Karimah, Perawi Perempuan Pertama Kitab Shahih Bukhari yang Rela Jomblo Karena Ilmu Pengetahuan

0
91

Harakah.idKarimah binti Muhammad adalah perempuan pertama yang meriwayatkan Shahih Al-Bukhari. Begitulah yang disampaikan oleh Ali Abdul Fatah dalam A’lam Al-Mubdi’in.

Banyak tokoh perempuan yang menginspirasi generasi setelahnya. Baik bagi kalangan laki-laki maupun perempuan. Mereka telah berhasil menjadi mercusuar lintas kelompoknya. Karimah binti Muhammad bin Hatim adalah salah satu dari perwakilan intelektual muslim perempuan. Tokoh yang satu ini bahkan hidupnya dihabiskan untuk belajar dan mengajar.

Dalam sejarah umat Islam, ia termasuk dari deretan nama sosok yang mulia. Begitu berharga dan menjadi inspirasi bagi masyarakatnya. Kemuliaan ini adalah karena kemampuan intelektualnya yang tidak diragukan lagi. Baik menurut kerabat maupun tokoh terkemuka. Karimah binti Muhammad adalah perempuan pertama yang meriwayatkan Shahih Al-Bukhari. Begitulah yang disampaikan oleh Ali Abdul Fatah dalam A’lam Al-Mubdi’in. Beliau juga pembaca buku-buku, begitu memperhatikan adab, banyak belajar fiqh, hadis, dan tafsir kepada para pakar terkemuka. Bahkan beliau tercatat pernah belajar kepada Abi Al-Haitsam dan Al-Sarkhasi.

Menjadi perempuan pertama yang meriwayatkan kitab Shahih Al-Bukhari bukan hal yang sederhana. Sebagaimana kita ketahui bersama, Imam Bukhari adalah salah satu tokoh terkemuka dalam bidang hadis. Karyanya, Shahih Al-Bukhari, adalah di antara referensi primer bagi pengkaji hadis Nabi. Bahkan, syarat-syarat hadis versi Bukhari lebih ketat daripada lainnya.

Pertanyaannya, mengapa Karimah disebut-sebut sebagai perempuan pertama yang meriwayatkan kitab Shahih Al-Bukhari? Abdul Fattah menjelaskan alasan terkait hal tersebut. Menurutnya, Karimah adalah perempuan yang menguasai masalah periwayatan hadis secara mendalam. Ia juga gigih untuk mempelajari kitab Imam Bukhari. Ia disebut sebagai perawi kitabnya Imam Bukhari yang pertama karena ia mendapatkan hadis tersebut langsung dari Imam Al-Haitsami. Sementara Al-Kasymihani mendapatkan hadis Imam Bukhari langsung dari Al-Farbari. Sebagaimana kita ketahui, teks asli kitab Shahih Bukhari ada di tangan Al-Farbari.

Ini menunjukan bagaimana kecintaan Karimah terhadap ilmu membuatnya tidak tertinggal perkembangan ilmu pada waktu itu. Ia selalu up to date. Tidak merasa puas pengetahuan yang telah ia kuasai. Salah satu prasyarat dalam menuntut ilmu.

Ilmu tidak melihat jenis kelamin dan strata sosial. Ilmu akan hadir kepada siapapun yang tidak jemu menyelami samudera keindahannya. Begitulah kira-kira yang disadari oleh Karimah. Bahkan, dimanapun ia berada, maka yang dilakukan adalah berpikir, merenung, membaca, menulis, ataupun mengajar. Inikah yang dimaksud orang yang sudah merasakan manisnya bermesraan dengan ilmu?

Melihat pentingnya ilmu pengetahuan, Karimah berkenan dengan suka rela untuk membagi yang ia ketahui kepada orang lain. Bahkan, Karimah memiliki institusi (majlis) untuk mengajar di Makkah. Tempat ini dikunjungi oleh berbagai penuntut ilmu, para pakar fiqh, dan orang-orang yang telah banyak menguasai ilmu pengetahuan. Dalam majlis tersebut, Karimah kerap menjawab berbagai persoalan dan permasalahan dengan penjelasan yang mudah, tajam, dan jelas.

Karimah adalah sosok yang menjadi rujukan masyarakat pada waktu itu. Bahkan para intelektual muslim pada zamannya. Ini menunjukan bahwa kualitas pengetahuan dan pemahaman Karimah diakui banyak orang. Baik orang awam maupun sesama cendekiawan. Bukan hal yang mudah untuk mendapatkan derajat ini. Hal ini bukan berarti berlomba-lomba untuk mendapat pengakuan orang lain. Tetapi, sepatutnya kita memahami bagaimana cemerlangnya pemikiran Karimah.

Dari sisi kehidupan Karimah, mungkin oleh sebagian kita, yang mencengangkan adalah fakta bahwa Karimah justru hidup sendiri seumur hidupnya. Ya, beliau memilih untuk tidak menikah sampai ajal menjemputnya. Beliau lebih memilih untuk hidup bersama buku-bukunya. Bersenda gurau dengan pemikiran-pemikirannya. Dan berjalan dengan mesra bersama imajinasi cemerlangnya.

Hidupnya dihabiskan untuk mengajar perempuan-perempuan, khususnya terkait masalah-masalah yang kerap terjadi dalam hidup mereka. Beliau adalah sosok yang pandai merangkai kata supaya mudah dipahami oleh pendengarnya. Untuk itu, banyak yang tertarik untuk belajar kepada Karimah.

Solahuddin bin Aybak Al-Shafadi dalam Al-Wafi bi Al-Wafiyyat menggambarkan bagaimana Karimah binti Muhammad sebagai berikut:

Yang dimaksud dengan Ummul Kiram (ibunda yang sangat mulia) Al-Maruziyyah adalah Karimah binti Ahmad bin Muhammad bin Hatim Al-Maruziyyah. Beliau tinggal di Makkah. Beliau adalah penulis handal dan pandai. Beliau belajar kepada Muhammad bin Maki Al-Kasymihani. Beliau begitu memperhatikan kitabnya. Beberapa kali beliau meriwayatkan hadis-hadis shahih. Beliau adalah perawan dan tidak menikah. Umurnya panjang dan mata rantai keilmuannya tinggi. Beliau meninggal pada tahun 465 H.”

Kerja intelektual yang dilakukan oleh Karimah bukan hanya mengajar dan mengajar, tetapi ia curahkan pengetahuan yang telah diserap dalam sebuah tulisan. Sayangnya, penulis belum menemukan karya apa saja yang telah beliau tulis atau yang masih bisa kita nikmati pada zaman sekarang.

Kiprah perempuan dalam dunia pengetahuan bukan pemandangan yang aneh. Justeru sebaliknya, sangat aneh apabila perempuan tidak berpengetahuan. Karimah binti Muhammad telah menjadi contoh bagaimana beliau menjadi primadona dalam bidang pengetahuan. Baik oleh kelompok laki-laki atau sesama srikandi. Tidak luputnya beliau mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan adalah teladan selanjutnya yang bisa kita telusuri dalam laku hidup.