Beranda Keislaman Ibadah Kapan Waktu Terbaik Mengqadha Puasa Ramadhan yang Ditinggalkan

Kapan Waktu Terbaik Mengqadha Puasa Ramadhan yang Ditinggalkan

Harakah.id – Yang dianjurkan adalah qadha’ puasa Ramadhan dilakukan dengan segera tanpa ditunda-tunda.

Puasa dalam Bahasa Arab disebut as-shiyam yang secara bahasa berarti al-imsaku anisy sya’i, yakni menahan diri dari sesuatu baik perkataan ataupun makanan. Adapun puasa menurut istilah adalah menahan diri dari segala sesuatu hal yang membatalkan puasa mulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari disertai dengan niat karena Allah ta’ala. Allah Swt berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُم لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan bagimu berpuasa, sebagaimana telah diwajibkan pada orang2 sebelum kamu agar kamu bertakwa” (Qs. Al -Baqarah: 183)

Qadha adalah mengerjakan suatu ibadah yang memiliki batasan waktu di luar waktunya. Adapun orang yang dikenakan qadha’ puasa adalah orang yang sakit dan sakitnya memberatkan untuk puasa, wanita hamil dan menyusui apabila berat untuk puasa, seorang musafir, juga wanita yang mendapati haidh dan nifas.

Qadha’ puasa Ramadhan boleh ditunda, maksudnya tidak mesti dilakukan setelah bulan Ramadhan yaitu di bulan Syawal. Namun boleh dilakukan di bulan Dzulhijah sampai bulan Sya’ban, asalkan sebelum masuk Ramadhan berikutnya. Di antara pendukung pendapat ini adalah ‘Aisyah pernah menunda qadha’ puasanya  sampai bulan Sya’ban.

Akan tetapi yang dianjurkan adalah qadha’ puasa Ramadhan dilakukan dengan segera (tanpa ditunda-tunda) berdasarkan firman Allah Swt,

أُولَئِكَ يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَهُمْ لَهَا سَابِقُونَ

“Mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya.” (QS. Al Mu’minun: 61)

Dalam kitab Riyadh Al-Badi’ah disebutkan bahwa orang yang menunda puasa Ramadhan dengan sebab udzur, lalu orang itu mati sebelum dapat melakukan qadhanya, maka (orang tersebut tidak berdosa) dan tidak dibebani (dengan membayar fidyah dan qadha). Tapi kalau (penundaannya tanpa ada udzur) kemudian orang itu mati sesudah memungkinkan untuk mengqadha, maka orang tersebut wajib tadaruk (menyusul dengan salah satu di antara dua perkara):

  1. Dengan jalan ahli waris mengqadha puasanya si mayat
  2. Ahli waris mengeluarkan fidyah satu mud setiap hari sebanyak puasa yang ditinggalkan

Namun jika orang yang suka menunda puasanya tanpa ada udzur hingga datang Ramadhan berikutnya, maka wajib orang tersebut (dibebani membayar fidyah) satu mud (takaran 1 mud = 1/4 sha’ berarti 1 mud = 1/4 x 2,5 kilogram. Jika harga beras per kilogram adalah Rp 8000, maka harga 2,5 kilogram beras atau 1 mud adalah sebesar Rp 20.000) setiap hari dari makanan (yang menguatkan daerah itu), juga dibebani dengan puasa qadha (yang tertinggal). Dan fidyah mud itu diulang-ulang dengan pengulangan dua tahun. Dan begitu juga hukumnya atas wanita hamil dan menyusui apabila mereka berbuka karena khawatir terhadap anaknya, maka mereka wajib membayar fidyah satu mud beserta mengqadha puasanya.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

5 Tips Menjaga Hafalan Al-Quran Menurut Sunnah Rasulullah SAW

Harakah.id - Aku akan menjelaskan ke kalian tentang hadits yang aku yakin hadits ini akan sangat bermanfaat untuk teman-teman penghafal Qur’an.

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...