Islam di Era Ke-Punu’-an Bolaang Mongondow dan Fragmen Sejarah Penyebaran Islam di Sulawesi Utara Masa Raja-Raja

0
344
Islam di Era Ke-Punu’-an Bolaang Mongondow dan Fragmen Sejarah Penyebaran Islam di Sulawesi Utara Masa Raja-Raja

Harakah.id Era Ke-Punu’-an adalah salah satu era atau fase dalam perkembangan sosio-antropologis masyarakat Bolaang Mongondow. Karena itu, ia juga berperan penting dan punya sejarah persentuhan dengan Islam.

Kapan Islam hadir di Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara?

Pertanyaan ini menarik untuk dibahas. Sebagai daerah mayoritas muslim di Nusantara, masih ada banyak khazanah sejarah Islam di Bolaang Mongondow yang kurang terekspose dengan baik. Sehingga, upaya mendiskusikannya adalah penting untuk menggali lebih luas wawasan Islam Nusantara.

Dalam buku Mengenal Bolaang Mongondow, Tim Litbang Amabon, setidaknya membagi masa perjalanan pemerintahan Bolaang Mongondow menjadi: masa kepemimpinan bogani, masa pemerintahan punu’, masa pemerintahan raja, dan masa berakhirnya sistem kerajaan.

Sebelum menjadi satu kerajaan utuh, awalnya Bolaang Mongondow terdiri dari kelompok-kelompok masyarakat yang tersebar di berbagai penjuru wilayah ini. Nah, pemimpin kelompok masyarakat itu dalam term lokal disebut bogani. 

Di kemudian hari, para bogani sepakat menghimpun kelompok masyarakatnya dalam satu payung utuh di bawah kepemimpinan seorang bogani. Pemimpin itu dinamakan sebagai punu’. Masa pemerintahan punu’ ini adalah era ke-punu’-an, yang akan lebih dibahas dalam tulisan ini. 

Punu’ merupakan istilah Bolaang Mongondow yang maknanya sama halnya dengan raja atau pemangku kekuasaan. Punu’ berasal dari kata “punuk” yang artinya pangku. Jika ditafsirkan dalam konteks kekuasaan dan pemerintahan, maka bisa dimaknai sebagai pewaris yang berhak memangku tahta kepemimpinan.

Lambat laun gelar punu’ pun diganti dengan gelar raja. Hal ini tidak lepas dari adanya persentuhan Bolaang Mongondow dengan dunia luar: Spanyol, Portugis, dan Belanda, serta kerajaan lain di Nusantara. Sehingga, penyebutan raja sebagai gelar untuk pemimpin hadir menggantikan gelar punu’ yang merupakan istilah lokal untuk menyebut seorang pemimpin kerajaan. Masa ketika penguasa Bolaang Mongondow sudah menggunakan gelar raja disebut sebagai era pemerintahan raja-raja. Di masa ini, intervensi Belanda atas Bolaang Mongondow sangat kuat, bahkan pengangkatan raja-raja (pasca Raja Loloda Mokoagow) selalu dalam campur tangan Belanda.

Bolaang Mongondow kemudian menjadi bentuk pemerintahan serikat yang terdiri dari beberapa negara atau kerajaan bagian: Kerajaan Bolaang Mongondow sebagai pusat kerajaan, dan menjadi penamaan untuk seluruh kesatuan perserikatan kerajaan. Kerajaan Kaidipang dan Kerajaan Bolangitang yang kemudian bersatu menjadi Kerajaan Kaidipang Besar. Kerajaan Bintauna. Dan, Kerajaan Bolaang Uki. 

Kesatuan kerajaan tersebut bertahan sampai beberapa tahun pasca kemerdekaan Indonesia. Bolaang Mongondow termasuk kerajaan yang mampu mempertahankan eksistensinya hingga di masa Indonesia merdeka. Pada 1 Juli 1950, Raja Henny Yusuf Cornelis Manoppo (raja terakhir) meletakkan jabatannya, dan menyatakan Bolaang Mongondow bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sejak itu, masa pemerintahan raja-raja berakhir, dan Bolaang Mongondow menjadi satu daerah kabupaten.

Sekarang, wilayah perserikatan kerajaan tersebut menjadi beberapa daerah di Sulawesi Utara. Yaitu, Kab. Bolaang Mongondow, Kab. Bolaang Mongondow Selatan, Kab. Bolaang Mongondow Timur, Kab. Bolaang Mongondow Utara, dan Kota Kotamobagu. Kesatuan wilayah ini dikenal sebagai Bolaang Mongondow Raya.

Persentuhan Islam di Era Ke-punu’-an Bolaang Mongondow

Beberapa pendapat mengatakan kalau persentuhan Islam dengan Bolaang Mongondow terjadi di masa pemerintahan raja-raja yang dimulai pada pertengahan abad 17 M. Di mana, penguasa pertama yang disebut raja, Raja Loloda Mokoagow (1653-1693), telah memeluk Islam. Tapi, saat itu penyebaran Islam belum masif, bahkan setelah Raja Loloda pengaruh Kristen menguat dan raja-raja selanjutnya beragama Kristen, hingga sampai pada Raja Jakobus Manuel Manoppo (1833-1858) yang memilih untuk masuk Islam.

Namun kalau dikaji lebih dalam lagi, persentuhan Islam dengan Bolaang Mongondow sebenarnya sudah terjadi sebelum masa Raja Loloda Mokoagow, dengan kata lain di era ke-punu’-an.

Era ke-punu’-an Bolaang Mongondow dimulai sekitar 1400 M, dengan ditetapkannya oleh para bogani bahwa Mokodoludut menjadi punu’ untuk seluruh kelompok masyarakat di Bolaang Mongondow. Dan, selanjutnya keturunannya yang berhak memangku kepemimpinan tersebut. 

Tercatat nama-nama Punu’ Bolaang Mongondow–sebagaimana dikutip dari Hamri Manoppo, dkk., dalam buku Dinamika Islamisasi Di Bolaang Mongondow Raya, Sulawesi Utara, Abad ke-17-20–adalah: Mokodoludut (Punu’ I, 1400-1460), Yayubangkai (Punu’ II, 1460-1480), Damopolii (Punu’ III, 1480-1510), Busisi (Punu’ IV, 1510-1540), Makalalag (Punu’ V, 1540-1560), Mokodompit (Punu’ VI, 1560-1600), dan Tadohe’ (Punu’ VII, 1600-1653). 

Di antara Mokodompit dan Tadohe’ sebenarnya ada Punu’ Mokoagow, beliau adalah anak dari Punu’ Mokodompit. Saat ayahnya, Punu’ Mokodompit, meninggalkan tahta dan memilih hidup di Siau (daerah Minahasa), Mokoagow dipercayakan untuk mengisi kekosongan tahta saat itu. Sehingga, Punu’ VII adalah Punu’ Mokoagow, dan Punu’ Tadohe’ sebagai Punu’ VIII.

Tadohe menjadi penguasa terakhir Bolaang Mongondow dengan gelar punu’, dan selanjutnya penguasa Bolaang Mongondow disebut sebagai raja. Ada juga pendapat yang mengatakan kalau anak Tadohe’, yaitu Loloda Mokoagow (penguasa pertama dengan gelar raja) sebenarnya masih dilantik secara adat dan sebagai punu’. Namun, kebanyakan tulisan menjelaskan kalau era ke-punu’-an hanya sampai di masa Punu’ Tadohe, dan selanjutnya Bolaang Mongondow sudah memasuki era pemerintahan raja-raja. Bisa dikatakan, kalau masa Raja Loloda Mokoagow adalah waktu transisi Bolaang Mongondow dari masa pemerintahan punu’ ke raja-raja. 

Dalam bukunya Hamri Manoppo, dkk., berdasarkan sebuah arsip sejarah berupa surat Fr. Piter Diego Magelhaes, dijelaskan bahwa Punu’ Busisi (1510-1540) telah diislamkan, namun kemudian memutuskan untuk masuk Katolik. 

Data yang disajikan Hamri Manoppo, dkk. tersebut, bisa mengonfirmasi bahwa upaya penyebaran Islam di Bolaang Mongondow telah terjadi sejak zaman ke-punu’-an, sekitar masa Punu’ Busisi. Ini bukanlah sesuatu yang mengherankan, sebab sebagaimana juga yang dijelaskan oleh W. Dunnebier dalam catatannya Over de Vorsten van Bolaang Mongondow, bahwa Sulawesi Utara termasuk wilayah ekspansi dari Kesultanan Tarnate sejak tahun 1563 M.

Sebagaimana diketahui bahwa Tarnate merupakan kesultanan yang membawa pengaruh Islam di wilayah-wilayah ekspansinya, dan punya peran besar terhadap penyebaran Islam di Indonesia Timur bahkan hingga selatan Filipina. Sehingga, bisa disimpulkan bahwa telah ada upaya Islamisasi dari Tarnate di Bolaang Mongondow pada abad 16 M, sekitar masa Sultan Hairun (1535-1570) dan Sultan Babullah (1570-1583), ketika mereka meluaskan sayap kesultanannya di semenanjung utara Sulawesi.

Selain itu, perlu diperhitungkan juga bahwa salah satu tetangga dari Bolaang Mongondow, yaitu Gorontalo, telah menerima Islam di awal abad 16 M, tepatnya sejak tahun 1525. Dan, menjadikan Islam sebagai dasar kerajaan hingga merumuskan pedoman adat: adati hula-hula’a to sara’a, sara’a hula-hula’a to kuru’ani (adat bersendi syarak dan syarak bersendi kitabullah).

Mengingat dekatnya wilayah kedua kerajaan ini, maka bukan sesuatu yang tidak mungkin kalau kemudian sudah ada persentuhan Islam di Bolaang Mongondow yang berasal dari jalur Gorontalo pada pertengahan atau akhir abad 16 M.

Kontestasi Penyebaran Agama di Bolaang Mongondow

Meski sudah ada upaya penyebaran Islam di Bolaang Mongondow pada abad 16 M, namun belum bisa berjalan secara masif. Disebabkan, para misionaris Kristen dari Portugis lebih mendominasi wilayah ini daripada para penyebar Islam.

Kasus yang dijelaskan dalam bukunya Hamri Manoppo, dkk., di mana Punu’ Busisi meminta kepada seorang misionaris Katolik, Piter Diego Magelhaes, agar membaptis dirinya, diceritakan kalau keislaman Punu’ Busisi hanya paksaan Kaicil Guzarate dari Tidore, Maluku Utara, karena itu beliau lebih ingin masuk Katolik. Jika melihat peristiwa ini dari kacamata dakwah, maka keinginan Punu’ Busisi tersebut disebabkan setelah beliau mualaf kurang mendapat edukasi Islam, sementara dominasi misionaris semakin menguat. Sehingga, tidak mengherankan kalau Punu’ Busisi pun memilih untuk keluar dari Islam.

Lemahnya dakwah Islam saat itu tidak lain disebabkan oleh kurangnya jaringan ulama yang menyebarkan Islam di daerah ini. Di sisi lain, para misionaris semakin masif menjalankan misi zendingnya.

Ini menandakan bahwa saat itu di Bolaang Mongondow terjadi kontestasi penyebaran agama dari para pendakwah Islam dengan misionaris Portugis dan Spanyol. Sebagaimana diketahui kalau kedua negara tersebut punya perhatian besar dalam misi zending. Apalagi dua negara tersebut juga memiliki sejarah pertarungan dominasi antara Islam dan Katolik. Di mana, Andalusia (nama lainnya Semenanjung Iberia, yang terdiri sekitar 93% wilayah Spanyol dan sisanya Portugis) pernah menjadi wilayah kekuasaan Islam selama ratusan tahun. Dan, sejak abad 13 M, 1238-1260, Katolik mulai menguasai sebagian besar wilayah ini. Hingga pada abad 15 M, tepatnya 2 Januari 1492, wilayah Semanjung Iberia resmi dikuasai Kristen Katolik.

Ketika kekuasaan Portugis dan Spanyol di Nusantara, khususnya semenanjung utara Sulawesi, telah digantikan oleh Belanda (VOC), maka lambat laun dominasi misionaris Katolik mulai berkurang di Bolaang Mongondow. Hamri Manoppo, dkk., menjelaskan: “Orang-orang Katolik diprotestankan, tetapi tidak dipelihara… dengan sungguh-sungguh. Sehingga mereka tidak mampu bertahan menghadapi penyebaran Islam.” Di masa-masa ini, meski Raja Bolaang Mongondow dan sebagian masyarakat beragama Kristen, namun sangat jarang ada guru-guru Kristen yang mendatangi daerah ini.

Beberapa catatan menyebutkan bahwa pada masa Raja Ismael Cornelis Manoppo (1829-1833) ada seorang guru Kristen dari Ambon bernama P. Bastian di Bolaang (ibu kota kerajaan saat itu). Sepeninggalnya guru Kristen tersebut pada 1831, sekolahnya ditutup. Pada 1833, saat Raja Jakobus Manuel Manoppo menjabat, beliau meminta agar Residen Belanda mengupayakan guru Kristen. Namun, permintaan tersebut tidak dipedulikan Belanda. Itu tentu membuat Raja Jakobus kecewa. Di kemudian hari, beliau pun memutuskan untuk masuk Islam.

Sejak Belanda menguasai Bolaang Mongondow pengaruh misionaris kian menurun. Sebab, perhatian Belanda terhadap misi zending tidaklah sebesar Portugis dan Spanyol. Bagi Belanda tidak masalah masyarakat Nusantara beragama apa, yang penting mereka bisa terus mengeksploitasi kekayaan alam Nusantara. Bahkan, sebagaimana dijelaskan A.C. Lopez dalam Conversion and Colonialism: Islam and Christianity in North Sulawesi, c. 1700-1900, bahwa ketika A.J. van Olpen menjadi Residen Belanda di Manado, beliau bersama J.B. Clereens, Gubernur Maluku, membentuk sekolah desa di Minahasa (daerah mayoritas Kristen), di mana sekolah itu tidak mengenalkan pelajaran agama. 

Berkurangnya dominasi misionaris yang telah menguat sejak zaman ke-punu’-an membuat edukasi Kristen semakin melemah. Di sisi lain, penyebaran Islam perlahan semakin masif, hingga mencapai puncaknya pada abad 19 M.

Dari sini kita bisa mengetahui bahwa persentuhan Islam dengan Bolaang Mongondow telah terjadi sejak era ke-punu’-an, sekitar pertengahan abad 16 M. Meski demikian, saat itu dakwah Islam di Bolaang Mongondow masih jauh dari kata masif.