Beranda Keislaman Ibadah Jamaah Bermasker Diusir Pengurus Masjid, Bolehkah Shalat Memakai Masker? Berikut Penjelasan Berdasarkan...

Jamaah Bermasker Diusir Pengurus Masjid, Bolehkah Shalat Memakai Masker? Berikut Penjelasan Berdasarkan Mazhab Empat

Harakah.idSebuah video viral menampilkan keributan tentang jamaah yang diusir karena pakai masker di dalam masjid. Pihak yang mengusir menyebut memakai masker dilarang oleh Al-Quran. Sebenarnya, bolehkah shalat memakai masker? Berikut penjelasan berdasarkan mazhab empat.

Shalat memakai masker. Beberapa hari belakangan masyarakat dihebohkan dengan viralnya video yang menampilkan keributan di dalam masjid. Persoalan yang diributkan adalah pemakaian masker saat di dalam masjid. Seseorang terlihat memarahi seorang lelaki yang sedang duduk di dalam masjid. Alasan kemarahan tersebut adalah karena lelaki yang jadi objek kemarahan mengenakan masker saat berada dalam masjid. Menurut pihak yang memarahi, shalat mengenakan masker dilarang dalam Al-Quran. Terlihat pula, beberapa orang lainnya juga turut memarahi lelaki tersebut. Kejadian ini kemudian berbuntut dengan permohonan maaf dari pihak yang memarahi.

Video tersebut kemudian menimbulkan pertanyaan di sebagian masyarakat tentang penggunaan masker saat shalat. Apakah diperbolehkan penggunaan masker dalam ibadah shalat? Apakah sah shalat dengan mengenakan masker yang menutupi hidung? Tulisan ini akan sedikit mengupas perihal permasalahan tersebut dari perspektif empat mazhab fikih yang muktabar.

Hidung Bukan Syarat Sah Sujud

Dalam kasus orang shalat mengenakan masker, keberatan yang timbul dari sebagian orang adalah karena ada anggapan bahwa hidung adalah anggota tubuh yang harus nempel di tempat sujud. Jadi, ketika ia memakai masker, otomatis hidungnya tidak nempel di tempat sujud. Menurut mereka, ini menyebabkan ibadah shalat tidak sah. Masalah apakah hidung termasuk anggota tubuh yang harus nempel pada tempat sujud adalah persoalan khilafiyah di kalangan ulama. Dalam kitab Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah disebutkan, bahwa mayoritas ulama tidak mensyaratkan hidung harus nempel dengan tempat sujud.

ذَهَبَ جُمْهُورُ الْفُقَهَاءِ وَهُمُ الْمَالِكِيَّةُ وَالشَّافِعِيَّةُ، وَأَبُو يُوسُفَ وَمُحَمَّدٌ صَاحِبَا أَبِي حَنِيفَةَ، وَعَطَاءٌ وَطَاوُسٌ وَعِكْرِمَةُ وَالْحَسَنُ وَابْنُ سِيرِينَ وَأَبُو ثَوْرٍ وَالثَّوْرِيُّ، وَهُوَ رِوَايَةٌ عَنْ أَحْمَدَ، إِلَى أَنَّهُ لاَ يَجِبُ السُّجُودُ عَلَى الأْنْفِ مَعَ الْجَبْهَةِ لِقَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أُمِرْتُ أَنْ أَسْجُدَ عَلَى سَبْعَةِ أَعْظُمٍ. وَلَمْ يَذْكُرِ الأْنْفَ فِيهِ، وَلِحَدِيثِ جَابِرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَال: رَأَيْتُ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَجَدَ بِأَعْلَى جَبْهَتِهِ عَلَى قِصَاصِ الشَّعْرِ. وَإِذَا سَجَدَ بِأَعْلَى جَبْهَتِهِ لَمْ يَسْجُدْ عَلَى الأْنْفِ، وَقَوْلُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِذَا سَجَدْتَ فَمَكِّنْ جَبْهَتَكَ مِنَ الأْرْضِ وَلاَ تَنْقُرْ نَقْرًا. وَيُسْتَحَبُّ عِنْدَ هَؤُلاَءِ السُّجُودُ عَلَى الأْنْفِ مَعَ الْجَبْهَةِ لِلأْحَادِيثِ الَّتِي تَدُل عَلَى ذَلِكَ.

Mayoritas ahli fikih yang terdiri dari golongan Malikiyyah, Syafi’iyyah, Abu Yusuf dan Muhammad yang merupaka murid-murid Imam Abu Hanifah, Atha’, Thawus, Ikrimah, Al-Hasan, Ibnu Sirin, Abu Tsaur, dan Al-Tsauri, juga merupakan salah satu pendapat Imam Ahmad, mereka semua berpendapat bahwa tidak wajib hukumnya bersujud di atas hidung beserta kening. Karena, Nabi SAW pernah bersabda, ‘Saya diperintahkan sujud di atas tujuh tulang.’ Sedang beliau tidak menyebut hidung dalam salah satu tujuh tulang tersebut. Juga karena ada hadis riwayat Jabir, yang berkata, ‘Saya melihat Rasulullah SAW bersujud dengan bagian atas kening beliau, di bawah rambut beliau. Ketika beliau bersujud dengan bagian atas kening, otomatis beliau tidak sujud dengan hidungnya. Dan karena ada sabda Nabi SAW, ‘Ketika engkau sujud, tekan keningmu ke lantai. Jangan mematuk seperti patuk burung. Dan termasuk kesunnahan menurut para ulama di atas bersujud dengan hidung beserta kening, karena ada hadis yang menunjukkan demikian. (Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah, jilid 24, hlm. 207)

Sampai di sini dapat dipahami bahwa bersujud tidak harus dengan hidung. Yang wajib adalah bersujud dengan kening. Bersujud dengan hidung hanya sebatas kesunnahan yang tidak membatalkan shalat. Demikianlah pendapat mayoritas ulama. Tetapi, ada sebagian ulama yang berpendapat bahwa bersujud harus dengan menyertakan hidung. Tidak cukup bersujud dengan kening. Hal ini merupakan pendapat dalam Mazhab Hanbali dan sebagian ulama Mazhab Maliki.

وَذَهَبَ الْحَنَابِلَةُ وَهُوَ قَوْلٌ عِنْدَ الْمَالِكِيَّةِ وَسَعِيدُ بْنُ جُبَيْرٍ وَإِسْحَاقُ وَالنَّخَعِيُّ وَأَبُو خَيْثَمَةَ وَابْنُ أَبِي شَيْبَةَ: إِلَى وُجُوبِ السُّجُودِ عَلَى الأْنْفِ مَعَ الْجَبْهَةِ، لِمَا رَوَى ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَال: أُمِرْتُ أَنْ أَسْجُدَ عَلَى سَبْعَةِ أَعْظُمٍ: الْجَبْهَةِ – وَأَشَارَ بِيَدِهِ عَلَى أَنْفِهِ – وَالْيَدَيْنِ وَالرُّكْبَتَيْنِ، وَأَطْرَافِ الْقَدَمَيْنِ. وَفِي رِوَايَةٍ أُمِرْتُ أَنْ أَسْجُدَ عَلَى سَبْعَةِ أَعْظُمٍ الْجَبْهَةِ وَالأَْنْفِ. الْحَدِيثُ.

Dan para ulama bermazhab Hanbali berpendapat, ini juga merupakan pendapat sebagian ulama Malikiyyah, Said bin Jubair, Ishaq, An-Nakha’i, Abu Khaitsamah, dan Ibnu Abi Syaibah, bahwa wajib hukumnya bersujud dengan menyertakan hidung dan kening. Karena, ada hadis yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Nabi SAW bersabda, ‘Saya diperintahkan bersujud di atas tujuh tulang; kening, Nabi SAW menunjuk hidung beliau, kedua tangan, kedua dengkul, dan kedua ujung telapak kaki.’ Dalam riwayat lain disebut, ‘Saya diperintahkan bersujud di atas tujuh tulang. Kening dan hidung.’ Al-Hadits. (Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah, jilid 24, hlm. 207)

Ringkasnya, menurut Mazhab Hanbali sujud harus menyertakan hidung. Jika tidak, maka hukumnya haram. Bisa jadi, shalatnya tidak sah menurut mazhab ini.

Berbeda dengan pandangan kedua kelompok di atas, Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa sejatinya hadis tentang anggota sujud yang berbicara tentang kening dan hidung menunjukkan arti pilihan. Artinya, orang boleh memilih bersujud dengan kening saja atau dengan hidung saja. Keduanya hukumnya boleh. Al-Mausu’ah menulis sebagai berikut,

وَذَهَبَ أَبُو حَنِيفَةَ إِلَى أَنَّهُ مُخَيَّرٌ بَيْنَ السُّجُودِ، عَلَى الْجَبْهَةِ وَبَيْنَ السُّجُودِ عَلَى الأْنْفِ، وَأَنَّ الْوَاجِبَ هُوَ السُّجُودُ عَلَى أَحَدِهِمَا فَلَوْ وَضَعَ أَحَدَهُمَا فِي حَالَةِ الاِخْتِيَارِ جَازَ، غَيْرَ أَنَّهُ لَوْ وَضَعَ الْجَبْهَةَ وَحْدَهَا جَازَ مِنْ غَيْرِ كَرَاهَةٍ وَلَوْ وَضَعَ الأْنفَ وَحْدَهُ جَازَ مَعَ الْكَرَاهَةِ.

Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa seseorang diperbolehkan memilih antara bersujud di atas kening atau bersujud di atas hidung. Yang wajib adalah bersujud dengan salah satu dari keduanya. Kalau seseorang meletakkan salah satunya dalam keadaan biasa, maka hal itu diperbolehkan. Hanya saja, kalau ia meletakkan kening saja, maka hukumnya boleh tanpa kemakruhan. Sedangkan kalau hanya meletakan hidung saja saat sujud, maka boleh disertai kemakruhan. (Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah, jilid 24, hlm. 208)

Sampai di sini dapat disimpulkan bahwa persoalan apakah hidung termasuk anggota yang wajib menempel saat bersujud merupakan persoalan khilafiyah. Mayoritas ulama mengatakan tidak wajib menempelkan hidung. Tetapi, menurut Mazhab Hanbali wajib ditempelkan. Artinya, menurut mayoritas ulama tidak disyaratkan menempelkan hidung saat bersujud. Tetapi, menurut mazhab Hanbali, harus ditempelkan.

No.Wajib NempelTidak Wajib
1.HanabilahMalikiyyah
2.Sebagian MalikiyyahSyafi’iyyah
3.Said bin JubairAbu Yusuf
4.An-Nakha’iMuhammad bin Hasan
5.Abu KhaitsamahAtha’
6.Ibnu Abi SyaibahThawus
7. Ikrimah
8. Hasan Basri
9. Abu Tsaur
10. Sufyan Al-Tsauri

Sekalipun para ulama Hanabilah mewajibkan hidung menempel pada tempat sujud, tetapi mereka tidak mewajibkan nempel secara langsung. Mereka membolehkan menutup hidung. Pendapat ini didukung mayoritas ulama. Bahwa anggota sujud, tidak wajib dibuka saat sujud ke lantai.

ذَهَبَ جُمْهُورُ الْفُقَهَاءِ وَهُمُ الْحَنَفِيَّةُ وَالْمَالِكِيَّةُ وَالْحَنَابِلَةُ، وَجَمْعٌ مِنْ عُلَمَاءِ السَّلَفِ، كَعَطَاءٍ وَطَاوُسٍ وَالنَّخَعِيِّ وَالشَّعْبِيِّ وَالأَْوْزَاعِيِّ إِلَى عَدَمِ وُجُوبِ كَشْفِ الْجَبْهَةِ وَالْيَدَيْنِ وَالْقَدَمَيْنِ فِي السُّجُودِ، وَلاَ تَجِبُ مُبَاشَرَةُ شَيْءٍ مِنْ هَذِهِ الأْعْضَاءِ بِالْمُصَلَّى بَل يَجُوزُ السُّجُودُ عَلَى كُمِّهِ وَذَيْلِهِ وَيَدِهِ وَكَوْرِ عِمَامَتِهِ وَغَيْرِ ذَلِكَ مِمَّا هُوَ مُتَّصِلٌ بِالْمُصَلِّي فِي الْحَرِّ أَوْ فِي الْبَرْدِ

Mayoritas ulama yang terdiri dari para ulama bermazhab Hanafi, Maliki, dan Hanbali, dan sekelompok ulama dari golongan salaf seperti Atha’, Thawus, An-Nakha’i, Al-Sya’bi, dan Al-Auza’i, berpendapat bahwa tidak wajib membuka kening, kedua tangan, kedua telapak kaki saat bersujud. Tidak wajib pertemuan langsung anggota-anggota badan ini dengan tempat shalat (baca; sujud). Bahkan boleh bersujud di atas lengan baju, ekor baju, tangan, lipatan serban, dan lainnya, dari benda-benda yang menempel pada orang yang shalat, baik saat musim panas maupun musim dingin. (Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah, jilid 24, hlm. 208)

Pandangan Mazhab Syafi’i

Sedangkan mazhab Syafi’i, mensyaratkan anggota sujud (yaitu kening) untuk dibuka demi keabsahan shalat. Mazhab Syafi’i melarang bersujud di atas benda yang menempel pada orang yang shalat.

وَذَهَبَ الشَّافِعِيَّةُ وَهُوَ رِوَايَةٌ عَنْ أَحْمَدَ إِلَى وُجُوبِ كَشْفِ الْجَبْهَةِ وَمُبَاشَرَتِهَا بِالْمُصَلَّى وَعَدَمِ جَوَازِ السُّجُودِ عَلَى كُمِّهِ وَذَيْلِهِ وَيَدِهِ وَكَوْرِ عِمَامَتِهِ

Para ulama bermazhab Syafi’i, dan satu riwayat dari Imam Ahmad, berpendapat bahwa wajib hukumnya membuka kening dan menempelkannya secara langsung dengan tempat sujud. Dan tidak boleh bersujud di atas lengan baju, ekornya baju, tangan dan lipatan serbannya orang yang shalat. (Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah, jilid 24, hlm. 209)

Dalam keterangan ini jelas bahwa mazhab Syafi’i hanya mewajibkan membuka kening dan menempelkan langsung pada tempat sujud. Tidak ada kewajiban membuka hidung yang memang bukan anggota sujud. Lebih-lebih kewajiban untuk menempelkannya. Tetapi, dalam kitab-kitab mazhab Syafi’i, hukum membuka dan menempelkan hidung ke tempat sujud adalah sunnah. Imam Nawawi Al-Bantani mengatakan,

)وَسن وضع أنف) مكشوفا مَعَ الْجَبْهَة وأكمل السُّجُود أَن يكبر لهويه بِلَا رفع يَدَيْهِ وَيَضَع رُكْبَتَيْهِ وقدميه ثمَّ كفيه ثمَّ جَبهته وَأَنْفه مَعًا وَيكرهُ مُخَالفَة التَّرْتِيب الْمَذْكُور وَعدم وضع الْأنف

Disunnahkan meletakkan hidung dalam keadaan terbuka bersama dengan kening. Cara sujud paling sempurna adalah seseorang membaca takbir saat turun tanpa mengangkat kedua tangan, dan ia meletakkan kedua lututnya dan kedua telapak kaki, kemudian kedua telapak tangan, kemudian kening dan hidung secara bersamaan. Dimakruhkan menyelisihi urutan ini dan makruh pula tidak menempelkan hidung. (Nihayah Al-Zain, hlm. 69)

Dalam keterangan lain, Imam Nawawi Al-Bantani mengatakan,

وَيكرهُ أَن يُصَلِّي فِي ثوب فِيهِ صُورَة وَأَن يُصَلِّي الرجل متلثما

Dihukumi makruh jika seseorang shalat dengan memakai baju yang bergambar, dan dihukumi makruh seseorang shalat dengan menutup hidungnya (memakai masker). (Nihayah Al-Zain, hlm. 47)

Sampai di sini, shalat orang yang memakai masker dihukumi sah shalatnya menurut mazhab-mazhab fikih dalam Islam. Hal ini karena, tertutupnya hidung tidak menyebabkan batalnya shalat karena hidung bukan anggota sujud menurut mayoritas ulama. Ia adalah anggota sujud menurut mazhab Hanbali. Sekalipun mazhab Hanbali menganggap hidung sebagai anggota sujud, tetapi ketika sujud seseorang tidak harus membukanya. Artinya boleh menutupnya menggunakan masker. Mazhab Syafi’i yang tidak menganggap hidung sebagai anggota sujud, hanya mewajibkan kening yang terbuka saat bersujud dan mensunnahkan agar hidung dibuka saat shalat. Mazhab Syafi’i menilai makruh shalat dengan memakai masker. Makruh di sini adalah ketentuan hukum yang tidak sampai membatalkan shalat.

Demikian ulasan tentang hukum bolehkah shalat memakai masker dalam pendangan mazhab-mazhab fikih dalam Islam. Semoga dapat menambah wawasan. Syukur-syukur jika para pengurus masjid lebih teredukasi sehingga kejadian pemaksaan terhadap jamaah yang berusaha mentaati prokes pemerintah tidak terjadi lagi. Para pengurus masjid perlu mendapatkan tambahan wawasan agar dapat bersikap lebih bijaksana.  

REKOMENDASI

Mendamaikan [Kembali] Hisab dan Rukyat, Dua Metode Penentuan Awal-Akhir Bulan Dalam Penanggalan Hijriyah

Harakah.id - Hisab dan Rukyat adalah dua metode yang masyhur digunakan untuk menentukan awal dan akhir dalam penanggalan Hijriyah. Termasuk dalam...

Secercah Kisah Imam al-Bukhari dan Bapaknya; Catatan Singkat Sorogan Buku “Commentary of Forty Hadiths...

Harakah.id - Imam al-Bukhari adalah salah satu ulama yang kontribusinya tidak lagi bisa kita pertanyakan. Kitabnya, Sahih al-Bukhari, adalah kitab sahih...

Apakah Boleh Membayar Zakat Fitrah Menggunakan Uang Pinjaman Dari Rentenir?

Harakah.id - Apakah boleh membayar zakat dengan uang pinjaman dari rentenir, maka sebenarnya tak perlu ditanyakan, karena dia bukan tergolong orang...

Teologi Pembebasan dan Konsep Kebertuhanan dalam Pemikiran Hassan Hanafi

Harakah.id - Teologi pembebasan memang merupakan gagasan yang sudah cukup lama bergulir. Tapi demikian, gagasan lontaran Hassan Hanafi ini terbukti memang...

TERPOPULER

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...