fbpx
Beranda Gerakan Kaidah "al-Yaqin La Yuzalu bis-Syakk" dan Kepastian Indonesia Sebagai Darul Islam

Kaidah “al-Yaqin La Yuzalu bis-Syakk” dan Kepastian Indonesia Sebagai Darul Islam

Harakah.idMeski tidak terang-terangan menerapkan hukum Islam secara tekstual, melalui kaidah fikih “al-yaqin la yuzalu bis-syakk”, para ulama sepakat untuk memastikan bahwa status Indonesia adalah Darul Islam

الْيَقِينُ لَا يُزَالُ بِالشَّكِّ

Al-Yaqin La Yuzalu bis Syakk

(keyakinan tidak akan dikalahkan oleh keraguan)

Rasulullah saw. mengajarkan agar umatnya mengambil yang pasti-pasti serta meninggalkan yang meragukan. Ada banyak cerita tentang kebiasaan beliau itu. Salah satunya, seorang laki-laki datang kepada Rasulullah saw. melaporkan bahwa dirinya shalat dalam keadaan sakit perut. Dia tidak konsentrasi karena menahan rasa sakit. Lalu timbul perasaan seakan dia telah kentut. Namun dia ragu apakah sudah benar-benar kentut atau belum. Keraguan itu dilaporkan kepada Rasulullah saw. Rasulullah saw. kemudian menyarankan agar dia melanjutkan salatnya. Selama tidak ada tanda yang kuat seperti bau busuk atau suara, berarti salatnya masih belum batal. Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Sahih-nya.

Dalam kesempatan lain, Rasulullah saw. berpesan kepada para sahabatnya, “Jika kalian tidak tahu apakah baru melaksanakan tiga rakaat atau sudah empat rakaat, hendaknya dia mengambil yang diyakini dan membuang yang meragukan.” Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim.

Dalam riwayat lain dijelaskan bahwa Rasulullah saw. menjelaskan tentang orang yang ragu bilangan salat. Antara sudah mengerjakan satu rakaat atau dua rakaat. Antara dua rakaat atau sudah tiga rakaat. Beliau memerintahkan agar diambil bilangan yang paling kecil. Karena bilangan itu yang diyakini. Hadis ini diriwayatkan oleh imam at-Tirmidzi.

Berdasar hadis-hadis di atas, para ulama membuat kaidah yang al-yaqin la yuzalu bis syakk. Kaidah ini berarti ketika seseorang mengalami keraguan, maka hendaknya diambil pilihan yang paling meyakinkan. Kaidah ini menjadi pedoman para ulama dalam menyikapi kasus-kasus keraguan. Yaitu ketika ada dua pilihan yang saling bertentangan. Terutama dalam masalah-masalah yang berkaitan dengan ibadah keagamaan. Untuk menerapkan kaidah ini, para ulama membuat sub-kaidah yang lebih operasional. Misalnya kaidah al-ashlu baqa’u ma kana ‘ala ma kana (hukum asal adalah berlakunya kondisi sebelum terjadinya perubahan).

Di antara masalah keagamaan yang diselesaikan dengan kaidah di atas adalah masalah keraguan dalam kesucian. Ketika seseorang ragu apakah sudah berwudu atau belum, berdasarkan kaidah di atas, maka orang yang ragu tersebut dihukumi belum berwudu. Status “belum berwudu” ini didasarkan kepada kaidah menerapkan kondisi sebelum terjadinya peristiwa berwudu. Hal ini karena kondisi “belum berwudu” dianggap lebih meyakinkan. Sedangkan kondisi “sudah berwudu” masih diragukan. Orang harus mengambil yang meyakinkan, dan meninggalkan yang meragukan.

Pada Muktamar ke-11 Nahdlatul Ulama tahun 1936 di Banjarmasin, para ulama yang mengikuti forum Bahsul Masail, menyepakati hukum Indonesia sebagai Darul Islam. Dasar para ulama saat itu adalah fatwa yang terdapat dalam kitab Bughyatul Mustarsyidin yang menyatakan,

كُلُّ مَحَلٍّ قَدَرَ مُسْلِمٌ سَاكِنٌ بِهِ .. فِيْ زَمَنٍ مِنَ الْاَزْمَانِ يَصِيْرُ دَارَ اِسْلَامٍ تَجْرِيْ عَلَيْهِ أَحْكَامُهُ فِيْ ذَلِكَ الزَّمَانِ وَمَابَعْدَهُ وَاِنْ انْقَطَعَ امْتِنَاعُ الْمُسْلِمِيْنَ بِاسْتِلَاءِ الْكُفَّارِ عَلَيْهِمْ وَمَنْعِهِمْ مِنْ دُخُوْلِهِ وَاِخْرَاجِهِمْ مِنْهُ فَتَسْمِيَتُهُ دَارَ حَرْبٍ صُوْرُةً لَا حُكْمًا فَعُلِمَ أَنَّ أَرْضَ بَتَاوِيْ بَلْ وَغَالِبُ أَرْضِ جَاوَةْ دَارَ إِسْلَامٍ لِاْستِلَاءِ الْمُسْلِمِيْنَ عَلَيْهَا قَبْلَ الْكُفَّارِ

“Semua tempat di mana muslim mampu untuk menempatinya pada suatu masa tertentu, maka ia menjadi daerah Islam yang syariat Islam berlaku pada pada masa itu dan pada masa sesudahnya, walaupun kekuasaan umat Islam telah terputus oleh penguasaan orang-orang kafir terhadap mereka, dan larangan mereka untuk memasukinya kembali atau pengusiran terhadap mereka, maka dalam kondisi semacam ini, penamaannya dengan “daerah kafir harbi” hanya merupakan bentuk formalnya dan tidak hukumnya. Dengan demikian diketahui bahwa tanah Betawi dan bahkan sebagian besar tanah Jawa adalah “daerah Islam” karena umat Islam pernah menguasainya sebelum penguasaan orang-orang kafir.”

Dulu, tanah Betawi, Jawa, dan hampir seluruh wilayah nusantara dikuasai oleh orang-orang Islam melalui kerajaan-kerajaan atau kesultanan-kesultanan yang sampai sekarang masih dapat dilihat. Wilayah nusantara kemudian dihukumi sebagai daerah Islam. Lalu, datang para penjajah yang beragama non-Islam menguasai wilayah-wilayah ini. Apakah status daerah Islam hilang dari tanah air nusantara? Ternyata hukum sebelumnya tidak hilang sekalipun kekuasaan telah berganti dipegang oleh orang-orang non-Muslim. 

Terus berlangsungnya status negeri Islam untuk nusantara adalah karena dalam merumuskan hukum tersebut dipandu oleh kaidah al-ashlu baqa’u ma kana ‘ala ma kana (berlakunya kondisi sebelum terjadinya perubahan). Kondisi nusantara sebelum penjajahan adalah berstatus darul Islam. Setelah terjadi penjajahan, hukum ini ditetapkan karena perubahan status menjadi darul harbi masih diperdebatkan. Ketika sesuatu itu diperdebatkan berarti statusnya tidak terlalu meyakinkan. Maka, umat Islam harus kembali kepada kaidah, perkara yang meyakinkan tidak bisa dikalahkan oleh perkara yang masih meragukan (al-yaqin la yuzalu bis syakk).

- Advertisment -

REKOMENDASI

Cara dan Waktu Puasa Syawal 6 Hari Harus Urut atau Boleh Terpisah-pisah?

Harakah.id – Cara dan waktu puasa Syawal 6 hari boleh dilakukan secara berturut-turut di waktu awal bulan, maupun secara terpisah-pisah di...

Khutbah ‘Idul Fitri 1441 H.: Ketakwaan Sosial dan Iman yang Melahirkan Kasih Sayang

Khutbah pertama السلام عليكم ورحمة الله وبركاته اللهُ أَكبَر (7 x)  لَا إلهَ إِلا...

Kaidah “al-Khuruj Minal Khilaf Mustahab” dan Logika Pembentukan Komite Hijaz

Harakah.id - Komite Hijaz memiliki perannya sendiri ketika kondisi politik Arab Saudi dikhawatirkan berdampak ke segala lini. Dengan logika kaidah al-Khuruj...

Mengembala dan Berdagang Adalah Dua Camp Pelatihan Para Nabi Sebelum Diterjunkan, Tak Terkecuali Nabi...

Harakah.id – Dunia gembala dan perdagangan secara tidak langsung memberi pelajaran awal kepada Muhammad sebelum diangkat menjadi Nabi. Di sana kejujuran,...

TERPOPULER

Jumlah Takbir Shalat Idul Fitri, 7 di Rakaat Pertama dan 5 di Rakaat Kedua

Harakah.id - Penjelasan singkat mengenai jumlah rakaat dan takbir pada shalat sunnah Idul Fitri. Dua rakaat dengan tujuh takbir di rakaat...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Hari ini kita banyak mendengar kata ijtihad. Bahkan dalam banyak kasus, ijtihad dengan mudah dilakukan oleh banyak orang, yang...

Bacaan Setelah Takbir Zawaid dalam Shalat Idul Fitri dan Idul Adha

Harakah.id - Pada umumnya, dalam shalat wajib dan sunnah dikenal dua takbir, yaitu takbiratul ihram dan takbir intiqal. Takbiratul ihram adalah takbir...

Tata Cara Niat Zakat Fitrah Sendiri Untuk Diri Sendiri dan Keluarga

Harakah.id - Ketika kita hendak menyerahkan bahan pokok seperti beras kepada amil zakat, penitia zakat atau penerima zakat secara langsung, kita...