Beranda Khazanah Islamisasi Masyarakat Jawa oleh Wali Sanga yang Pelan Tapi Pasti

Islamisasi Masyarakat Jawa oleh Wali Sanga yang Pelan Tapi Pasti

Harakah.id Keberhasilan dakwah Wali Sanga menjadi pertanyaan yang rumit tuk dijelaskan. Bagaimana tidak, tanah Jawa yang dulunya dihuni oleh masyarakat dengan berbagai agama dan kepercayaan yang telah mengakar pada kehidupan kerajaan di Jawa, mampu diislamkan hanya dalam kurun waktu kurang dari dua abad.

Indonesia sebagai negara bermayoritaskan umat Islam terbesar di dunia menjadi sorotan dalam kajian keislaman dunia. Islam yang hadir di tanah Jawa merupakan jerih payah pejuangan dakwah ulama Timur Tengah, terkhusus Wali Sanga di tanah Jawa. 

Pulau Jawa yang dulunya dihuni para penganut agama Hindu-Budha dan kepercayaan-kepercayaan lokal, seperti kapitayan, kejawen, sunda wiwitan, dan lain sebagainya, berkat perjuangan dakwah ulama masyarakatnya pun mengenal dan memeluk agama Islam. 

Islamisasi masyarakat Jawa dilakukan oleh sembilan orang waliyullah yang dikenal dengan Wali Sanga. Kesembilan wali ini telah mengislamkan raja atau penguasa dan masyarakat Jawa, khususnya di wilayah pesisir pantai utara Jawa (Tjandrasasmita, 2009 :28).

Peran Wali Sanga bagi masyarakat Jawa dalam mengenal Islam teramat besar. Walaupun Wali Sanga tidak menjamaki keseluruhan wilayah tanah Jawa, namun dakwah dan muridnya tersebar sampai kepelosok pulau sehingga berhasil mengislamkan sebagian besar masyarakat Jawa.

Zaprul Khan dalam bukunya “Islam yang Santun dan Ramah, Toleran dan Menyejukkan” memberikan gambaran Islam di Nusantara dengan Islam yang moderat, humanistik, inklusif, sopan, toleran terhadap puspa ragam pandangan, terbuka terhadap pelbagai perbedaan, menebar aroma kedamaian, rahmat, cinta, kasih sayang serta keindahan bukan hanya kepada sesama kaum Muslim melainkan juga kepada non-muslim.

Nilai-nilai ajaran Islam yang diamalkan oleh masyarakat Jawa adalah hasil dakwah Wali Sanga yang merupakan ulama yang memiliki sanad keilmuan yang bersambung hingga Rasulullah SAW.

Dengan kalimat lain, bahwa setiap ulama yang memiliki sanad keilmuan yang sampai kepada Rasulullah SAW. akan menebarkan nilai-nilai keislaman yang moderat, humanistik, sopan, dan toleran.

Keberhasilan dakwah Wali Sanga menjadi pertanyaan yang rumit tuk dijelaskan. Bagaimana tidak, tanah Jawa yang dulunya dihuni oleh masyarakat dengan berbagai agama dan kepercayaan yang telah mengakar pada kehidupan kerajaan di Jawa, mampu diislamkan hanya dalam kurun waktu kurang dari dua abad.

Maka layaknya bagi pendakwah masa kini tuk melihat atau mempelajari kembali sejarah perjuang dakwah Wali Sanga dalam menyebarkan Islam di tanah Jawa. Sehingga sejarah perjuang dakwah Wali Sanga dapat dijadikan referensi sebagai metode dakwah di zaman ini. 

Prinsip Dakwah Wali Sanga

Wali Sanga memiliki beberapa prinsip yang dijadikan asas ketika mereka mendakwahkan agama Islam kepada masyarakat Jawa. Prinsip-prinsip tersebut menjadi kunci keberhasilan dakwah Wali Sanga di tanah Jawa. (Hatmansyah, 2015:11)

  1. Memelihara akidah umat dengan membentenginya dari hal-hal yang dapat merusak iman atau meruntuhkan keyakinannya.
  2. Menjaga keselamatan jiwa, raga, harta benda, kehormatan umat Islam dari berbagai ancaman.
  3. Menanamkan pemahaman berbagai hukum syariat Islam secara mendalam dan menyeluruh.
  4. Melindungi akal sehat umat dari hal-hal yang dapat merusaknya.
  5. Menepis pengaruh dari pihak luar yang dapat memerosotkan kehormantan dan martabat nilai-nilai sosial atau kemanusia.

Strategi dakwah yang dibangun oleh Wali Sanga di atas kelima prinsip di atas membuat jangkauan dakwah Wali Sanga tidak hanya berkutat pada penduduk desa, namun juga berkembang pesat hingga ke wilayah istana kerajaan pada masa itu.

Prinsip dakwah yang diterapkan oleh Wali Sanga membuat Islam yang baru dianut oleh masyarakat telah mendarah daging dalam jati diri mereka, sehingga membentuk iman yang kokoh serta jiwa yang berakhlak mulia.

Metode dan Strategi Dakwah Wali Sanga

Dalam berdakwah Wali Sanga memiliki beberapa strategi yang telah dirancang guna memudahkannya dalam berdakwah. Adapun beberapa strateginya ialah : Pertama, mengatur lahan dakwah dengan mempertimbangkan faktor geostrategi yang disesuaikan dengan keadaan zaman.

Kedua, Wali Sanga berdakwah dengan pendekatan persuasif yang berorientasi penanaman akidah Islam. Ketiga, Menghilangkan etos dan nilai-nilai dogmatis yang bertentangan dengan akidah Islam.

Keempat, menjalin hubungan dengan tokoh yang berpengaruh dan menghindari konflik dengan masyarakat. Kelima, menyediakan pelbagai kebutuhan pokok masyarakat (Hatmansyah, 2015:11).

Metode yang digunakan Wali Sanga dalam berdakwah ialah : Pertama, pengkaderan dan penyebaran juru dakwah ke berbagai wilayah.

Kedua, berdakwah dengan melalui jalur penikahan. Ketiga, membangun lembaga pendidikan.

Keempat, mengembangkan kebudayaan Jawa dengan nilai-nilai islami.

Kelima, berdakwah dengan menggunakan sarana perekonomian rakyat.

Keenam, mengunakan sarana politik untuk mengembangkan dakwah (Hatmansyah, 2015:11).

Dengan menggunakan metode dan strategi dakwah yang berpegang pada prinsip-prinsip dakwah di atas, Wali Sanga berhasil menyebarkan agama Islam di tanah Jawa yang sesuai dengan kondisi masyarakatnya.

Wali Sanga mengajarkan kepada masyarakat Jawa tentang Islam yang tidak hanya bersifat simbolik dan tekstualis dengan teks kitab suci, namun Islam yang menjunjung tinggi nilai keutamaan hidup dan tanggung jawab manusia kepada makhluk lainnya (Ubaidillah, 2016:159).

Syariat Islam dikonteksualkan dengan kondisi dan keadaan masyarakat Jawa. Hal ini lah yang menjadi salah satu daya tarik masyarakat Jawa terhadap agama Islam. 

Wali Sanga menggunakan budaya sebagai sarana dakwahnya karena dianggap cocok untuk masyarakat Jawa yang kaya akan kebudayaan leluhur. Kebudayaan yang dipandang tidak bertentangan dengan syariat Islam, kebudayaan itu justru akan dilestarikan (Ardiansyah, 2017:47).

Di antara metode dakwah Wali Sanga ialah pendekatan akulturasi budaya Jawa dengan syariat Islam. Wali Sanga tidak menghapus kebudayaan masyarakat Jawa, namun merekontruksikannya dengan nilai-nilai Islam, sehingga kebudayaan masyarakat masih dapat dilestarikan dengan nuansa nilai-nilai Islam.

Berkat dakwah Wali Sanga Islam di Jawa berkembang dan melembaga di dalam kehidupan masyarakat, sehingga banyak tradisi yang dinisbatkan sebagai kreasi dan inovasi Wali Sanga yang terus dilestarikan hingga saat ini di tengah masyarakat (Nur Syam, 2015:70.) Dakwah Wali Sanga dengan pendekatan budaya dan mengkontekstualkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan masyarakat Jawa juga terbukti dapat menjadi pondasi tegaknya syariat Islam di Jawa.

REKOMENDASI

Surah Yang Dianjurkan dan Disunnahkan Dibaca Dalam Pelaksanaan Salat Idul Fitri

Harakah.id - Dalam pelaksanaan salat idul fitri, ada surah-surah yang sunnah dan dianjurkan untuk dibaca. Surah apa saja? Simak artikel di...

Mendamaikan [Kembali] Hisab dan Rukyat, Dua Metode Penentuan Awal-Akhir Bulan Dalam Penanggalan Hijriyah

Harakah.id - Hisab dan Rukyat adalah dua metode yang masyhur digunakan untuk menentukan awal dan akhir dalam penanggalan Hijriyah. Termasuk dalam...

Secercah Kisah Imam al-Bukhari dan Bapaknya; Catatan Singkat Sorogan Buku “Commentary of Forty Hadiths...

Harakah.id - Imam al-Bukhari adalah salah satu ulama yang kontribusinya tidak lagi bisa kita pertanyakan. Kitabnya, Sahih al-Bukhari, adalah kitab sahih...

Apakah Boleh Membayar Zakat Fitrah Menggunakan Uang Pinjaman Dari Rentenir?

Harakah.id - Apakah boleh membayar zakat dengan uang pinjaman dari rentenir, maka sebenarnya tak perlu ditanyakan, karena dia bukan tergolong orang...

TERPOPULER

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...