Kasus Pelecehan Seksual Tidak Ada Hubungannya Dengan Persoalan “Syar’i” dan “Tidak Syar’inya” Pakaian Perempuan

0
366
Kasus Pelecehan Seksual Tidak Ada Hubungannya Dengan Persoalan

Harakah.id Banyak kelompok yang menengarai, kalau pelecehan seksual terjadi karena perempuan mengumbar aurat dan tidak mampu menjaga busana yang dipakainya. Darul Ifta’ Mesir menegaskan, bahwa argumen tersebut sangat rapuh dan mengatakan kalau pelecehan seksual murni karena nafsu seksual pelaku. Tidak ada hubungannya dengan persoalan busana.

Darul Ifta’ Mesir akhir-akhir ini aktif merespons kasus pelecehan seksual yang makin semarak di negeri Kinanah tersebut. Ini postingan ke sekian kalinya yang saya baca langsung dari fanpage Dar Ifta’. Sebelumnya, Grand Syaikh Ahmad Tayyib memberi respon tegas mengecam peristiwa tersebut.

Kali ini, Darul Ifta’ mengkritik habis kalangan yang mencoba mengait-ngaitkan maraknya kasus pelecehan seksual dengan tipe pakaian wanita Mesir yang dianggap “kurang syar’i”.

Baca Juga: Menikahi Dua Perempuan Sekaligus Diperbolehkan dan Sah Secara Hukum, Dengan Catatan…

Bagi Darul Ifta’, menjadikan pakaian wanita sebagai kambing hitam kasus pelecehan seksual, adalah sebuah bentuk legitimasi yang rapuh. Apologi semacam itu hanya muncul dari orang-orang yang sakit jiwa, dan budak hawa nafsu seksual.

Darul Ifta’ mengingatkan, bahwa syariat Islam berdiri di atas pondasi keseimbangan, atau dalam istilah yang populer akhir-akhir ini di Indonesia, “al-Mubadalah”. Betul bahwa Islam memerintahkan umatnya untuk menutup aurot, tapi jangan sampai lupa, Islam juga memerintahkan untuk ghaddul bashor, menjaga pandangan dalam setiap kondisi dan keadaan.

Sayangnya, titik tekan dari ajaran “menjaga pandangan” jarang disuarakan, karena senyap dengan kampanye “menjulurkan hijab”, yang tak jarang didengungkan dengan pandangan sinis pada mereka yang belum mampu melakukan itu secara sempurna.

Maka Darul Ifta’ tanpa ragu menyebut pelaku pelecehan seksual terhadap wanita yang kekeuh melegitimasi tindakan bejatnya dengan “tameng agama” itu, telah melakukan dua kemungkaran sekaligus. Pertama, kemungkaran tidak menjaga pandangan sebagaimana diperintah agama. Kedua, mencederai privasi orang lain.

Baca Juga: Jarang Disampaikan, Ternyata Inilah Keutamaan Beristri Satu dalam Islam

Dalam sebuah hadis muttafaq alaih disebutkan, “Janganlah kalian duduk di jalanan“, sabda Baginda Nabi.

Kami tak bisa meninggalkan hal itu, sebab disitu tempat kami nongkrong dan ngobrol“, ujar Sahabat.

Jika kalian benar-benar tak bisa meninggalkannya, maka berilah jalanan itu hak-haknya“, sabda Nabi.

Apa yang dimaksud hak jalan?“, tanya sahabat.

Nabi menjawab, “Jaga pandangan, singkirkan marabahaya, jawablah salam, ajaklah pada kebaikan, dan cegahlah tindakan amoral“.