Beranda Khazanah Kasus Disertasi Milkul Yamin Abdul Azis dan Kontroversialitas Hermeneutika Dalam Menafsirkan al-Quran

Kasus Disertasi Milkul Yamin Abdul Azis dan Kontroversialitas Hermeneutika Dalam Menafsirkan al-Quran

Harakah.id Disertasi Milkul Yamin yang ditulis Abdul Aziz sempat ramai beberapa waktu yang lalu. Banyak yang pro dan banyak yang kontra. Artikel ini akan melihatnya sebagai satu produk hermeneutika dan bagaimana metode itu absah dalam menafsirkan al-Quran.

Beberapa waktu yang lalu sempat heboh dengan disertasi Milkul Yamin yang ditulis oleh Abdul Aziz, seorang mahasiwa program doktor di Universitas Islam Negri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta. Di dalam disertasinya, dia mengangkat topik yang berkaitan dengan hubungan seksual. Judul disertasi tersebut yaitu konsep Milk al-Yamin Muhammad syahrur sebagai keabsahan hubungan seksual non-marital.

Di dalam disertasi Milkul Yamin tersebut dia menyebut bahwa dia menggunakan metode hermeneutika, dan dia juga menyebut bahwa hubungan seks diluar nikah diperbolehkan asalkan memenuhi syarat-syarat tertentu. Maka hebohlah beberapa sebagian orang tentang pernyataan tersebut. Mereka berpikir bahwa bagaimana mungkin ada pemikiran yang menghalakan hubungan sesksual tanpa nikah itu boleh-boleh saja, asalkan saling rela, tidak ditempat terbuka, bukan istri orang dan lain sebagainya. Kehebohan ini juga yang memancing sebagian orang untuk tidak menggunakan metode hermenutika dalam menafsirkan al-Qur’an. 

Kata hermeneutika sendiri berasal dari bahasa yunani hermeneuein yang berarti “menafsirkan”. Kata ini sering diasosiasikan dengan nama seorang dewa yunani, Hermes. Dikalangan yang menerima hermeneutika menghubungkan sosok hermes sebagai Nabi idris. Sedangkan dalam mitologi Yunani kata hermes dikenal sebagai dewa yang membawa pesan kepada manusia. Sedangkan dari beberapa kajian tentang hermeneutika adalah sebuah “proses mengubah sesuatu atau situasi yang awalnya tidak tahu menjadi tahu dan mengerti” (Faiz: 2015).

Menurut Hans – Georg Gadamer dalam artikelnya “Classical And Philosophical Hermeneutics” dia mengatakan bahwa hermeneutika adalah seni praktis, yakni techne, yang digunakan dalam hal-hal seperti berceramah, menafsirkan bahasa-bahasa lain, menerangkan dan menjelaskan teks-teks, dan sebagai dasar dari semua ini (ia merupakan) seni memahami, sebuah seni yang secara khusus dibutuhkan ketika makna sesuatu (teks) itu tidak jelas (Syamsudin, 2017). Dengan makna ini pula lah, Friendrich Schleirmacher mengartikan istilah tersebut dengan “seni memahami bahasa orang lain, khususnya bahasa tulis” (Gadamer, 2006).

nucare-qurban

Salah satu dampak dari pendekatan hermeneutika sendiri adalah kita akan disuruh bernalar secara antroposentris. Kenyataan antroposentris inilah yang sering dipertanyakan maupun ditentang di kalangan umat beragama. Pendekatan hermeneutika secara umum sering dipandang melenyapkan sakralitas teks al-Qur’an yang dimaksud karena dengan kita menggunakan pendekatan ini (hermeneutika) maka semua baik itu pemahaman dan juga pemaknaan terhadap teks akan dipandang sama sakralnya dengan teks itu sendiri yang hanya dianggap sebagai hasil karya manusia biasa yang tidak akan terlepas dari namanya kesalahan.

Argumentasi-argumetasi kelompok anti-hermeneutika sendiri bermacam-macam. Salah satunya saja yaitu dari aspek historis, hermeneutika berasal dari tradisi kristen, barat dan juga tradisi filsafat yang mana ada sebagian orang yang beranggapan tidak pasti sesuai dengan islam. Dan ada juga yang beranggapan bahwa umat islam itu sudah memiliki metodologinya sendiri dalam menginterpretasikan al-Qur’an; yaitu Ulumul Qur’an dan Ilmu Tafsir al-Qur’an, karena menurut sebagian orang al-Qur’an tidak memerlukan hermeneutika sebagaimana bibel. Karena ketetapan dalam al-quran sudah final dan tidak berubah, dan kondisi ini berbeda dengan teks bibel yang tidak tetap dan berubah-ubah. 

Di dalam buku yang berjudul Hermeneutika Al-Quran (Faiz: 2015) menjelaskan bahwa apabila kita melakukan penafsiran al-quran dengan menggunakan pendekatan hermeneutika maka ada tiga asumsi dasar yang harus kita pegang, yaitu:

Pertama, para penafsir itu adalah manusia yang tidak akan terlepas dari ikatan historis dan pengalamannya dimana ikatan tersebut sedikit banyaknya akan mempengaruhi dan mewarnai corak penafsirannya. Dan setiap generasi akan memiliki argumentasi-argumentasi tersendiri terhadap al-Qur’an. Maka tidak mengherankan apabila pada akhirnya ada berbagai macam interpretasi dari setiap generasi tersebut.

Kedua, penafsir itu tidak dapat lepas dari bahasa, sejarah dan tradisi. Seorang yang menafsirkan al-Qur’an tidak akan bisa lepas dari bahasa, budaya dan tradisi. Karena faktanya satu penafsiran itu tidak bisa sepenuhnya mandiri berdasarkan teks saja, pasti akan terikat dengan muatan historis, baik itu muatan historis saat teks itu muncul atau saat teks itu ditafsirkan. Ketiga, tidak ada teks yang menjadi wilayah bagi dirinya sendiri. Misalnya saja kita bisa melihat perbedaan antara ayat-ayat makkiyah dan madaniyyah yang mana wahyu merupakan komentar terhadap kondisi masyarakat tertentu dimana wahyu itu turun. 

Lalu bagaimana metode hermeneutika yang dipahami oleh abdul aziz dalam disertasi Milkul Yamin yang ditulisnya dan berkaitan dengan hubungan seksual?

Menurutnya, konsep Milk Al-Yamin yang di masa awal islam yaitu tentang konsep kepemilikan budak bisa diinterpretasikan dengan konsep modern yaitu memiliki partner seksual diluar nikah yang dimana tidak bertujuan untuk membangun keluarga, dengan kata lain menikah kontrak. Akan tetapi menurut aziz dalam konsep ini juga Muhammad Syahrur tidak membenarkan seks begitu saja. Ada batasan ataupun larangan hubungan seks nonmarital (yang tidak melibatkan pemaksaan) ini.

Misalnya seperti memiliki hubungan darah, pesta seks, mempertontonkan kegiatan seks di depan umum, dan homoseksual. Dan Aziz juga menambahkan bahwa hubungan seksual yang terikat pernikahan ataupun diluar pernikahan itu adalah hak asasi manusia yang dilindungi oleh agama dan pemerintah, akan tetapi seks marital masih di pandang legal dalam tradisi fikih Islam. Tujuan dia mengangkat topik ini sebagai rekomendasi hukum keluarga islam atau hukum perdata dan pidana Islam yang terkait dengan perlindungan hubungan seks nonmarital. 

Abdul Aziz dalam disertasinya juga berpendapat bahwa negara Indonesia tidak terbuka masalah seksualitas. Permasalahan tentang bagaimana penyaluran hasrat manusia sebelum menikah tidak ada yang bisa mengatasi masalah ini dan akhirnya Indonesia hanya bisa menyembunyikan dan mengkriminalisasikan perbuatan tersebut. Namun, konsep yang ditawarkan oleh Aziz sendiri juga tidak bisa dipakai di Indonesia sendiri karena mengandung bias gender lantaran hanya membolehkan laki-laki saja yang bisa melakukannya. Sebagaimana konsep Milk al Yamin yang telah dipahami untuk dilakukan laki-laki dengan budak perempuan melalui akad milik.  

Oleh karena itulah, kasus disertasi Abdul Aziz ini merupakan salah satu problem menerima atau menolak tentang penggunaan metode hermeneutika dalam menafsirkan al-Qur’an, baik orang-orang yang pro terhadap hermeneutika ataupun anti terhadap hermenutika, mereka memiliki argumen tersendiri dalam memperjuangkan kebenaran yang mereka yakini.

Dan yang perlu dipahami bahwa saat perjuangan itu memasuki ruang publik, ada batasan-batasan ataupun aturan-aturan tertentu yang harus dipatuhi, agar tidak ada diskriminasi ataupun perilaku yang tidak adil yang bisa dilakukan oleh satu pihak. Karena ketika diskusi hermeneutika pada hakikatnya merupakan wacana ilmiah filosofis, plural dan beragam, baik dari segi aspek tokoh-tokohnya, maupun segi pola aplikasinya.

Menurut hemat penulis, baik pro-hermeneneutika ataupun anti-hermeneutika mereka harus memiliki argumen-argumen yang ilmiah bukan asumsi-asumsi yang tidak perlu, misalnya seperti kecurigaan dan ketakutan tanpa dasar terhadap yang lain, apalagi melibatkan emosi untuk memihak atau menjatuhkan pandangan tertentu tanpa dasar yang jelas. Karena secara umum hermeneutika tidak akan terlepas dari komponen teks, konteks dan kontekstualisasi yang akan beroperasi secara sinergis baik dalam memahami, menafsirkan sekaligus memproduksi makna baru sesuai dengan realitas ruang dan waktu yang mana akan diaplikasikan sebagai media untuk memahami kitab suci di era globalisasi saat ini. 

REKOMENDASI

Mengenal Gagasan Ibn Haitsam: Ilmuwan dan Filosof Muslim yang Terlupakan

Harakah.id - Ibn Haitsam mungkin adalah salah seorang ilmuan dan filosof Muslim yang jarang sekali dibicarakan. Popularitasnya kalah dengan ilmuan dan...

Kisah Perempuan dalam Jaringan Pendukung ISIS di Indonesia

Harakah.id - Perempuan memiliki peran jauh lebih penting dalam proses pembentukan klaster kelompok radikal. Kisah para perempuan berikut akan menunjukkan hal...

Dalam Pertempuran Melawan Virus, Dunia dan Kemanusiaan Tak Lagi [Hanya] Membutuhkan Kepemimpinan

Harakah.id - Virus, yang kemudian dikenal dengan nama Corona, sudah menyebar setahun dan menjangkiti jutaan manusia. Sebuah artikel dari Yuval Noah...

Peran Habib Rizieq dalam Lahirnya Sentimen Anti-Arab di Indonesia

Harakah.id - Habib Rizieq berikut Front Pembela Islam harus dilihat bukan hanya sebagai organisasi yang soliter, tapi juga percikan dari...

TERPOPULER

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Para Ulama dan Habaib yang Berseberangan dengan Habib Rizieq

Harakah.id - Gerakan Habib Rizieq dan FPI-nya mendapat sorotan sejak lama. Para pemimpin Muslim di Indonesia tercatat pernah berseberangan dengannya. Inilah...