Beranda Khazanah Islam sebagai Kekuatan yang Membawa Rahmat Kedamaian untuk Dunia

Islam sebagai Kekuatan yang Membawa Rahmat Kedamaian untuk Dunia

Harakah.idKalau dilihat dari sisi dakwah Islam hal ini tentunya baik. Islam agama yang rahmat, pastinya dunia akan semakin damai, kalau Islam semakin tersebar luas.

Sejak 1400 tahun lalu, dari masa Nabi Muhammad saw hingga sekarang, usaha dakwah Islam terus berjalan dan akan terus berjalan. Setiap tahun, di berbagai belahan dunia, jumlah muslim selalu mengalami peningkatan, baik karena angka kelahiran maupun arus pertambahan muslim baru–mualaf. Ini menandakan bahwa Islam terus menyebar layaknya air yang meluap-luap dan sulit untuk dibendung.

Dalam kuliah umumnya untuk mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dengan tema “Tren Riset Studi Islam International”, Dr. Chaider S. Bahmualim memberikan data bahwa pada 2010 jumlah muslim di dunia berkisar 1,6 miliar manusia. Angka ini diperkirakan akan meningkat hingga 2,8 miliar manusia yang memeluk Islam pada tahun 2050.

Di belahan dunia Barat, arus masyarakat muslim baru–mualaf–juga semakin meningkat. Inggris adalah salah satu negara yang mengalami perkembangan Islam yang sangat pesat. Dalam buku “Muslim in The West” pada artikel yang ditulis oleh Steven Vertovec yang berjudul “Islamophobia and Recognation Muslim in Britain”, dijelaskan bahwa arus perkembangan Islam di Inggris secara pesat mulai terjadi pada awal abad 20 M, dan semakin bertambah pesat setelah perang Dunia II. Di mana–setelah perang Dunia II– Inggris banyak kedatangan imigran dari negara-negara yang penduduknya mayoritas muslim, seperti Pakistan dan Banglades.

Para imigran itu awalnya hanya bekerja, namun selanjutnya menetap dan membawa serta keluarga mereka untuk hidup di Inggris. Ini menyebabkan penambahan jumlah muslim yang hidup di Inggris. Selain itu, pada perkembangan selanjutnya, banyak orang-orang Inggris yang kemudian memeluk Islam–menjadi mualaf. Steven Vertovec juga menjelaskan bahwa perkiraan jumlah muslim di Inggris berjumlah sekitar 2 hingga 3 juta jiwa: “While Muslim groups themselves estimate that there are about two to three million Muslims in Britain….”

Angka yang cukup besar untuk ukuran jumlah penduduk Inggris yang berdasarkan data dari wikipedia.com hanya berkisar 53 juta jiwa manusia. Dan sangat mungkin jumlah muslim di Inggris hari ini sudah semakin bertambah banyak. Selain itu, tak hanya Inggris saja yang mengalami arus pertambahan muslim, namun ada banyak juga pertambahan muslim di negara-negara mayoritas nonmuslim lainnya.

Kalau dilihat dari sisi dakwah Islam hal ini tentunya baik. Islam agama yang rahmat, pastinya dunia akan semakin damai, kalau Islam semakin tersebar luas. Dan memang itulah tujuan dari dakwah Islam, adalah untuk menyebarkan ajaran Islam yang rahmat ke seluruh alam. Sehingga, tentunya, ketika semakin banyak yang memeluk Islam, maka sebagai muslim harus mensyukurinya.

Peningkatan jumlah muslim dunia menggambarkan Islam sebagai potensi kekuatan yang akan mewarnai dunia. Entah mewarnai dengan wajah rahmat atau malah konflik? Itu semua tergantung pada sikap muslim sendiri sebagai pemeluk agama Islam. 

Islam adalah agama yang mengatur seluruh segi kehidupan manusia. Sebagaimana dalam bukunya Prof. Abdul Karim yang berjudul “Islam Nusantara”, dijelaskan bahwa Islam memberi petunjuk bagi seluruh segi kehidupan manusia, meskipun sebagian petunjuk masih bersifat umum.

Sikap muslim dalam memahami Islam sebagai petunjuk seluruh segi kehidupan manusia ini yang akan mempengaruhi potensi Islam sebagai rahmat atau malah mendatangkan konflik dengan nonmuslim. Jadi, bukan soal agamanya, namun pada bagaimana pemeluk agamanya bersikap apa dengan ego kebenaran atau dengan kebajikan kebenaran.

Misalnya pada kelompok-kelompok Islamisme, seperti HT yang dengan ego kebenarannya mencita-citakan (menuntut) negera harus menjadi negara Islam. Dalam sebuah negara demokrasi yang penduduknya tak hanya muslim, namun juga banyak nonmuslim, sikap ego kebenaran demikian sangat berpotensi menyalakan api konflik dalam sebuah negara.

Indonesia sudah punya pengalaman menghadapi kelompok HTI, di mana memunculkan konflik, sebab keinginan mereka untuk mewujudkan Indonesia sebagai khilafah Islamiyah. Dan layaknya prinsip dalam teori trikon bahwa sesuatu akan berkembang kalau situasi dan kondisi mendukung perkembangannya. Maka HTI pun tak lagi berkembang di Indonesia, sebab situasi dan kondisi (termasuk kebanyakan rakyat Indonesia) tak mendukungnya.

Setelah Islamisme, maka ada Pos-Islamisme sebagai sikap yang agak lebih lentur. Asef Bayat dalam bukunya “Pos-Islamisme” mengatakan bahwa Pos-Islamisme menekankan pada sikap keberagamaan dan HAM. 

Dalam Pos-Islamisme, nilai-nilai Islam ditawarkan lewat tawaran atas pertimbangan sikap kepentingan masyarakat bersama berdasar nilai-nilai demokrasi dalam kehidupan bernegara. Nilai-nilai agama dapat wujud dalam negara, apabila nilai-nilai itu disepakati merupakan hal yang bermanfaat bagi masyarakat bersama. Sehingga bagi para Pos-Islamis tak apa negara bukan negara Islam, namun penerapan nilai-nilai Islam dalam negara harus diupayakan. Sikap yang demikian lebih berpotensi dalam mereduksi konflik antar umat beragama di ruang publik.

Namun sebagaimana pertanyaan Kiai Ulil Abshar Abdalla dalam esainya “Post-Islamisme di Dunia Islam” bahwa, “Bagaimana mereka akan memperjuangkan agenda itu lewat lembaga parlemen yang diisi oleh aktor-aktor politik dengan aspirasi dan platform yang berbeda-beda?” Ya, bagaimana? Tergantung pada para Pos-Islamis bagaimana cara mereka memperjuangkannya.

Di Indonesia sendiri, sebenarnya beragama di ruang publik tak lagi harus menimbulkan persoalan konflik antar umat beragama, sebab dalam UUD 1945 Pasal 29 Ayat 2, dijelaskan kalau: Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu. Namun, sekali lagi, sikap para pemeluk agama apa dengan ego kebenaran atau kebajikan kebenaran dapat mempengaruhi potensi konflik atau perdamaian dengan umat agama yang berbeda.

Maka, jika pertanyaannya, apakah potensi perkembangan Islam adalah sebagai rahmat atau justru lebih berpotensi mendatangkan konflik? Ini bergantung pada sikap umat muslim sendiri dalam bersikap dengan nonmuslim, juga termasuk dalam bersikap pada sesama muslim yang punya paham yang berbeda. Islam sendiri merupakan agama rahmat bagi seluruh alam. Nilai-nilai Islam ramah sebagai agama yang rahmat bagi seluruh alam harus terus di-dakwahkan. 

Di Indonesia, ratusan tahun lalu, terjadi transformasi agama dalam masyarakat secara besar-besaran dari Hindu, Budha, Kristen, menjadi mayoritas masyarakat memeluk Islam. Namun, transformasi itu tak memunculkan konflik-konflik besar apalagi sampai tragedi berdarah. Sebab jasa para Wali Sanga dan Ulama Nusantara yang mendahulukan kebajikan kebenaran daripada ego kebenaran dalam menyebarkan Islam. Dan juga Islam yang diajarkan Ulama Nusantara dahulu merupakan Islam yang rahmat.

Sikap para Wali Sanga dan Ulama Nusantara lainnya, seharusnya menjadi pelajaran bagi umat muslim dalam menerapkan agama di ruang publik. Di mana dalam penerapan agama di ruang publik, selalu dilandasi pada sikap tawasut (moderat), tawazun (seimbang), tasamuh (toleran), dan ta’adul (adil). Sikap ini tak hanya untuk muslim Nusantara saja, namun seharusnya menjadi pedoman bagi seluruh muslim di dunia. Dengan demikian wajah Islam rahmat dapat selalu terjaga, dan perkembangan Islam yang pesat dapat menjadi kekuatan yang mendatangkan rahmat kedamaian untuk dunia.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

5 Tips Menjaga Hafalan Al-Quran Menurut Sunnah Rasulullah SAW

Harakah.id - Aku akan menjelaskan ke kalian tentang hadits yang aku yakin hadits ini akan sangat bermanfaat untuk teman-teman penghafal Qur’an.

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...