Beranda Kabar Jangan Terpukau Kemasan Dakwah Digital yang Viral di Medsos

Jangan Terpukau Kemasan Dakwah Digital yang Viral di Medsos

Harakah.id – Jangan terlalu ngoyo dan khawatir pada kemasan dakwah digital yang viral di media sosial. Trending twitter itu cuma 7 menit – 2 jam. NU itu ada yang punya. Viralnya Mbah Hasyim itu sepanjang zaman.

Peran perjuangan Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Nahdlatul Wathan (NW), Tarbiyah Islamiyah (PERTI) dan organisasi-organisasi besar keagamaan lainnya di Indonesia, telah teruji waktu. Puluhan bahkan ratusan tahun, senantiasa menegakkan dan mengawal lestarinya dakwah Islam, dari zaman ke zaman, melewati beragam situasi dan perubahan.

Hingga kini, ratusan ribu lembaga pendidikan, pesantren, dan sekolah di bawah naungan organsisi tersebut maupun ulama yang bergerak di dalamnya, masih kokoh, terus aktif dan menjadi tempat para santri memperdalam ilmu agama.

Selulus belajar, para santri menyebar ke berbagai pelosok negeri, mengamalkan ilmu dan menebar dakwah Islam. Berjuang di masyarakat, dari kota hingga pelosok desa, menghidupkan masjid, mushola dan mendirikan lembaga-lembaga pendidikan.

Sampailah di era digital. Saat teknologi komunikasi, media sosial, berkembang masih dan cepat. Semua orang dengan gampang bersuara, berbagi pendapat, gagasan, pandangan, pemikiran dan sebagainya. Banyak juga yang ingin trending atau viral, supaya menyedot perhatian, mengerek branding, memengaruhi opini publik dan lain-lain.

Sejalan dengan itu, ghirah dan tren masyarakat untuk belajar agama meningkat. Ini tak hanya terjadi di Indonesia, tapi hampir di seluruh dunia. Di sinilah, akun-akun dakwah, ustadz, majelis, kajian Islam tumbuh bermunculan, seolah menemukan tempat dan momentumnya. Mereka menyedot banyak followers, subscribers yang cukup loyal dan militan di jagad digital.

Tapi kebanyakan akun-akun dakwah digital dan ustadz tersebut tidak berasal dari organisasi-organisasi Islam yang selama ini mewarnai dakwah Islam di Nusantara.

Baca Juga: Agar Dapat Sanad dari Ngaji Online dengan Ulama Timur Tengah

Oleh karena itu, tak sedikit yang mempertanyakan eksistensi organisasi-organisasi Islam seperti NU, Muhammadiyah, NW, dan Perti. Di manakah mereka? Apakah kurang mampu beradabtasi dengan perkembangan digital? Apalagi, jika coba dibandingkan, akun-akun milik organisasi-organisasi Islam ini, mungkin kalah jauh dengan ustadz dan akun dakwah di luar mereka.

Menanggapi kondisi tersebut, pengampu Ngaji Virtual Kitab Ihya Ulumuddin, Ulil Abshar Abdalla atau Gus Ulil menyebut, tak perlu risau. Ia bahkan menyatakan, jangan terlalu ngoyo atau ngotot menanggapinya. Terutama ini ia pesankan kepada para santri NU.

“Kepada para santri dan semua pihak yang peduli terhadap apa yang terjadi di NU atau apapun, memang masih ada banyak kekurangan di sana-sini. Tapi jangan terlalu ngoyo, terlalu ngotot. NU iku ono sing nduwe, kalau istilahnya Gus Mus. NU itu ada yang punya. Siapa (yang punya NU)? Yang punya ya Gusti Allah,” ujar Gus Ulil, dalam sebuah kesempatan FGD, di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Kamis (16/21/2021), silam.

“Ini bukan berarti kita pasif tidak bekerja, melainkan ketika bekerja kita melakukannya dengan kesadaran penuh bahwa faktor di luar ikhtiar kita itu menentukan sekali,” imbuhnya.

Kadang-kadang, banyak orang mengeluhkan tradisi pesantren yang ilmunya banyak sekali tapi kenapa tidak muncul di media sosial, dan segala macam di dunia maya, dan kalah dengan kelompok-kelompok lain.

“Saya mengerti kegalauan teman-teman ini dan saya setuju. Tetapi saya memakai ilmunya Gus Mus tadi. Jadi, tidak usah khawatir. Karena sesuatu itu kalau bernilai walaupun misalnya tidak dikemas dengan menarik, akan tetap muncul pelan-pelan. Tentu saja akan lebih bagus jika dikemas dengan menarik. Tapi tanpa dikemas pun akan keluar dengan pelan-pelan,” ujarnya.

Baca Juga: Sejarah Tafsir di Masa Tabiin, Dari Polarisasi Acuan Tafsir Hingga Dominasi Kisah-Kisah Israiliyyat

Gus Ulil menyadari, para kiai dan santri mungkin tidak punya teknologi, sistem atau tim medsos yang canggih untuk mengemas dakwah digital sebagaimana kelompok di luar kalangan pesantren. Meski demikian, ia tetap yakin tradisi pengetahuan dan ilmu pesantren tetap akan muncul ke permukaan. Pada akhirnya, masyarakat akan tahu, inilah sejatinya tradisi pengetahuan dan ilmu yang sesungguhnya.

“Ilmu dari tradisi pesantren ini tidak akan pernah habis, karena banyak sekali. Nggak bisa dihabiskan. Sampai Kiamat akan habis, selalu akan ada. Makanya nggak usah khawatir. Tentu saja kita harus berusaha memperbaiki kemasan-kemasan kita,” tegasnya.

Tetapi sekali lagi, jangan terpukau oleh kemasan dakwah digital. Jangan menjadikan kemasan sebagai sesuatu yang primer.

“Sekeren-kerennya kemasan kalau isinya itu tidak keren, paling-paling hanya akan bertahan viral satu, dua hingga tiga tahun. Paling jauh lima tahun. Setelah itu habis energinya. Bensinnya habis. Setelah habis, sudah nggak akan ada orang ingat lagi.”

“Ini bukan berarti saya mengendori semangat teman-teman dalam berdakwah di medsos. Itu penting semua tapi jangan menganggap kemasan sebagai sesuatu yang utama. Yang wajib itu isi. Kemasan itu paling jauh ya mustahab-lah, sunnah-lah ya. Yang wajib itu isinya. Kuasai baik-baik isinya,” tegasnya.

Ia mengingatkan bahwa kedalam ilmu pesantren itu sangat luar biasa. Ini harus kita rawat, kita hargai, dan kita sebarkan pelan-pelan. “Walaupun saat ini tidak viral, nanti dalam jangka panjang viral. Viral kita itu umurnya panjang.”

Baca Juga: Cara Islam Menyikapi Kesetaraan Gender Antara Perempuan dan Laki-Laki

Ciri khas viral di zaman sekarang, kata Gus Ulil, seperti hashtag di twitter. Trending selama tujuh menit, satu atau dua jam, kemudian sudah hilang.

“Itulah ciri khas orang sekarang ini. Viral ilmunya hanya satu jam. Sementara ilmunya Mbah Hasyim Asy’ari itu viralnya sepanjang zaman, dari dulu sampai sekarang pun masih relevan, nggak habis-habis trending-nya. Kenapa? Karena mutunya tinggi sekali. Walaupun mungkin kemasannya ndeso, nggak keren gitu ya tapi trending viralnya itu panjang sekali.”

“Jadi tidak usah pesimis. Tradisi kita kaya. Asal kita belajar terus ya menguasai tradisi ini. Jangan dilupakan ini,” pungkasnya.

Baca Juga: Klarifikasi Kemenag Soal Ucapan Menag yang Dinilai Menyamakan Suara Azan dengan Gonggongan Anjing

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

Ini Risalah Lengkap Syaikhul Azhar Mengkritik Keras Keputusan Taliban Melarang Pendidikan Perempuan

Harakah.id - Salah satu yang mengeluarkan kritik adalah Syaikhul Azhar, Syaikh Ahmad Tayeb. Berikut adalah pernyataan lengkap beliau. Berbagai...

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...