Islam Indonesia Asli Dari Arab! Teori Lainnya Soal Kedatangan Islam di Nusantara

0
1265
Islam Indonesia Asli Dari Arab! Teori Lainnya Soal Kedatangan Islam di Nusantara

Harakah.id Islam Indonesia asli dari Arab juga menjadi satu teori soal kedatangan Islam di Nusantara. Ia adalah cuplikan pencarian panjang soal asal muasal Islam di Kepulauan Nusantara. Teori-teori ini membentuk kronik sejarah yang sangat menarik bila diamati dengan jeli.

Dalam artikel sebelumnya disebutkan, Arab mendapatkan perhatian setelah teori India memegang kendali. Pandangan ini secara tidak langsung ingin mengatakan kalau Islam Indonesia asli dari Arab!

Para pedagang Arab menyebarkan Islam ketika mereka mendominasi perdagangan Barat-Timur sejak abad-abad awal Hijri atau abad ke-7 dan ke-8 Masehi. Meski tidak terdapat catatan-catatan sejarah tentang kegiatan mereka dalam penyebaran Islam, cukup pantas mengasumsikan bahwa mereka terlibat pula dalam penyebaran Islam kepada penduduk lokal di Nusantara. Sebagian orang-orang Arab ini dilaporkan melakukan perkawinan dengan wanita lokal, sehingga membentuk nucleus sebuah komunitas Muslim yang terdiri dari orang-orang Arab pendatang dan penduduk lokal.

Terkait dengan hal tersebut, kitab ‘Ajâib Al-Hind, salah satu sumber Timur Tengah (aslinya berbahasa Persia) paling awal tentang Nusantara, turut memberikan isyarat tentang eksistensi komunitas Muslim lokal di wilayah kerajaan Hindu- Budha Zabaj (Sriwijaya). Kitab yang ditulis Buzurg b. Shahriyar Al-Ramhurmuzi sekitar tahun 390/1000 ini meriwayatkan tentang kunjungan para pedagang Muslim ke kerajaan Zabaj. Para pedagang Muslim ini menyaksikan kebiasaan di kerajaan itu, bahwa setiap orang Muslim—baik pendatang maupun penduduk lokal—yang ingin menghadap raja harus “bersila”. Kata “bersila” yang digunakan kitab ‘Ajâ’ib Al-Hind pastilah salah satu di antara sedikit kata Melayu yang pernah digunakan dalam teks Timur Tengah.

Teori bahwa Islam juga dibawa langsung dari Arabia dipegang pula oleh Crawfurd, walaupun ia menyarankan bahwa interaksi penduduk Nusantara dengan kaum Muslim yang berasal dari pantai timur India juga merupakan faktor penting dalam penyebaran Islam di Nusantara. Sementara itu, Keijzer memandang Islam di Nusantara berasal dari Mesir atas dasar pertimbangan kesamaan kepemelukan penduduk Muslim di kedua wilayah kepada mazhab Syafi’i. “Teori Arab” ini juga dipegang oleh Niemann dan de Hollander dengan sedikit revisi; mereka memandang bukan Mesir sebagai sumber Islam di Nusantara, melainkan Hadhramawt. Sebagian ahli Indonesia setuju dengan “teori Arab” ini. Dalam seminar yang diselenggarakan pada 1969 dan 1978 tentang kedatangan Islam ke Indonesia mereka menyimpulkan, Islam datang langsung dari Arabia, tidak dari India; tidak pada abad ke-12 atau ke-13 melainkan dalan abad pertama Hijri atau abad ke-7 Masehi.

Di antara pembela tergigih keyakinan Islam Indonesia asli dari Arab atau “teori Arab” atau, sebaliknya, penentang terkeras “teori India” adalah Naguib Al-Attas. Seperti Marrison, ia juga tidak bisa menerima penemuan epigrafis yang disodorkan Moquette sebagai bukti langsung bahwa Islam dibawa dari Gujarat ke Pasai dan Gresik oleh Muslim India. Ia berpendapat, batu-batu nisan itu dibawa dari India semata-mata karena jaraknya yang lebih dekat dibandingkan dengan Arabia.

Ia memandang, bukti paling penting yang perlu dikaji ketika membahas kedatangan Islam ke Nusantara adalah karakteristik internal Islam di Dunia Melayu-Indonesia itu sendiri. Ia mengajukan apa yang disebutnya “teori umum tentang Islamisasi Nusantara”, yang harus didasarkan terutama pada sejarah literatur Islam Melayu-Indonesia dan sejarah pandangan-dunia Melayu seperti terlihat dalam perubahan konsep-konsep dan istilah-istilah kunci dalam literatur Melayu-Indonesia pada abad ke-10-11/16-17.

Penelurusan peranan Arab dan argumen Islam Indonesia asli dari Arab terus diupayakan. Data-data sejarah semakin memperlihatkan kejelasan peranan tersebut terutama setelah arsip-arsip sejarah Dinasti Tang dan Dinasi Song (960-1270) dibuka ke publik. Melalui arsip tersebut, Paul Wheatley menunjukkan dan membuktikan keterbilatan bangsa Arab di Asia Tenggara. Muncullah dua kata kunci yang menjadi gerbang penelusuran baru bagi sejarah Islamisasi Nusantara: “Tashi” dan “Mangiri”. Orang-orang “Tashi” yang disebut arsip Dinasti Song diklaim telah bermukim di Nusantara sejak abad 7 M.

Selain Wheatley, S.Q. Fatimi termasuk sejawaran yang turut terlibat aktif dalam menempatkan Arab di sebuah posisi strategis kaitannya dengan Islamisasi Nusantara. Selain itu, ada juga dua intelektual Nusantara yang turut mengamini asumsi tersebut, yaitu: Habib Alwi bin Tahir al-Haddad dan Syeikh Naquib al-Attas. Keduanya berpendapat bahwa kedatangan Islam di Nusantara melibatkan aktor-aktor keturunan langsung Rasulullah SAW. Meskipun begitu, seluruh upaya tersebut hanya sebatas asumsi yang tidak memiliki bukti literal. Siapa Tashi? Di mana Mangiri? Adalah pertanyaan yang tidak terjawab. M.A.P. Meilink-Roelofsz, Andre Wink dan Denys Lombard juga tak menjelaskan lebih jauh siapa aktor Tashi tersebut? Di mana pangkalan dan bagaimana prosesnya.

Orang Arab mana yang membawa Islam ke Nusantara? Ada dua pendapat besar; pertama adalah pedagang. Asumsi yang mengatakan bahwa pedaganglah yang membawa ajaran Islam biasanya didasarkan pada catatan Tome Pires. Catatan tersebut, menurut Baso, mengabaikan peran kunci para waliyullah keturunan Rasulullah langsung. Hal ini yang kemudian dikritik oleh Richard M. Eaton, yang menemukan bukti keberadaan kelompok sufi di Pesisir India di abad 13-17 M. tapi lagi-lagi, penelitian Eaton terkunci di frame historiografi Marcopolo.