Beranda ISLAM NUSANTARA, POTRET ISLAM RAHMATAN LIL ALAMIN

ISLAM NUSANTARA, POTRET ISLAM RAHMATAN LIL ALAMIN

Indonesia adalah negara kesatuan yang bersifat multikultur, berbagai macam suku, agama dan budaya yang hidup bersatu tanpa adanya ancaman. Akan tetapi belakangan ini, muncul gerakan yang mengatasnamakan agama Islam untuk melakukan kekerasan. Oleh karena itu dijawab oleh “Islam Nusantara”.

Istilah tersebut bukanlan hal yang baru muncul setelah menjadi tema Muktamar NU 2015 di Jombang. Kemudian timbul pertanyaan di masyarakat, apa sih sebenarnya Islam Nusantara?

Islam Nusantara dalam Perspektif Kebahasaan

Dilihat dari sudut pandang gramatika bahasa arab, dalam istilah Islam Nusantara termasuk dalam pembahasan bab Idhofah yang berarti penyandaran. Dalam ilmu nahwu (gramatika bahasa Arab), maksud nya dalam istilah tersebut mengandung kata “fi” yang berarti “di”. Meskipun dalam istilah tersebut tidak muncul tetap dapat dimaknai Islam di Nusantara karena susunan tersebut sudah dapat dimengerti. Bahkan pengertian itu bisa diperluas, karena idhofah tidak hanya menyimpan huruf “fi” saja, tetapi juga bisa menyimpang huruf “li” (bagi/untuk/milik).

Dalam Perspektif Ulama

Islam Nusantara dalam pengertian lain, bukanlah sebuah agama, madzhab, aqidah maupun aliran. Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya Pekalongan, pemimpin tertinggi Jam’iyah Ahlu Thariqah al Mu’tabarah an Nahdliyah (JATMAN), menjelaskan bahwa Islam Nusantara adalah sebuah spirit penghargaan terhadap tradisi lokal yang tidak dipertentangkan dengan nilai-nilai agama. Oleh Nahdlatul Ulama, proses dakwah Islam di wilayah Nusantara ini disebut sebagai Islam Nusantara.

Penjelasan ini hampir sama dengan yang dikemukakan KH. Said Aqil Sirodj. Islam Nusantara adalah Islam yang menggabungkan Islam dengan budaya, Islam yang bersatu dengan nasionalisme, dan Islam yang bersatu dengan kebangsaan. Ia menerangkan bahwa Wali Songo-lah yang menjadi panutan dalam mengembangkan Islam Nusantara yang melebur dengan budaya, toleran, dan ramah.

Dilihat dari apa yang dikemukakan oleh Habib Luthfi bin Yahya Pekalongan dan KH. Said Aqil Sirodj, dapat disimpulkan bahwa Islam Nusantara bukanlah aliran maupun agama baru, akan tetapi metode penyebaran Islam yang berada di Nusantara yang sesuai dan menjadi satu dengan budaya-budaya luhur Nusantara, tanpa ada kekerasan dan paksaan seperti yang telah dilakukan oleh Para Wali Songo.

Islam Nusantara, Respon Problem Keislaman Mutakhir

Islam Nusantara juga sebagai jawaban untuk permasalahan jaman sekarang. Islam sudah tercoreng nama baiknya karena ada oknum yang mengatasnamakan agama Islam guna merusak fasilitas umum dan menyerang agama lain. Islam tercoreng dengan oknum yang berhaluan ekstrimis. Islam Nusantara melalui jargon “Islam Rahmatan Lil Alamin” ingin memperbaiki nama Islam dan mengenalkan bahwa agama Islam adalah agama yang penuh kasih sayang, mengayomi dan damai, seperti yang dibawa oleh Rasululloh SAW. Dalam Al Qur’an, ”Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (Qs. Al-Anbiya: 107).

Dalam dakwah Islam, haruslah dengan cara yang mengedepankan akhlak dan adab. Bukan mengikuti hawa nafsu belaka. Dalam dakwah Islam juga harus menggunakan akhlak dan adab yang mencerminkan agama Islam. Para Wali Songo menyebarkan Agama Islam di Tanah Jawa dengan cara yang sesuai dengan budaya dan keadaan pada masa itu. Para Wali Songo dalam mengajarkan agama tidak semena-mena dan  frontal. Akan tetapi melalui pendekatan-pendekatan yang mudah dicerna oleh masyarakat pada saat itu, dari tahap ke tahap, mempermudah pelaksanaan ritual agama Islam.

Tertuang dalam kitab Al-Hikam karya Syaikh Ibnu Atha’illah Al Iskandary bahwa ”Beraneka ragamnya jenis amal perbuatan itu adalah karena bermacam-macamnya kondisi spiritual yang datang di dalam hati.” Beraneka ragamnya jenis amal perbuatan itu adalah karena bermacam-macamnya kondisi yang datang dari hati seorang murid. Ajaran Islam yang disampaikan oleh para Wali Songo harus dapat melebur ke dalam sendi-sendi kehidupan dan budaya masyarakat serta mudah diterima dan diamalkan karena penyebarannya selalu memperhatikan kondisi hati dan kepercayaan yang sudah melekat pada masyarakat. Karena itu pentinglah dalam berdakwah, para pendakwah atau penyebar agama harus menggunakan taktik untuk mempermudah diterimanya ajaran Islam oleh masyarakat.

Akulturasi Islam dan Budaya

Diperlukan yang namanya studi sistem kemasyarakatan antara beberapa masyarakat lokal dengan mayoritas penduduk muslim pada zaman ini. Tanpa adanya analisis dan mengenal masyarakat, sangat naiflah perjuangan dalam penyebaran ajaran Islam nusantara.

Menurut Abdurrahman Wahid dalam Islam Kosmopolitan (2007: 196) yang dimaksud dengan studi sistem kemasyarakatan (social system) bukanlah tentang struktur kehidupannya yang bersifat organisatoris belaka, melainkan “pengaruh tata kehidupan masyarakat atas tingkah-laku para warganya”. Dengan demikian, yang akan dikaji adalah sebuah proses timbal balik antara tata kehidupan masyarakat atas tingkah laku warganya. Pemahaman yang berkembang di kalangan kaum muslimin selama berabad-abad jelas sekali akan sangat beraneka ragam, tergantung dari factor geografis, historis dan sosiologis yang mempengaruhi masing-masing.

Dalam mendakwahkan ajaran Islam, perlu diakulturasikan dengan keadaan masyarakat setempat, selama tidak menyalahi syariat Islam itu sendiri. Ketika membicarakan tentang kekayaan budaya luhur nusantara, sangat sesuai dengan ajaran Islam, seperti tata krama, adab, akhlaq yang luhur dan tepa selira.

Metode Islam Nusantara hanyalah jargon yang isinya membawa Islam yang akan diberikan ke masyarakat sebagai upaya dalam membangun moral seperti yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Ketika menyebarkan Islam tidak secara kaku, karena manusia pasti akan menolak sesuatu yang tidak ramah kepada mereka (masyarakat). Berdakwah tidaklah melulu berbaju kearab-araban akan tetapi yang terpenting esensinya dalam berdakwah yaitu mengingatkan dan mengajak umat untuk menjauhi perbuatan yang munkar dan menegakkan kebaikan dengan merasuk ke dalam sendi-sendi masyarakat.

Jadi Islam Nusantara adalah salah satu metode dakwah yang mengedepankan tawasuth, tasamuh dan tawazun yang sangat cocok disebarkan di Wilayah Nusantara. Sebab karena tanpa ada upaya menghilangkan budaya dan ciri khas nusantara, dinamailah metode dakwah itu dengan istilah Islam Nusantara. Metode dakwah tetaplah eksis dengan mengikuti perkembangan zaman seperti yang dikatakan para ahli tafsir ketika menafsiri ayat ‘Shuhuf Ibrahim dan Musa’ (Qs. Al-A’la:19) sering mengutip pesan utamanya: ”Hendaknya orang berakal menjadi pribadi yang menjaga lisannnya, mengetahui perkembangan zamannya dan menunaikan tugas-tugasnya” dalam Kitab Mafatih al-Ghoib karya Imam Fakhruddin ar-Razi.

Mempertahankan Budaya Luhur Yang Sudah Ada

Dengan metode Islam Nusantara diharapkan budaya luhur yang sudah tertanam di masyarakat tidak hilang hanya dikarenakan alasan agama. Padahal agama sangatlah menghormati budaya luhur yang pastinya tidak bertentangan dengan syari’at. Islam Nusantara juga biasa dikatakan sebagai icon atau ciri khas Islam yang ada di Nusantara, yang khas dengan adat dan budaya setempat. Seperti kalau di Arab budayanya berpakaian menggunakan gamis, cadar dsb. Kalau di Nusantara diwarnai dengan sarungan, pakai celana, baju biasa yang sekiranya tidak menimbulkan kesan stratifikasi sosial, karena menyesuaikan pakaian orang setempat dan menyatu dalam masyarakat dari berbagai kelas sosial.

Islam Nusantara mengedepankan tasamuh atau toleransi, dikarenakan masyarakat di Nusantara tidak hanya sejenis, akan tetapi beraneka ragam perbedaan yang hidup bersama saling melengkapi tanpa terjadi konflik dalam hubungan sosial, seperti kita lihat di Indonesia saja memiliki 6 agama yaitu Islam, Kristen, Katholik, Hindhu, Budha dan Konghucu. Itu belum adatnya, budayanya, dan aliran-aliran kepercayaan, yang dikarenakan perbedaan letak geografi, dan tipologi sosial yang tumbuh berkembang.
Indonesia adalah negara pilihan Allah SWT dan memiliki kesamaan dengan negeri yang dibangun oleh Nabi Muhammad SAW, seperti yang didawuhkan oleh KH. Maimun Zubair, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang Rembang sekaligus Mustasyar PBNU. Peristiwa kemerdekaan Arab didahului oleh peperangan bangsa Yunani dan Romawi, dan Indonesia yang kemerdekaannya didahului peperangan sekutu dan Jepang. Seperti yang tertuang dalam Al-Quran. “Alif laam Miim. Telah dikalahkan bangsa Rumawi. Di negeri yang terdekat dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang. Dalam beberapa tahun lagi. Bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang). dan di hari (kemenangan bangsa Rumawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman.” (QS. Ar-Rum : 1-4). Dan yang terpenting kesamaannya yaitu sama-sama negara gemah ripah loh jinawi toto tentrem kerto raharjo yang artinya kekayaan yang melimpah dan keadaan yang tentram.

Dari yang sudah dipaparkan penulis, dapat ditarik kesimpulan bahwa Islam Nusantara bukanlah sesuatu yang bahaya, bukan agama baru, atau sempalan agama Islam. Islam Nusantara adalah metode atau jargon yang memperjuangkan Islam ala nusantara, yang dikemas dengan budaya luhur yang sudah tertanam kuat di nusantara tanpa menghilangkan keislaman, untuk memperbaiki kesan negatif bahwa Islam adalah agama yang memproduksi radikalisme dan terorisme. Padahal Islam adalah rahmatan lil alamin, bukan hanya rahmatan lil muslimin, tapi rahmat bagi semesta alam, meliputi manusia, hewan dan alam semesta (Nurron Kholifatul Ardhi).

REKOMENDASI

Muslim Tapi Musyrik, Kerancuan Stigma dan Pemikiran Kaum Salafi Terkait Konsep Kafir dan Syirik

Harakah.id - Muslim tapi Musyrik adalah stigma dan status yang tampaknya baru lahir belakangan ini. Penyebabnya adalah, ada sebagian kelompok yang...

Kalau Hidup Anda Terasa Sempit Dan Sesak, Coba Amalkan dan Baca Shalawat Fatih Pelapang...

Harakah.id – Shalawat Fatih ini cocok dibaca ketika anda merasa hidup sesak dan sempit. Di satu situasi, kita seringkali merasa hidup...

Kita Sering Diceritakan, Bahwa Di Awal Penciptaan, Seluruh Malaikat Bersujud Kepada Nabi Adam. Benarkah...

Harakah.id - Malaikat bersujud kepada Nabi Adam adalah hal atau peristiwa yang seringkali dikisahkan dalam kisah-kisah permulaan Adam diciptakan oleh Allah....

Syukur Bisa Diungkapkan Dengan Banyak Cara, Salah Satunya Dengan Sujud. Ini Doa Ketika Sujud...

Harakah.id - Sujud Syukur adalah salah satu bentuk ungkapan yang terima kasih dan bersyukur. Syekh Nawawi dalam Nihayah al-Zain, mengutarakan ada...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...