fbpx
Beranda Khazanah Islam Indonesia Berasal Dari India, Masa Sih? Satu Teori Kedatangan Islam di...

Islam Indonesia Berasal Dari India, Masa Sih? Satu Teori Kedatangan Islam di Nusantara

Harakah.idTeori Kedatangan Islam di Nusantara adalah cuplikan pencarian panjang soal asal muasal Islam di Kepulauan Nusantara. Teori-teori ini membentuk kronik sejarah yang sangat menarik bila diamati dengan jeli.

Soal teori kedatangan Islam di Nusantara, para peneliti umumnya berdebat di empat pertanyaan kunci; di mana tempat asal kedatangan Islam? Siapa pembawanya? Kapan waktu kedatangannya? dan bagaimana proses penyebarannya?

Secara umum, teori kedatangan Islam di Nusantara, khususnya di kalangan sejumlah sarjana yang mayoritas asal Belanda, mula-mulanya memegang teori bahwa asal-muasal Islam di Nusantara adalah Benua India, bukan Persia atau Arabia. Peneliti pertama yang mengemukakan teori ini adalah Pijnappel dari Universitas Leiden. Pijanappel percaya kalau asal-muasal Islam di Nusantara berhubungan dengan konteks wilayah di Gujarat dan Malabar. Orang-orang Arab bermazhab Syafi’i yang bermigrasi dan menetap di dua wilayah India tersebut kemudian membawa Islam ke Nusantara.

Teori Pijnappel lantas dikembangkan Snouck Hurgronje yang memperkuat argumen kalau kedatangan Islam di Nusantara dibawa oleh pedagang yang tinggal di India Selatan. Setelah para pedagang, baru kedatangan Islam disusul oleh kedatangan orang-orang Arab, utamanya para keturunan Nabi yang dikenal menggunakan gelar sayyid atau syarif.

Moquette, salah seorang sarjana Belanda lainnya, berkesimpulan lebih spesifik kalau Islam di Nusantara datang dan bermula dari Gujarat. Ia mendasarkan kesimpulan ini setelah mengamati bentuk batu nisan di Pasai yang bertanggal 17 Dzul Hijjah 831 H./27 September 1428 M. Batu nisan tersebut mirip dengan baru nisan di area makam Maulana Malik Ibrahim di Gresik. Kedua nisan tersebut ternyata juga sama dengan bentuk batu nisan yang ada di Cambay Gujarat. Dari sini Moquette berkesimpulan kalau batu nisan di Nusantara, khususnya di Sumatera dan Jawa, diimpor langsung dari Gujarat.

nucare-qurban

Teori India semakin populer ketika R.A. Kern menyebutkan bahwa nisan di Pasai memang diimpor dari Cambay atau Gujarat. B.J.O. Schrieke, C.C. Berg dan Winstedt adalah sejawaran-sejawaran yang juga turut mempopulerkan dan menegaskan bahwa teori India merupakan teori yang paling bisa menjelaskan asal-usul Islam di Nusantara. Dari seluruh sejarawan Barat yang mengapresiasi teori India, G.W.J. Drewes adalah salah satu yang paling fanatik. Dengan menyatakan bahwa belum ada teori baru yang bisa membantah teori India, Drewes memberikan penjelasan bahwa Islamisasi terjadi secara satu arah karena melibatkan aktor-aktor yang pasif dan tidak kreatif dalam merespons kebaharuan.

Cukup lama teori nisan India dipegang sebagai postulat historiografi. Menurut Baso, apa yang diperlihatkan oleh teori nisan India adalah upaya pembekuan dan penghentian sejarah dari sebuah proses aktif-dialogis antara aktor-aktor yang terlibat, menjadi sekedar permainan cocokologi yang melibatkan benda mati seperti batu nisan. Tidak ada penampilan India yang historis, apalagi Nusantara yang historis. Dan ini yang coba ditambal oleh Stuart Robson.

Dengan meneliti tradisi kesusastraan di India dan Nusantara abad 14-15 M, Stuart Robson mempertegas asumsi bahwa Islam di Nusantara berasal dari India. Hal itu disebabkan oleh adanya kesamaan produk kesusastraan antara India dan Nusantara di kisaran abad tersebut. Hal ini, menurut Robson, menunjukkan adanya satu ikatan historis yang sangat kuat, yang dihubungkan oleh jalur pelayaran antara India dan Nusantara.

Fase ini diikuti kemudian oleh beberapa sejawaran Barat seperti Thomas W. Arnold, G.E. Marrison yang mengkritik keras teori Gujarat dan A.H. Johnson yang mulai melacak peranan aktor-aktor aktif dari kalangan orang Arab di abad 13. Namun seluruh penelurusan tersebut terhenti di abad 13; terhenti di sabda Marcopolo yang secara tidak langsung menjadi frame ortodoksi penulisan sejarah Islamisasi Nusantara.

Marrison misalnya, menegaskan bahwa meskipun batu-batu nisan yang ditemukan di tempat-tempat tertentu di Nusantara boleh jadi berasal dari India, tapi itu tidak lantas berarti Islam juga didatangkan dari sana. Marrison mematahkan teori ini dengan menunjuk kepada kenyataan bahwa pada masa Islamisasi Samudera-Pasai, Gujarat masih merupakan kerajaan Hindu. Barulah setahun kemudian (699/1298), Cambay, Gujarat ditaklukkan kekuasaan Muslim. Jika Gujarat adalah pusat Islam, yang dari tempat itu para penyebar Islam datang ke Nusantara, maka Islam pastilah telah mapan dan berkembang di Gujarat sebelum kematian sebelum 698/1297.

Marrison selanjutnya mencatat, meski laskar Muslim menyerang Gujarat beberapa kali, masing-masing 415/1024, 574/1178 dan 595/1197, raja Hindu di sana mampu mempertahankan kekuasaannya hingga 698/1297. Mempertimbangkan semua ini, Marrison mengemukakan teorinya bahwa Islam di Nusantara bukan berasal dari Gujara atau Bengalt, melainkan dibawa para penyebar Muslim dari pantai Coromandel pada akhir abad ke-13.

Thomas Arnold menambahkan bahwa bukan hanya Coromandel, Malabar juga mempunyai peranan penting dalam perdagangan antara India dan Nusantara. Sejumlah besar pedagang ini mendatangi pelabuhan-pelabuhan dagang dunia Melayu- Indonesia di mana mereka ternyata tidak hanya terlibat dalam perdagangan, tetapi juga dalam penyebaran Islam. Tetapi penting dicatat, menurut Arnold, Coromandel dan Malabar bukan satu-satunya tempat asal Islam dibawa, tetapi juga di Arabia. Di sini Arab mulai dilirik sebagai tempat asal Islam di Nusantara.

Keberadaan Teori India secara tidak langsung menisbikan peran Arab sebagai pusat dakwah Islam. Para sejawaran tidak melihat keterlibatan Arab di dalam proses Islamisasi Nusantara. Dengan kata lain, Islam yang terejawantah di Nusantara adalah Islam India, bukan Islam yang datang dari Arab. Namun seluruh bangunan asumsi ini bergeser semenjak muncul beberapa konferensi Islamisasi Nusantara. Setidaknya ada dua konferensi besar yang diselenggarakan di Medan dan Banda Aceh di tahun 1960-an yang memulai satu fase penelurusan lebih serius terkait keterlibatan Arab dalam proses Islamisasi.

Bersambung…

REKOMENDASI

Saking Beratnya Dosa Korupsi, Sampai-Sampai Rasulullah Enggan Menyalati Jenazah Koruptor

Harakah.id - Rasulullah enggan menyalati jenazah koruptor. Ini Fakta. Bukan berarti jenazah koruptor tidak boleh disalati, tapi hal itu menunjukkan kalau...

Menilik Kembali Misi “Revolusi Ahlak” yang Diusung Habib Rizieq Shihab

Harakah.id - Revolusi ahlak adalah satu adagium yang baru-baru ini diperkenalkan dan sepertinya akan menjadi arah baru perjuangan HRS, FPI dan...

Harlah, Natal dan Maulid

Harakah.id – “Harlah, Natal dan Maulid” adalah artikel yang ditulis Gus Dur pada tahun 2003. Meski sudah berusia 17 tahun, namun...

Tidak Seperti Manusia Pada Umumnya, Benarkah Rasulullah Tidak Dilahirkan Dari Lubang Kemaluan? Begini Penjelasannya

Harakah.id – Rasulullah tidak dilahirkan dari lubang kemaluan. Ada keyakinan di kalangan para ulama, bahwa baik Nabi Muhammad maupun Nabi-Nabi yang...

TERPOPULER

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Alasan Sebagian Ulama Mengapa Tak Mau Baca Surat Al-Masad dalam Shalat

Harakah.id - Ada sebagian ulama yang tak mau baca surat Al-Masad dalam shalat. Alasan mereka tak mau baca surat Al-Masad adalah...