Isyarat Mimpi Pangeran Diponegoro Tentang Masa Depan Kekuatan Islam dan Nasionalisme

0
1001
Isyarat Mimpi Pangeran Diponegoro Tentang Masa Depan Kekuatan Islam dan Nasionalisme

Harakah.idPangeran Diponegoro seringkali menerima isyarat mimpi. Meskipun ia seringkali diwujudkan dan muncul dalam bentuk-bentuk serta isyarat-isyarat simbolik, ia secara tidak langsung menunjukkan sebuah ramalan. Salah satu isyarat yang pernah dialami Pangeran Diponegoro adalah soal Islam dan Nasionalisme.

Di tahun-tahun menjelang Perang Jawa 1825-1830, Pangeran Diponegoro beberapa kali mendapatkan vision dan mimpi-mimpi sarat ramalan dan pesan simbolik terkait perannya di masa depan. Salah satu mimpi-penglihatan yang paling penting dan menentukan, ia alami di malam 21 Ramadan tahun 1824 (19 Mei 1824). Sebuah mimpi dan penglihatan yang menjadi petanda  penunjukan dirinya sebagai sosok penting yang akan membawa perubahan bagi nasib bangsa Indonesia.

Dalam mimpinya, Pangeran Diponegoro mengaku bertemu Ratu Adil yang berpakaian seperti pakaian haji dari Mekkah. Wajahnya begitu cerah dan terang benderang sampai-sampai Pangeran Diponegoro tidak mampu menatap langsung, namun mampu mengidentifikasi warna busana yang dikenakan sang Ratu Adil;

15] Kanjeng pangeran tan kuwasa uning, aningali marang kang wedana, sang ratu adil cahyane, kasor ing ngarga tuhu, nging busana awas ningali, kanjeng pangran sedaya, ijem srebanipun, ara sukan jubah seta, lan selana seta ngagem sebeabrit, ngaler ngilen ajengnya. [Babad Dipanegara, jilid II]

(15] Kanjeng Pengeran [Diponegoro] tak kuasa melihat, atau mengenali wajah, sang Ratu Adil yang cahayanya, mengalahkan matahari. Hanya busana yang mampu dikenali, oleh Pangeran secara menyeluruh; sorbannya hijau, mengenakan jubah dan celana putih serta selendang merah. Wajahnya menghadap ke barat laut.)

Penglihatan, mimpi dan wangsit yang diterima Diponegoro ini memberikan dampak spiritual bagi Pangeran Diponegoro. Hal tersebut menjadi sangat penting karena ia hendak memupuk keyakinan yang selama ini mendekam dalam hatinya untuk menggalang pemberontakan terhadap Keraton. Dengan berbekal dukungan pemerintahan kolonial, Keraton terus-menerus membuat putusan dan kebijakan yang menghadirkan ketakutan, kemiskinan dan disintegrasi tatanan sosial bagi masyarakat Jawa. Sudah lama Diponegoro mau bertindak atas permasalahan ini.

Di Tegalrejo, pada tahun ketika Diponegoro pertama kali mendapat penglihatan penunjukan dirinya sebagai Ratu Adil, pacul dan arit mulai diasah, bambu-bambu dipotong dan diruncingkan, seluruh petani dan santri Tegalrejo meningkatkan kesiagaan guna menghadapi perang.

Simbolisasi warna yang disebutkan oleh Diponegoro tentu tidak muncul begitu saja. Putih, merah dan hijau adalah warna yang mewadahi perpaduan dari visi, misi dan semangat yang akan diusung Diponegoro dan Pasukan Erucokro di gelanggang Perang Jawa selama 1825-1830.

Warna-warna tersebut adalah hakikat dan pesan-pasemon dari sosok Ratu Adil yang ditemui Pangeran Diponegoro. Dari warna itulah Diponegoro mengaktifkan kedalaman batin dan kekuatan interpretasinya, yang kemudian melahirkan beberapa penafsiran yang didapatnya di Gua Secang Selarong hingga beberapa bulan sebelum meletusnya pemberontakan pada Juli tahun 1825.

Penglihatan tersebut menyiratkan penunjukannya sebagai Ratu Adil, legitimasi al-Quran dan wahyu atas perang yang dipimpinnya, yang merupakan mandat langsung dari Allah SWT dan Rasulnya serta penegasan bahwa perang tersebut adalah perang untuk mengusir penjajah dan mengembalikan stabilitas tatanan sosial di Jawa.

Warna memang sesuatu yang simbolik dan sekunder, tapi jika itu menyangkut konstruksi visi dan misi lokus budaya yang diwakilinya, maka memaknai warna tak kalah pentingnya dengan memaknai kebudayaan itu sendiri.

Warna adalah pengentalan dari berbagai macam dinamika dan gesekan yang muncul, yang menjadi perlambang dan kekhasan bagi sesuatu yang diwakilinya. Begitu juga dengan fungsi simbolisasi warna dalam uraian Pangeran Diponegoro mengenai penglihatan yang didapatnya.

Dari mimpi Diponegoro, kita juga bisa menyimpulkan bahwa kekuatan Islam bisa terlahir kembali bukan berdasar asas puritanisme doktrinal. Jauh daripada itu, dalam konteks yang lebih spesifik, Islam justru akan mengalami kebangkitan kala ia didialogkan dan diharmonisasi dengan unsur-unsur vernakular yang secara spontan dan alamiah keluar dari tanah tempat para penganutnya hidup. Itulah arti dari isyarat berupa warna dalam mimpi Diponegoro.