Beranda Headline Kaleidoskop 2020: Konstelasi Politik Timur Tengah Kontemporer

Kaleidoskop 2020: Konstelasi Politik Timur Tengah Kontemporer

Harakah.idPolitikTimur Tengah selalu menyajikan keriuhan dan pesta konflik. Dalam kaleidoskop 2020, konstelasi politik Timur Tengah tak kalah ramai dari tahun-tahun sebelumnya.

Politik Timur Tengah adalah lokus perhatian dunia internasional. Kawasan tersebut juga menyisakan ingatan tentang gelombang protes yang terjadi satu dekade lalu. Ketika gejolak revolusi telah menumbangkan rezim-rezim otoriter, korup, dan tidak memihak kepada kepentingan rakyat. Kondisi ini membuat mayoritas negara-negara Timur Tengah mengalami ketimpangan dan dirundung persoalan birokrasi.

Pasca 10 tahun berlalu, masih tersisa puing-puing dampak gelombang revolusi atau yang dikenal dengan Arab Spring tersebut. Negara-negara terdampak badai revolusi ini, kini tengah berbenah dan berproses. Seperti halnya Tunisia juga tengah mengevaluasi dan menuju pemerintahan yang demokratis. Meski untuk mencapainya perlu usaha keras dan stabilitas pemerintahan yang baik.

Sementara itu, Mesir juga nampaknya aktivitas dan konstelasi politiknya terlihat stabil. Meski harus berjuang dalam berbagai dinamika yang melingkupinya. Mesir dihadapkan pada persoalan dalam negeri yang tak menentu. Apalagi krisis pandemi Covid-19 juga telah memberikan dampak besar bagi stabilitas ekonomi negara tersebut. Berbagai rintangan dan tantangan yang mesti dihadapi harus mampu dikelola dengan baik, meski hal itu tidak mudah. 

Sedangkan, Arab Saudi juga berusaha melakukan reformasi birokrasi. Di bawah kendali putra mahkota Muhammad bin Salman (MBS). Orientasi dan arah kebijakan Arab Saudi nampaknya berbeda dengan kebijakan yang dikeluarkan oleh ayahnya, Raja Salman. Hal ini menunjukkan bahwa MBS ingin melakukan gebrakan kontroversial di Arab Saudi. 

nucare-qurban

Lewat berbagai kebijakan yang telah ia lakukan dalam rangka mencapai visi Arab Saudi 2030. Seperti halnya memperbolehkan perempuan untuk menyetir mobil, perempuan dapat menonton film di bioskop, menyaksikan pertandingan sepak bola di lapangan, dan kebijakan-kebijakan lainnya yang cenderung kontroversi. Tetapi, MBS juga tengah menggenjot dalam pembangunan kota Neom sebagai kota multidimensi dan teknologi tercanggih di kawasan. 

Namun, Arab Saudi juga dihadapkan pada persoalan serius terkait HAM. Kematian Khassogi dan ditangkapnya para ulama yang berpaham dan berafiliasi dengan Wahabi menjadi catatan tersendiri. Dalam hal ini, AS berusaha menyorot kasus tersebut dalam perihal penanganan HAM di negara tersebut.

Normalisasi Israel-Arab

Selain itu, fenomena normalisasi hubungan diplomatik antara Israel dengan negara-negara Arab juga mengindikasikan bahwa arah peta konstelasi politik Timur Tengah mengalami perkembangan yang cepat. Apalagi kesepakatan tersebut tidak lepas dari campur tangan AS untuk memuluskan kesepakatan yang disebut dengan Abbraham Accord (Kesepakatan Abraham) tersebut.

Kali pertama negara yang menerima normalisasi yakni Uni Emirat Arab (UEA). Hingga berlanjut Bahrain pun menyusul untuk menjadi negara kedua yang menormalisasi dengan Israel. Tidak selesai hanya dua negara yang bergabung dengan Israel dalam Abraham Accord, tetapi Sudan juga menerima tawaran Israel melalui lobi AS untuk melakukan normalisasi hubungan diplomatik dengan Israel. Hal ini menambah daftar negara Timur Tengah yang menormalisasi dengan Israel.

Bahkan, negara yang baru bergabung dalam Abraham Accord selanjutnya yakni Maroko. Negara tersebut telah memutuskan kebijakan penting untuk menjalin kerjasama dengan Israel di berbagai sektor, termasuk ekonomi, politik, dan militer. 

Beberapa kesepakatan telah diteken oleh masing-masing negara, termasuk mengenai peningkatan kerjasama ekonomi antar negara dengan Israel. Bahkan, maskapai penerbangan Israel juga untuk pertama kali terbang dari Tel Aviv ke Dubai. Hingga berbagai kerjasama tentang ekspor-impor juga telah terjalin. 

Normalisasi hubungan diplomatik antara Israel dengan beberapa negara Arab juga merupakan strategi AS dalam mendapatkan dukungan dari negara-negara Timur Tengah, meski dalam Pilpres AS tahun ini, Donald Trump harus kalah, dan Joe Biden menjadi pemenang dalam kontestasi Pilpres AS. 

Sementara itu, Joe Biden juga bakal melakukan reformasi kebijakan, ia dinilai berencana untuk menerapkan kebijakan luar negeri yang ketat atas Timur Tengah, berbeda dengan apa yang telah dilakukan oleh Trump selama ini.

Sedangkan, permasalahan Palestina juga terus menjadi hal penting. Entah bagaimana nasibnya ke depan, di tengah banyaknya negara Arab yang menormalisasi dengan Israel. Hal ini juga memperburuk kondisi perjuangan Palestina kedepan. Akankah masa depan Palestina akan berubah lebih baik, atau justru sebaliknya, terjerumus dalam jurang ketidakpastian dan semakin suram?

Sementara Lebanon pasca ledakan amonium nitrat yang terjadi di pelabuhan kota Lebanon telah meluluhlantakkan pelabuhan tersebut dan daerah sekitarnya. Selain itu, reformasi birokrasi masih terus berbenah. Pasca mundurnya Perdana Menteri Lebanon, Hassan Diab, dari jabatannya menjadi instabilitas politik Lebanon. 

Masa Depan Politik Timur Tengah 

Di tengah berbagai kemelut politik dan proses yang telah terjadi. Timur Tengah akan selalu terus berjalan dinamis. Kawasan yang kaya dengan historisitas, lahirnya agama-agama samawi, kerentanan konflik, dan kontestasi politik yang rumit menjadi proses negara-negara di kawasan tersebut.

Perebutan pengaruh dan intervensi asing, termasuk Amerika Serikat, Rusia, dan negara-negara Eropa menjadi benturan yang tak terbantahkan. Sejak meletusnya Arab Spring, dengan gelombang protes yang menjalar di berbagai negara di Timur Tengah telah menandai revolusi dan upaya demokratisasi. 

Selain itu, rakyat pun telah lelah dan marah atas pemerintahan yang otoriter, korup, dan tidak memihak kepada kepentingan rakyat. Hingga akhirnya tumbangnya para pemimpin negara menjadi dampak dari protes besar-besaran yang berawal dari ketimpangan ekonomi dan perlawanan rakyat atas perlakuan pemimpin yang cenderung memperkaya diri pribadinya. 

Rezim-rezim otoriter dan korup sudah telah usang. Mereka seharusnya diganti dengan pemimpin yang adil dan mendengar jeritan harapan dan keinginan rakyatnya. Timur Tengah butuh pemimpin yang amanah, bertanggung jawab penuh atas hak-hak rakyat, dan mengayomi masyarakatnya. Timur Tengah butuh kedamaian tanpa ada lagi konflik antar kepentingan yang justru menyisakan ingatan kepedihan dan air mata.

Masa depan politik Timur Tengah terus berproses dan berjalan dinamis. Namun, ada berbagai kemungkinan yang terjadi atas konstelasi politik di kawasan tersebut. Proses reformasi birokrasi yang masih terus berjalan menjadi persoalan politik yang tak akan pernah selesai. 

Mulai dari Lebanon, Yaman, Libya, dan beberapa negara lainnya menjadi bagian dimana faktor birokrasi adalah aspek yang paling penting dalam proses restrukturisasi politik di negara-negara yang mengalami kegaduhan politik. Sementara Suriah, presiden Bashar al-Assad masih bertengger di tampuk kekuasaannya. Ia masih sulit digulingkan dari kursi kepresidenan. Nampaknya, berbagai kepentingan dan intervensi asing terlibat dalam sengketa politik Suriah. 

Sedangkan, Turki juga terlihat bagaimana Erdogan masih bersikeras dalam memimpin Turki kedepan. Ia melakukan kebijakan-kebijakan kontroversial, termasuk mengkonversi Hagia Sophia dari museum ke masjid dan beberapa gereja menjadi masjid, bahkan ia membangun masjid agung di Istanbul sebagai bagian representasi atas kekuasaan Erdogan yang masih bertahan dan berupaya menerapkan visi Neo-Ottoman di tubuh pemerintahannya. Hingga goal-nya yakni ia memenangi Pilpres 2024 dan kembali menjabat presiden untuk proses politik Turki kedepan. 

Kita tunggu saja bagaimana proses politik berjalan dan berkelindan di beberapa negara Timur Tengah. Berbagai tantangan dan dinamika politik menjadi hal krusial dalam pengelolaan kompleksitas persoalan kawasan tersebut. Akhirnya, kita bersama-sama menanti Timur Tengah yang kondusif, aman, dan tenteram. Tak ada lagi konflik dan perpecahan antar negara, yang akhirnya bakal memecah belah bangsa dan negara, hingga menelan banyak korban di tengah konflik yang memanas. 

REKOMENDASI

Mengenal Gagasan Ibn Haitsam: Ilmuwan dan Filosof Muslim yang Terlupakan

Harakah.id - Ibn Haitsam mungkin adalah salah seorang ilmuan dan filosof Muslim yang jarang sekali dibicarakan. Popularitasnya kalah dengan ilmuan dan...

Kisah Perempuan dalam Jaringan Pendukung ISIS di Indonesia

Harakah.id - Perempuan memiliki peran jauh lebih penting dalam proses pembentukan klaster kelompok radikal. Kisah para perempuan berikut akan menunjukkan hal...

Dalam Pertempuran Melawan Virus, Dunia dan Kemanusiaan Tak Lagi [Hanya] Membutuhkan Kepemimpinan

Harakah.id - Virus, yang kemudian dikenal dengan nama Corona, sudah menyebar setahun dan menjangkiti jutaan manusia. Sebuah artikel dari Yuval Noah...

Peran Habib Rizieq dalam Lahirnya Sentimen Anti-Arab di Indonesia

Harakah.id - Habib Rizieq berikut Front Pembela Islam harus dilihat bukan hanya sebagai organisasi yang soliter, tapi juga percikan dari...

TERPOPULER

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Para Ulama dan Habaib yang Berseberangan dengan Habib Rizieq

Harakah.id - Gerakan Habib Rizieq dan FPI-nya mendapat sorotan sejak lama. Para pemimpin Muslim di Indonesia tercatat pernah berseberangan dengannya. Inilah...