan wahyu. Dari bukunya antara Akal dan Wahyu dalam Islam, beliau mendefinisikan wahyu sebagai pemberi sugesti dalam pikiran manusia. Sedangkan akal sebagai daya berpikir yang terdapat dalam jiwa manusia. Maka antara akal dan wahyu disebut mukasyafah, pengetahuan yang diperoleh manusia bertumpu pada keyakinan yaitu wahyu Apabila kita mengimplikasikan ini secara bersama-sama hasilnya mampu menjadikan manusia yang aktif dan responsif terhadap segala persoalan dalam dinamika sosial ini. Serta melalui akal inilah dengan sendirinya akan mendorong manusia ke arah kemajuan umat Islam yang terealisasi lewat berbagai disiplin kehidupan sosial (Harun Nasution, 1982).. 

Akan tetapi dalam kenyataan sehari-hari wahyu dipergunakan sebagai penyampaian firman Allah dari orang ke orang lain atau istilah lain dapat dipahami sebagai penafsiran terhadap satu kalam kebanyak fersi yang dapat menimulkan pertentangan antar pihak lain. Dengan ini Harun menilai ajaran Islam yang hanya bersumber dari penafsiran, berkonsentrasi pada beberapa ulama saja tidak akan mampu menjawab persoalan zaman, maka perlu kembali kepada sumber asli atau melakukan pengkajian ulang terhadap makna tersebut. (Harun Nasution, 1982).

Dalam hal ini menurut Harun upaya untuk membangkitkan persepsi umat maka perlu membedakan ajaran yang bersifat Qath’i dan Zhanni, bersifat absolut dan relatif  (Harun Nasution ,1985). Ini dilandaskannya pada sumber ajaran Islam, Alqur’an dan Hadis. Meskipun secara keseluruhan  sumber-sumber tersebut bersifat absolut benar dari Allah. Akan tetapi para ulama mengatakan ada ayat yang mengandung berbagai macam penafsiran ganda atau samar yang disebut dengan qath’i al-dilalah, secara kompleks terhimpun lagi atas zhanni al-dilalah dan zhanni al-wurud. (Akhmad Taufiq, 2005)

Mengenai Iman dapat dipahami sebagai sikap penyerahan diri pada Allah atas seluruh dinamika kehidupan. Sikap dari iman akan mendorong seseorang berbuat baik amal shaleh, buah dari keimanan ini di implementasikan dalam bentuk ibadah, maka bentuk dari ibadah yang benar akan membawa dampak positif dalam perwujudan free will, bebas. Tetapi kebebasan ini tidak melanggar ketentuan moral yang ada. 

Pada umumnya setiap orang telah menyadari bahwa dirinya terikat dengan aturan-aturan moral,  bahkan setiap agama mengajarkan agar berbuat baik terhadap sesama manusia, terlebih dalam Islam sendiri dianjurkan agar saling berlomba – lomba dalam hal kebaikan. 

Sebuah intisari dalam kehidupan ketika seseorang merenungkan tentang kesadaran, seperti saat ini fenomena masyarakat yang dinilai kurang etis dalam berperilaku. Semisal sikap apatis, merugikan orang atau kelompok pihak lain, merusak atau bahkan mengambil hak orang lain, dan seterusnya. Semua ini merupakan akibat dari kemerosotan moral manusia dalam hidup beragama. 

Apabila kita lihat keadaan umat saat ini kemerosotan moral merupakan suatu fenomena yang terjadi seperti hilangnya sikap dinamis, dan merasa unggul atas karunia yang diberikan Allah, hingga menzalimi orang lain. Maka hal tersebut bukanlah transendensi antara akal dan wahyu. Ketika dalam wahyu dikatakan “waja‘alnakum shu‘uba waqaba‘ila lita‘arafu>”, maka kami jadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, supaya kalian saling mengenal (Q.S. al-Hujurat: 13).   

Dalam kata lita‘arafu, dianjurkan agar kalian saling mengenal. Ketika salah seorang diantara kita saling mengenal maka leburlah rasa diantara kita untuk, memusuhi atau diibaratkan seperti mendzalimi. Apabila pengenalan semakin kuat maka besar pengaruhnya untuk memberi manfaat terhadap sesama, Lebih tepatnya perpaduan antara akal, wahyu, iman dan amal saleh ini membuat kita akan merasa saling membutuhkan dan terhindar dari perilaku menzalimi sesama ciptaan Allah. Pengenalan ini perlu kiranya untuk meningkatkan kedamaian dan kesejahteraan dalam hidup berbangsa dan bernegara.

Berdasarkan pandangan tersebut maka upaya untuk membangkitkan kembali situasi moral umat ialah dengan menekankan pandangan perlunya saling mengenal, semakin kuat pengenalan disatu pihak maka semakin lebar peluang untuk saling memberi manfaat dilain pihak. Penegenalan ini dibutuhkan untuk menarik pelajaran dan pengalaman di pihak lain. Kita tidak dapat saling membantu, juga tidak dapat bekerja sama tanpa melalui pengenalan. Bahkan melalui pengenalan dapat mengantarkan seseorang dalam memperoleh rizki, jodoh, ataupu bantuan dalam mengatasi problem kehidupan.  

Maka upaya yang harus dilakukan saat ini ialah mencoba menelaah kembali secara komprehensif pemahaman makna yang terkandung dalam ajaran Islam menggunakan berbagai metode, dan ilmu struktural, tidak melalui sentimen keagamaan yang tinggi akan tetapi dengan meresapi pemikiran-pemikiran secara mendalam, sistematis, serta filosofis.

Wallahu a’lam…

Artikel kiriman dari Muhammad Afif Amarullah, Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam UIN Sunan Ampel Surabaya.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

Ini Risalah Lengkap Syaikhul Azhar Mengkritik Keras Keputusan Taliban Melarang Pendidikan Perempuan

Harakah.id - Salah satu yang mengeluarkan kritik adalah Syaikhul Azhar, Syaikh Ahmad Tayeb. Berikut adalah pernyataan lengkap beliau. Berbagai...

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...