Beranda Headline Kalau Al-Quran Saja Mendukung Perlakuan Adil Terhadap Alam Semesta, Mengapa Kita Justru...

Kalau Al-Quran Saja Mendukung Perlakuan Adil Terhadap Alam Semesta, Mengapa Kita Justru Seringkali Mengabaikannya?

Harakah.idPerlakuan adil terhadap alam semesta adalah satu tindakan dan praktik yang dianjurkan, didukung bahkan diperintahkan di dalam al-Quran. Jika sudah begini, alasan apa lagi yang membuat kita abai terhadapnya?

Artikel sebelumnya sudah dijelaskan, bahwa keadilan merupakan doktrin yang dimiliki semua agama. Keadilan menjadi norma keseimbangan yang tidak hanya berlaku sesama manusia, tetapi juga terhadap alam. Berbuat adil merupakan langkah strategis untuk menumbuhkan jalinan harmonis antara manusia dengan alam. Kemudian muncul pertanyaan, bagaimana Islam mengkonsepsikan keadilan?

Istilah keadilan atau adil diambil dari bahasa Arab yaitu ‘adl. Mengutip al-Aṣfahānī—salah satu tokoh yang konsen terhadap makna kosakata dalam al-Qur’an—memaknainya dengan samāwah (kesataraan), taqsīt (menempatkan sesuatu pada tempatnya) dan mauzūn/mīzān (keseimbangan). 

Baca Juga: Semua Agama Mengajarkan Melestarikan Alam, Apakah Pengikutnya Bisa Mengamalkannya?

Pandangan ini juga diikuti oleh Quraish Shihab, menurutnya keadilan seringkali dijumpai dalam al-Qur’an dengan tiga term, pertama adalah qisun yaitu menempatkan sesuatu pada tempatnya. Kedua, menggunakan redaksi ‘adl yang dimaknai dengan tidak keberpihakan, dan ketiga menggunakan term mīzān yang berarti seimbang.

Berangkat dari definisi di atas, konsep adil mengajarkan beberap hal, pertama tentang kesetaraan. Hakikatnya manusia dan alam itu setara di hadapan Tuhan. Mereka berstatus makhluk Tuhan, sama-sama ber-tasbīh kepada-Nya. Kedua, alam merupakan anugerah Tuhan yang telah diberi izin untuk dieksplorasi. Dengan catatan, memanfaatkan alam secara optimal, bukan untuk dieksploitasi, sehingga tidak terjadi penyalahgunaan dalam memanfaatkan alam. Ketiga, keadilan bisa dipahami juga sebagai tindakan ekuilibrium terhadap alam tanpa memihak kedua pihak.

Al-Qur’an sebagai kitab suci rujukan umat muslim (masādir al-asliyyah) memberikan penegasan bahwa keadilan merupakan amanah yang harus ditunaikan. Keadilan harus diimplementasikan oleh setiap individu. Dalam prakteknya, keadilan tidak hanya diprioritaskan untuk sesama manusia, tetapi juga perlakuan adil terhadap alam semesta.

Misalnya QS. al-Nisā [4]: 58 menjelaskan, 

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”

Baca Juga: Pentingnya Perspektif Spiritual Agar Kita Tak Gampang Merusak Alam

Ayat ini memberikan dua informasi, yaitu kewajiban untuk amanah dan berbuat adil. Secara historis, mengutip pandangan al-Ṭhabarī ayat ini turun kepada walah al-umur (pemimpin), baik itu dengan sebutan Imam, Ulil Amri maupun Sultan. Dalam riwayat lain, ayat ini turun kepada Nabi Muhammad tentang siapa yang berhak mendapatkan jabatan pemegang kunci Ka’bah. 

Merujuk riwayat tersebut, ayat ini tergolong waqā’i al-āyāt (konteks ayat) turun berdasarkan peristiwa, yang membicarakan tentang wilayah kepemimpinan. Memahami ayat secara konteks itu tidak salah justru dibutuhkan, tetapi perlu dielaborasi. Sebab berdampak kepada pemahaman yang sempit. 

Kasus ayat ini perlu adanya rekonstruksi pemahaman teks dengan mengubah spektrum pemahaman secara luas. Dalam kajian tafsir, dikenal dengan istilah al-‘ibrah bi umūmil lafdzi la bi khususi sabab. Jangkauan teks diberlakukan secara universal. Tentu akan terjadi kontradiksi dalam mengimplementasikan ayat. Apakah berpihak kepada kekhususan teks atau berpihak kepada keumuman teks. Penyelesaian kontradiksi ini, cukup relevan juga menggunakan al-‘ibrah bi maqāṣidihā. Keberpihakan harus berdasarkan maslahat dan tujuan. 

Perlu diingatkan, pendekatan maqasidi tentu tidak menegasikan histori ayat, sebab konteks dan teks itu dipahami secara beriringan. Secara konteks ayat tersebut membicarakan tentang pemimpin yang mempunyai kekuasaan atau jabatan. 

Sedangkan secara teks, substansi seorang pemimpin itu sudah dimiliki setiap individu, sehingga kewajiban berbuat adil dan amanah tidak hanya berlaku terhadap pemimpin secara prosedural, tetapi juga secara substansi. Pada hakikatnya semua manusia adalah pemimpin yang dibebani tugas kepemimpinan dari Allah sebagai wakil-Nya—khalifah fi al-ard.

Baca Juga: Mengapa Manusia Cenderung Merusak Alam, Ternyata Ini Alasannya

Begitu juga pembahasan tentang tugas pemimpin di ayat tersebut. Mayoritas tafsir sepakat bahwa pemimpin yang ideal adalah pemimpin yang bisa berbuat adil. Tidak sedikit ahli tafsir menyempitkan konsepsinya, bahwa keadilan di ayat tersebut hanya belaku sesama manusia. Padahal tidak. Ayat tersebut juga menjadi legitimasi bagi setiap perlakuan adil terhadap alam semesta. Dengan alasan, bahwa term amanah pada ayat di atas tidak hanya berlaku kepada manusia. Tetapi juga berlaku seluruh makhluk Tuhan. 

Term amanah merupakan bagian dari etika khalifah. Semua manusia merupakan wakil Tuhan yang dibebani tugas untuk amanah. Oleh karenanya, manusia memiliki tanggungjawab untuk berbuat adil terhadap alam, sebab berbuat adil terhadap alam itu lebih maslahah.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

5 Tips Menjaga Hafalan Al-Quran Menurut Sunnah Rasulullah SAW

Harakah.id - Aku akan menjelaskan ke kalian tentang hadits yang aku yakin hadits ini akan sangat bermanfaat untuk teman-teman penghafal Qur’an.

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...