Jaringan Musnid Perempuan, Penghubung Pengetahuan Dunia Kuno Islam

0
235

Harakah.idKetika era periwayatan hadis berakhir pada abad kelima hijriah, dan muncul tradisi periwayatan kitab hadis, para perempuan juga tidak sedikit yang menjadi periwayat (musnid).

Musnid merupakan sebutan untuk orang yang meriwayatkan hadis lengkap dengan sanadnya. Baik ia memahami dasar-dasar keilmuan periwayatan maupun dia hanya sekadar meriwayatkan.

Musnid menjadi salah satu dari tiga gelar sarjana pengkaji hadis tradisional. Selain Musnid, juga dikenal gelar al-muhaddits dan al-hafizh. Al-Muhaddits  sendiri merupakan tingkatan di atas musnid.

Muhaddits memiliki sejumlah kompetensi yang tidak dimiliki oleh Musnid. Menurut Syekh Mulla Ilyas Al-Kurdi (1138 H)  dalam kitab Hawasyi ‘Ala Al-Nuhkhbah, seorang muhaddits harus menguasai pengetahuan seputar jalur-jalur periwayatan hadis, biografi para perawi dan keragaman redaksi hadis. Bukan semata ia orang yang rajin mengaji hadis (sima’ al-riwayah).

Lebih tinggi dibanding kedua gelar di atas adalah Al-Hafizh. Hal ini karena Al-Hafizh memiliki komptensi lebih komplek. Mereka adalah orang-orang yang memenuhi kriteria berikut; terkenal pernah belajar hadis, mengaji langsung kepada para ulama ahli hadis, tidak boleh hanya dari buku semata, mengetahui ta’dil dan tajrih setiap generasi perawi hadis, mampu membedakan antara yang sahih dan daif, pengetahuannya terhadap semua itu lebih banyak dibanding yang tidak diketahui, dan ia harus hafal banyak matan hadis. Demikian penjelasan Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani (852 H.).

Dalam dunia kuno, para pengkaji hadis –baik level musnid, muhaddits maupun hafizh, didominasi oleh para ulama laki-laki. Namun, bukan berarti tidak ada sama sekali perempuan yang terlibat dalam transmisi pengetahuan kenabian. Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Taqrib Al-Tahdzib mencatat setidaknya 261 orang perempuan yang riwayatnya tersebar dalam enam kitab induk hadis (al-kutub al-sittah).

Ketika era periwayatan hadis berakhir pada abad kelima hijriah, dan muncul tradisi periwayatan kitab hadis, para perempuan juga tidak sedikit yang menjadi periwayat (musnid). Mereka terlibat dalam periwayatan dan menempatkan diri mereka dalam jajaran musnid. Mereka mencatat jalur periwayatan dari guru mereka hingga ke para penulis kitab hadis. Mereka memiliki murid-murid yang menjadi penerima riwayat dari mereka. Mereka menjadi jembatan pengetahuan dari abad lampau ke abad selanjutnya. Dari generasi sebelumnya kepada generasi setelahnya. Berikut adalah tokoh-tokoh perempuan dalam jaringan transmisi keilmuan Islam.

  1. Fatimah binti Al-Hasan bin Ali Al-Daqqaq Al-Nisaburiyyah (480 H.), karyanya Fawa’id Fathimah binti Al-Hasan.
  2. Syuhdah binti Ahmad bin Al-Faraj Al-Ibariyyah (574 H.), karyanya adalah Masyikhah Syuhdah.
  3. Ummu Hani’ Afifah binti Ahmad bin Abdullah Al-Ishbahaniyyah (606 H.), karyanya Masykhah Afifah Al-Farifaniyyah)
  4. Ummu Muhammad Khadijah binti Al-Anjab Al-Maqdisiyyah Al-Iskandaraniyyah (618 H.), karyanya Masyikhah Ummu Muhammad Khadijah.
  5. Ummu Al-Fadhl Karimah binti Abdul Wahhab Al-Qurasyiyyah Al-Dimsyqiyyah (641 H.), kitabnya berjudul Masyikhah Karimah Al-Zubairiyyah.
  6. Dhau’u Al-Shabah Ajibah binti Muhammad bin Ahmad Al-Baghdadiyyah (647 H.), kitabnya Masyikhah Ajibah Al-Baqidariyyah.
  7. Amatullah binti Abil Qasim Abdurrahman Al-Qurasyiyyah, kitabnya Masyikhah Amatullah binti Abil Qasim.
  8. Sayyidah Binti Musa Al-Maraniyyah Ummu Muhammad Al-Mishriyyah (695 H.), kitabnya Masyikhah Sayyidah Binti Musa Al-Maraniyyah.
  9. Fakhirah binti Al-‘Ajami Ummu Fadhl Al-Halbiyah (697 H.), kitabnya Masyikhah Fakhirah binti Al-‘Ajami.
  10. Aisyah binti Al-Majdi (697 H.), kitabnya ‘Asyrah Ahadits ‘An ‘Asyrah min Al-Masyayikh.
  11. Syuhdah binti Al-‘Adim Al-Halbiyyah (709 H.), Masyikhah Syuhdah.
  12. Zahidah binti Muhammad bin Abdullah Al-Zhahiri (717 H.)
  13. Ummu Muhammad Wajihiyyah Al-Sha’idiyyah (732 H.)
  14. Ummu Umar Zainab binti Yahya bin Abdul Aziz bin Abdus Salam (735 H.)
  15. Aisyah binti Muhammad bin Al-Musallam Al-Harraniyyah (736 H.)
  16. Ummu Abdullah Zainab binti Al-Kamal Ahmad bin Abdurrahim Al-Maqdisiyyah (740 H.)
  17. Ummu Al-Hasan Fathimah binti Al-‘Izz Ibrahim bin Abdullah bin Abi Umar Al-Maqdisiyyah Al-Shalihiyyah (w. 747 H.)
  18. Ummu Muhammad Zainab binti Isma’il bin Al-Khabbaz (w.  750 H.)
  19.  Sittu Al-Qudhah binti Abdul Wahhab bi Umar bin Katsir ibnatu Akhi Al-Hafizh Imaduddin (801 H.)
  20. Sittul Ahli binti Al-Thabari (w. 805 H.)
  21. Al-Hurrah Ummu Isa Maryam binti Ahmad Al-Adzra’iyyah (w. 805 H.)
  22. Aisyah Al-Maqdisiyyah binti Muhammad bin Abdul Hadi (w. 816 H.)
  23. Aisyah binti Asya’ir Al-Halbiyah (w. 824 H.)
  24. Qafjaq Ibnatu Asya’ir Al-Halbiyyah (w. 833 H.)
  25. Fatimah binti Khalil bin Ahmad Al-Kinaniyyah (838 H.)
  26. Sarah binti Al-‘Izz bin Jama’ah (w. 855 H.)
  27. Binti Al-Mihrani (w. 867 H.)
  28. Hajir Al-Halbiyyah (w. 871 H.)
  29. Quraisy Al-Thabariyyah (w. 1107 H.)
  30. Amatullah Bikum binti Abdul Ghani Al-Dihlawiyyah (w. 1357 H.)

Daftar ketiga puluh nama perempuan musnid di atas disebutkan oleh Syek Yusuf Abdurrahman Al-Mar’asyali, Profesor Hadis dan Fiqh, Fakultas Syariah Universitas Islam Beirut, Lebanon dalam bukunya Mu’jam Al-Ma’ajim Wa Al-Masyikhat Wa Al-Faharis Wa Al-Baramij Wa Al-Atsbat (2002). Keberadaan kaum perempuan dalam jaringan periwayat kitab hadis menunjukkan bahwa perempuan tidak dihalangi terlibat dalam dunia keilmuan Islam, khususnya dalam studi hadis. Mereka dapat menempatkan diri mereka sebagai salah satu bagian jaringan periwayat bersanad (baca: musnid) tanpa khawatir didiskriminasi atas dasar gender. Nama dan kontribusi mereka tercatat dalam sejarah perkembangan ilmu hadis, khususnya ilmu sanad.

Demikian ulasan singkat tentang para musnid perempuan; penghubung pengetahuan dunia kuno Islam. Semoga bermanfaat.