Pada Kenyataannya Islam Sejalan Dengan Marxisme, Dan Begini Cara Soekarno Mempertemukannya

0
229
Mempermasalahkan [Pemahaman] Islam Soekarno dan Bagaimana Ia Mempertemukannya Dengan Komunisme

Harakah.id – Islam sejalan dengan Marxisme. Dalam naskah NASAKOM yang ditulis Soekarno tahun 1926, usaha untuk mempertemukannya mungkin dilakukan. Mengapa keduanya harus dipertemukan? Karena keduanya memiliki kekuatan dahsyat ketika bergabung.

Dari ketiga model nalar yang coba disatukan oleh Soekarno, perbincangan mengenai Islamisme merupakan perbincangan yang cukup berbeda dan bahkan menjadi babakan khusus dalam hidup Soekarno sebagai seorang revolusioner. Ketika dibuang ke Endeh, Soekarno menghabiskan waktunya untuk mendalami dan mempertajam pandangannya tentang Islam sekaligus fenomena Islamisme di Indonesia. Dibandingkan dua nalar pergerakan yang sudah dibahas sebelumnya, dalam bahasan mengenai Islamisme inilah kita akan sedikit menemukan sisi-sisi tanaqudh (ambivalensi) Sang Putra Fajar ini.

Selain itu, dibandingkan telaah yang Soekarno lakukan di dua model pergerakan sebelumnya, Soekarno terlihat “kesulitan” dan membutuhkan waktu yang agak lama untuk merumuskan model Islamisme yang cocok untuk diinternalisasikan ke dalam dua model pergerakan lainnya. Kesulitan ini muncul, pertama, karena memang sejak kecil Soekarno tidak memiliki modal pemahaman yang “cukup” tentang Islam. Kemiskinan Soekarno dan kekaburannya akan konsep keislaman dinyatakan sendiri olehnya di hadapan Muktamar Muhammadiyah ke-32 tahun 1962 di Jakarta:

Ibu adalah meskipun beragama Islam adalah daripada agama lain, orang Bali. Bapak, meskipun beragama Islam, beliau adalah beragama, jikalau boleh dinamakan agama, teosofi. Jadi kedua orangtua saya ini yang saya cintai dengan segenap jiwa saya, sebenarnya tidak dapat memberikan pengajaran kepada saya tentang agama Islam.

Baca Juga: Marxisme Tidak Melulu Soal Komunisme dan Atheisme, Begini Cara Menjadi Sosialis yang Islami Ala Soekarno

Soekarno lahir, hidup dan dibesarkan di sebuah lingkungan yang tidak menjadikan membaca al-Qur’an sebagai bagian dari kehidupan mereka sehari-hari. Simbolisasi ini merupakan konotasi murni dari fakta bahwa Soekarno tidak mendapatkan asupan yang cukup dari lingkungan keluarganya tentang agama yang dianutnya selama ini. Hal itu berdampak kemudian pada usahanya untuk melakukan internalisasi Nasakom. Soekarno kelimpungan ketika harus mengurai berbagai idenya mengenai Islamisme. Pada akhirnya Soekarno menjatuhkan pilihan [awalnya] pada model Pan-Islamismenya Abduh dan Afghani sebagai solusi dan opsi.

NASAKOM lahir di tahun 1926, tepat ketika Soekarno menapaki usia ke 25 tahun. Sebuah karya monumental dan progresif untuk ukuran pemuda usia 25 tahun. Di tahun yang sama Nahdlatul Ulama [NU] lahir sebagai sebuah organisasi keislaman. Model keberagamaan Islam di Indonesia pada saat itu mayoritas diwarnai oleh cara beragamanya orang salaf dan kiai-kiai sepuh yang kental tradisi, lebih-lebih di Jawa. Satu-satunya model yang sesuai dengan harapan Soekarno, kalau mau dipaksakan mengambil model yang lahir di Indonesia, adalah Muhammadiyah. Muhammadiyah dan Pan-Islamisme bagi Soekarno memiliki spirit yang sama; keterbukaan.

Karena kepentingan dan agendanya adalah internalisasi, maka mencari karakter “keterbukaan” dari beragam model keislaman yang ada merupakan syarat yang harus dipenuhi Soekarno untuk menyelesaikan misinya membentuk kesatuan gerak revolusi kebangsaan di Indonesia. Artinya, yang penting di sini adalah konsep kalau Islam sejalan dengan Marxisme.

Ketika Soekarno gagal mencari bentuk atau model keislaman yang mampu menampung konsep-konsep Nasionalisme dan Marxisme, maka apa yang sudah dibangun di awal akan roboh dan gugur tanpa sisa. Pada titik ini kita bisa memaklumi mengapa Soekarno kemudian menjatuhkan pilihannya kepada Pan-Islamisme.

Baca Juga: Alasan Kiai Saifuddin Zuhri Menolak Keputusan Soekarno Tentang Pembubaran HMI

Model keberislaman yang dipilih Soekarno dalam proyek NASAKOM mendapat rasionalisasinya ketika misalnya kita merujuk jauh ke belakang ketika Soekarno masih “mondok” di rumah Cokroaminoto dan mengikuti pengajian-pengajian Kiai Ahmad Dahlan. Keterpukauan Soekarno pada keterbukaan model Islamnya Kiai Ahmad Dahlan menjadikan Soekarno cinta dan merasa cocok dengan model keberislaman Muhammadiyah. Sekali lagi kita harus memaklumi mengapa Soekarno lebih merasa dekat dengan model gerakan reformis Islam di masa-masa itu.

Di sini saya menggunakan kata “keterbukaan” sebagai ganti dari kata “rasionalitas” atau “modern” yang digunakan Goenawan Mohammad. Mengapa? Sebagaimana yang sudah saya jelaskan di depan, usaha Soekarno dalam melakukan internalisasi dan integrasi tiga model pergerakan di Indonesia dihambat oleh eksklusifitas kaum islamis di Indonesia. Bagi Soekarno, kaum islamis semacam ini terlalu menutup diri untuk menerima kemungkinan adanya kerjasama dan koorporasi antar kelompok pergerakan. Gesekan terjadi. Islamisme dan Marxisme tidak hanya mengajukan konflik ideologis, tapi juga konflik doktrinal dan dogma agama.

Jadi, pemilihan model Pan-Islamisme yang dilakukan Soekarno sama sekali tidak memiliki hubungan dan relevansinya dengan apa yang Goenawan Mohammad sebut sebagai Rasionalisme dan Modernisme Islam. Meskipun Soekarno menyebutkan kata “rasional” dan “modern” dalam tulisannya, tentu ruang pemaknaannya berbeda dengan kata “rasional” dan “modern” yang beredar hari ini.

Bagi saya, Goenawan Mohammad terlalu “sederhana” untuk menafsirinya sebagai bentuk rasionalisasi dan modernisasi cara keberagamaan Islam di Indonesia. Apa yang dterapkan Soekarno ketika membaca Marxisme adalah sebuah cara baca yang berupaya untuk memperlihatkan watak asli ideologi Marxisme itu sendiri. Salah satu strateginya adalah dengan menisbikan unsur materialisme atau komunis-atheisme. Bahwa Marxisme memiliki watak gerakan yang menuntut keadilan sosial di seluruh level kelas, bisa diterima tanpa harus mengikutsertakan kedua unsur tadi.

Baca Juga: Dari Sarung Mandar Mbah Wahab Chasbullah, Soekarno Mengaji Ilmu Geo-Politik Global dan Anti-Kolonialisme Budaya

Demikian juga yang Soekarno lakukan terhadap paham Islamisme. Beliau berupaya untuk menunjukkan watak keterbukaan dalam doktrin Islam; bahwa Islam sejalan dengan Marxisme Hal itu berguna untuk memberikan ruang bagi Marxisme tinggal dan berdiam. Soekarno tidak tengah melakukan rasionalisasi, ia hanya menunjukkan keterbukaan dalam Islam. Masalah nanti ia akan disebut rasionalis dan modernis Islam, masih bisa kita perdebatkan panjang lebar.

Namun yang penting di sini adalah, Soekarno tidak mungkin menggerus transendentalitas Islam yang dianut oleh masyarakatnya selama ratusan atau bahkan ribuan tahun. Menawarkan rasionalisme, apalagi modernisme, kepada sebuah lokus keberislaman yang bertumpu pada “hal-hal yang tidak bisa, tidak mungkin dan tidak boleh dipertanyakan”, tentu akan menjadi blunder parah bagi misi integrasinya. Kekacauan internal terjadi. Proyek NASAKOM semakin jauh dari apa yang diangankan. Al-isytighal bi ghairi-l-maqshud, i’radlun ‘ani-l-maqshud, kalau dalam istilah ushul fiqih. Rasional atau tidak rasional, modern atau tradisional, bukan perkara yang Soekarno sasar sebagai problem utama dalam agenda internalisasi tiga model pergerakan waktu itu.

Tetapi, yang menjadi ambivalen adalah, mengapa Soekarno harus memilih model Pan-Islamisme di Mesir. Jawabannya bertangkai pada beberapa sabab. Sabab-sabab yang sedikit menganggu agenda konseptualisasi kalau Islam sejalan dengan Marxisme. Setidaknya ada dua sabab;

1) bahan bacaan yang Soekarno konsumsi ketika di Endeh mayoritas adalah buku-buku keislaman yang kental dengan aroma Pan-Islamisme. Hal ini bisa dimaklumi mengingat gerakan Pan-Islamisme banyak menarik perhatian kaum intelektual sekaligus revolusi di tahun-tahun tersebut. Apa yang dilakukan Muhammad Jamaluddin al-Afghani dan Muhammad Abduh seakan-akan menjadi sampel bagaimana seharusnya Islam menampilkan dirinya sebagai salah satu senjata revolusi untuk mengusir penjajahan. Ditambah lagi, korespondensi Soekarno dengan A. Hassan di Bandung secara tidak langsung mengukuhkan konsepsi “keterbukaan” Islam dalam benak Soekarno. Faktor inilah yang kemudian mendorong Soekarno melontarkan kritik keras terhadap beberapa hadis yang dinilainya “kolot” dan beberapa regulasi syariah yang baginya sudah tidak relevan dengan zaman.

Dan 2) keinginan kuat Soekarno untuk melakukan integrasi –untuk tidak mengatakannya terburu-buru– menjadikan pola membaca yang Soekarno lakukan terhadap Islamisme lebih mengarah pada model pembacaan yang ambisius dan ideologis; cara baca yang meminggirkan amaliah masyarakat Nusantara sebagai sebuah tafsiran terhadap doktrin keagamaan yang datang dari “Pusat”, yang telah disesuaikan dan dimodifikasi menurut kebutuhan mereka terkait kondisi geografis, sosiologis, antropologis dan kebudayaannya secara umum.

Baca Juga: Ketika Sidang Konstituante Tidak Menghasilkan Titik Temu, Para Ulama Memilih Ikuti Dekrit Presiden Soekarno

Sabab kedua di atas penting diangkat mengingat Soekarno selalu menegaskan garis pembeda antara apa yang dinamakannya “Nasionalisme ke-Timur’an” dan “Nasionalisme ke-Barat-an”. Soekarno menyadari gerak kolonialisme yang ada pada saat itu bukan lagi terbatas pada sebuah agenda penghancuran, perampasan dan kerja paksa, tapi juga bergerak secara dinamis menuju penjajahan kultur dan identitas kebangsaan. Membangun konsep kalau Islam sejalan dengan Marxisme juga harus berangkat dari prinsip teritorial semacam ini.

Namun permasalahannya, dalam agenda refondasionalisasi nalar Islamisme, Soekarno justru menawarkan model Islamisme ala Jamaluddin al-Afghani yang masih bermasalah itu. Pada patahan ini, saya pribadi merasakan adanya anomali kesadaran yang menjadi basis pembacaan yang Soekarno terapkan atas Islamisme. Satu pola kesadaran yang berbeda ketika ia tunjukkan saat membaca Marxisme maupun Nasionalisme.

Itu terkait Islamisme sebagai sebuah kultur dan tradisi amaliah yang ada dan sudah diterapkan di Nusantara. Sedangkan terkait Islam doktrinal, kita mesti kembali lagi kepada masalah “keterbukaan”; satu gambaran dan sudut yang diincar Soekarno dalam tubuh Islamisme:

Islam yang sedjati tidaklah mengandung azas anti-nasionalis; Islam jang sedjati tidaklah bertabiat anti-sosialistis. Selama kaum Islamis memusuhi faham-faham Nasionalisme jang luas-budi dan Marxisme jang benar, selama itu kaum Islamis tidak berdiri di atas Sirotol Mustaqim; selama itu tidaklah ia bisa mengangkat Islam dari kenistaan dan kerusakan tahadi! Kita sama sekali tidak mengatakan jang Islam itu setuju pada Materialisme atau perbendaan; sama sekali tidak melupakan jang Islam itu melebihi bangsa, super-nasional. Kita hanja mengatakan, bahwa Islam jang sedjati itu mengandung tabiat-tabiat jang sosialistis dan menetapkan kewadjiban-kewadjibannja jang mendjadi kewadjiban-kewadjibannja nasionalis pula!

Bayangan “keterbukaan” yang dimaksudkan oleh Soekarno tidak lantas Islam harus melepaskan nilai-nilai transendentalnya, baik soal dogma-dogma doktrinalnya maupun kultur pemeluknya. Nah ini yang saya maksud ketika saya menolak untuk menggunakan istilah “rasional” dan “modern”. Hal ini yang sering diulang oleh Soekarno. Keterbukaan dalam Islamisme berarti pemahaman yang mendalam akan ruh sejati dari ajaran-ajaran yang Islam ajarkan kepada umatnya. Yakni ajaran tentang ketentraman dan keadilan sosial. Berangkat dari titik pemahaman ini, bagi Soekarno, seorang islamis tidak akan melihat perbedaan yang cukup signifikan, yang membentang antara dirinya dan kaum marxis serta nasionalis.

Tentu Soekarno harus memberikan bukti argumentatif terkait penjelasannya mengenai ruh keislaman yang sejati tersebut. Dan benar, setelah menjelaskan beberapa kemungkinan sisi-sisi keterbukaan dalam Islamisme, Soekarno lalu mengambil contoh kasus riba dalam Islam untuk disandingkan dengan problem pengupahan atau “nilai lebih” (meerwaarde) dalam Marxisme. Beliau menulis:

Kaum Islamis tidak boleh lupa, bahwa Kapitalisme, musuh Marxisme itu, jalah musuh Islamisme pula! Sebab meerwaarde sepandjang faham Marxisme, dalam hakekatnja tidak lainlah daripada riba sepandjang faham Islam.”

Baca Juga: Soekarno, Kiai Basari Sukanegara dan Ayam Panggang Bumbu Kemiri

Soekarno lalu mengutip ayat 129 Surat al-‘Imran terkait masalah riba; sebuah pengambilan jitu yang langsung menusuk pada jantung inti doktrin keislaman. Mengapa riba dan mengapa meerwaarde? Dalam hal ini mungkin kita perlu memperbincangkan sedikit serius perihal elaborasi keduanya dalam rangka integrasi sekaligus internalisasi.

Meerwaarde atau nilai lebih dalam Marxisme merupakan satu tata pengupahan yang menjadi pangkal bagi segala macam ketimpangan dan ketidakadilan. Cukup pelik sebenarnya menjelaskan konsep “nilai lebih” dalam Marxisme. Karena konsep “nilai lebih” adalah konsep utama dalam memahami cara kerja Kapitalisme berikut cara kerja kritik Marxisme sendiri.

Nilai sebuah barang, dalam Marxisme tidak diukur dari nominal uang. Tapi ia diukur dari jumlah tenaga kerja yang dihabiskan dalam pembuatan barang tersebut. Jumlah tenaga kerja ini nantinya yang akan diinterpretasikan ke dalam bentuk uang. Berbeda dengan cara kerja ekonomi kerakyatan pada umumnya, ekonomi Kapitalisme bertumpu pada “nilai lebih” yang menjadi laba dari sirkulasi nilai pertama, yang kemudian menjadi nilai baru, bersama nilai awal itu sendiri. Seluruhnya bergerak terus menerus sehingga menghasilkan keuntungan yang semakin besar di setiap titik putaran sirkulasi nilainya. Kalau ekonomi umumnya bergerak pada rumus commodity – money – commodity (C-M-C), maka ekonomi kapital bergerak pada rumus money – commodity – money (M-C-M). Ia terus menciptakan nilai baru yang menjadi sumber keuntungan si pemilik nilai atau modal.

Baca Juga: Periuk Nasi Ibunda Kiai Saifuddin Zuhri dan Aksi Penyelamatan Naskah Soekarno dari Kolonial Belanda

Karena yang disasar adalah uang, maka barang dibuat sesuai kebutuhan pasar. Konsep “nilai lebih” lahir dari siklus perputaran barang di pasar, baik dalam bentuk uang maupun dalam bentuk barang. Watak “mengembang” dan “memusat” dalam Kapitalisme berporos pada watak “penghisapan produksi” yang diberlakukan kepada kaum buruh. Menurut Karl Marx, ada dua karakter utama buruh yang dipekerjakan dalam sistem produksi kapital:

first, the labourer works under the control of the capitalist. Secondly, the product is the property of the capitalist and not that of the labourer, ist immediate producer. Suppose that a capitalist pays for a days labour power at its value; than the right to use the power of day.

Karakter pertama, buruh dikontrol di bawah si kapitalis. Kedua, hasil kerja buruh merupakan milik kapitalis, bukan milik buruh sebagai produsennya. Buruh digunakan tenaganya dan diupah berdasarkan hari kerja. Cara kerja semacam ini lumrah dilakukan di pabrik-pabrik yang memiliki oplah produksi besar-besaran. Cara menghisap buruh seperti ini efektif dalam menjaga kontur “nilai lebih” dalam sirkulasi barang dan uang. Pemilik modal memiliki nilai lebih dalam bentuk barang – misalnya gak laku – yang didapat dari buruh yang diupah berdasar waktu kerjanya.

Konsep “nilai lebih” yang rumit tersebut lalu disederhanakan oleh Soekarno dengan menganalogikannya dengan aturan riba dalam Islam. Apakah pemahaman riba Soekarno sesuai dengan apa yang ada dalam Islam? Ini tidak lagi penting untuk diangkat dalam perbincangan terkait strategi dari proses menuju takwinisasi (pembentukan) dan perwujudan integrasi yang sarat ideologis tersebut. Yang relevan untuk dibaca kali ini justru strategi yang Soekarno lakukan, proses yang dia jalani sebagai aktor pembentuk nalar perjuangan dan pergerakan kebangsaan di Indonesia. Dari kutipan di atas kita mengetahui bahwa dengan percaya diri dan tanpa detail menjelaskan konsep riba dalam Islam, Soekarno melakukan refondasionalisasi dan internalisasi konsep-konsep Marxisme dalam bangunan Islamisme. Dari kasus riba, Soekarno menunjukkan kalau Islam sejalan dengan Marxisme.

Kembali ke problem anomali yang sempat saya singgung. Di satu sisi Soekarno menghindari diri untuk melakukan rasionalisasi dan modernisasi keberislaman yang sudah dipraktekkan masyarakatnya. Ia hanya ingin menunjukkan keterbukaan Islam dan kemungkinan ia dikolaborasikan dengan ideologi lainnya. Namun yang menjadi problem adalah, pilihan Soekarno jatuh pada model Pan-Islamisme. Satu model keberislaman yang, jangankan menawarkan rasionalisme, justru beraromakan salafisme agama! Fenomena menarik ini berikut soal apakah integrasi Islamisme Soekarno berhasil, atau justru melahirkan dampak-dampak negatif, akan diulas di kesempatan yang lain.