Beranda Keislaman Hikmah Jika Pertolongan Allah Belum Datang, Bagaimana Menyikapinya?

Jika Pertolongan Allah Belum Datang, Bagaimana Menyikapinya?

Harakah.id Pertolongan Allah tidak pernah terlambat, selalu datang di waktu yang tepat. Pertanyaannya, kapan waktu yang tepat itu?

Pertolongan Allah tidak pernah terlambat, selalu datang di waktu yang tepat. Pertanyaannya, kapan waktu yang tepat itu? Kebanyakan dari kita mungkin sering bertanya, “Di mana pertolongan Allah? Kapan pertolongan Allah datang? Atau, mengapa Allah membiarkan kesulitan, kesusahan, dan keterpurukan ini menimpa?” 

Berbagai bentuk kekhawatiran lainnya muncul sebab pertolongan Allah dirasa tak kunjung tiba. Padahal, bisa jadi kesulitan telah begitu mencekam, ketika diri sudah terjepit oleh permasalahan-permasalahan hidup.

Sesungguhnya, dalam surat Al-Baqarah ayat 214 sudah dikabarkan bahwa ketika orang-orang bertanya, “Kapankah datang pertolongan Allah?”, jawabannya, “Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.”. Lantas, mengapa bila pertolongan Allah itu dekat tetapi tak kunjung bisa kita rasakan?

Sebab kemungkinannya mudah saja, Allah ingin kita berikhtiar secara maksimal sampai saat-saat terakhir. Allah akan memberikan pertolongan-Nya di saat yang tepat, bisa jadi saat yang tepat itu ialah di titik paling kritis.

Kita bisa belajar tentang ikhtiar menjemput pertolongan Allah dan bukti bahwa pertolongan Allah datang di waktu yang tepat dari kisah Siti Hajar dan nabi Ismail As. serta nabi Musa As. dan pengikutnya.

Ketika itu, Siti Hajar dan nabi Ismail As. ditinggal oleh nabi Ibrahim as. di suatu tempat yang tandus, tidak ada tumbuh-tumbuhan, tidak ada air, dan tidak ada siapapun, yang kelak tempat itu akan kita kenal dengan nama Mekkah. 

Kemudian di saat itu, Siti Hajar kehabisan asi untuk menyusui nabi Ismail As. yang lantas membuatnya menangis tak henti. Siti Hajar yang memang sejak awal percaya semua ini adalah kehendak Allah dan Allah tidak akan menyia-nyiakannya, berikhtiar atau berusaha mencari air untuk nabi Ismail As.

Perlu ditekankan di sini bahwa ikhtiar Siti Hajar adalah ikhtiar yang maksimal. Beliau berlari bolak-balik dari bukit Shofa dan Marwah sampai tujuh kali untuk mencari air. Hingga ketika Siti Hajar sudah benar-benar kelelahan dalam berusaha, Allah menurunkan pertolongan-Nya. Lewat kaki nabi Ismail As. keluarlah air, yang namanya air zamzam, yang begitu melimpah dan tidak habis-habis bahkan sampai saat ini. 

Sama pula dengan kisah nabi Musa as. dan pengikutnya. Coba bayangkan ketika nabi Musa As. dan pengikutnya dikejar oleh Fir’aun beserta bala tentaranya. Saat itu nabi Musa As. dan pengikutnya berada dalam posisi terdesak pada jalan buntu, di depannya laut merah terhampar luas dan di belakangnya ada Fir’aun serta puluhan ribu pasukan bersenjata lengkap mengepung siap untuk menghancurkan mereka.

Seperti digambarkan dalam surat Ash-Shu’araa pada ayat 61 sampai 63, di saat-saat kritis itu, nabi Musa As. menunjukkan keimanannya yang kukuh. Tatkala pengikutnya cemas dan berkata, “Kita benar-benar akan tersusul.”, nabi Musa As. menjawab, “Sekali-kali tidak akan (tersusul). Sesungguhnya Tuhanku bersamaku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku.”. Kemudian saat itulah Allah memberikan pertolongan-Nya dengan mewahyukan kepada nabi Musa As., “Pukullah laut itu dengan tongkatmu.”.

Nabi Musa As. melakukannya, memukulkan tongkatnya ke laut merah. Seketika laut merah terbelah dan terbentang jalan untuk lewat. Akhirnya, nabi Musa As. dan pengikutnya pun selamat.

Dua kisah di atas memberikan kepada kita banyak sekali ibrah. Keimanan yang tak goyah oleh keadaan-keadaan sulit dan genting akan mengantarkan kita pada jalan keluar untuk permasalahan-permasalahan hidup yang dihadapi. Percaya sepenuhnya pada Allah adalah syarat mutlak untuk memeroleh pertolongan-Nya.

Hidup hanya perlu dijalani dengan iman terpatri. Kita tidak diminta untuk sibuk mengkalkulasi peluang-peluang. Apalagi meramal seakan segala sesuatu teramat pasti. Bukankah lebih baik bila kita menjalani segala sesuatu dengan kesadaran bahwa yang sudah berlalu cukup kita pungkasi dengan hamdalah, yang sedang terjadi kita tunaikan dengan bismillah, dan hari esok kita hadapi dengan InsyaAllah.

Allah pasti menolong hamba-Nya dari kesulitan. Kalau pun pertolongan itu dirasa belum terlihat tanda-tandanya, maka bisa diartikan barangkali ikhtiar kita untuk menyelesaikan persoalan itu yang memang belum maksimal. Dengan demikian, tugas kita adalah berusaha sampai titik penghabisan, sampai titik kritis di mana hanya pertolongan Allah lah yang kita harapkan.

Bukankah sebelum fajar yang cerah terbit kita harus melewati malam yang gelap gulita? Yakinlah, pada keadaan terburuk Allah berikan hadiah terbaik.

Artikel ini dikirim oleh Febrian Eka Ramadhan. Mahasiswa prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Negeri Yogyakarta. Suka menulis tentang hikmah dari sebuah peristiwa dan kisah-kisah menginspirasi.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...