Beranda Kolom Islam Soekarno Tumbuh Dari Keluarga yang Tidak Menjadikan Membaca Al-Quran Sebagai Rutinitas...

Islam Soekarno Tumbuh Dari Keluarga yang Tidak Menjadikan Membaca Al-Quran Sebagai Rutinitas Sehari-Hari

Harakah.id Islam Soekarno, mula-mulanya, bisa kita sebut sebagai “Islam KTP”. Tak banyak pengetahuan yang Soekarno ketauhi tentang Islam. Keluarganya, bapak dan ibunya, diakui sendiri oleh Soekarno juga tidak mampu menyuplai pengetahuan Soekarno tentang Islam.

Juni, selain dikenal sebagai bulan Pancasila, ya Bulan Soekarno. Lahir di tanggal 6 Juni, Soekarno hanya berjarak 5 hari dari tanggal saat dia mengeluarkan gagasan Pancasila di tahun-tahun berikutnya, pasca kelahirannya. Selain dikenal sebagai sosok nasionalis dan anti-kolonialis, Soekarno juga dikenal sebagai sosok yang agamis.

Namun di luar tampilannya yang tak pernah lepas dari peci hitamnya, Soekarno sejatinya adalah orang beragama yang tidak terlalu mendalami agamanya. Hal itu disadari Soekarno dan dia pun mengakuinya terang-terangan. Kepada Cindy Adams, Soekarno bercerita soal ini. Sebagaimana pengakuan yang sempat dia ungkapkan terkait kondisi keluarga, kultur dan hal-hal awal yang membentuk keislamannya.

Pada Muktamar Muhammadiyah ke-32 tahun 1962 di Jakarta, Soekarno menyampaikan sebuah pengakuan mengenai identitas keislamannya mula-mula;

“Ibu adalah meskipun beragama Islam adalah daripada agama lain, orang Bali. Bapak, meskipun beragama Islam, beliau adalah beragama, jikalau boleh dinamakan agama, teosofi. Jadi kedua orangtua saya ini yang saya cintai dengan segenap jiwa saya, sebenarnya tidak dapat memberikan pengajaran kepada saya tentang agama Islam.”

Soekarno lahir, tumbuh dan dewasa dalam sebuah kultur keluarga yang tidak menjadikan membaca al-Quran sebagai rutinitas seharian. Goenawan Mohammad menegaskan ini dalam artikelnya “Dari Ende ke Arab Saudi”. Meskipun tampaknya klise, ya bolehlah kita menyebut Islam Soekarno, pada mulanya, adalah Islam “Abangan”, atawa “Islam KTP”.

Soekarno bukan Soekarno kalau dia diam, nyaman dalam stagnansi dan kekaburannya tentang satu hal. Termasuk agama yang dianutnya. Dalam sejarah panjang yang menghabiskan usianya, Soekarno bertualang untuk mempertegas identitasnya. Dia melompat dari buku ke buku, dari negara ke negara, dari otak manusia satu ke otak manusia lain, dari organisasi keislaman ke organisasi keislaman yang lain.

Soekarno lalu dikenal dekat dengan banyak kalangan. Dia dikenal dekat dan diakui sebagai kader oleh Muhammadiyah. Dia dikenal dekat, akrab sekaligus didaku sebagai kader oleh Persis. Soekarno juga dekat dengan para Kiai; Kiai Wahab, Kiai Wahid Hasyim, Kiai Idham Chalid dan kiai-kiai lainnya, sekaligus dianggap bagian dari Nahdlatul Ulama.

Soekarno juga melintasi banyak pikiran. Dari wahabisme, pan-Islamisme hingga Rasionalisme Islam. Soekarno masuk ke dalam otak Kemal Attaturk, Muhammad Jamaluddin al-Afghani sampai Muhammad bin Abdul Wahhab. Soekarno juga melintas di antara para sarjana-sarjana Barat-Eropa yang membicarakan Islam.

Apakah Soekarno pernah tersesat? Berkali-kali! Dalam “Soekarno Studies”, saya bercerita panjang lebar soal ini.

Di Endeh, karena kegeramannya pada eksklusifisme, kekolotan dan irrasionalisme Islam, Soekarno bahkan berani berijtihad. Di masa-masa ketika dia mengagungkan rasionalisme Islam, Soekarno sempat tergelincir dalam apropriasi kolonialisme yang sengaja mengekspor ideologi-ideologi tertentu untuk meretakkany revolusi dan kehendak untuk merdeka. Ya, Soekarno sempat mengapresiasi Wahabisme terkait agenda pemberantasan pada yang takhayul dan khurafat.

Namun demikian, pasca-pasca pembuangan, Soekarno membabat akses dan mendekat kepada para Kiai, habaib dan ulama. Soekarno dikenal dekat dengan Kiai Wahab Chasbullah, mentor fikih siyasah yang loyal dan konsisten mendampingi Soekarno.

Ala kulli hal, Soekarno sudah menjalankan tugasnya. Bertualang mencari pemaknaan dan identitas keislamannya. Kini makamnya dikunjungi ribuan orang setiap hari. Satu bukti yang menunjukkan bahwa pertualangannya tidak sia-sia, dan Soekarno pulang dengan bahagia.

REKOMENDASI

Fatima Mernissi dan Sekelumit Problem Keperempuanan dalam Islam

Harakah.id - Fatima Mernissi adalah salah satu perempuan yang seringkali diacu dan dirujuk kala berbicara tentang peran perempuan dalam Islam. Dia...

Di Balik Keharamannya, Ini Sepuluh Efek Buruk Minum Khamr yang Mungkin Tidak Kamu Ketahui!

Harakah.id - Minum khamr melahirkan efek mabuk dan ngefly. Bagi sebagian orang, efek ini menjadi kenyamanan tersendiri karena dengan itu mereka...

Download Khutbah Jumat, Hakikat Kewajiban Shalat Jum’at

Harakah.id - Download Khutbah Jumat Juni, Hakikat Kewajiban Shalat Jum’at. Kutbah Pertama إِنّ...

Tafsir Surah An-Nahl Ayat 97: Kehidupan yang Baik dan Imbalan Untuk Orang yang Beriman

Harakah.id - Tafsir Surah an-Nahl ayat 97 menjelaskan perkara soal kehidupan yang baik berikut imbalan untuk orang yang beriman. Berikut penjelasannya...

TERPOPULER

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...