Kapan Istilah “Hadis” Pertama Kali Muncul?

0
1136

Harakah.idHadis memiliki posisi yang sangat penting dalam Islam. Ia adalah sumber hukum dan ajaran Islam, sebagaimana al-Quran. Hanya saja, sebagian umat Islam masih ada yang menyangsikan posisi tersebut. Mereka menyangsikan otoritas hadis sebagai sumber ajaran Islam, bahkan menolaknya. Lalu, apa sebenarnya hadis itu dan bagaimana sejarah kemunculannya sehingga masih ada sebagian umat Islam yang menyangsikannya?

Secara kebahasaan, hadis memang berasal dari bahasa Arab. Ia sudah lama dipakai untuk arti baru atau untuk arti pembiacaraan. Dalam hadis Nabi, kata hadis dan derivasinya yang digunakan untuk arti baru, misalnya terdapat dalam hadis,

مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Siapa yang membuat suatu hal baru dalam urusan [agama] kami, yang sebenarnya tidak termasuk bagian darinya, pasti tertolak.”

Sedangkan penggunaannya untuk arti pembicaraan, misalnya terlihat dalam hadis,

كَفَى بِاْلَمْرِء كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

“Cukuplah seseorang disebut sebagai pembohong saat ia menceritakan/mengatakan apapun yang telah ia dengar.”

Atau dalam hadis,

مَنْ حَدَّثَ عَنِّي بِحَدِيْثٍ وَهُوَ يَرَى أَنَّهُ كَذِبٌ فَهُوَ مِنَ اْلكَذَّابِيْنَ.

“Siapa yang menceritakan suatu kabar dariku, sedangkan ia mengetahui bahwa kabar tersebut adalah bohong, maka ia termasuk pembohong juga.”

Beberapa hadis Nabi di atas menjadi bukti bahwa kata hadis memang sudah dikenal sejak masa Nabi. Hanya saja, apakah kata-kata hadis dan derivasinya yang ada dalam hadis-hadis Nabi di atas itu memiliki makna yang sama dengan kata hadis yang populer saat ini?

Secara terminologis, saat ini jika disebutkan kata hadis, pasti semua orang akan memaknainya sebagai hadis Nabi. Yaitu, segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi, berupa ucapan ,perbuatan, sifat, keputusan, atau keinginan.

ما أضيف إلى النبي من قول أو فعل أو وصف أو تقرير أو هم

Hadis dengan arti yang demikian itulah yang populer saat ini, khususnya dalam bidang ilmu-imu keislaman, dan lebih spesifik , dalam ilmu hadis sendiri. Nyaris tak ada makna lain selain makna tersebut.

Namun, kata hadis dengan arti terminologis seperti itu belum pernah ada pada masa Nabi. Istilah yang populer pada masa Nabi adalah sunnah. Nabi sendiri sering sekali menggunakan istilah sunnahku, dan nyaris tak terdengar nabi menggunakan istilah hadisku. Meski demikian, bukan berarti hadis pada masa Nabi masih belum ada, sebagaimana anggapan sebagian peneliti hadis di Barat. Hadis sudah ada pada masa Nabi, namun belum dinamai hadis sebagaimana saat ini. Saat itu, yang dimaksud hadis adalah sunnah.

Segala sesuatu yang nyata-nyata dinyatakan, dilakukan, ditetapkan, maupun disetujui, bahkan hanya sekedar diinginkan oleh Nabi, itulah hadis Nabi pada masa Nabi. Hal ini terlihat misalnya dalam kenangan Abu Hurairah (w. 59 H) tentang bagaimana ia belajar menghafal hadis Nabi.

…وقد قال رسول الله صلى الله عليه و سلم في حديث يحدثه ( إنه لن يبسط أحد ثوبه حتى أقضي مقالتي هذه ثم يجمع إليه ثوبه إلا وعى ما أقول… (رواه البخاري)

“Rasulullah pernah menegaskan dalam suatu hadis yang beliau sabdakan, ‘Orang yang menggelar salah satu pakaiannya sampai aku selesai menyampaikan pengajianku ini kemudian ia ikat pakaiannya itu, pasti tidak akan lupa terhadap apa yang aku katakan.” (HR. al-Bukhari).

Sedangkan hadis Nabi saat ini, dimaknai sebagai segela sesuatu yang disandarkan, dinisbatkan, atau diduga kuat berasal dari Nabi. Oleh karena itu, ucapan atau perbuatan dinyatakan bersumber dari Nabi, meskipun belum tentu benar-benar berasal dari Nabi, adalah dapat disebut sebagai hadis Nabi.

Hadis palsu (maudlu’), adalah ungkapan yang tidak terbukti bersumber dari Nabi, namun disebut-sebut berasal dari Nabi. Nama Nabi dicatut lalu ditempelkan kepada ungkapan tersebut. Jadilah ia sebuah ungkapan yang diatasnamakan kepada Nabi. Kasus seperti itu, meskipun hakikatnya bukan hadis Nabi, bukan sunnah Nabi, namun ia dapat disebut sebagai hadis. Karena, ungkapan tersebut telah disandarkan atau dinisbatkan kepada Nabi.

Meski demikian, penyandaran suatu ungkapan kepada Nabi pada saat beliau masih hidup juga telah terjadi pada masa Nabi. Saat mendengar kabar dari salah seorang sahabat bahwa Nabi telah menceraikan istri-istrinya, Umar sebagai salah satu mertua beliau, seketika itu juga mngklarifikasinya kepada Nabi. Ini karena Umar mendengar suatu kabar yang dinisbatkan kepada Nabi.

عن ابن عباس قال : أصبحنا يوما ونساء النبي صلى الله عليه و سلم يبكين عند كل امرأة منهن أهلها فخرجت إلى المسجد فإذا هو ملآن من الناس فجاء عمر بن الخطاب فصعد إلى النبي صلى الله عليه و سلم وهو في غرفة له فسلم ولم يجبه أحد ثم سلم فلم يجبه أحد ثم سلم فلم يجبه أحد فناداه فدخل على النبي صلى الله عليه و سلم فقال أطلقت نساءك ؟ فقال ( لاَ وَلَكِنْ آلَيْتُ مِنْهُنَّ شَهْرًا ) . فمكث تسع وعشرين ثم دخل على نسائه.

Ibnu Abbas berkisah, “Suatu hari kami mendapati istri-istri Nabi menangis di pagi hari. Masing-masing istri tersebut didampingi oleh salah seorang anggota keluarganya. Lalu, aku keluar menuju masjid. Tiba-tiba sudah dipenuhi oleh warga. Umar pun kemudian datang dan segera naik menemui Nabi yang sedang berada di dalam kamarnya. Ia ucapkan salam, namun tidak ada jawaban sama sekali. Ia ulangi lagi salamnya, namun tak ada jawaban sama sekali. Ketiga kalinya ia ulangi lagi salamnya, namun tak juga ada jawaban.

Umar pun berteriak memanggil-manggil Nabi dan langsung masuk ke kamarnya. Ia tanyakan kepada Nabi, “Apakah Anda menceraikan istri-istri Anda?”

“Tidak, melainkan aku hanya berjanji tidak mempergauli mereka selama satu bulan.” Tegas Nabi mengklarifikasi berita.

Nabi pun kemudian “menyendiri” selama dua puluh sembilan hari, hingga kemudian beliau kembali mempergauli istri-istrinya.

Demikianlah cikal bakal definisi hadis. Peristiwa ini pulalah yang nantinya akan menjadi landasan yuridis-historis kritik hadis.