Beranda Gerakan Islam Di Mata Barat; Media, Orientalisme dan Entitas Islam yang Termutilasi

Islam Di Mata Barat; Media, Orientalisme dan Entitas Islam yang Termutilasi

Harakah.id Orientalisme, Barat dan Islam adalah variabel kunci dari artikel yang Said tulis di tahun 1980 ini. Namun tampaknya apa yang Said bicarakan masih berlangsung dan relevan dengan situasi Timur-Barat hari ini.

- Advertisement -

Judul Asli: Edward W. Said, “Islam Through Eastern Eyes”, The Nation, 26 April 1980.

Diterjemahkan oleh Hilmy Firdausy

_____________________________

Media telah terobsesi dengan segala hal yang beraroma “Islam”, yang dalam konteks makna parsial, mereka hanya memperoleh dua definisi tentang “Islam” yang sama-sama tidak relevan dan destruktif. Di satu sisi, terminologi “Islam” digunakan sebagai representasi sebuah ancaman, baik dalam konteks ancaman kembali ke situasi Abad Pertengahan, maupun dalam konteks ancaman – seperti yang disebut Senator Daniel Patrick sebagai – penghancuran tatanan demokrasi Barat. Di sisi yang lain, “Islam” juga diproyeksikan sebagai respons balik atas makna Islam yang pertama sebelumnya. Utamanya – karena alasan geopolitik – ketika “Muslim Baik” seperti Arab Saudi atau “Pejuang Pembebasan” seperti Muslim Afghanistan yang melakukan perlawanan atas Uni Soviet, sedang dipertanyakan. Hari ini, segala tindakan “bela Islam” sedikit banyak telah dipaksakan sebagai sebuah sikap permintaan maaf atas inhumanisme Islam, akibat yang ditimbulkannya bagi perkembangan peradaban dan kesalahan yang telah dilakukan kepada Demokrasi.

Bersamaan dengan itu, seringkali muncul kebodohan-kebodohan  lain yang mencoba menyamakan Islam dengan situasi yang terjadi di satu atau dua negara Islam. Meskipun dalam konteks Iran misalnya, pemecatan syah sebenarnya adalah taktik yang masuk akal. Namun pasca periode menggembirakan dan krisis penyanderaan, taktik tersebut tampaknya jadi lebih rumit. Apa yang mau dikatakan para pembela Islam ketika ia dihadapkan pada jumlah harian orang-orang yang dieksekusi Komitehs Islam, atau ketika – seperti laporan Reuters 19 September 1979 – Ayatollah Ruhollah Khomeini mengumumkan akan mengahancurkan musuh revolusi Iran? Dengan kata lain, dua makna media tentang “Islam” sebenarnya saling berkaitan dan sama-sama harus ditolak karena mengabaikan sebuah ikatan ganda.

Setelah buku saya Orientalisme terbit tahun lalu, saya mendapati kalau bidang semantik dalam term “Islam” semakin sempit dan terbatas. Meskipun saya sudah bersusah payah mencoba menunjukkan bahwa diskusi terkini soal Timur, Arab dan Islam pada dasarnya dirujuk kepada sebuah gambaran fiksi, tetap saja banyak pihak yang menganggap buku saya sebagai pembelaan terhadap Islam yang “rill”. Saya mencoba menunjukkan bahwa setiap perbincangan tentang Islam sebenarnya mengalami kecacatan radikal, bukan hanya karena asumsi yang tidak beralasan soal generalisasi ideologis besaran-besaran yang mampu mencakup seluruh varian khusus yang kaya dan beragam dalam Islam, tapi juga karena hal itu hanya akan mengulangi kesalahan Orientalisme yang selalu mengklaim bahwa pandangan Islam yang benar adalah X atau Y atau Z.  Meski begitu, tentu saya akan tetap menerima undangan ceramah untuk membicarakan arti sebenarnya dari Republik Islam atau pandangan Islam soal perdamaian. Saya lebih memilihnya meskipun akan dianggap sebagai sebuah pembelaan atas Islam – seolah-olah agama butuh dibela –, dibanding diam dan meringkuk lalu menerimanya sebagai sebuah fitrah.

Tapi penolakan saja memang tidak cukup. Karena jika kita ingin mengklaim bahwa sebagai sebuah agama dan peradaban, Islam memiliki makna yang jauh lebih dalam dibandingkan satu dari dua makna yang diberikan kini, maka pertama-tama kita harus mampu menciptakan ruang yang  bebas untuk berbicara tentang Islam. Orang-orang yang sebenarnya punya kehendak untuk membantah standar retorika anti-Islam dan anti-Arab yang dominan muncul di media dan wacana intelektual Barat, atau mereka yang sekedar berusaha menghidari idealisasi Islam (untuk tidak mengatakannya sentimentalisasi), adalah orang-orang yang kini tidak memiliki tempat untuk berdiri, apalagi bersuara dan bergerak bebas guna menampilkan aspirasinya.

Sejak akhir abad 18 hingga kini, reaksi Barat terhadap Islam masih dibentuk oleh jenis pemikiran yang orientalistik. Orientalisme sendiri adalah pola pikir yang didasari pada sebuah imajinasi geografis yang membagi dua kata menjadi dua bagian yang tidak sama; yang lebih besar dan “berbeda” disebut Timur, sedangkan yang lain – yang juga dikenal sebagai “dunia kita” – disebut Barat.  Pembagian semacam ini akan selalu terjadi ketika suatu masyarakat atau kebudayaan memikirkan masyarakat dan kebudayaan lain yang berbeda dan menarik. Bahkan ketika Timur dianggap sebagai bagian dunia yang lebih rendah, kenyataannya ia diberkahi dengan ukuran kawasan dan potensi kekuatan yang jauh lebih besar dibanding Barat. Sejauh ini, Islam selalu dilihat sebagai bagian atau identik dengan Timur. Maka, dalam struktur wacana Orientalisme, sebagaimana layaknya mereka membayangkan “Timur”, Islam juga akan selalu menyuguhkan ketakutan dan dilihat dengan mata pandang permusuhan. Sejauh ia menyangkut Barat, Islam tidak hanya akan dilihat sebagai faktor agama, psikologi ataupun politik, tapi lebih sebagai pesaing tangguh sekaligus tantangan bagi Kekristenan di masa depan.

Sejak Abad Pertengahan, utamanya dalam konteks sejarah Eropa dan Amerika, saya belum pernah menemukan satu periode pun di mana Islam dibicarakan atau dipikirkan di luar kerangka yang diciptakan oleh hasrat, prasangka dan kepentingan politik. Tampaknya ini bukan temuan yang mengejutkan. Sejak abad 19, berikut dengan praduga-praduga yang muncul, seluruh kajian ilmiah dan disiplin ilmu yang mereka namai Orientalisme itu secara sistematis memang diarahkan mengkaji Timur. Para komentator Islam awal seperti Peter The Venerable dan Barthelemy D’Herbelot misalnya, bisa dipastikan selalu punya kecenderungan pada polemik kekristenan dalam setiap apa yang mereka katakan. Tapi muncul sebuah asumsi, bahwa sejak Eropa mencapai zaman keilmuan modern dan mampu membebaskan dirinya dari takhayul dan laku jahiliyah, kampanye yang sama bisa dipastikan juga tercakup dalam Orientalisme itu sendiri. Bukankah Silvestre de Sacy, Edward Lane, Ernest Renan, Hamilton Gibb dan Louis Massignon adalah sosok terpelajar, sarjana obyektif? Dan, bukankah – dalam konteks kemajuan di bidang sosiologi, antropologi dan sejarah di abad 20 – para sarjana Amerika yang mengajar Islam dan Timur Tengah di tempat-tempat seperti Princeton, Harvard dan Chicago telah mendaku dirinya sebagai akademisi yang tidak memihak dan bebas dan kecenderungan khusus dalam apa yang mereka kerjakan? Jawabannya adalah tidak. Ini menunjukkan kalau sebagai sebuah disiplin ilmu, Orientalisme – meskipun tidak lebih bias dibanding ilmu sosial dan humanistik lainnya – sangat kental dengan aroma ideologis dan terkontaminasi satu pandangan resmi tentang dunia. Yang membedakan Orientalisme dengan bidang keilmuan lainnya adalah, bahwa para orientalis menggunakan otoritasnya sebagai ahli untuk menyangkal – bukan menutupi – perasaan mendalam mereka tentang Islam dengan sebuah jargon yang bertujuan untuk mengesahkan “objektivitas” dan “ketidakberpihakan ilmiah” mereka. ini satu poin.

Hal lain yang membedakan keduanya adalah pola historis yang kemudian menjadi karakteristik khusus dalam Orientalisme itu sendiri. Di zaman modern, kapanpun itu, akan selalu terjadi ketegangan politik yang tajam antara Barat dan Timur (atau antara Barat dan Islam). Demikian juga, akan selalu muncul kecenderungan Barat untuk tidak langsung menerapkan kekerasan, tapi lebih dulu melakukan hal-hal yang “dingin”, menciptakan instrument ilmiah yang terpisah dan representasi obyektifitas semu untuk merespons [dan menundukkan] Timur. Melalui cara ini Islam akan terlihat lebih jelas, sifat ancamannya juga muncul, – dan dari sanalah – sebuah tindakan perlawanan bisa dirumuskan. Dengan kata lain, baik sains maupun agresi militer, pada akhirnya sama-sama muncul sebagai bentuk agregasi terhadap Islam.

Ada dua contoh yang sangat mirip, yang mampu menggambarkan tesis saya ini. Hari ini kita dapat melihat secara retrospektif bahwa selama abad 19, baik Prancis maupun Inggris, telah melakukan pendudukan di daerah-daerah Islam Timur, persis ketika metode ilmiah untuk memahami dan mengidentifikasi ciri-ciri Timur telah berkembang, mengalami modernisasi dan perkembangan teknis yang luar biasa. Dua dekade pasca pendudukan Perancis atas Aljazair pada 1830 misalnya, para sarjana Perancis benar-benar telah mengubah format studi tentang Timur – yang sebelumnya tampak seperti penjaja barang antik yang memperlakukan barang museum – menjadi format studi dan disiplin yang lebih rasional-sistematis. Hal itu sebenarnya sudah muncul ketika Napoleon Bonaparte membentuk sekelompok ilmuan canggih agar usaha menduduki Mesir tahun 1798 berjalan lebih efisien. Tapi maksud saya, bagaimanapun, pendudukan Napoleon tersebut menutup satu bab tersendiri dalam sejarah perkembangan Orientalisme. Sedangkan bab yang lain, baru dimulai jauh setelahnya, yakni ketika de Sacy menjadi pengawas di Lembaga Studi Oriental Prancis. Saat itu, Perancis menjelma menjadi pemimpin dunia dalam kajian Orientalisme; sebuah momentum yang memuncak dan mencapai klimaksnya ketika Perancis menduduki Aljazair pada tahun 1830.

Saya sama sekali tidak menyatakan bahwa ada hubungan sebab-akibat antara satu hal dengan hal lain, atau mengadopsi sebuah pandangan anti-intelektualisme yang mengklaim bahwa semua proses pembelajaran (pengkajian dan penelitian) ilmiah akan selalu mengarah pada aksiologi kekerasan (seperti kolonialisme) dan menyebabkan penderitaan [masyarakat koloni]. Yang ingin saya katakan adalah, sebuah imperium tidak lahir secara spontan, sama halnya zaman modern yang tidak dijalankan dengan improvisasi begitu saja. Tapi begini; ketika upaya redefinisi dan rekonstitusi pengalaman manusia yang dilakukan para ilmuan penting diamati untuk memahami konstelasi perkembangkan studi ilmiah, bukankah hal yang sama, yakni upaya para politisi mendefinisikan ulang wilayah kewenangannya untuk memasukan sebuah wilayah inferior (negara atau bangsa) sebagai sebuah lokasi geografis tempat “kepentingan nasional” baru ditemukan dan menerapkan pengawasan ketat terhadapnya – juga penting dilakukan? Saya pribadi ragu Inggris akan mampu menduduki Mesir dalam jangka waktu yang lama dan massif jika bukan karena investasi jangka panjang berupa sistematisasi pengetahuan Oriental yang pertama kali dikembangkan oleh para sarjana seperti Lane dan William James. Keakraban, aksesibilitas dan keterwakilan; adalah unsur yang diproyeksikan para orientalis tentang Timur. Yang “Orient” bisa dilihat, dipelajari dan diatur. Ia tidak lagi menjadi tempat yang jauh (dari Barat), menakjubkan, tak tertebak dan terpahami. Ia bisa dibawa pulang (ke Barat) – atau, sederhananya, Eropa bisa membuat dirinya betah di sana, dan memang itulah yang terjadi.

Contoh kedua yang lebih kontemporer saya rasa adalah fakta bahwa Islam sebagai “Orient” saat ini penting untuk sumber daya dan peneguh posisi geopolitik Barat. Namun memang, tak satu pun dari kepentingan tersebut diproyeksikan berdasarkan minat, kebutuhan atau aspirasi orang asli Timur. Pasca Perang Dunia II, AS mulai mendominasi dan menghegemoni dunia Islam; sebuah posisi yang dulunya pernah dipegang Inggris dan Perancis. Alih kuasa dari sistem kekaisaran kepada sistem lain semacam ini menunjukkan dua hal; pertama, berkembangnya minat akademis yang luar biasa tentang Islam. dan kedua, terjadi revolusi luar biasa di sektor teknik pers swasta dan industri jurnalisme elektronik. Keduanya, bersamaan dengan sejumlah universitas, pemerintahan dan pakar bisnis, membidani perkembangan minat orang untuk mempelajari Islam dan Timur Tengah. Islam pun menjadi obyek yang akrab di pasar konsumen berita di Barat, dan pada tahap selanjutnya, hal itu secara tidak langsung telah menjinakkan Islam. Karena AS sebelumnya memang tidak pernah mendominasi wilayah non Barat sebagaimana mereka mendominasi dunia Arab Islam hari ini, Islam pun jadi sasaran kejenuhan budaya dan ekonomi Barat yang paling krusial dalam sejarah dan membuat relasi pertukaran Barat-Islam yang terjadi terasa sangat sepihak [menguntungkan Barat].

Sejauh menyangkut perhatian Amerika Serikat, tidak berlebihan jika dikatakan kalau Muslim dan Arab pada dasarnya hanya dipandang sebagai pemasok minyak atau calon teroris. Yang kita miliki kini hanyalah sejumlah karikatur dunia Islam yang kasar dan secara esensial disajikan sedemikian rupa sehingga dunia tampak tengah rentan terhadap agresi militer. Saya kira itu bukan kebetulan, karena pembicaraan soal intervensi militer AS di Teluk Arab misalnya – yang telah dimulai jauh sebelum invansi Soviet ke Afghanistan –, telah didahului oleh presentasi soal agenda rasionalisasi Islam; sebuah agenda pemberadaban yang sebenarnya sudah dimulai sejak lama. Melalui televisi yang “sejuk” dan studi orientalis yang “obyektif”, situasi kita kini tampaknya sama mengerikannya dengan situasi kolonialisme Inggris dan Prancis di abad 19.

Meskipun agresi militer tidak terjadi, tetap saja implikasinya sangat luas [bagi Arab-Islam], lebih-lebih ketika Islam secara seragam dimunculkan Eropa dan Barat sebagai wajah ancaman. Hal itu menjadi bukti bahwa, di satu sisi, media telah menjadi bidan bagi “kemunculan” dan upaya mengembalikan “kebangkitan” Islam. Sedang di sisi yang lain, ia juga menjadi bukti bahwa sebagian dunia Islam – seperti Palestina, Iran, Afghanistan dan lain-lain – tampaknya mengalami proses perkembangan sejarah yang tidak setara dan melanggar rancangan hegemoni Barat, khususnya Amerika. Para ahli dan pelaku media hampir selalu identik dengan proyeksi semacam ini. Alih-alih memperbaiki dan mereproyeksi, para intelektual dan kebijakan AS telah memperkuat citra tersebut. Dari ide “krisis bulan sabit”nya Zbigniew Brzezinski hingga “kembalinya Islam”nya Bernard Lewis, proyeksi dan citra Islam tersebut diambil sebagai postulat; bahwa “Islam” selalu berarti akhir dari sebuah peradaban yang kini “kita” kenal; bahwa Islam anti manusia, anti demokrasi, anti semit dan anti rasional. Tak hanya itu, dengan segala profersionalitasnya dalam Studi Islam, para akademisi dan profesor di universitas turut menjadi kolaborator dalam membentuk kondisi semacam ini. Kalaupun mereka diam, hal itu juga akan semakin menegaskan fakta bahwa di AS memang tidak ada kebijakan, upaya kebudayaaan yang signifikan atau bahkan komunitas, yang memberikan ruang bagi Islam untuk diidentifikasi secara simpatik dan jauh dari citra semu yang telah ada.

Di sisi yang lain, kita harus mengakui bahwa acara-acara – termasuk acara dan berita tentang Dunia Ketiga sendiri – yang diproduksi AS telah mengisi dan mendominasi platform media masyarakat Dunia Ketiga. Sebagai sumber berita, negara-negara Dunia Ketiga secara umum dan negara Islam khususnya, juga diproyeksikan sebagai konsumen berita. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, Hari ini Dunia Islam belajar tentang dirinya sendiri melalui gambar, sejarah dan informasi yang dibuat di Barat.  Belum lagi jika kita harus mengakui sebuah fakta, bahwa cendekiawan dunia Islam hari ini masih bergantung pada perpustakaan, literatur dan institusi pembelajaran AS dan Eropa untuk mengkaji Studi Timur Tengah (hal ini sangat kontras, apalagi soal bahwa sampai kini belum ada perpustakaan literatur Arab terbaik yang bisa diandalkan oleh seluruh dunia Islam). Belum lagi faktor dominasi Bahasa Inggris, sistem menajerial, ide-ide politik dan sistem ekonomi yang seluruhnya hampir dikendalikan oleh Barat. Berdasarkan kenyataan tersebut, kita bisa mendapatkan gambaran akurat – yang meskipun sangat menyedihkan – tentang apa yang telah dilakukan revolusi media terhadap Islam.

Maka Islam kita sejauh ini adalah gambaran Islam yang diberikan oleh media massa. Bukan hanya melalui radio, film, televisi, tapi juga melalui buku, majalah dan novel berkualitas tinggi. Gambaran Islam yang diwariskan secara massif ini memang menyedihkan sekaligus menyesatkan. Nama-nama seperti Ayatullah Khomeini, Kolonel Muammar Khadafi, Syeikh Ahmad Zaki Yamani dan tokoh pejuang Palestina lain misalnya, mungkin dikenal sebagai tokoh yang mengagumkan. Tapi di balik itu, mereka sangat lekat dengan bayangan-bayangan tentang jihad, perbudakan, praktik subordinasi perempuan dan kekerasan yang dikombinasikan dengan kezaliman-kezaliman ala ekstrimis. Jika anda bertanya kepada orang terpelajar di Barat tentang seorang penulis, musisi atau intelektual Arab-Islam, maka mayoritas akan menyebut nama Kahlil Gibran, tidak ada nama lain. Dengan kata lain, apa yang kini kita dapati soal gambaran mengenai sejarah, budaya dan masyarakat Islam, tak lebih hanya sekedar gambaran terpotong-potong yang telah dikemas sedemikian rupa oleh media. Seperti kata Herbert Schiller, bahwa gambar-gambar TV memang cenderung menampilkan realitas dalam bentuknya yang instan, retak dan terpecah-pecah. Karena itu, tak heran jika kemudian Islam muncul dalam sebuah gambaran tentang segerombolan pemasok minyak yang melambai-lambaikan pedangnya serta tereduksi dalam satu dua patah kata sosok pemimpin Islam yang kebetulan juga nyaman dalam posisinya sebagai kambing hitam.

Sudah tidak relevan lagi rasanya menyalahkan media, para ahli, pemerintah ataupun khalayak. Meski bagi sebagian orang, keseragaman proyeksi buta yang ditampilkan media tampaknya cukup mengejutkan. Mungkin benar, bahwa kini situasi informasi dalam hal penggambaran subyek apapun, telah diatur dengan standar yang sangat rendah; Dan mungkin juga benar, bahwa segala hal yang disetuh oleh para ahli, pihak berkepentingan khusus dan para manipulator, dengan seketika berubah menjadi kebodohan, kealpaan dan stereotipe. Dan di sini kita harus waspada, bahwa gambaran Islam yang muncul di televisi, di buku pelajaran sekolah, dalam novel best seller yang ditulis oleh seorang novelis kakap ataupun Islam yang diperbincangkan secara ilmiah oleh sekelompok akademisi, nyatanya mewariskan gambaran yang persis dan hampir sama. Ini bukan berarti gambaran tersebut tidak akurat, tapi – sebagai sebuah produk gambar – hal itu mengandung konsistensi mengenai entitas yang dibuat-buat, bukan realitas itu sendiri. Meski hal itu dilakukan untuk menggambarkan aspek-aspek tertentu dari – apa yang disebut Marshall Hodges sebagai – dunia Islam, tapi dengan perubahan yang dilakukan berdasarkan penyesuaian-penyesuaian pola spesifik tentang konsumen media massa, gambaran yang muncul tentang apa yang disebut sebagai Islam itu sendiri tampaknya tergencet dan sama sekali tidak mendapatkan  perhatian. Maka pengaruh media, hegemoni I telektual dan persepsi yang mereka miliki, adalah faktor penting dalam “penghadiran” Islam hari ini. Dalam fungsinya sebagai penjual produk, media – menyesuaikan diri dengan karakter konsumennya yang lebih suka simplisitas dibanding kompleksitas – membangun konstruksi baru tentang citra Islam yang general dan instan, yang mana hal itu akan berakibat pada terdistorsinya faktor masyarakat dan kemanusiaan dalam sejarah Islam itu sendiri.

Lalu apa yang bisa dilakukan kini? Pertama-tama, kita harus menghindari upaya mengubah, memperbaiki, memperindah dan mempercantik citra Islam. Upaya semacam ini justru akan semakin menjerumuskan Islam pada perangkap berupa keyakinan bahwa citra reduktif dapat dijadikan pengganti bagi realitas yang kompleks. Alih-alih mengembalikan gambaran Islam yang riil,  citra Islam yang lahir dari sistem fiksi ideologis semacam itu justru akan mengiyakan citra Islam yang didesain Barat. Maka perbedaan tegas dan cepat harus segera dibuat, antara gambaran yang muncul dari dunia Islam sendiri dengan gambaran Islam yang lahir dari media.

Hari ini, mustahil rasanya mendapatkan dukungan terkait penyelenggaraan diskusi investigatif yang serius tentang Islam – bahkan sebagai subyek penyelidikan akademis – dari para orientalis tradisional dan akademisi studi Timur-Tengah di universitas-universitas Barat. Maka perlu kiranya mendorong cendekiawan dan akademisi muda sebagai sosok yang mampu bekerja di luar prasangka dan klaim yang telah dibangun oleh pendahulunya yang tua-tua itu. Dan yang tak kalah lebih penting untuk diamati, bahwa minat untuk mempelajari Islam telah tumbuh dan berkembang, bukan hanya di kalangan ahli Timur-Tengah atau mereka yang punya keahlian khusus dalam bidang studi Islam Modern, tapi juga di kalangan dengan segmen studi yang lebih luas dan fokus pada isu humaniora pada umumnya. Segmen terakhir ini biasanya lebih fokus pada isu hak asasi manusia – isu yang sebenarnya lebih nampak sebagai proyek bayaran – di banding fokus pada komitmen untuk meretas relasi Timur dan Barat. Hal yang sama juga terjadi di kalangan akademisi sastra komparatif, ahli filologi semit dan para sosiolog yang lebih peduli pada isu-isu konkret yang terjadi di “masyarakat” dibanding variabel spesifik yang disebut “Masyarakat Islam”. Dengan kata lain, siapapun orangnya dan apapun keahliannya, – selain upaya-upaya yang tampaknya politis dan berangkat dari stereotipe sempit –   saya ragu apakah memang ada upaya untuk membangun sikap yang lebih simpatik dan intens terhadap dunia Islam. Saya menyakini, hanya dengan melampaui label-label yang dipolitisir seperti “Timur” dan “Barat” itulah, kita baru benar-benar bisa menjangkau sebuah dunia yang nyata dan riil.

Tidak ada lagi waktu untuk meratapi dan marah terhadap permusuhan Barat-Arab. Meski dengan menganalisa motif dan aspek dari entitas Barat yang melahirkan stigma permusuhan, kita telah mengambil sebuah langkah penting untuk melawan, tapi masalahnya tidak sesederhana itu. Tentu ada bahaya besar yang menanti jika kita benar-benar mengikuti dan memenuhi citra Islam yang memusuhi Barat semacam itu – meskipun dalam kasus beberapa orang Musim-Arab dan orang kulit hitam Afrika, sikap semacam itu dianggap benar. Dan itulah urgensi terkait apa yang harus kita lakukan. Di tengah proyek industrialisasi, modernisasi dan upaya mengembangkan diri, Dunia Islam secara kasat mata sebenarnya tengah patuh pada upaya untuk menjadikan dirinya pasar konsumen yang menjanjikan. Nah untuk menghilangkan mitos dan stereotipe Orientalisme, dunia secara keseluruhan harus diberi kesempatan untuk melihat bagaimana Muslim dan Orient menampilkan bentuk kesejarahannya sendiri berikut jenis sosiologi dan kesadaran budayanya sendiri yang khas. Singkatnya, tujuan dari upaya-upaya ini adalah rehistorisasi atau menulis kembali sejarah, melakukan penyelidikan terhadap dunia Islam dan keragaman masyarakatnya dengan semangat obyektif dan  keinginan untuk menggambarkan sebuah realitas sebagaimana adanya. Namun sayangnya, dengan ketersediaan dana yang cukup besar dan cenderung mudah didapat, Dunia Islam tampaknya tidak tertarik untuk mengembangkan studi, membangun perpustakaan dan mendirikan lembaga penelitian guna melihat realitas Islam dalam kaca mata kajian ilmiah modern dan meneliti aspek-aspek yang Islami dalam konteks Dunia Islam.

Pertanyaan besarnya – di tengah munculnya generasi baru yang cenderung lebih rentan pada ekses terbutuk revolusi media – mengapa media tetap melakukan hal itu? Kalaupun ini dianggap fakta bahwa negara-negara Dunia Ketiga yang baru saja merdeka punya kebijakan yang mendukung hal itu, tidaklah berlebihan jika kita mengatakan kalau inti permasalahannya bukanlah pada Islam, tapi lebih kepada problematika sosial dan budaya. Perlawanan retorik terhadap neo-imperialisme juga hanya akan menjadi omong kosong ketika pemerintah nasional secara terbuka justru mendukung nilai-nilai imperialisme baru. Keterbuaian pada retorika yang mengabaikan substansi konkret semacam ini, menunjukkan kalau kita tidak belajar apa-apa dari kasus distorsi citra Islam yang ditampilkan media Barat. Distorsi semacam ini murni soal kekuasaan; citra yang muncul adalah efek dari kekuatan politik yang tengah berlangsung. Karena itu, segala upaya yang dilakukan untuk mengoreksi distorsi citra Islam-Arab, harus diletakkan dalam upaya politik yang melibatkan penggunaan alat-alat kekuasaan.

Izinkan saya untuk kembali kepada kekuatan media hari ini yang konsisten melibatkan Islam. Ketika seorang penguasa seperti Anwar Sadat – yang berulang kali mengatakan kalau Khomeini adalah orang gila dan aib bagi Islam – pers justru mendapatkan amunisi tambahan dan suplai citra untuk menegaskan bahwa semakin banyak Muslim yang jadi musuh Amerika. Hal yang sama juga berlaku dalam kasus Kerajaan Arab Saudi dan Iran dalam konteks krisis sandera.

Sejak Perjanjian Camp David pada tahun 1978, konsensus bahwa Sadat adalah “kawan” sebenarnya sudah muncul. Bersama dengan Perdana Menteri Israel Menachem Begin, Sadat secara terbuka telah menyatakan kesediaan untuk menjadi polisi regional dan memberikan wilayahnya untuk dijadikan pangkalan Amerika Serikat. Konsekuensinya, seluruh informasi yang muncul digeneralisasi menjadi citra tentang Mesir secara khusus, dan Arab secara umum. Dengan kata lain – seiring dengan munculnya penolakan terhadap Sadat – berita tentang Mesir dan Arab justru diproyeksikan untuk mengonfirmasi keunggulan Sadat. Hal yang sama juga terjadi dalam kasus Rezim pahlevi. Artinya, invetasi politik, strategi militer dan ekonomi Arab saat ini ya dilakukan melalui Sadat dan berdasarkan perspektif Sadat tentang berbagai hal, khususnya tentang Mesir dan Arab [-Islam].

Dengan dimulainya invasi Soviet ke Afghanistan, kita mungkin akan mengalami perpecahan yang lebih dramatis, yang memisahkan Muslim yang baik dan yang jahat. Kita pasti akan melihat lebih banyak berita yang memuji pencapaian orang-orang Muslim baik seperti Sadat, Zia ul-Haq dari Pakistan dan pemberontak Muslim Afghanistan – upaya yang dilakukan untuk menampilkan kalau Islam yang baik adalah yang anti-Komunisme dan bersepakat dengan proyek modernisasi. Bagaimana dengan Muslim yang tidak seperti itu? Seperti biasa, paling-paling mereka akan dicap sebagai seorang fanatik dan terbelakang.[]

REKOMENDASI

Di Bulan Ramadan, Bekerja Untuk Menafkahi Keluarga Tetap Lebih Baik Daripada I’tikaf Di Masjid

Harakah.id – I'tikaf di masjid memang menjadi opsi ibadah yang dianjurkan dilakukan di Bulan Ramadan. Tapi, yang harus jadi catatan, bekerja...

Pas Sahur, Masih Bolehkah Kita Makan dan Minum Ketika Imsak Sudah Diumumkan? Ini Penjelasan...

Harakah.id - Ketika Imsak sudah diumumkan, mungkin sebagian dari kita masih bertanya; masih bolehkah kita menelan makanan dan menyeruput minuman? Apa...

Orang Mulia Meninggal Di Bulan Mulia, Ini Daftar Ulama-Ulama Nusantara yang Wafat di Bulan...

Harakah.id - Wafat di Bulan Ramadan konon merupakan keberkahan tersendiri bagi seseorang. Meninggalkan dunia di waktu mulia adalah satu tanda kemuliaan...

Larangan Berpuasa di Hari Syak, Hari Meragukan Apakah Ramadan Sudah Masuk Atau Belum

Harakah.id - Berpuasa di hari syak adalah praktik berpuasa yang dilarang oleh Islam. Hal itu dikarenakan, hari syak adalah hari yang...

TERPOPULER

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...