Jurus Sullam-Safinah dan Strategi Dakwah Sullamisasi, Mengenal Kitab Nadzam Safinatunnajah Karya KH. Zaini Mun’im Paiton

0
301
Jurus Sullam-Safinah dan Strategi Dakwah Sullamisasi, Mengenal Kitab Nadzam Safinatunnajah Karya KH. Zaini Mun’im Paiton

Harakah.idKitab Nadzam Safinatunnajah karya KH. Zaini Mun’im adalah salah satu karya yang menyumbang kontribusi keilmuan yang tak sedikit dalam konteks keberagamaan di Nusantara.

KH. Zaini Mun’im termasuk sosok ulama yang lengkap. Beliau adalah seorang revolusioner di bidang pertanian dengan memperkenalkan tembakau. Selain aktif mengajar santri di pondok pesantren dan turun ke masyarakat guna berdakwah, KH. Zaini Mun’im juga aktif dan terlibat dalam pergerakan sosial, baik dalam konteks pertempuran fisik maupun organisasi. Beliau adalah pemimpin PETA dan Pasukan Sabilillah. Di samping dikenal sebagai seorang pemimpin tarekat, KH. Zaini Mun’im juga aktif di organisasi Nahdlatul Ulama sampai akhir hayatnya.

Di tengah kontribusi dan perannya di seluruh sector perjuangan tersebut, KH. Zaini Mun’im ternyata juga masih menyisakan waktunya untuk berkarya. Menurut Masyhur Amin dan Nasikh Ridwan, setidaknya ada lima karya yang sudah dilahirkan oleh KH. Zaini Mun’im. Di antaranya adalah Taysirul Ushul fi Ilmil Ushul, dalam bidang ushul fikih, Nazm Safinatun Najah dalam bidang Fikih, Nazm Syuabul Iman dalam bidang Akidah, serta Tafsir Al-Qur’an bi l-Imla’ dalam bidang tafsir. Ada satu karya teoretis tentang dakwah Islam yang sempat dimuat dalam Jurnal al-Jami’ah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, berjudul “Beberapa Problematika Dakwah Islamiyah”, 1970.

Dan pada kesempatan kali ini kita akan sedikit mengulas kitab Nadzam Safinatunnajah.

Kitab Nadzam Safinatunnajah bisa dikatakan merupakan karya paling awal yang ditulis KH. Zaini Mun’im. Kitab tersebut kono ditulis pada tahun 1377 H atau bertepatan dengan 1957 M, 9 tahun setelah mendirikan PP. Nurul Jadid. Kitab ini dibuat dengan mengacu pada karya Syaikh Salim ibn Samir al-Hadrami dengan judul yang sama dan pada karya komentarnya (syarah) yang ditulis oleh Syaikh Nawawi al-Jawi al-Bantani.

Dalam konteks masyarakat Indonesia, kitab safinatunnajah, bersama dengan Kitab Sullamut Taufiq, merupakan paket wajib sebagai modal dakwah di masyarakat. Keduanya menjadi resep dan ramuan tak terhindarkan dalam setiap aktivitas penyelesaian problem sampai pembentukan karakter keberagamaan itu sendiri. Ini yang terlihat kala KH. Zaini Mun’im ditanya mengenai langkah-langkah dan metode menghadapi problematika di masyarakat. Kiai Zaini menjawab, “Untuk membasmi kemungkaran yang terjadi, masyarakat tidak usah diapa-apakan, disullamisir saja sudah cukup.” Yang dimaksud sullamisir ya mengajarkan dan diajarkan sullam-safinah (sullamut taufiq dan safinanatunnajah). Kedua paket ini sudah dipandang cukup karena sudah memenuhi doktrin pokok tentang akidah (sullam) dan syariah (safinah).

Atas dasar itu juga, dalam penulisan karya nazhamnya, KH. Zaini Mun’im mengkontekstualisasi karya Syaikh Salim tersebut dengan memasukkan doktrin tentang haji yang dikutip dari Sullam Taufiq. Tentu tujuannya agar lebih mudah dalam menjalankan program “sullamisasi” masyarakat tersebut

Secara keseluruhan isi Nadzam Safinatunnajah terdiri dari 10 bagian, yaitu: 1) muqaddimah; 2) rukun iman dan rukun Islam serta makna tauhid; 3) tanda-tanda anak baligh; 4) thaharah; 5) salat; 6) zakat; 7) puasa; 8) haji dan umrah; 9) ziarah makam nabi dan salat 40 kali di masjid Nabawi; 10) nasehat, tentang taubat, taqwa, tawakkal, tidak malas, tawakkal dan sebagainya.

Kitab Nadzam Safinatunnajah sampai hari ini masih menjadi salah satu kitab yang dikaji di Pondok Pesantren Nurul Jadid.