Beranda Muslimah Islam Melarang Kekerasan dalam Rumah Tangga, Ini Penjelasannya

Islam Melarang Kekerasan dalam Rumah Tangga, Ini Penjelasannya

Harakah.idAda tuduhan bahwa Islam mengajarkan kekerasan terhadap perempuan dalam kehidupan rumah tangga. Nyatanya, kekerasan itu adalah praktik yang justru bertentangan dengan ajaran Islam yang sesungguhnya. Islam melarang kekerasan dalam rumah tangga. Inilah penjelasannya.

Diskursus kekerasan sebenarnya tidak hanya dibicarakan di dunia Barat yang non-Islam, tetapi di dunia Islam, Asia Tenggara dan juga negara-negara lain, khususnya Indonesia. Di tanah air kita, kasus kekerasan seksual semakin marak terjadi. 

Berdasarkan catatan Komnas Perempuan, sebanyak 431.471 kasus kekerasan terhadap perempuan terjadi sepanjang 2019.  Jumlah tersebut naik sebesar 6 persen dari tahun sebelumnya, yakni 406.178 kasus. Di tambah lagi, data pada catatan tahunan Komnas Perempuan 2019, sepanjang 2018 ada sebanyak 97 laporan kekerasan yang terjadi di dunia maya. Komnas Perempuan mengklasifikasikan laporan-laporan tersebut pada beberapa tipe KBGO, yakni revenge porn, malicious distribution, cyber harrasment, impersonation, cyber stalking, cyber recruitment, sexting, cyber hacking, and morphing.

Melihat kondisi tersebut, sudah seharusnya ada peraturan absah yang diundangkan demi melindungi hak asasi perempuan. Tak ada alasan lagi untuk menunda atau bahkan menghindar dari tuntutan mengesahkan undang-undang terkait segala bentuk tindak kekerasan terhadap perempuan yang semakin kompleks ini.

Kecuali pengetahuan non ilmiah yang sudah mengakar menjadi ideologi yang tak terbantahkan. Hal ini tentunya lahir dari pemahaman yang salah kaprah mengenai perempuan itu sendiri. Sehingga eksistensinya dianggap the second class, yang rendah, diatur, dikendalikan, bahkan dalam banyak kasus sekan-akan sah pula untuk dieksploitasi dan dikriminalisasi. Anehnya, dalam waktu yang sama perempuan seolah-olah menerima dengan pasrah terhadap beban ketidak-adilan yang dipikulnya. 

Hannan Najmah, seorang intelektual perempuan Islam berlatar belakang Timur Tengah, mengatakan bahwa kekerasan terhadap perempuan adalah bagian dari jenis kekerasan yang selalu didiamkan (al-maskut ‘anhu) oleh masyarakat.

Maksudnya didiamkan oleh masyarakat karena tidak dianggap sebagai permasalahan publik, terutama kekerasan yang terjadi di ranah domestik (KDRT). Hal ini terjadi karena adanya asumsi bahwa perempuan wajar menerima kekerasan berkaitan posisinya sebagai anak, ibu rumah tangga, istri dan lain sebagainya. 

Pandangan di atas itu populer disebut dengan patriarkisme. Namun, masyarakat Indonesia merasa lega setelah diresmikannya UU pada tahun 2003 yakni cara pandang tentang tindak kekerasan terhadap perempuan di ranah domestik. Karenanya, anak perempuan atau istri yang diciderai oleh suami atau orang tua bisa melapor ke polisi. Ini merupakan sebuah revolusi yang terjadi di Indonesia meskipun masih ada kekurangan. Apa yang terjadi dalam konteks Indonesia ini sesungguhnya tidak terlepas dari perjuangan kaum perempuan sendiri yang sedari dini sudah menyadari akan kemanusiaan perempuan.

Dari banyaknya bentuk kekerasan yang timbul di era digital ini, pandangan patriarki adalah biang keladinya. Pandangan tersebut memang tidak dapat dihindari karena sejak dahulu para intelek penafsir atau interpretator papan atas yang populer itu muncul dari kaum laki-laki. Ditambah lagi kondisi sosial dan adat jahiliah yang mendukung hasil penafsiran tersebut, sehingga hasilnya sama sekali tidak objektif. Hanya memandang sebelah mata tanpa memperhitungkan pengalamannya. Laki-laki semata yang menjadi narasumber atau juru bicara dalam membahas perempuan dan keberagamannya. Sehingga di kemudian hari, agama seolah-olah melegitimasi pandangan tersebut.

Di dalam Islam, puncak kode etik kebolehan memukul istri sebab istri nusyuz (membangkang kepada suami) menjadi awal anggapan buruk di dalam agama. Padahal tidak demikian. Ulama klasik, seperti Imam Atha’ (w.126/744), Imam Syafi’i (w. 204/820), Imam Bukhari (w. 256/870), dan Ibn Hajar al-‘Asqalani (w. 852/1449) lebih cenderung melarang (minimal makruh) pemukulan istri.

Sementara ulama kontemporer seperti Ibnu ‘Asyur (1973) dengan argumentasi bahwa memukul diperbolehkan untuk mengembalikan hubungan menjadi lebih baik. Tetapi, jika nyatanya digunakan untuk menyakiti dan tidak lagi membuat hubungan menjadi lebih baik maka memukul menjadi dilarang (mamnu’). Bahkan kata wadhribu hunna dalam QS. al-Nisaa’: 34, diterjemahkan “tidurlah bersama mereka” oleh Ahmad Ali dari Pakistan. Dalam arti, melakukan hubungan seksual.

Ahli kamus al-Qur’an terkemuka, al-Raghib, juga menyebutkan bahwa kata dharaba fahl al-naqata artinya pasangan unta jantan dengan unta betina.

Sehubungan dengan itu, di dalam kitab Shohih Muslim, no. 6195, terpampang jelas bahwa nabi Muhammad SAW tidak pernah sama sekali melakukan pemukulan terhadap istri.

Di dalam kitab Sunan Abu Daud, no. 2146, nabi meminta para suami untuk tidak memukul istrinya. Karena memukulnya berarti sama dengan menganggap sang istri budak (Shahih Bukhari, no. 5295). Bahkan, ketika seorang istri sering berkata kasar sekalipun, Nabi Muhammad tetap meminta suaminya untuk tidak memukulnya (Sunan Abu Daud, no. 142).

Para perempuan juga diminta oleh Nabi Muhammad untuk tidak menikahi laki-laki yang kasar perilakunya (Shahih Muslim, no. 3786). Selain itu, Nabi

Muhammad juga mendengar dan mendukung para perempuan untuk menggugat perilaku kasar para suami dan mencap mereka yang kasar ini sebagai orang-orang yang berperilaku tidak baik (Sunan Abu Daud, no. 2148). 

Dengan demikian, pemukulan bukanlah solusi bagi nusyuz. Malah, hal itu bisa menambah problem baru yang lebih buruk bagi relasi pasutri. Menyelesaikan perilaku nusyuz, baik yang dilakukan suami atau maupun istri, haruslah memenuhi nilai-nilai yang digariskan al-qur’an (QS. Al-nisaa’: 128). Yaitu, bersifat rekonsiliatif, menambah tindakan baik dan menjaga diri (takwa) dari segala perilaku buruk.

Bisa saja seseorang melakukan tindakan-tindakan tegas terhadap pihak yang melakukan nusyuz (QS. al-Nisaa’: 34), tetapi tidak boleh dengan pemukulan atau kekerasan fisik apapun karena tidak akan membantu dan tidak sejalan dengan tujuan rekonsiliasi itu sendiri. Islam melarang kekerasan dalam rumah tangga, demikian inilah penjelasannya.

REKOMENDASI

Surah Yang Dianjurkan dan Disunnahkan Dibaca Dalam Pelaksanaan Salat Idul Fitri

Harakah.id - Dalam pelaksanaan salat idul fitri, ada surah-surah yang sunnah dan dianjurkan untuk dibaca. Surah apa saja? Simak artikel di...

Mendamaikan [Kembali] Hisab dan Rukyat, Dua Metode Penentuan Awal-Akhir Bulan Dalam Penanggalan Hijriyah

Harakah.id - Hisab dan Rukyat adalah dua metode yang masyhur digunakan untuk menentukan awal dan akhir dalam penanggalan Hijriyah. Termasuk dalam...

Secercah Kisah Imam al-Bukhari dan Bapaknya; Catatan Singkat Sorogan Buku “Commentary of Forty Hadiths...

Harakah.id - Imam al-Bukhari adalah salah satu ulama yang kontribusinya tidak lagi bisa kita pertanyakan. Kitabnya, Sahih al-Bukhari, adalah kitab sahih...

Apakah Boleh Membayar Zakat Fitrah Menggunakan Uang Pinjaman Dari Rentenir?

Harakah.id - Apakah boleh membayar zakat dengan uang pinjaman dari rentenir, maka sebenarnya tak perlu ditanyakan, karena dia bukan tergolong orang...

TERPOPULER

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...