Jawaban Asy-Sya’bi kepada Raja Romawi yang Menganggap Ajaran Islam Tidak Masuk Akal

0
274

Harakah.idAmir Asy-Sya’bi terkenal sebagai seorang tabi’in dengan pengetahuan yang begitu luas. Karena kecerdasannya, Asy-Sya’bi diangkat sebagai pendamping Khalifah Abdul Malik bin Marwan untuk menyelesaikan permasalahan yang ada di pemerintahan. Bahkan menurut sebagian riwayat, ia juga sempat diperebutkan oleh Malik bin Marwan dan Justinian, seorang Raja Romawi.

Dilahirkan selang enam tahun setelah masa kepemimpinan Amirul Mukminin Khalifah Umar bin Khattab, beliau memiliki nama lengkap Amir bin Syarahil bin Abdullah Asy-Sya’bi Abu Amr Al-Kufi. Penisbatan “Al-Kufi” di akhir namanya merupakan petunjuk bahwa Asy-Syabi berasal dari Kufah. Meski demikian, tempat yang paling ia idam-idamkannya adalah Madinah.

Amir Asy-Sya’bi terkenal sebagai seorang tabi’in dengan pengetahuan yang begitu luas. Karena kecerdasannya, Asy-Sya’bi diangkat sebagai pendamping Khalifah Abdul Malik bin Marwan untuk menyelesaikan permasalahan yang ada di pemerintahan. Bahkan menurut sebagian riwayat, ia juga sempat diperebutkan oleh Abdul Malik bin Marwan dan Justinian, seorang Raja Romawi.

Dalam kitab Tafsir Khawathir dan kitab Qashash Ash-Shahabah wa Ash-Shalihin karya Syekh Muhammad Mutawali Asy-Sya’rawi, terdapat kisah penuh pelajaran tentang Asy-Sya’bi. Kisah ini juga sekaligus memberikan gambaran kepada kita akan kecerdasan Asy-Sya’bi.

Percakapan ini terjadi tatkala Asy-Sya’bi diperintahkan oleh Khalifah Abdul Malik bin Marwan bertemu dengan Raja Romawi. Yang mana pada saat itu juga, ia dicerca oler Raja Romawi dan para pengikutnya secara langsung, menyangkut kebenaran ajaran Islam. Di hadapan Asy-Sya’bi, Raja Romawi mengeluarkan pernyataan bahwa terdapat berapa hal dalam ajaran Islam yang tak bisa diterima akal.

Mendengar pernyataan sepihak yang dikeluarkan oleh Raja Romawi, Asy-Sya’bi pun memaklumi pernyataan yang keluar dari orang yang tak tahu seluk beluk Islam itu. Meski demikian, hati Asy-Sya’bi tetap bergejolak untuk menyampaikan kebenaran kepada raja tersebut.

Sehingga terlontarlah pertanyaan dari Asy-Sya’bi untuk menanggapi pernyataan Raja Romawi. Asy-Sya’bi bertanya, “Ajaran Islam apa yang menurut Anda tidak sejalan dengan akal?”

Raja Romawi kemudian menyampaikan hal-hal yang dianggapnya janggal dalam ajaran Islam. Raja Romawi berkata, “Menurut ajaran Islam, disebutkan bahwa di surga ada makanan-makanan yang selamanya tak akan pernah habis. Padahal sebagaimana kita ketahui bahwa segala sesuatu yang diambil secara terus menerus pasti akan habis.”

Merespons pernyataan tersebut, Asy-Sya’bi memberikan perumpamaan ringan supaya mudah dicerna oleh Raja Romawi. Dengan tenang, ia menjawab, “Tidak sadarkah Anda, dengan damar yang ada di istanamu? Dunia dan seisinya datang memancarkan cahayanya, juga mengalirkannya pada damar itu. Apakah pernah berkurang cahaya untuk damar itu?”

Raja Romawi cukup paham dengan penjelasan tersebut, juga sebenarnya sudah bisa menerimanya. Akan tetapi ia tak mau begitu saja berhenti untuk henghujani Asy-Sya’bi dengan pertanyaan. Raja Romawi melanjutkan pertanyaannya, “Bagaimana bisa kita makan di surga, apabila kita tak bisa membuang kotoran dari sisa-sisa makanan yang kita makan sebelumnya?”

Asy-Sya’bi tetap tenang mendengar pertanyaan tersebut. Karena pertanyaan yang dilontarkan Raja Romawi adalah wujud dari kebebalan akalnya sendiri. Asy-Sya’bi menjawab, “Tahukah engkau akan janin yang ada di dalam rahim seorang ibu? Ia tetap tumbuh atau tidak?

Janin itu terus tumbuh dari hari ke hari. Pertumbuhan janin adalah bukti bahwa ia dapat menerima makanan. Lantas apakah ada sisa-sisa yang menjadi kotoran, dari yang ia makan? Apabila janin itu memiliki sisa makanan, lantas membuangnya di dalam plasenta, maka ia akan mati! Jika Anda tahu janin, ia hanya makan sesuai yang ia butuhkan. Maka tiada sisa makanan darinya!”

Karena Raja Romawi belum puas untuk merendahkan agama yang dibawa Nabi Muhammad Saw., ia kembali menyodorkan pertanyaan terkait ajaran Islam yang masih saja ia anggap tidak dapat diterima akal. “Ke mana perginya ruh tatkala ia telah berpisah dari jasad?” tanya Raja Romawi kepada Asy-Sya’bi.

Bahkan pertanyaan tentang ruh, yang notabene adalah sesuatu yang masih samar pun dapat diberikan gambaran mudah. Oleh Asy-Sya’bi, pertanyaan tersebut dijawab, “Ruh pergi ke tempat sebelumnya, yakni tempat sebagaimana sebelum ia datang kepadamu. Lihatlah! Di depanmu ada damar. Damar itu memancarkan cahaya.” Sembari menunjuk damar yang ada di depan Raja Romawi, Asy-Sya’bi meniup api yang memancarkan cahaya dari damar tersebut. Kemudian Asy-Sya’bi melanjutkan perkatannya dengan sebuah pertanyaan, “Ke mana cahaya itu pergi?”

Melialui percakapan antara Asy-Sya’bi dan Raja Romawi di atas, memberikan gambaran kepada kita semua bahwa ajaran Islam pasti mengabarkan sesuatu yang benar. Tak sedikit pun ajaran Islam–meski yang kita anggap masih samar–dapat disebut sebagai sesuatu yang tak bisa diterima oleh akal sehat. Simpulannya, apabila ada yang menganggap ajaran Islam tak dapat diterima oleh akal, justru akal orang itu saja yang sebenarnya belum mampu untuk menerima ajaran Islam. Atau, ia sengaja tak mau mengakui kebenaran Islam.