Jamaah Haji Harus Kaya dan Tidak Boleh Buta Huruf, Debat Kiai Wahid dan Kiai Sirajuddin

0
Jamaah Haji Wajib Bisa Baca-Tulis, Debat Kiai Wahid dan Kiai Sirajuddin Soal Syarat Berhaji

Harakah.idKetika menjadi Menteri Agama, Kiai Wahid Hasyim pernah membuat aturan kalau jamaah haji tidak boleh buta huruf dan wajib bisa baca-tulis, baik latin, pegon maupun Arab. Aturan ditentang, salah satunya oleh Kiai Sirajuddin Abbas.

Misi Kiai Wahid memutus monopoli pelayaran asing sejatinya adalah latar belakang yang menyebabkan Kementerian Agama gagal memberangkatkan sebagian besar jamaah haji Indonesia tahun 1951. Visi dan agenda semacam ini sulit dipahami oleh anggota-anggota DPR yang tidak memiliki visi antikolonial ketika sidang interpelasi berlangsung.

Hampir tidak ada anggota DPR yang menangkap visi Kementerian Agama tersebut. Maka pertanyaan yang dikejar pun melebar ke mana-mana. Berbekal isu dan gosip yang beredar di masyarakat, DPR mencacah kebijakan-kebijakan haji Kementerian Agama di masa itu. Ketidakmampuan menangkap bingkai besar problematika yang disampaikan Kiai Wahid pada akhirnya mengarahkan perdebatan pada masalah kebijakan dan regulasi.

Di luar perdebatan seputar organisasi, administrasi dan prosedur pelaksaaan ibadah haji, ada juga perdebatan unik yang terjadi antara Kiai Wahid dan Kiai Sirajuddin Abbas mengenai regulasi. Dalam sidang interpelasi tersebut Kiai Sirajuddin Abbas mempertanyakan masalah fatwa “haji tidak wajib di tahun tersebut” yang dikeluarkan kementerian dan regulasi “calon jamaah haji tidak boleh buta huruf dan harus dari kalangan orang mampu”.

Buta hurufpun menghalangi untuk naik hadji. Sesungguhnjalah Pemerintah kita, dalam hal ini Kementerian Agama, mengadakan jang bukan-bukan, jang seolah-olah menghalang-halangi orang naik hadji. Saudara Ketua, ke Mekkah ini sama deradjatnja dengan sembahjang, ja’ni salah satu rukun Islam jang lima. Apakah untuk sembahjang disjaratkan tahu tulis batja dulu? Saja mau bertanja kepada Pemerintah: Hadits jang mana, kitab jang mana mensjaratkan tahu tulis batja untuk baru boleh pergi ke Mekkah?” Siradjuddin Abbad menyampaikan interpelasinya. Kalau kita ingat model-model slogan kembali ke al-Qur’an dan Hadis, atau gaya berpikir “mana dalil hadis dan ayatnya?” Kita pun juga bisa menerka gambaran karakter berpikir Kiai Siradjuddin Abbas dalam menanggapi aturan Kementerian Agama tersebut.

Kiai Wahid tentu dengan tenang dan mudah menjawabnya;

Bahwa keadaan djemaah Hadji pada masa-masa jang lalu tidaklah memberikan gambaran jang baik bagi kaum Muslimin, sudahlah njata. Banjak sekali diantara tjalon-tjalon djamaah Hadji itu jang selamanja belum pernah mendjalani rukun Islam jang terutama sehari-hari ialah sembahjang 5 waktu; banjak pula diantara mereka pergi berhadji, dengan tidak mengetahui akan sarat-saratnja berhadji, rukun-rukun serta wajib-wajibnja. Terhadap hal jang pertama, jang merupakan aspek keagamaan jang individuil (perseorangan), Pemerintah tidak dapat mentjampurinja, agar tidak terpaksa menghadapi interpelasi jang baru lagi… Akan tetapi bagi hal jang kedua, Pemerintah tiada dapat membiarkan mereka itu berpajah-pajah menempuh djarak perdjalanan beribu-ribu kilometer, menghabiskan biaja beribu-ribu rupiah dan melewatkan waktu berbulan-bulan, sedang pengertian mereka tentang Hadji itu tidak ada. Alangkah sia-sianja tenaga jang telah terbuang-buang itu. Apalagi hampir selalulah mereka mendjadi korban dari pada ‘penundjuk-penundjuk ibadat Hadji’ jang tiada bertanggung-djawab, jang seringkali mempermainkan kekurangan pengertian djemaah-djemaah Hadji itu. Oleh karenanja, maka Pemerintah berichtiar untuk mengadakan sematjam kursus bagi djemaah-djemaah Hadji itu selama perdjalanannja dari Indonesia ke Djeddah, agar mereka beribadat dengan pengertian; dan dengan demikian tiadalah djadi sia-sia perdjalanannja. Guna kesempurnaan kursus-kursus itu maka mereka harus mempunjai ketjakapan menulis, entah dengan huruf latin, huruf daerah walaupun huruf Arab, agar tiada hilang pertjuma sadja susah pajah mengadakan kursus-kursus tadi.

Bagi Kiai Wahid, kemampuan baca tulis adalah syarat utama jamaah haji mampu memahami tahapan-tahapan ibadah haji dan faktor pendukung lainnya. Ketika jamaah haji hanya mengandalkan nafsu agamanya tanpa memiliki kemampuan untuk mengakses buku panduan yang telah disediakan oleh kementerian, maka percuma saja. Alih-alih menjadi haji mabrur, yang mungkin terjadi justru ibadah hajinya batal karena ketidakseriusan jamaah dalam memperhatikan syarat dan rukun haji. Dengan kata lain, seluruh agenda kursus pra keberangkatan yang diinisasi oleh Kementerian untuk membantu jamaah haji menunaikan ibadah haji dengan benar dan khusyuk akan sia-sia karena para jamaah tidak mampu membaca dan menulis. Kata Kiai Wahid, “guna kesempurnaan kursus-kursus itu maka mereka harus mempunjai ketjakapan menulis, entah dengan huruf latin, huruf daerah walaupun huruf Arab, agar tiada hilang pertjuma sadja susah pajah mengadakan kursus-kursus tadi”.

Selain itu, kemampuan baca dan tulis akan menjadi tameng bagi jamaah haji dari segala bentuk penipuan dokumen yang dominan dialami para jamaah ketika dalam perjalanan ibadah haji. Kiai Wahid mengamati betul kasus penipuan semacam ini, yang menurutnya hampir terjadi di setiap pelaksanaan ibadah haji tiap tahunnya. Maka Kata Kiai Wahid, kemampuan baca-tulis akan sangat membantu para jamaah haji Indonesia “apalagi hampir selalulah mereka mendjadi korban dari pada ‘penundjuk-penundjuk ibadat Hadji’ jang tiada bertanggung-djawab, jang seringkali mempermainkan kekurangan pengertian djemaah-djemaah Hadji itu.

Selain itu, Kementerian mensyaratkan jamaah haji yang harus berangkat juga harus berasal dari keluarga yang mampu. Hal itu dibuktikan nantinya dengan dokumen dan bukti tertulis lainnya sebagai jaminan. Bukan tanpa alasan, karena Kiai Wahid melihat realitas sosial masyarakat Indonesia yang rela menjual dan menggadaikan apapun demi menunaikan ibadah haji. Jangankan meninggalkan harta untuk keluarga yang ditinggalkan dalam waktu yang cukup lama, seseorang bisa saja menjual seluruh hartanya demi bisa berangkat haji tanpa memperdulikan keberlangsungan hidup keluarga yang ditinggalkan.

Memang tidak akan pernah ada dalil al-Qur’an maupun Hadis yang secara terang-terangan berbicara soal regulasi bahwa orang yang haji harus bisa baca-tulis atau wajib dari keluarga yang mampu. Ada memang pra-syarat bahwa haji wajib hanya bagi mereka yang tidak mampu. Artinya, nash pun sebenarnya berpendapat bahwa mereka yang tidak mampu tidak perlu memaksakan diri untuk berhaji ke tanah suci Mekkah.

Selain itu, kemampuan baca dan tulis adalah media dan sarana bagi para jamaah haji agar bisa menunaikan ibadah haji dengan benar. Ketika seluruh rukun dan syarat dipenuhi, tinggal tawakkal dan berdoa agar hajinya maqbul. Alih-alih mengharap hajinya diterima dan mabrur kalau syarat dan rukunnya aja tidak dijalankan dengan benar. Jangan ngarep! Bukankah sarana kepada sesuatu yang wajib memiliki konsekuensi hukum wajib juga? Begitulah posisi regulasi baca-tulis tersebut.

Dengan mempertimbangkan banyak hal, termasuk upaya kementerian untuk menasionalisasikan jasa pelayaran jamaah haji, pada akhirnya muncullah fatwa bahwa di tahun tersebut haji tidaklah wajib. Ketika Kiai Sirajuddin Abbas memahami latar problematika dan dasar logika di balik kemunculan keputusan fatwa tersebut, tentu saja beliau akan mengangguk dan menyetujui keputusan kementerian. Dengan melakukan nasionalisasi jasa pelayaran, bisa dipastikan pelaksanaan ibadah haji di Indonesia bisa lebih terorganisir dan tersistem dengan baik.

Melalui kasus ini, kita melihat progresifitas seorang kiai yang menghabiskan sebagian besar waktunya di pesantren dan kitab kuning. Menjadi santri dan bergelut dengan tema-tema keislaman tidaklah menjadikan seseorang jumud. Kiai Wahid memperlihatkan bagaimana seorang santri mampu mencapai level progresifitas yang tidak bisa dijangkau bahkan oleh mereka yang menyebut dirinya terdidik, modern dan akademisi. Selama orientasi pemangku kebijakan dibangun dengan niat untuk menghadirkan kebaikan bagi banyak orang, maka keputusan-keputusan yang dihasilkan pun akan bernilai taktis dan strategis.