Kamu Hobi dan Sering Belanja Online? Ini Penjelasan Soal Hukum Transaksi Jual-Beli Online Menurut Islam

0
391
Kamu Hobi dan Sering Belanja Online? Ini Penjelasan Soal Hukum Transaksi Jual-Beli Online Menurut Islam

Harakah.idBelanja online tampaknya kini sudah menjadi kebiasaan baru. Hanya berbekal handphone dan aplikasi, seseorang bisa berbelanja dengan mudah dari rumahnya masing-masing.

Salah satu prinsip penting yang perlu diketahui dalam melihat persoalan Muamalah dalam Islam, termasuk kasus belanja online, adalah segala sesuatunya boleh sampai ada dalil yang mengharamkannya. Ungkapan ini berasal dari kaidah dasar dalam persoalan muamalah, al-Ashlu fi al-Mu’amalah (al-‘Uqud wa al-Syuruth fiiha) al-Ibahah/al-Jawaz.

Menurut Dr. Nayif bin Jam’an al-Juraidan, kaidah ini dianut oleh mayoritas ulama dari empat mazhab (Hanafiyyah, Syafi’iyyah, Malikiyah, dan Hanabilah) dan ditolak oleh Mazhab Zhahiri yang berpendapat sebaliknya. Bahwa, segala sesuatu dalam muamalah juga haram sampai ada dalil yang menghalalkannya. Namun, hemat penulis dalil yang digunakan keduanya sebenarnya sama, yaitu dilarangnya mengharamkan atau menetapkan sebuah hukum dalam muamalah kalau tidak ada dasar yang kuat.

Hal ini harus kita jadikan framework dalam melihat perkembangan model-model transaksi atau akad yang bentuk dan skemanya semakin variatif. Kemunculan internet, misalnya, telah menjadi pemacu terhadap kelahiran aneka model teknologi transaksi yang semuanya tidak bisa segera kita cap haram tanpa ada ketegasan bahwa berdasarkan dalil jelas itu diharamkan dan membawa mudharat yang lebih besar.

Haramkah belanja online? Maka untuk menjawab ini kita perlu mengetahui bahwa seseorang kita membeli sesuatu via internet itu ada yang bertransaksi langsung dengan pemilik barang, ada juga yang hanya menampilkan barang yang dijual, namun penjual belum memilkinya. Yang terakhir ini saat ini populer disebut dropshipping.

Belanja online juga punya berbagai macam jalur, ada yang lewat platform media sosial, website penjual sendiri, atau lewat marketplace (situs para pelapak/penjual)yang hari ini menjadi tren (sebut misalnya bukalapak, tokopedia, dan sebagainya). Hukumnya tentu berbeda-beda karena dari segi sistem misalnya lebih tertata dan ada jaminan keberlangsungan transaksi lewat marketplace dibandingkan dengan lewat media sosial.

Jika penjual buruknya melakukan mangkir atau penipuan, jika lewat marketplace maka ia akan diberikan rating buruk bahkan pinalti dari marketplace. Namun jika lewat media sosial, hukuman bisa secara sosial, misalnya pembeli yang ditipu membuat pengumuman agar akun penjual tersebut jangan dibeli lagi, dan dampaknya bisa lebih rendah atau segera lebih parah.

Berbelanja online jika dikiaskan dengan penjelasan fikih soal model transaksi jual beli yang dihalalkan, maka lebih dekat kepada jual beli salam. Dalam khazanah fikih, jual beli salam adalah jual beli dengan barang yang diperdagangkan hanya disediakan contohnya. Selain itu, ciri dari jual beli salam adalah pembeli (al-musytari) menyerahkan uang terlebih dahulu setelah setuju membeli barang yang sudah disediakan contohnya. Mengutip Taqiyuddin al-Hishni al-Syafi’i dalam karyanya Kifayatu al-Akhyar, jual beli salam disebut al-salam karena menyerahkan uang di saat akad (taslim ra’si al-mal fi al-majlis) dan al-salaf karena uangnya diserahkan duluan (li taqdim ra’si al-mal) (Kifayatu al-Akhyar: j.1, h. 208).

Untuk menilai jual beli dan belanja online, saya akan mencoba menggunakan penjelasan Syaikh Abu Syuja’ dalam kitab Taqrib soal delapan syarat yang harus dipenuhi dalam jual beli salam untuk melihat apakah syarat itu terjadi dalam kasus online. Berikut delapan syarat tersebut:

 أن يصفه بعد ذكر جنسه ونوعه بالصفات التي يختلف الثمن

Menjelaskan model barang yang berbeda-beda harganya jika jenis dan modelnya berbeda

 يذكر قدره بما ينفي الجهالة عنه

Menjelaskan ukuran/bobot untuk menghilangkan ketidaktahuan

 وإن كان مؤجّلًا ذكر وقت محله

Jika pemberian barang ditempo, disebutkan kapan waktu penyerahan barang

أن يكون موجودًا عند الإستحقاق في الغالب

Pada umumnya barangnya segera ada ketika penyerahan

 أن يذكر موضع قبضه

Menyebutkan tempat serah terima barang

 أن يكون الثمن معلومًا

Harganya diketahui

 أن يتقابضاه قبل التفرق

Ada serah terima saat akad

 أن يكون العقد نَاجزًا لا يدخله خيار شرطٍ

Akadnya segera berakhir dan tidak ada skema khiyar syarat kembali.

Jika melihat delapan syarat tersebut, syarat 1, 2, dan 6 sudah terjadi sejak konsumen memilih-milih barang. Ada gambar (atau video) sebagai contoh barang yang akan dipasarkan. Kita juga sudah disediakan detail barang (berat, ukuran, kualitas) sampai harga yang sudah ada. Memang, sudah tidak ada tawar menawar lagi. Tapi dengan kita memesan, itu menunjukkan kita setuju dengan tawaran yang diberikan.

Setelah kita setuju membayar harga barang plus berapa ongkos yang ditetapkan untuk pengiriman, kita akan diminta alamat. Ini bahkan memenuhi syarat 4, 5, dan 7. Untuk jual beli media online via situs belanja, bahkan ada update sudah sampai mana barang yang kita beli. Ini memenuhi syarat no. 3 yaitu ditetapkan waktu penyerahan barang. Terakhir adalah syarat no. 8, skema khiyar lewat situs belanja sudah ada dalam bentuk garansi, pengaduan jika barang rusak, atau penjual justru tidak mengirimkan barang.

Dari analisa tersebut, hemat penulis akad yang dilakukan via online sudah memenuhi standar akad salam, setidaknya dalam mazhab Syafi’i. Karena akad salam secara fikih pun disebut sebagai akad gharar (yang mengandung ketidakjelasan), tapi secara ijma’ diperbolehkan karena kebutuhan yang mendesak (li al-haajah).

Wallahu A’lam.