fbpx
Beranda Gerakan Jejak Khilafah di Nusantara, Begini Pendapat Para Pakar Sejarah Soal Hubungan Jawa...

Jejak Khilafah di Nusantara, Begini Pendapat Para Pakar Sejarah Soal Hubungan Jawa dan Turki Ottoman

Harakah.idJejak Khilafah di Nusantara, sebuah film yang direncanakan tayang 1 Muharram menunai kontroversi. Selain fakta sejarah yang masih belum valid, sejak kemunculannya, film ini mencatut banyak nama dalam rangka menyakinkan banyak pihak. Salah satu nama yang dicatut adalah Peter Carey, salah seorang sejawaran senior peneliti Diponegoro.

- Advertisement -

Pada awal Agustus 2020, setelah beredar poster talkshow film Jejak Khilafah di Nusantara beredar, Peter Carey mengeluarkan press release. Secara umum, Peter Carey menyebut bahwa kemunculan namanya dalam poster adalah praktek pencatutan. Peter Carey merasa tidak pernah dihubungi oleh panitia terkait acara tersebut.

Dalam rilisnya, Peter Carey juga menjelaskan bahwa wawancara yang seringkali dikutip para pengasong khilafah, justru merupakan penjelasan yang mengarah pada tidak adanya hubungan langsung antara Jawa dan Turki Ottoman, khususnya dalam konteks Perang Jawa yang diinisiasi oleh Diponegoro.

Baca Juga: Siapakah Usman? Tokoh yang Namanya Dijadikan Nisbat dari Khilafah Usmaniyah

Seakan tak menggubris banyak kritik dan protes, para pembuat film Jejak Khilafah di Nusantara tetap pada agendanya untuk merilis film pada 1 Muharram, atau bertepatan pada tanggal 20 Agustus 2020. Perdebatan pun meluas pada persoalan hubungan Jawa dan Turki Usmani yang dianggap sebagai kunci gagasan dalam film tersebut.

Melalui akun Christhoper Reinhart, Peter Carey memuat kembali rilis kedua mengenai perdebatan yang mengemuka, yang awalnya menggunakan namanya sebagai rujukan. Dalam akun twitternya, Reinhart memuat siaran pers Peter Carey dalam sebuah utas:

[Siaran Pers Prof. Peter Carey tentang Hubungan Ottoman dan Kesultanan-kesultanan di Pulau Jawa] Bukti Penelitian Sejarah yang Menyatakan TIDAK ADANYA Hubungan antara Utsmaniyah dan Jawa (Korespondensi Prof. Peter Carey dan Dr. Ismail Hakki Kadi)

Yth. Para redaktur dan editor pers Indonesia, Saya Christopher Reinhart, sebagai asisten peneliti Prof. Peter Carey, ingin meneruskan, atas permintaan Prof. Carey, informasi lanjutan mengenai klaim adanya hubungan antara Kekhalifahan Utsmaniyah dan Kesultanan-kesultananIslam di Jawa di dalam Film “Jejak Khilafah di Nusantara” yang sempat mencatut namanya. Pada tanggal 16 Agustus 2020, Prof. Carey mengirimkan surel kepada ahli sejarah hubungan Utsmaniyah–Asia Tenggara, Dr. Ismail Hakki Kadi, yang dibalas pada tanggal 18 Agustus 2020 perihal klaim-klaim yang tersebut di atas. Pokok pemikirannya adalah sebagai berikut.

1.Tidak ada bukti pada dokumen-dokumen di Arsip Turki Utsmani yang menunjukkan bahwa ‘negara’ Islam pertama di Jawa, Kesultanan Demak (1475–1558), utamanya raja pertamanya, Raden Patah (bertakhta, 1475–1518), memiliki kontak dengan Turki Utsmani.

2.Kesultanan yang ada di Pulau Jawa tidak dianggap sebagai vassal atau naungan Turki Utsmani, termasuk juga bukan wakil sultan-sultan Utsmani di Jawa.

Baca Juga: Empat Alasan Mengapa Gerakan Pro-Khilafah Masih Eksis

3.Tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara Turki Utsmani dan Kesultanan Yogyakarta (didirikan 1749) dalam hal hierarkhi sebagaimana dimaksud di dalam poin nomor 2, termasuk tidak ada bukti dokumen sejarah yang menunjukkan bahwa panji ‘Tunggul Wulung’ merupakan ‘bukti’ bahwa Yogyakarta adalah wakil dari Turki Utsmani di Jawa, berdasarkan penelitian kearsipan Dr. Kadi yang telah lama meneliti dokumen-dokumen Turki Utsmani di Arsip Utsmani di Istanbul. Dr. Kadi menyebutkan bahwa jika ada satu saja dari legenda-legenda’ di atas yang memiliki dukungan bukti sejarah, ia pasti telah memasukkannya ke dalam hasil penelitiannya yang terbaru, yang beliau sunting bersama dengan Prof. A. C. S. Peacock dari Universitas St. Andrew’s di Skotlandia, berjudul Ottoman-Southeast Asian Relations; Sources from the Ottoman Archives (Leiden: Brill, 2019), dua jilid.

Siaran pers ini dibuat untuk meluruskan informasi yang diklaim berdasarkan sejarah di mana nama Prof. Peter Carey dicatut di dalamnya, padahal sama sekali tidak memiliki bukti dokumenter kesejarahan yang valid. Tendensi semacam ini, yang ditunjukkan oleh generasi sekarang, tampak seperti bentuk minderwardigheid (ketidakpercayadirian) yang menganggap bahwa orang-orang Indonesia masa lampau tidak dapat bertahan dari kolonialisme tanpa bantuan asing. Padahal, jelas sejarah yang asli dari negara ini menunjukkan bahwa orang-orang Indonesia sendiri dan perjuangannya adalah faktor yang membuat Indonesia dapat bertahan melewati penjajahan Eropa maupun Jepang hingga akhirnya mendeklarasikan kemerdekaan yang penuh pada 17 Agustus 1945. Demikian kami sampaikan, agar dapat disiarkan oleh instansi Bapak/Ibu. Terima kasih atas perhatian Anda. Salam Merdeka!”

Perdebatan soal relasi Ottoman dan Jawa, baik itu Aceh maupun Jawa secara umum, turut membuka ruang perdebatan di kalangan para sejawaran. Oman Fathurrahman dalam sebuah twitnya juga menjelaskan, bahwa memang ada data terkait permintaan Kesultanan Aceh untuk menjadi vasal Turki Usmani. Tapi permintaan tersebut tidak pernah dikabulkan bahkan hingga masa Sultan Daud Syah di akhir Abad 19.

Baca Juga: Majalah Al-Imam Bicara Tentang Kebesaran Kekhalifahan Turki Usmani

Begitu juga dengan kehadiran meriam-meriam Turki di Aceh pada kurun abad 16. Ia tidak lantas menjadi bukti kalau Istanbul mengirimkan senjata secara resmi kepada Kesultanan Aceh. Karena faktanya, permintaan meriam Aceh selalu ditolak oleh Turki Usmani. Besar kemungkinan, meriam-meriam Turki itu merupakan sisa-sisa ekspedisi Turki Usmani atau bahkan meriam model Turki tapi dibuat di Gujarat. Dengan kata lain, data terkait hubungan langsung antara Turki dan Aceh, maupun Turki dengan Jawa, sangatlah lemah.

REKOMENDASI

Muktamar NU 17 di Madiun, Upaya NU Membendung Pergerakan PKI Dan Agenda Pendirian Negara...

Harakah.id – Upaya NU membendung pergerakan PKI sudah jauh dilakukan sebelum pecahnya tragedi pemberontakan Madiun tahun 1948. Dengan melaksanakan Muktamar NU...

Respons Para Kiai Dalam Tragedi Gestapu, Santuni Janda Dan Pesantrenkan Anak Yatim Tokoh-Tokoh PKI

Harakah.id - Respons para kiai dalam tragedi Gestapu sangat jelas. Para Kiai menyatakan bahwa PKI tetap harus dibatasi pergerakannya. Hanya saja,...

Ini Jawaban Apakah Jodoh Itu Takdir Atau Pilihan?

Harakah.id – Jodoh itu takdir atau pilihan? Setiap orang tentu bisa berikhtiar memilih dan menentukan untuk menikah dengan siapa. Tapi dia...

Maqashid Syariah Sebagai Ruh Kerja Ijtihad, Konsep Dasar Maqashid Syariah dan Sejarah Perkembangannya

Harakah.id – Maqashid Syariah sebagai ruh kerja ijtihad memang tidak bisa disangkal. Maqashid Syariah adalah maksud dan tujuan pensyariatan itu sendiri....

TERPOPULER

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Alasan Sebagian Ulama Mengapa Tak Mau Baca Surat Al-Masad dalam Shalat

Harakah.id - Ada sebagian ulama yang tak mau baca surat Al-Masad dalam shalat. Alasan mereka tak mau baca surat Al-Masad adalah...

Ada Orang yang Berkurban Tapi Belum Akikah, Bolehkah dalam Islam?

Harakah.id – Berkurban sangat dianjurkan ditunaikan oleh setiap Muslim. Tak berbeda, akikah juga diwajibkan kepada setiap anak yang lahir. Lalu bagaimana...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Hari ini kita banyak mendengar kata ijtihad. Bahkan dalam banyak kasus, ijtihad dengan mudah dilakukan oleh banyak orang, yang...