Beranda Keislaman Hadis Jangan Terlalu Serius, Nyatanya Ada Perbuatan Iseng yang Bermanfaat dan Bernilai Ibadah

Jangan Terlalu Serius, Nyatanya Ada Perbuatan Iseng yang Bermanfaat dan Bernilai Ibadah

Harakah.idTidak semua perbuatan iseng sama sekali tidak memiliki nilai. Ada beberapa perbuatan iseng yang bermanfaat dan bernilai ibadah.

Umumnya kita melihat perbuatan iseng itu tidak ada nilai ibadahnya dan karena itu harus ditinggalkan. Betul, karena Nabi bersabda,

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيْهِ (رواه الترمذي وابن ماجه)

“Di antara [tanda kualitas] baik keislaman seseorang adalah [komitmennya] meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat.”  (HR. al-Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Dari hadis tersebut dapat juga dipahami bahwa perbuatan iseng adalah perbuatan yang tidak memiliki tujuan dan manfaat.

Nah, ternyata ada beberapa jenis perbuatan yang bisa dikategorikan iseng-iseng, namun ada manfaatnya. Lho, bagaimana mungkin, iseng koq ada manfaatnya? Kalau begitu bukan iseng, dong?

Iya pertanyaan tersebut juga betul. Iseng itu memang selalu tidak ada manfaatnya. Jika suatu perbuatan memiliki manfaat yang jelas, maka tidak bisa disebut sebagai iseng-iseng. Namun, kali ini maksudnya adalah iseng secara kebahasaan. Yaitu, disebut iseng karena memang tidak ada tujuan dan manfaat yang pasti. Ia hanya sekedar bergurau, guyonan, tertawa, bersantai-santai saja.

Iseng juga dapat dimaknai sebagai suatu perbuatan yang tidak didasari oleh niat yang tulus, niat yang baik. Meskipun perbuatan itu mirip sekali bahkan sama dengan suatu ibadah, namun jika tidak didasari oleh niat, tujuan dan manfaat yang jelas, maka dapat dikategorikan iseng, atau main-main saja.

Orang berbuat sesuatu persis seperti perbuatan shalat, diawali takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam, lengkap dengan berbagai bacaan dan gerakan wajib dan sunnahnya. Namun, sejak awal dia tidak ada niat sama sekali untuk shalat.  Melainkan hanya sekedar ikut-ikutan saja, atau sekedar coba-coba saja. Atau, tidak sedang ada niatan untuk belajar praktikum shalat. Perbuatan seperti ini dapat disebut sebagai iseng, tidak ada gunanya.

Seandainya saat melakukan perbuatan tersebut didasari oleh niat untuk belajar praktik shalat, karena ia baru saja masuk Islam misalnya, maka hal itu bukan termasuk iseng, bahkan berpahala belajar shalat, namun tidak menggugurkan kewajiban shalat, meskipun dilakukan pada waktu yang sesuai. Untuk dapat disebut sebagai melakukan kewajiban shalat dan benilai ibadah shalat, maka harus memang diniatkan untuk melakukan shalat sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah kepadanya (ada’an lillahi ta’ala).

Orang melakukan perbuatan menahan diri dari makan minum, serta dari berhubungan suami istri, seharian penuh, lalu baru “sarapan (breakfast)” setelah masuk waktu maghrib. Namun sejak awal tidak ada niatan untuk berpuasa, tidak didasari ketaatan kepada peritah Allah atau tuntunan baginda Nabi Muhammad saw. Perbuatan semacam itu juga disebut sebagai iseng. Main-main saja. Yang demikian itu, tidak ada manfaatnya dan tidak bernilai ibadah.

Dengan demikian, yang disebut iseng adalah perbuatan yang tidak didasari oleh niat atau tujuan dan manfaat yang jelas dan pasti; misalnya menjalankan perintah Allah, menjauhi laranganNya, atau untuk mendapatkan suatu kemanfaatan tertentu yang sah dan mulia, seperti berobat, menjaga kesehatan, dan alasan syar’i lainnya.

Praktisnya, minimal perbuatan yang tidak disebut iseng adalah perbuatan yang disertai dengan zikir kepada Allah. Jika suatu perbuatan, apapun itu, disertai dengan dzikir kepada Allah, maka hal itu dapat bernilai ibadah dan bukan iseng. Sedangkan niat adalah bagian dari dzikir kepada Allah.

Kembali kepada masalah awal, bahwa ada perbuatan iseng yang ternyata bermanfaat, tidak sia-sia. Artinya, meskipun tidak ada tujuan sama sekali, bahkan cenderung menghabiskan waktu saja, tidak produktif, atau ketika tidak disertai berdzikir kepada Allah sekalipun, maka ia tetap bermanfaat dan sangat dianjurkan oleh Nabi.

Ada empat hal perbuatan yang seandainya iseng-iseng dilakukan, ia akan tetap berguna dan bahkan bernilai ibadah. Pertama, bercanda dan bermain-main dengan keluarga, melatih kuda, latihan memanah, dan mengajar renang.

Berikut adalah sabda Nabi tentang iseng-iseng  yang bermnafaat, dan bahkan dapat bernilai ibadah.

عن عطاء بن أبي رباح قال رأيت جابر بن عبد الله وجابر بن عمير الأنصاريين يرميان فقال أحدهما لصاحبه سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: كُلُّ شَيْءٍ لَيْسَ فِيْهِ ذِكْرُ اللهِ فَهُوَ لَعِبٌ وَلَهْوٌ إِلاَّ أَرْبَعٌ: مُلاَعَبَةُ الرَّجُلِ امْرَأَتَهُ، وَتَأْدِيْبُ الرَّجُلِ فَرَسَهُ، وَمَشْيُهُ بَيْنَ اْلغَرْضَيْنِ، وَتَعْلِيْمُ الرَّجُلِ السِّبَاحَةَ. (رواه النسائي في الكبرى)

“Segala sesuatu yang di dalamnya tidak ada dzikir kepada Allah adalah permainan dan kesia-siaan (iseng), kecuali empat hal: mencadai pasangannya, melatih kuda, berlatih panahan (archery), dan mengajarkan renang.” (H.R. an-Nasai dalam Sunan al-Kubra)

Bermain-main dengan keluarga boleh jadi dipandang tidak ada gunannya oleh umumnya orang, karena tidak produktif. Orang akan lebih memilih untuk bekerja atau beraktifitas lain yang produktif daripada bersantai-santai bersama keluarga. Namun, hal itu justru tidak tepat, karena ternyata bersantai-santai bersama keluarga adalah bukan termasuk iseng-iseng. Ia penuh manfaat, meskipun tidak diniatkan ibadah. Namun, tetap harus proporsional, bukan berarti sepanjang hari, setiap saat hanya bersantai-santai.

Melatih kuda, sepintas juga tidak ada manfaatnya. Ia hanya main-main. Lebih baik bekerja atau belajar sendiri untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, daripada “mencerdaskan” kuda yang hanya seekor binatang tak berakal. Namun, ternyata hal itu juga bukan main-main, melainkan besar manfaatnya untuk pelatih sendiri atau untuk umat manusia umumnya.

Berlatih panahan juga sepintas hanya olahraga biasa. Memanah, di samping juga sebagai cabang olahraga, ia juga latihan fokus, latihan ketangkasan, kecerdasan, dan melatih emosi, dan latihan fisik yang menyehatkan. Banyak lagi manfaat dari olahraga seperti ini. Dalam hal ini, cabang olahraga lain juga sama statusnya dengan memanah.

Berenang, adalah bagian dari cabang olahraga yang juga penting. Di Jazirah Arab masa Nabi, renang adalah olahraga yang langka, bahkan ia sebenarnya bukan tradisi muslim. Namun, Nabi memerintahkan untuk mempelajarinya karena ia memiliki manfaat yang banyak, meskipun kesannya hanya sekedar main-main. Intinya, olahraga apapun bukanlah perbuatan yang sia-sia. Ia adalah sunnah Nabi yang berimplikasi hukum mandub/mustahabb, bahkan bisa menjadi wajib.

Dengan adanya hadis ini, minimal status hukum keempat hal tersebut adalah mubah. Jadi, silakan dilakukan sesuai dengan proporsinya.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

5 Tips Menjaga Hafalan Al-Quran Menurut Sunnah Rasulullah SAW

Harakah.id - Aku akan menjelaskan ke kalian tentang hadits yang aku yakin hadits ini akan sangat bermanfaat untuk teman-teman penghafal Qur’an.

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...