Beranda Headline Jejak Ottoman di Pesantren Nusantara, Ketika Kaum Santri Menguasai Bahasa Turki dan...

Jejak Ottoman di Pesantren Nusantara, Ketika Kaum Santri Menguasai Bahasa Turki dan Belajar Ilmu Militer Ottoman

Harakah.idJejak Ottoman di pesantren Nusantara bisa ditemukan bukan dalam sistem pemerintahan. Tapi dalam wujud inspirasi ilmu perang dan militer yang berguna untuk melawan kolonial. Kalaupun mau mengatakan ada jejak kekhalifahan Turki Usmani di Nusantara, ya bukan sistem khilafahanya, tapi siasat militer yang strategis dan inovatif.

Dalam bukunya “Pesantren Studies 2B”, Ahmad Baso menjelaskan setidaknya ada dua jejak Turki Usmani di Nusantara, khususnya di kalangan orang-orang pesantren. Jejak bukan dalam arti pengaruh dalam konteks sistem pemerintahan, tapi aspek-aspek yang diperlukan dalam perlawanan terhadap kolonial dan penguasaan jaringan keilmuan serta dagang di kancah internasional.

Baca Juga: Jejak Khilafah di Nusantara, Begini Pendapat Para Pakar Sejarah Soal Hubungan Jawa dan Turki Ottoman

Pertama, jejak ottoman di pesantren Nusantara bisa ditemukan dari fakta kalau orang-orang pesantren sudah menguasai Bahasa Turki sejak jaman dulu. Utamanya ketika Turki memegang pengaruh dalam dunia perdagangan dan memiliki kekuatan geo-politik yang ditakuti dunia. Ahmad Baso menyitir data dari Suluk Gatholoco,

“Kawruh Londa Jawa Cina/ myang Benggala Koja Turki lan Keling/ kabeh iku wus kacakup/ sun simpen aneng kasang/ kawruh Arab ajar Timur kongsi lamur/ ngelmu Jawa nora kurang/ dhasar ingsung bongsa Jawi”

[Pengetahuan tentang bahasa-bahasa Belanda, Cina/ Bengali (Persia), Koja (Arab), Turki dan India (Sansekerta)/ Kami santri bertiga (Mat Ngarip, Ngabdul Jabar, Ngabdul Manap dari Pesantren Arjasari) sudah menguasai semuanya/ Kami punya semua kamusnya dalam tas kami/ Kami mempelajari Bahasa Arab dari muda hingga tua; demikian pula/ Ngelmu Jawa (sudah kami kuasai), tiada satupun yang kurang/ Karena kami sendiri adalah orang Jawa…]

Sejak abad 16, penguasaan terhadap bahasa-bahasa asing sudah dimiliki orang-orang pesantren. Termasuk Bahasa Turki. Bangsa Turki sendiri, menurut dokumen Tome Pires, sudah ramai mengujungi Nusantara di awal abad 16. Hal ini dapat dimaklumi, mengingat Turki saat itu memiliki daya dan kapasitas, termasuk kepemilikan armada dan kemampuan menjelajahi wilayah-wilayah di dunia.

Baca Juga: Mengenal Lebih Dekat Mustafa Kemal Ataturk, Bapak Bangsa Republik Turki

Saat itu dan di abad-abad selanjutnya, Turki mulai dikenal, salah satunya karena kekuatan armada dan strategi militernya. Maka tidak heran jika orang-orang pesantren belajar untuk menguasai Bahasa Turki. Tujuannya agar bisa mengakses literatur-literatur perang dan strategi militer yang ditulis dalam Bahasa Turki.

Menurut Ahmad Baso, penguasaan Bahasa Turki orang-orang pesantren kemudian mendapatkan momentumnya di abad 18 dan 19. Teks-teks ilmu militer Turki Usmani mulai diterjemahkan ke dalam Bahasa-Bahasa Nusantara. Salah satunya adalah karya Haji Bektash, pendiri Tarekat Bektashi dan guru spiritual Pasukan Janisari Turki Usmani. Haji Bektash juga merupakan komandan artileri Kesultanan Turki Usmani asal Anatolia. Di Nusantara, Haji Bektash dikenal dengan nama Haji Bankatasi, serapan Bahasa Bugis-Makasar dari Haji Bektash.

Ilmu perang dan strategi militer anatolian Turki Usmani kemudian berpengaruh besar dalam perang-perang rakyat melawan kolonial di abad 19. Salah satu di antaranya adalah Perang Jawa tahun 1925-1930 yang diinisiasi oleh Pangeran Diponegoro.

Perang yang berlangsung selama lima tahun tersebut, menurut Peter Carey, menghabiskan anggaran pemerintah kolonial cukup besar dan hampir membuat Kerajaan Belanda rugi. Siasat dan taktik perang yang diterapka Diponegoro sangat efektif untuk membendung kekuatan Belanda. Dengan senjata dan alat perang seadanya, Diponegoro mampu menahan ombak serangan kolonial yang bersenjatakan lengkap.

Lagi-lagi menurut Ahmad Baso, kesuksesan taktik perang pasukan Diponegoro tidak bisa lepas dari pengaruh Haji Badaruddin dan Kiai Maja. Haji Badaruddin sendiri adalah komandan pasukan Suranatan Kraton Yogyakarya dan ahli strategi perang Pasukan Diponegoro. Sedangkan Kiai Maja adalah guru spiritual Diponegoro yang juga banyak berkontribusi dalam menyusun strategi perang melawan kolonial. Keduanya secara khusus mendalami dan menguasai ilmu-ilmu militer Turki Usmani.

Bekal pengetahuan atas ilmu militer Turki Usmani terus digunakan sebagai opsi taktik pasca Perang Jawa. Perang-perang kecil yang terjadi di abad 19, yang diinisiasi oleh orang tarekat dan berbasis di pesantren-pesantren secara tidak langsung menerapkan taktik anatolian yang terbukti efektif di Perang Jawa. Dengan kata lain, silsilah ilmu perang dan strategi militer kaum pesantren di masa perlawanan terhadap kolonial bersambung kepada Turki Usmani.

Baca Juga: Catatan Manuver Politik Saudi: Politisasi Fatwa Yang Menyatukan Arab dan Menggebuk Turki 

Kalaupun kita harus kembali bertanya, apa jejak Turki Usmani di Nusantara? Apa jejak Ottoman di pesantren Nusantara? Jawabannya adalah bentuk gagasan dan ide soal taktik perang yang digunakan orang Nusantara untuk menghajar kolonial. Ia tidak berwujud kekhalifahan apalagi sistem pemerintahan tertentu. Justru, jejak Turki Usmani yang menjadi basis perlawanan terhadap kolonial di Nusantara difungsikan sebagai penguat bagi basis nasionalisme dan keniscayaan Nusantara sebagai negara bangsa.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

5 Tips Menjaga Hafalan Al-Quran Menurut Sunnah Rasulullah SAW

Harakah.id - Aku akan menjelaskan ke kalian tentang hadits yang aku yakin hadits ini akan sangat bermanfaat untuk teman-teman penghafal Qur’an.

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...