fbpx
Beranda Keislaman Ibadah Jangan Tiap Hari, Salat Dhuha Itu Cukup Sebulan Sekali! Penjelasan Gus Baha...

Jangan Tiap Hari, Salat Dhuha Itu Cukup Sebulan Sekali! Penjelasan Gus Baha Soal Etika Ibadah

Harakah.idPenjelasan Gus Baha soal etika ibadah sunnah dengan menyitir kaul “Salat Dhuha itu cukup sebulan sekali!” memang menarik. Statement Gus Baha ini mungkin mengundang banyak pertanyaan. Tapi kalau diamati, di balik statement tersebut, Gus Baha ingin agar yang sunnah dalam Islam tetap jadi sunnah.

- Advertisement -

Ada efek yang cukup mengkhawatirkan dari meningkatnya semangat keberagamaan, baik di level individu maupun sosial. Apalagi jika peningkatan semangat beribadah tersebut tidak diiringi oleh meningkatnya pengetahuan dan ilmu seseorang atas agama atau ibadah yang dia lakukan. Salah satunya adalah potensi pewajiban ibadah-ibadah yang sebenarnya sunnah. Potensi dan efek ini diamati oleh Gus Baha.

Dalam sebuah pengajiannya, penjelasan Gus Baha soal etika ibadah sunnah bisa diamati pertama dari perkataan beliau, “kalau saya ini bukan ulama, pasti akan sering salat qabliyah, ba’diyah, witir [dan lain sebagainya]. Tapi masalahnya kan ada etika; jika hal yang sunnah dilakukan terus menerus, ada kekhawatiran akan dianggap wajib.”

Dalam konteks wacana keberagamaan hari ini, orang cenderung memandang ibadah sunnah sebagai standart dan simbol keberislaman itu sendiri. Padahal di luar itu, ada ibadah-ibadah yang sebenarnya lebih sunnah atau justru wajib, baik yang sifatnya ritual maupun sosial, yang lebih layak dilakukan. Kecenderungan untuk menjadikan yang sunnah sebagai rutinitas, dan pada akhirnya menimbulkan kesan wajib pada hal-hal yang sunnah, adalah bukti bahwa pemahaman terhadap agama mulai bergeser.

Efeknya, kata Gus Baha, dalam konteks ilmu, ketika hal-hal sunnah dilakukan secara terus-menerus dan massif, maka muncul kekhawatiran hal itu akan dianggap wajib. Padahal ulama-ulama kita, yang secara ibadah juga cenderung lebih khusyuk, mentradisikan yang sunnah haruslah tetap sunnah. Caranya? Dengan tidak melakukannya secara terus menerus dan menjadikannya rutinitas.

Gus Baha lantas bercerita kalau Syeikh Abdul Qadir yang terkenal Sultan al-Awliya’ saja, berfatwa dalam kitab Ghunyah dengan meriwayatkan sebuah kisah kalau Abdullah bin Mas’ud suka mendatangi dan memarahi orang yang salat dhuha tiap hari. “Kamu itu nambai sunnah Nabi, Salat Dhuha itu sebulan sekali saja!” kata Gus Baha membahasakan perkataan Abdullah bin Mas’ud.

Dawuh Abdullah bin Mas’ud dan fatwa Syeikh Abdul Qadir al-Jilani tentang pelaksanaan Salat Dhuha harusnya sebulan sekali, bukan berarti mengajak ummat untuk tidak rajib ibadah. “Sahabat Nabi kok malah ngajak ndak salat sunnah?” “Wali besar seperti Syeikh Abdul Qadir kok nyuruh agar gak rajin salat sunnah?!” Bukan seperti itu cara memahaminya.

Apa yang dilakukan Abdullah bin Mas’ud dan yang difatwakan Syeikh Abdul Qadir adalah sikap orang-orang yang berilmu agar hukum Allah tetap berjalan pada koridornya. Ibadah tentu saja bukan hanya soal gerak ritual dan jumlah angka-angka, ada aspek etika ibadah yang juga harus diterapkan. Di sinilah pentingnya ilmu agar ibadah seseorang tidak terjebak dalam hal-hal yang sebenarnya bukan substansi ibadah itu sendiri.

Tidak hanya Abdullah bin Mas’ud, kata Gus Baha, Sahabat Abdullah bin Abbas juga sama. Kalau Abdullah bin Mas’ud sebulan sekali, Abdullah bin Abbas menganjurkan Salat Dhuha seminggu sekali saja. Intinya, tidak merutinkan ibadah sunnah adalah cara yang paling mudah dan aman agar yang sunnah tetaplah sunnah.  

Jadi sekali lagi, efek dari rutinitas yang dilangsungkan dalam konteks ibadah-ibadah sunnah akan berpotensi melencengkan hukum Allah dari koridornya. Kalau dari Allah dan syariat Salat Dhuha hukumnya sunnah, ya selamanya ia harus diposisikan sebagaimana layaknya ibadah sunnah. Mewajibkan ibadah-ibadah sunnah atau menambahi kesan wajib pada ibadah-ibadah sunnah tentu adalah sikap yang melanggar etika ibadah dan praktek mengubah hukum Allah, bukan?

Efek tersebut, menurut Gus Baha, akan melahirkan efek lainnya. Kata Gus Baha, “Makanya sekarang banyak orang Indonesia tidak Salat Dhuha itu berkah. Seandainya semua orang di pasar Salat Dhuha, suatu saat ada dua orang tidak Salat Dhuha, maka dianggap fasik.” Efek kesekian dari pergeseran substansi ibadah sunnah berada di level sosial. Orang yang terlalu rajin Salat Dhuha akan dengan mudah menganggap fasik orang yang tidak Salat Dhuha.

Karena itu, kata Gus Baha, “tapi berkat banyaknya yang tidak Salat Dhuha, maka menjadi biasa aja toh!” Dan harusnya memang seperti itu. Yang namanya ibadah sunnah, ya tidak dilakukan ya tidak masalah. Tapi karena saking rutin dan maraknya pelaksanaan Salah Dhuha berjamaah, suatu saat yang tidak Dhuha akan dianggap fasik.

Semuanya pada akhirnya akan diukur berdasarkan standart ibadah ritual. Padahal ada orang bekerja, tidak sempat Salat Dhuha, kan juga ibadah. Justru bekerja untuk menafkahi anak dan istri hukumnya wajib, sedangkan Salat Dhuha sunnah. Kalau orang dagang sayur dan dia harus berangkat pagi sekali, suatu saat memaksakan diri untuk Salat Dhuha, dagangannya gak laku. Dia bisa salat sunnah, tapi kan keluarganya berpotensi gak makan?

Apa yang kita lihat hari ini, potensi untuk menggeser yang sunnah menjadi tampak wajib sudah tampak dan terlihat. Di mana-mana orang sudah mulai menjamaahkan ibadah-ibadah sunnah; Salat Dhuha berjamaah, Shalat Tahajjud berjamaah dan lain sebagainya. Padahal kalau mau salat sunnah ya sendiri-sendiri aja.

Kembali lagi, di balik anjuran “Salat Dhuha itu sebulan sekali saja”, sebagaimana yang dianjurkan Abdullah bin Mas’ud dan fatwa Syeikh Abdul Qadir, adalah cara menjaga agar hukum Allah tetap pada koridornya. Yang sunnah ya tetap sunnah, yang wajib ya tetap wajib.

Tapi misal ada orang yang rutin beribadah sunnah tapi tetap menganggap kalau itu sunnah dan tidak mengklaim orang lain fasik, ya tidak masalah. Tapi untuk awam, ya lebih aman kalau jarang-jarang saja. Itulah penjelasan Gus Baha soal etika ibadah sunnah. Jadi intinya beragama itu ya biasa-biasa saja…

REKOMENDASI

Mbah Maimoen Zubair, Ulama Pakubumi yang Lahir Bersamaan Dengan Pekikan Sumpah Pemuda 1928

Harakah.id - Mbah Maimoen Zubair al-maghfurlah adalah salah seorang ulama pakubumi yang lahir bertepatan dengan Sumpah Pemuda. Selama hidupnya, Mbah Maimoen...

Bukan Untuk Diperdebatkan Haram-Halalnya, Maulid Nabi Adalah Momentum Meniru Keteladanan Muhammad

Harakah.id - Maulid Nabi sebenarnya adalah momentum berharga untuk meniru dan belajar dari keteladanan Nabi Muhammad. Maulid Nabi bukan justru waktu...

Kiai Abbas Di Pertempuran Surabaya 1945, Dari Membentuk Telik Sandi Sampai Menghancurkan Pesawat Dengan...

Harakah.id - Kiai Abbas di pertempuran Surabaya 1945 tidak hanya berperan sebagai pasukan, tapi juga komandan dan perumus strategi perlawanan. Selain...

Felix Siauw, Buku Muhammad Al-Fatih 1453 dan Kedaulatan Negara dalam Bayang-Bayang Bahaya Eks HTI

Harakah.id - Felix Siauw kembali membuat negeri ini heboh. Heboh sebab pembatalan surat edaran Dinas Pendidikan Bangka Belitung (Disdik Babel) yang...

TERPOPULER

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...

Alasan Sebagian Ulama Mengapa Tak Mau Baca Surat Al-Masad dalam Shalat

Harakah.id - Ada sebagian ulama yang tak mau baca surat Al-Masad dalam shalat. Alasan mereka tak mau baca surat Al-Masad adalah...