Beranda Khazanah Jadilah Pahlawan dalam Perang Semesta Menghadapi Corona

Jadilah Pahlawan dalam Perang Semesta Menghadapi Corona

Harakah.idPuluhan dokter dan perawat telah meninggal dunia. Mereka adalah para pahlawan dalam perang semesta menghadapi pandemic corona. Semua kita juga harus meneladani dan bisa menjadi pahlawan dengan cukup disiplin di dalam rumah saja.

Bencana terus menyapa Indonesia tanpa jeda. Namun bencana kali ini berbeda dan sangat jarang terjadi, yaitu bencana wabah penyakit yang berskala global. WHO menyatakan wabah virus corona atau Covid-19 sebagai sebuah pandemi sejak Rabu (11/3).  

Pandemi lebih terkait pada geografis penyebarannya. Secara sederhana, makna Pandemi adalah wabah suatu penyakit baru yang menyebar di berbagai negara dalam waktu yang sama.  Saat ini tercatat ada lebih dari 1,27 kasus Covid-19 di sedikitnya 240 negara, dan menewaskan lebih dari 69.309 orang. Di Indonesia sendiri hingga Senin (6/4) telah tercatat 2.491 kasus positif dengan 209 diantaranya meninggal dunia.

Pemerintah telah menetapkan masa darurat hingga 29 Mei 2020. Berbagai kebijakan penanganan cepat juga diupayakan dengan fokus meminimalisasi korban dan menghentikan penyebaran. Banyak kalangan terlibat baik langsung maupun tidak langsung dalam upaya tanggap darurat. Pihak yang berada di garda terdepan adalah tenaga kesehatan, baik dokter, perawat dan lainnya. Mereka rentan terpapar Covid-19. Puluhan dokter dan perawat telah meninggal dunia. Mereka adalah para pahlawan dalam perang semesta menghadapi pandemic corona. Semua kita juga harus meneladani dan bisa menjadi pahlawan dengan cukup disiplin di dalam rumah saja.

Pahlawan Kemanusiaan

Mereka yang wafat pantas diberi gelar pahlawan kemanusiaan meskipun belum formal. Sedangkan tenaga yang masih berjuang hamper pasti memiliki nilai kepahlawanan yang kuat pula. Spirit kepahlawanan mereka penting menjadi bahan pembelajaran bagi kita semua.

Banyak cerita mengharukan di balik aktivitas para relawan saat terjadi pandemic seperti sekarang ini. Sudah pasti mereka bekerja secara suka rela. Tanpa mengecilkan arti relawan di sektor lain,kisah kepahlawanan tenaga kesehatan sungguh membanggakan.

Mereka tidak surut meski pekerjaannya bergelut dengan maut. Tenaga kesehatan terus bekerja meskipun Alat Pelindung Diri (APD) sangat minim. Keterbatasan stok APD memang sedang terjadi dan pemerintah sedang berupaya menyediakannya baik impor maupun produksi BUMN atau swasta. Publik juga terus menggalang bantuan guna penyediaan APD yang sangat vital bagi keselamatan tenaga kesehatan.

Jumlah tenaga kesehatan juga terbatas dibandingkan dengan laju kasus dan sebaran Covid-19 yang tinggi. Pemerintah sendiri telah mengupayakan rekruitmen relawan kesehatan dari mahasiswa tingkat akhir jurusan kesehatan ataupun dokter muda.

Apresiasi juga patut diberikan kepada pemerintah yang menjanjikan insentif bagi tenaga kesehatan. Meskipun hal ini tentu bukan menjadi permintaan pada relawan sendiri. Prioritas tetap adalah jaminan keamanan mereka dengan APD memadai.

Para relawan bukanlah sosok yang fenomenal dan terkenal. Tapi kiranya kepahlawanannya sejajar dengan para pahlawan nasional. Relawan juga dapat dikategorikan pahlawan tanpa tanda jasa.

Spirit Kepahlawanan

Pahlawan berasal dari bahasa Sansekerta “Phala-Wan”, artinya orang yang menghasilkan buah atau hasil karya (phala). Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan pahlawan sebagai  orang yang menonjol karena keberaniannya dan pengorbanannya dalam membela kebenaran, atau pejuang yang gagah berani. Jadi ada tiga aspek kepahlawanan, yakni keberanian, pengorbanan, dan membela kebenaran.

Tindak Kepahlawanan dapat dipahami sebagai perbuatan nyata yang dapat dikenang dan diteladani sepanjang masa bagi warga masyarakat lainnya. Kepahlawanan  sendiri memiliki nilai berupa sikap dan perilaku perjuangan yang mempunyai mutu dan jasa pengabdian serta pengorbanan terhadap bangsa dan negara.

Setiap warga negara memiliki kesempatan yang sama untuk lahir menjadi pahlawan. Apapun profesi, pendidikan, dan latar belakang lainnya, semua mampu meraihnya. Nilai kepahlawanan yang diperbuat tidak penting untuk diketahui ataupun diakui. Upaya konkrit mesti dilakukan dalam rangka menumbuhkan jiwa berani, berkorban, dan membela kebenaran.

Jiwa pemberani terlahir di atas pondasi ideologi yang kokoh. Pendekatan nasionalisme dan spiritualisme penting diupayakan  dalam menumbuhkannya. Seluruh rakyat mestinya tidak mengenal istilah takut kecuali kepada Tuhan dan negaranya. Berhadapan dengan siapapun pemilik jiwa pemberani akan tetap menegakkan kepala, tidak peduli kepada penguasa, atasan, atau lainnya. Misalnya saja dalam pemberantasan korupsi perlu membutuhkan jiwa pemberani, berani menolak suap, berani melaporkan praktik korupsi, berani memberikan kesaksian, dan lainnya.

Keberanian membutuhkan pengorbanan dan pengorbanan membutuhkan keikhlasan. Konsekuensi atas keberanian yang digaungkan tentu akan menimbulkan ekses dari pihak lawan. Ekses tersebut bervariasi mulai dari ancaman hingga tindakan yang menyerang kehormatan, harta, hingga jiwa. Setiap anak bangsa mesti bersiap diri mengorbankan apapun demi menguatkan keberaniannya menyerukan kebaikan.

Keberanian dan pengorbanan mestinya dibungkus oleh satu visi yaitu membela kebenaran. Bukanlah pahlawan yang berani dan berkorban bukan untuk kebenaran. Atau untuk kebenaran tetapi demi pamrih tertentu. Pembelaan kebenaran tentunya tidak dilakukan serampangan sehingga dapat menimbulkan efek kekonyolan. Semua mesti didasari pada peraturan perundangan serta norma yang berlaku. Pembelaan kebenaran juga membutuhkan pengorganisian yang taktis dan sistematis. Ali bin Abi Thalib pernah memperingatkan bahwa kebenaran yang tidak teroganisasi akan terkalahkan oleh kejahatan yang teroganisisasi.

Jika semua memiliki jiwa kepahlawanan, maka tidak akan ada ruang bagi pecundang. Hal yang perlu diwaspadai kepahlawanan tidak membutuhkan popularitas. Kepahlawanan sejatinya adalah laku sunyi tetapi sistematis dan masif.

 RIBUT LUPIYANTO, Deputi Direktur  Center for Public Capacity Acceleration (C-PubliCA) 

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...