Jarang Diketahui! 4 Istilah Imam Syafi’i dalam Menjelaskan Hukum Islam

0
1040
Hukum Islam Imam Syafi'i

Harakah.idSebelum istilah hukum wajib, haram, sunnah, mubah dan makruh menjadi mapan, para ulama madzhab punya istilah beraneka ragam untuk menjelaskan hukum dalam Islam. Inilah 4 istilah ala Imam Syafi’i dalam menjelaskan hukum Islam yang jarang diketahui.

Umat Islam mengikuti agamanya dalam kerangka bahasa hukum. Karenanya, tidak heran jika umat Islam sangat akrab dengan istilah wajib, haram, sunnah, mubah, dan makruh. Kelima istilah tersebut merupakan istilah hukum dalam Islam. Istilah tersebut muncul secara sistematis untuk menjelaskan tingkatan perbuatan yang harus dilaksanakan hingga yang harus ditinggalkan.

Sebelum istilah tersebut mapan, para ulama madzhab mempunyai istilah yang beraneka ragam. Setiap ulama memiliki istilah unik yang digunakan untuk menyebut status hukum suatu perbuatan. Sebut saja Imam Syafi’i dalam beberapa kitabnya yang terkadang menggunakan istilah lain yang mungkin tidak ditemukan dalam literatur hukum Islam.

Baca Juga: Memahami Definisi Bughat dalam Kitab Ulama Syafi’iyyah

Berikut adalah beberapa istilah unik yang digunakan oleh Imam Syafi’i berkaitan dengan pembahasan tentang hukum yaitu:

1. أحبّ (Uhibbu)

Istilah Uhibbu ini digunakan oleh Imam Syafi’i untuk menunjukkan suatu perkara yang disukainya untuk dikerjakan atau ditinggalkan. Contohnya seperti dalam masalah melepas anjing atau burung yang sudah dilatih untuk berburu, imam Syafi’i berkata:

وإذا أرسل الرجل المسلم كلبه أو طائره المعلّمين أحببت له أن يسمّى , فإن لم يسم ناسيا فقتل أكل. لأنّها إذا كان قتلهما كالذكاة, فهو لو نسي التسمية فى الذبيحة أكل. لأنّ المسلم يذبح على اسم الله –عزّ وجلّ- وإن نسي

Jika seorang laki-laki Muslim melepaskan anjingnya atau burungnya yang telah dilatih (untuk berburu), maka aku menyukai agar ia membaca bismillah. Seandainya ia lupa membaca bismillah, dan anjingnya itu membunuh buruan, maka buruan itu boleh untuk dimakan. Karena dalam hal ini terkaman hewan terlatih dianggap sama seperti penyembelihan. Dalam masalah penyembelihan, jika seseorang lupa membaca bismillah, hasil sembelihan tetap boleh dimakan. Karena pada hakikatnya seorang Muslim itu pasti menyembelih atas nama Alah, meskipun ia lupa membaca bismillah.

Pada penjelasan di atas, Imam Syafi’i menggunakan redaksi أحببت له أن يسمّى yang berarti beliau menyukai agar saat melepas hewan terlatih untuk berburu hendaknya membaca bismillah, begitu juga dalam penyembelihan. Namun ini tidak bermakna wajib.

Baca Juga: Sejarah Bermadzhab, Sejak Kapan Keberagamaan Umat Muslim Harus Ikut Imam dan Diacu Kepada Madzhab-Madzhab

Contoh lainnya adalah dalam masalah tata cara penyembelihan, di mana disebutkan,

وأحبّ فى الذبيحة أن توجّه إلى القبلة إذا أمكن ذلك. وإن لم يفعل الذابح, فقد ترك ما استحبّ له, ولا يحرمها ذلك

Ketika menyembelih aku menyukai agar orang yang menyembelih menghadap kiblat jika memang memungkinkan untuk itu. Jika penyembelih tidak melakukannya, mak ia telah meninggalkan sesuatu yang disukai untuk ia lakukan. Tetapi sembelihan itu tidak menjadi haram baginya.

Pada penjelasan di atas, imam Syafi’i menggunakan redaksi وأحبّ فى الذبيحة أن توجّه إلى القبلة yang bermakna bahwa menghadap kiblat adalah sesuatu yang “disukai untuk dilakukan” dalam penyembelihan.

Baca Juga: Mengenal Muslim Ibnu Khalid Al-Zanji, Orang yang Berada di Balik Kesuksesan Imam Syafi’i

2. لا بأس (La ba’sa)

Ungkapan ini digunakan oleh Imam Syafi’i untuk menunjukkan bolehnya melakukan sesuatu tanpa berakibat konsekuensi apapun, tidak makruh dan tidak pula disukai (sunnah). Contohnya ketika beliau menjelaskan tentang masalah zakat fitrah:

ولا بأس أن يؤدّى زكاة الفطر ويأخذها إذا كان  محتاجا وغيرها من الصدقات المفروضات.

Tidak masalah jika seseorang membayar zakat fitrah dan mengambilnya jika ia sedang membutuhkan, begitu juga sedekah wajib lainnya.

Keterangan imam Syafii di atas menggunakan redaksi ولا بأس  dan seterusnya menunjukkan bahwa tidak masalah jika orang yang berstatus pembayar zakat fitrah tapi juga memperoleh bagian dari pembagian zakat fitrah. Kondisi itu jika ia memang masuk salah satu golongan yang berhak menerimanya. Hal ini berarti menunjukkan hukum bolehnya (mubah) hal tersebut, tanpa adanya konsekuensi makruh atau sunnah.

3. لا خير فيه (La Khaira)

Ungkapan la khaira ini digunakan oleh Imam Syafi’i untuk menujukkan makna haramnya sesuatu. Contohnya seperti perkataan beliau terkait dengan jual beli emas berikut ini,

ولا خير أن يعطي الرجل الرجل مائة دينار بالمدينة, على أن يعطيه مثلها بمكة إلى أجل مسمى, أو بغير أجل, لأنّ هذا لا سلف ولا بيع السلف ’ ما كان لك أخذه به

Tidak boleh seseorang memberikan seratus dinar di Madinah kepada seseorang, kemudian orang itu harus membayarnya di Mekkah dengan ukuran yang sama, sampai jangka waktu tertentu, atau tanpa batasan waktu. Karena praktik ini tidak termasuk jual beli salaf (jual beli pesanan).

Keterangan di atas menggunakan redaksi ولا خير أن  dst, maksudnya adalah larangan melakukan jual beli emas dengan emas jika tidak kontan.

4. أكره (Akrahu)

Menurut para ahli fiqih, jika imam Syafi’i menggunakan redaksi tersebut maka ini memiliki beberapa macam maksud, yaitu:

Pertama, menunjukkan makna haramnya sesuatu.

Pada banyak tempat, Imam Syafi’i menggunakan redaksi ini untuk maksud haram. Misalnya perkataan Imam Syafi’i berikut,

وأكره أن يبنى على القبر مسجد

Aku membenci jika di atas kubur itu dibangun mesjid”. Penggunaan redaksi وأكره di sini beliau maksudkan sebagai haram.

Kedua, menunjukkan makna bahwa seandainya sesuatu itu itu ditinggalkan, maka maslahatnya lebih besar, sekalipun ia tidak sampai masuk kategori sesuatu yang dilarang.

Contohnya adalah perkataan imam Syafi’i sebagai berikut:

وأكره للمسلم أن يقارض النصرانى أو يشاركه خوفا من الربا واستحلال البيوع الحرام , وإن فعل لم أفسخ ذلك, لأنّه قد يفعل بالحلال

Aku membenci jika seorang muslim melakukan kerjasama atau perserikatan dengan orang-orang nashrani, karena khawatir akan terjadinya riba atau legalisasi terhadap bentuk jual beli yang diharamakan. Namun, seandainya pun hal tersebut dilakukan, maka ia tidak akan menjadi akad yang rusak. Karena bisa jadi ia tetap dapat melakukan praktek jual beli yang halal.

Ketiga, menunjukkan sesuatu itu berstatus makruh tanzih.

Maksudnya, sesuatu itu lebih baik ditinggalkan dari pada dilakukan. Meskipun melakukan sesuatu yang dimaksud itu juga tidak dihitung sebagai dosa. Contohnya pernyataan Imam Syafi’i sebagai berikut,

وإن استأخر من مزدالفة إلى أن تطلع الشمس أو بعد ذلك كرهت ذلك ولا فدية عليه

Jika seseorang terlambat dari Muzdalifah sampai terbit matahari atau lewat dari itu, maka itu dimakruhkan, sekalipun ia tidak terkena fidyah atas hal tersebut.

Baca Juga: Mengapa Imam Malik Menolak Kesunnahan Puasa Syawal?

Makna yang sepadan dengan redaksi  وأكره di atas terkadang juga diungkapan dengan redaksi لم أحبّ. Misalnya dalam masalah bepergian atau safar pada hari Jumat. Di mana imam Syafi’i mengatakan,

لم أحب له فى الإختيار , أن يسافر  يوم الجمعة بعد الفجر

Tidak disukai jika sengaja memulai bepergian pada hari jumat setelah fajar.

Di sini berarti maksudnya adalah makruh Tanzih.

Itulah beberapa ungkapan yang sering digunakan oleh Imam Syafi’i dan maksudnya. Semoga penjelasan singkat ini dapat membantu dalam membaca dan mengkaji tulisan-tulisan Imam Syafi’i atau keterangan yang dinukil darinya.

Contoh-contoh yang disebutkan di atas hanya sebagai penjelasan untuk maksud dari sebuah ungkapan. Adapun jika hendak membahas masalah tersebut secara mendalam, maka dapat dicari kajian khusus untuk masalah tersebut.

Baca Juga: Kapan Waktu Mengerjakan Shalat Witir? Begini Tuntunannya dalam Mazhab Syafi’i