fbpx
Beranda Gerakan Kaidah "al-Khuruj Minal Khilaf Mustahab" dan Logika Pembentukan Komite Hijaz

Kaidah “al-Khuruj Minal Khilaf Mustahab” dan Logika Pembentukan Komite Hijaz

Harakah.id Komite Hijaz memiliki perannya sendiri ketika kondisi politik Arab Saudi dikhawatirkan berdampak ke segala lini. Dengan logika kaidah al-Khuruj Minal Khilaf Mustahab, para ulama dengan cekatan mengambil keputusan di tengah situasi yang mulai genting itu.

الْخُرُوجُ مِنْ الْخِلَافِ مُسْتَحَبٌّ

Al-Khuruj Minal Khilaf Mustahab

(Dianjurkan keluar dari perkara yang diperselisihkan)

Fikih berarti pemahaman. Pemahaman seringkali bersifat subyektif. Tidak terkecuali dalam masalah-masalah yang berkaitan dengan aturan agama. Karenanya, tidak heran bila dalam pembahasan ilmu fikih yang tingkatannya agak tinggi, perbedaan pendapat sangat mudah ditemukan. Hampir-hampir tidak ada pendapat tunggal. Di sisi lain, para ulama fikih mempunyai kearifan luar biasa dalam menyikapi perbedaan. Perbedaan tidak boleh berujung perpecahan. Karenanya, mereka berupaya mencari sikap yang tepat dalam merespon perbedaan pendapat dalam memahami agama di kalangan umat islam. 

Di antara sikap yang ditekankan oleh para ulama adalah sikap berhati-hati (ihtiyath). Kehati-hatian dalam menyikapi perbedaan pendapat di kalangan umat ini penting agar umat tidak semakin terpecah belah, dan bahkan berujung konflik. Prinsip ihtiyath diterapkan, salah satunya dengan memperkenalkan kaidah “al-khuruj minal khilaf mustahabb” atau anjuran keluar dari persoalan yang diperselisihkan.

Para ahli fikih mencontohkan seperti mengusap keseluruhan rambut kepala ketika berwudu. Rukun ketiga dalam berwudu adalah mengusap kepala. Allah berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ

Wahai orang yang beriman, ketika kalian hendak melaksanakan shalat, basuhlah wajah kalian, tangan sampai siku-siku, usaplah (rambut) kepala kalian, dan kaki-kaki kalian sampai mata kaki. (QS. Al-Maidah: 6).

Para ulama berbeda pendapat mengenai bagian rambut kepala yang harus dibasuh. Paling tidak ada tiga pendapat. Pertama, pendapat yang mengatakan wajib membasuh seluruh rambut kepala. Pendapat ini diutarakan oleh imam Malik bin Anas (179 H.) dan imam Ahmad bin Hanbal (241 H.). Kedua, pendapat yang mengatakan wajib dibasuh minimal seperempat rambut kepala. Pendapat ini dinisbatkan kepada imam Abu Hanifah (150 H.). Ketiga, minimal diusap satu rambut atau kulit kepala yang menjadi tempat tumbuhnya rambut. Yang terakhir ini adalah pendapat imam as-Syafi’i (204 H.).

Dalam mazhab Syafi’i, sekalipun pendiri mazhab menyatakan yang wajib dibasuh minimal satu rambut atau kulit kepala, namun disunahkan untuk mengusap keseluruhan bagian rambut kepala. Hal ini sebagai langkah keluar dari perbedaan pendapat. Sikap ini dinilai lebih mencerminkan kehati-hatian. Dengan mengusap keseluruhan, maka kita akan keluar dari khilafiah ulama mengenai kadar minimal rambut kepala yang harus diusap dalam wudu. Dengan melakukan pengusapan ke seluruh bagian rambut kepala, maka kita dapat mengamalkan seluruh pendapat tentang kewajiban mengusap rambut kepala. Di sini, perbedaan pendapat selesai dalam pengamalan atau tindakan nyata.

Prinsip kehati-hatian dan selalu berupaya keluar dari perbedaan pendapat dengan mencari titik temu antara asing-masing pendapat, sudah menjadi kesadaran mendalam dalam cara berfikir orang-orang pesantren. Logika khuruj minal khilaf pernah digunakan dalam menyusun strategi diplomasi dengan pemerintah Arab Saudi di awal berdirinya negara tersebut.

Sebagaimana diketahui, sebelum NU berdiri, para ulama pesantren membuat wadah bernama Komite Hijaz. Komite ini akan bertugas mewakili ulama-ulama pesantren berhaluan Ahlus Sunnah Wal Jamaah menghadap penguasa baru wilayah Hijaz, yaitu Raja Ibnu Sa’ud. Hal ini karena ada kabar mengenai akan adanya kebijakan baru yang membatasi kebebasan bermazhab di wilayah Hijaz.

Raja Ibnu Sa’ud dikenal berpaham Wahabi yang kurang menyukai tradisi bermazhab, ziarah kubur, dan hal-hal yang dianggap bid’ah. Perubahan situasi di Hijaz bahkan konon sampai mengancam keselamatan jiwa ulama-ulama pendukung mazhab. Salah satu contohnya KH. Mukhtar, ulama asal Indonesia, hampir dijatuhi hukuman mati karena menyatakan kesunahan melantunkan niat sebelum shalat.

Kondisi ini membuat khawatir para ulama pesantren yang pada umumnya adalah penganut mazhab. Dibentuklah sebuah tim untuk meminta kepastian kebebasan bermazhab. Namun demikian, untuk menjaga agar persoalan khilafiah tidak menjadi kendala dalam diplomasi, para ulama menyusun surat yang tidak menyinggung persoalan yang menjadi titik perbedaan antara penganut Wahabi dan Ahlus Sunnah Wal Jamaah.

Dalam poin pertama misalnya, disebutkan; memohon kepada Raja agar dipertahankan kebebasan bermazhab. Konsekuensinya dibebaskannya mazhab adalah digilirnya jadwal imam shalat fardhu lima waktu di antara para pembesar mazhab, dibolehkannya diajarkan kitab-kitab karya imam al-Ghazali dan as-Sanusi yang diyakini kebenarannya. Pelestarian mazhab adalah penting karena akan menguatkan ikatan sesama umat Islam yang bermazhab dan mengukuhkan persatuan umat, menjadikan umat seperti satu tubuh. Di sisi lain, Rasulullah saw. menjamin bahwa umat yang bersatu tidak akan tersesat (la tajtami’u ummati ‘alad dhalalah).

Pada poin kedua disebutkan agar pemerintah Saudi menjaga kelestarian tempat-tempat bersejarah seperti tempat kelahiran Siti Fatimah, bangunan Khaizuran, dan lainnya yang merupakan bagian dari tanah yang diwakafkan untuk masjid. Pelestarian ini didasarkan kepada ayat yang memerintahkan agar umat Islam memakmurkan masjid serta larangan menghalangi orang yang hendak beribadah dalam masjid. Selain itu, dengan melestarikan tempat bersejarah, umat Islam dapat mengambil ibrah atau pelajaran yang bermanfaat bagi kehidupan mereka.

Poin ketiga dan keempat berisi permohonan agar pemerintah Saudi selalu memberikan pengumuman kepada seluruh dunia Islam tentang persoalan yang berkaitan dengan ibadah haji. Sejak biaya hingga peraturan-peraturan terbaru agar umat Islam dapat menjaga diri dan tidak melanggar aturan baru tersebut.

Keempat poin di atas pada dasarnya berangkat dari perbedaan pandangan antara para pengikut ulama Ahlus Sunnah Wal Jamaah yang mazhab dan para pengikut Wahabi yang anti-mazhab yang kebetulan sedang memegang kekuasaan. Terdapat banyak pertentangan pendapat di antara kedua pengikut paham tersebut. Namun, pertentangan itu ditinggalkan. Para ulama pesantren keluar dari masalah yang diperselesihkan, dan kembali kepada persoalan yang disepakati bersama demi kemaslahatan kaum muslimin. Inilah praktik prinsip keluar dari perselisihan dalam kehidupan sosial-politik global yang pernah dimainkan ulama-ulama NU. Kaidahnya, al-khuruj minal khilaf mustahabb, keluar dari masalah khilafiah dianjurkan. 

- Advertisment -

REKOMENDASI

Cara dan Waktu Puasa Syawal 6 Hari Harus Urut atau Boleh Terpisah-pisah?

Harakah.id – Cara dan waktu puasa Syawal 6 hari boleh dilakukan secara berturut-turut di waktu awal bulan, maupun secara terpisah-pisah di...

Khutbah ‘Idul Fitri 1441 H.: Ketakwaan Sosial dan Iman yang Melahirkan Kasih Sayang

Khutbah pertama السلام عليكم ورحمة الله وبركاته اللهُ أَكبَر (7 x)  لَا إلهَ إِلا...

Kaidah “al-Khuruj Minal Khilaf Mustahab” dan Logika Pembentukan Komite Hijaz

Harakah.id - Komite Hijaz memiliki perannya sendiri ketika kondisi politik Arab Saudi dikhawatirkan berdampak ke segala lini. Dengan logika kaidah al-Khuruj...

Mengembala dan Berdagang Adalah Dua Camp Pelatihan Para Nabi Sebelum Diterjunkan, Tak Terkecuali Nabi...

Harakah.id – Dunia gembala dan perdagangan secara tidak langsung memberi pelajaran awal kepada Muhammad sebelum diangkat menjadi Nabi. Di sana kejujuran,...

TERPOPULER

Jumlah Takbir Shalat Idul Fitri, 7 di Rakaat Pertama dan 5 di Rakaat Kedua

Harakah.id - Penjelasan singkat mengenai jumlah rakaat dan takbir pada shalat sunnah Idul Fitri. Dua rakaat dengan tujuh takbir di rakaat...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Hari ini kita banyak mendengar kata ijtihad. Bahkan dalam banyak kasus, ijtihad dengan mudah dilakukan oleh banyak orang, yang...

Bacaan Setelah Takbir Zawaid dalam Shalat Idul Fitri dan Idul Adha

Harakah.id - Pada umumnya, dalam shalat wajib dan sunnah dikenal dua takbir, yaitu takbiratul ihram dan takbir intiqal. Takbiratul ihram adalah takbir...

Tata Cara Niat Zakat Fitrah Sendiri Untuk Diri Sendiri dan Keluarga

Harakah.id - Ketika kita hendak menyerahkan bahan pokok seperti beras kepada amil zakat, penitia zakat atau penerima zakat secara langsung, kita...