Beranda Gerakan Jauh Sebelum Pancasila, Soekarno Terlebih Dahulu Berpikir Tentang Nasionalisme

Jauh Sebelum Pancasila, Soekarno Terlebih Dahulu Berpikir Tentang Nasionalisme

Harakah.idPancasila dan Nasionalisme adalah dua terma yang berdempetan. Sebelum Soekarno merumuskan gagasannya tentang Pancasila, di tahun 1926, ketika berusia 25 tahun, Soekarno sudah bergulat dengan makna Nasionalisme yang sedikit banyak menyumbang konsep bagi rumusan Pancasilanya di kemudian hari

Soekarno memulai penjelasan nasionalismenya dengan mengangkat definisi bangsa menurut Renan dan Otto Beuer. Dari kedua tokoh ini Soekarno kemudian menyimpulkan bahwa bangsa itu adalah persatuan “hal-ihwal yang melampaui perbedaan ras, bahasa, agama, kebutuhan dan batas daerah”. Kesatuan perangai inilah yang lantas ditarik oleh Soekarno untuk memaknai kata nasionalisme;

Nasionalisme itu jalah suatu iktikad; suatu keinsjafan rakjat, bahwa rakjat itu satu golongan, satu ‘bangsa’!

Sedangkan nasionalisme melahirkan konsekuensi:

… satu rasa pertjaja akan diri sendiri, rasa jang mana adalah perlu sekali untuk mempertahankan diri di dalam perdjoangan menempuh keadaan-keadaan, jang mau mengalahkan kita.

Dari pemaparan Soekarno dalam artikelnya ”Nasionalisme, Islamisme dan Komunisme” tergambar bahwa pada saat itu gerak perjuangan di Indonesia masih tercabang pada ideologi sektarian. Bahkan, tak jarang ditemukan benturan-benturan yang tak seharusnya terjadi di antara kelompok-kelompok tersebut. Kelompok Islam, Komunis dan Nasionalis adalah tiga kelompok besar yang saling bertindih-tubruk dalam mengejawantahkan ideologi mereka terkait form revolusi yang hendak dijalankan.

Melalui artikel yang ditulisnya tahun 1926 itu, Soekarno, sebelum melakukan usaha untuk menyatukan ketiganya, terlebih dahulu merontokkan paham-paham yang “dangkal” dan “kolot” kaum pergerakan dalam memahami ideologi kelompoknya masing-masing. Dalam melakukan kritik terhadap nasionalisme misalnya, Soekarno terlebih dahulu, merontokkan makna nasionalisme yang selama ini dipahami sebagai “kesombongan-bangsa”, “kesombongan-ras” bahkan kesombongan ideologi sektarian.

Oleh karena itu, sebelum menunjukkan konsekuensi logis yang timbul dari nasionalisme, Soekarno terlebih dahulu menunjukkan akar di mana nasionalisme lahir dan tumbuh; yakni sebuah bangsa. Ketika bangsa meniscayakan adanya kesatuan dan keinsyafan akan satu golongan, maka nasionalisme bisa dipastikan juga memiliki orientasi pada kesatuan level bangsa secara luas. Seseorang menjadi nasionalis karena dia merasakan kesamaan nasib sebagai warga sebuah bangsa.

Soekarno memperjelas:

Sebab, walaupun Nasionalisme itu dalam hakekatnja mengetjualikan segala fihak jang tak ikut mempunyai keinginan hidup menjadi satu dengan rakjat itu; walaupun Nasionalisme itu sesungguhnja mengetjilkan segala golongan jang tak merasa satu golongan satu bangsa dengan rakjat itu; walaupun Kebangsaan itu dalam azasnja menolak segala perangai jang terdjadinja tidak dari persatuan hal-ichwal jang telah didjalani oleh rakjat itu…

Dengan tiga karakter inilah; keinginan hidup menjadi satu dengan rakyat, satu golongan satu bangsa dengan rakyat dan persatuan hal-ihwal yang telah dijalani rakyat, Soekarno memaknai kembali dan melakukan refondasionalisasi terhadap nalar nasionalisme yang bergerak saat itu.  Pemaknaan semacam ini otomatis mendorong Soekarno untuk lebih jauh berkreasi guna menyukseskan misi selanjutnya; integrasi dan internalisasi nilai-nilai nasionalisme ke dalam nilai-nilai Islamisme dan Komunisme-Marxisme utamanya.

Untuk kepentingan itu Soekarno melanjutkan:

Manusia-manusia jang mendjadikan pergerakan Islamisme dan pergerakan Marxisme di Indonesia-kita ini, dengan manusia-manusia jang mendjalankan pergerakan Nasionalisme itu semuanja mempunjai keinginan hidup menjadi satu; bahwa mereka dengan kaum Nasionalis itu merasa satu golongan, satu bangsa; bahwa segala fihak dari pergerakan kita ini, baik Nasionalis maupun Islamis, maupun pula Marxis, beratus-ratus tahun lamanja ada persatuan hal-ichwal, beratus-ratus tahun lamanja sama-sama bernasib tak merdeka!

Kesamaan nasib, keinginan untuk hidup satu dan sebangsa merupakan roh yang ditanamkan oleh Soekarno di tengah perpecahan yang terjadi di kalangan kaum pergerakan saat itu. Secara jelas bisa dilihat bagaimana Soekarno mencerabut akar busuk yang sudah lama mendekam dalam tanah pemahaman kaum nasionalis bangsa ini untuk kemudian dipotong dan ditanam dalam tanah yang lebih subur basah berhumus.

Banyak orang mengatakan, Soekarno, karena kepentingan dan ambisinya akan persatuan, menjadi sosok yang oportunis dan akomodasionis. Karakter Soekarno semacam ini akan tampak dan terus beliau perlihatkan hingga pasca kemerdekaan tahun 1945. Ada lagi sebagian kalangan yang mengritisi bahwa pemahaman Soekarno tentang Nasionalisme, Islamisme dan Komunisme merupakan pemahaman yang instrumental.

Pemahaman yang instrumental bisa dimaknai dengan pemahaman buta akan sebuah konsep tanpa terlebih dahulu membekali diri dengan pengetahuan tentang konteks sosio-historis lahirnya konsep tersebut dan orientasi tahap teoritik dalam tataran praksisnya. Instrumentalisasi adalah istilah negatif yang mengandaskan orisinalitas sang pengunyah konsep sebagai sebuah langkah kreatif dan caranya dalam membenamkan konsep tersebut ke tanah tempat dia berpijak. Entah apa yang dimaksud sebenarnya oleh Dhakidae, yang jelas, istilah tersebut tidak cocok digunakan untuk membahasakan kerja Soekarno. Karena itu, saya lebih menyukai membahasakannya dengan istilah “kreatifitas”.

Selain senasib dan sehal-ihwal, Soekarno juga menunjukkan bahwa kesamaan antara nasionalisme dan islamisme terletak pada kesamaan spirit yang mereka miliki untuk mengusir kaum penjajah dari bumi pertiwi atau dalam bahasa Soekarno: “nafsu melawan Barat”, “melawan kapitalisme dan imperialisme Barat”. Baik nasionalis ataupun islamis, sejauh mereka bergerak dari kesatuan bangsa menuju kemerdekaan, maka keduanya memiliki spirit yang sama.

Islamis, menurut Soekarno, secara implisit menyebutkan adanya kewajiban untuk menjaga keselamatan tempat seseorang tinggal. Secara doktrinal, Islam juga mengajarkan untuk menghindari dan melawan segala bentuk pengerusakan yang mengancam kehidupan mereka serta alam tempat mereka hidup. Penjajahan, tanpa harus didiskusikan panjang lebar, sudah pasti menebarkan kerusakan di mana-mana.

Nyawa rakyat Indonesia, alam semesta dan berbagai sektor kehidupan bangsa Indonesia lainnya aus dimakan mesin-mesin imperialisme-kapitalistik yang mereka jalankan. Gerak perjuangan menuju kemerdekaan yang diusung oleh nasionalisme dengan begitu memiliki rel yang sama ketika islamisme dipahami dari spektrum ini. Sekali lagi, Soekarno memberikan satu gambaran luas mengenai sisi-sisi pemahaman yang selama ini dipersepsikan salah oleh banyak kalangan.

Beberapa poin di atas merupakan strategi yang dilakukan Soekarno dalam menata pondasi secara sistemik sebelum mengentalkannya menjadi struktur dasar dan basis fondasional bagi nalar nasionalisme-kebangsaan dan persatuan di Indonesia, yang dikemudian hari mengental menjadi rumusan bernama Pancasila.

Dengan demikian, di balik Pancasila, ada definisi filosofis mengenai nasionalisme yang juga harus dipikirkan. Yakni tentang asas hidup bersama, saling menghargai, menempatkan hak asasi kemanusiaan di atas kepentingan politik dan lainnya, serta mewujudkan kehidupan berdaulat dan merdeka.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

Ini Risalah Lengkap Syaikhul Azhar Mengkritik Keras Keputusan Taliban Melarang Pendidikan Perempuan

Harakah.id - Salah satu yang mengeluarkan kritik adalah Syaikhul Azhar, Syaikh Ahmad Tayeb. Berikut adalah pernyataan lengkap beliau. Berbagai...

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...