Beranda Gerakan Kaidah "Tahshilul Mashalih" dan Pembentukan Nahdlatut Tujjar Untuk Kedaulatan Ekonomi Ummat

Kaidah “Tahshilul Mashalih” dan Pembentukan Nahdlatut Tujjar Untuk Kedaulatan Ekonomi Ummat

Harakah.id Dalam keputusan untuk membentuk Nahdlatut Tujjar, para ulama mendasarkan argumennya kepada kaidah “Tahshilul mashalih wa dar’u hadzihil mafasid aula min ta’thiliha

تَحْصِيلُ الْمَصَالِحِ وَدَرْءُ هَذِهِ الْمَفَاسِدِ أَوْلَى مِنْ تَعْطِيلِهَا

Tahshilul mashalih wa dar’u hadzihil mafasid aula min ta’thiliha

“Mengambil Kemaslahatan dan Menghidari Kemudaratan Lebih Utama daripada Mengabaikannya”

Jamak diketahui bahwa syariat bertujuan untuk mewujudkan kemaslahatan dan menolak kemudaratan. Hampir sebagian besar aturan di dalam Islam bermuara pada kemaslahatan dan menjaga manusia dari kerugian di dunia maupun akhirat. Maka dari itu, Islam mendorong manusia agar selalu mengerjakan perbuatan yang maslahat dan tidak mengandung kemudharatan.

Dalam Qawaidul Ahkam disebutkan, tahshil al-mashalih wa dar’ al-mafasid awla min ta’thiliha, mengambil kemaslahatan dan menghidar dari kemudharatan lebih utama daripada mengabaikannya.  Kaidah ini menunjukan bahwa kemaslahatan tidak boleh diabaikan, terutama bila tidak memiliki kemudaratan sedikitpun. Dalam bahasa lain, perbuatan baik mesti segera dilaksanakan dan tidak boleh ditunda-tunda.

Izzuddin Ibn ‘Abdul Salam menjelaskan, apabila ada orang yang menemukan harta atau barang hasil ghasab, dia sangat dianjurkan untuk menyerahkan langsung harta tersebut kepada pemiliknya bila dia mengetahui siapa pemiliknya. Akan tetapi, jika tidak mungkin untuk mencari pemiliknya, maka harta tersebut lebih baik dimanfaatkan untuk kepentingan umum bila ada kekhawatiran harta tersebut akan jatuh pada tangan yang salah dan digunakan untuk hal-hal yang tidak manfaat.

Pendapat ini didasarkan pada jawaban Rasulullah SAW terkait permasalahan yang dihadapi Hindun, istri Abu Sufyan. Hindun mengeluh pada Rasulullah bahwa suaminya pelit dan jarang memberinya uang untuk kebutuhan dirinya dan anaknya. Hindun meminta penjelasan dari Rasul apakah boleh mengambil harta suaminya sekedar mencukupi kebutuhan keluarganya dan Rasulullah SAW membolehkannya.

Rasulullah membolehkan Hindun mengambil harta suaminya karena di situ terdapat kemaslahatan, meskipun kemaslahatannya bersifat khusus dan tidak berkaitan dengan kehidupan banyak orang. Oleh sebab itu, mendahulukan kepentingan banyak orang sangat diprioritaskan dan tidak boleh mengabaikannya. Seperti pada contoh di atas, bila menemukan harta, maka lebih baik diserahkan langsung pada pemiliknya atau dimanfaatkan untuk kepentingan umum bila tidak mungkin mencari pemiliknya, supaya tidak jatuh pada tangan orang zalim dan dimanfaatkan untuk kezaliman. 

Maka dari itu, pada tahun 1918, kalangan pesantren berusaha mendirikan penghimpunan para saudagar Islam untuk melawan monopoli Belanda atas perekonomian. Perhimpunan tersebut diberi nama Nahdlatut Tujjar. Para Kiai pada waktu itu prihatin dengan kemerosotan perekomian rakyat. Kemerosotan ini berdampak pada melemahkanya kesejahteraan masyarakat Islam, pendidikan, budaya, dan politik. Sementara kalangan non-muslim makin kuat dan eksis karena perekonomian mereka didukung oleh Belanda.

Untuk memperkuat perekonomian Rakyat, KH. Wahab Hasbullah dan KH. Hasyim Asy’ari mengumpulkan saudagar dari kalangan pesantren untuk mendirikan badan usaha mandiri agar tidak bergantung pada penjajah. Meraka akhirnya setuju dengan usulan tersebut dan mendirikan badan usaha bernama Syirkah al-Inan di bawah naungan Nahdlatut Tujjar.

Pendirian perhimpunan ini didasarkan atas pertimbangan kemaslahatan dan menghidar dari kemudaratan kolonial. Berkerjasama dengan kolonial pada gilirannya akan memperkuat penjajahan di Nusantara dan tidak menguntung bagi umat Islam. Berdasarkan kaidah fikih di atas, apabila ditemukan peluang untuk memperoleh kemaslahatan dan menghindar dari kemudaratan, maka segeralah mewujudkannya dan tidak boleh mengabaikannya. Pendirian Nahdlatul Tujjar sebagai salah satu cara untuk memperoleh kemaslahatan dalam bidang perekonomian dan menolak monopoli Belanda.

Sejak berdirinya gerakan ini, kalangan pesantren tidak mau menerima bantuan sedikitpun dari Belanda dan berusaha semaksimal mungkin untuk meningkatkan perekonomian masyarakat secara mandiri. Bahkan ketika NU sudah berdiri, seluruh kegiatan muktamar, pendidikan, dan acara-acara yang berkaitan dengan NU didanai oleh Nahdlatut Tujjar. Perhimpunan kaum saudagar ini juga berhasil mendanai perjalanan delegasi NU, atau dikenal dengan komite Hijaz, untuk bernegosiasi dengan Raja Saudi agar kebebasan bermadzhab di Haramain tetap diberlakukan dan jangan sampai diseragamkan.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...