Kata Siapa Ibadah Harus Selalu Disembunyikan? Ada Lho Ibadah yang Sunnah Ditampakkan

0
491
Kata Siapa Ibadah Harus Selalu Disembunyikan? Ada Lho Ibadah yang Sunnah Ditampakkan

Harakah.idIbadah harus selalu disembunyikan agar tidak riya’. Itu mungkin adalag ajaran yang selama ini kita terima. Tapi tahu gak, ada beberapa jenis ibadah yang justru lebih baik kalau ia ditampakkan? Simak penjelasannya…

Saat ini, salah satu kebijaksanaan adalah tidak menyembunyikan ibadah kita. Khususnya di era sekarang, dimana mengkafir-kafirkan sesama muslim sangatlah mudah dilontarkan. Kelompok A menuduh kafir kelompok B, teman sejawatnya dituduh bid’ah dan para tetangga saling menngklaim kafir karena hanya berselisih pemahaman apalagi berbeda organisasi serta aliran.

Memang beribadah ditekankan untuk ikhlas dan tidak riya’, sementara salah wasilah beramal dengan ikhlas adalah sembunyi-sembunyi tanpa diketahui seseorang. begitu banyak dalil-dalil yang menganjurkan untuk ikhlas, baik dari Al-Quran maupun hadis Nabi. Hal inilah, yang membuat pemuda-pemudi saat ini secara berlebihan mendengungkan ibadah secara sembunyi-sembunyi, serta menganggap tabu terhadap amal ibadah yang dilakukan secara terang-terangan.

Padahal, tidak semua ibadah harus dilaksanakan secara sembunyi-sembunyi agar ikhlas. Ada beberapa ibadah yang dianjurkan untuk dilaksanakan secara terang-terangan di depan banyak orang, bahkan terkadang menjadi suatu keharusan untuk menampakkan ibadah itu sesuai dengan situasi dan kondisi tertentu. Perlu diketahui, bahwa ibadah itu ada dua, ada yang primer dan ada pula yang sekunder. Primer dalam artian bahwa ibadah itu bersifat wajib, baik wajib ain ataupun kifayah. Sementara sekunder ibadah yang bersifat sunnah seperti shodaqoh sunnah, memberi, mewakafkan dll.

Ibadah yang sebaiknya disembunyikan adalah ibadah yang bersifat sunnah atau sekunder. Sedangkan yang bersifat wajib seharusnya ditampakkan, seperti membayar zakat dan melaksanakan sholat lebih-lebih di tengah-tengah masyarakat yang gampang mengkafirkan. Kenapa ditampakkan? Karena kalau tidak ditampakkan  akan berakibat fatal. Semisal seseorang selalu sholat fardhu sembunyi-sembunyi tanpa diketahui oleh tetangganya karena khawatir riya’ atau supaya ihklas, maka potensi sekali para tetangga akan mengira ia tidak sholat. Apa lagi aliran yang di anut tetangganya berbeda, dan tetangganya ikut kelompok yang suka mengkafir-kafirkan kelompok lain sebab tidak sepaham sebagaimana dewasa ini karap terjadi. Puncaknya, kalau sudah diklaim tidak sholat maka berkonsekuensi darahnya dianggap halal dan boleh dibunuh. Oleh karena itu, sebaiknya ibadah-ibadah yang seperti ini harus ditampakkan.

Salah satu hikmah disyariatkannya jamaah untuk sholat fardhu supaya sholat fardhu tersebut dilaksankan didepan halayak umum. Dan banyak orang menyaksikan bahwa sholatnya sudah dilaksanakan sehingga tidak menimbulkan praduga-praduga yang macam-macam. Begitu juga dengan zakat, dianjurkan saat membayar ditampakkan atau “dipamerkan” agar tidak diduga enggan membayar zakat. Kalau sudah di kira tidak membayar zakat maka dianggap darhnya halal bahkan wajib diperangi. Bukankah hampir seluruh masa kekakhalifaan Abu Bakar dihabiskan untuk memerangi orang-orang yang membanggkang, orang yang enggan membayar zakat sehingga di masa beliau tidak sempat melakukan ekspedisi keluar jazirah Arab dalam menyebarkan cahaya Islam.

Dalam kitab Fathu al-Muin, karangan Abdul Aziz al-Malibari ditegaskan bahwasanya, “pembayaran zakat fardhu hendaknya di laksakan didepan umum agar banyak yang menyaksikan berdasarkan dalil ijma’”. Bahkan Syeh Abu Bakar Muhammad Syatho Al-Dimyati mengatakan, “Sholat dan zakat fardu memang seharusnya dilakukan secara terang-terangan”. Beliau mengutip pendapatnya imam Nawawi dalam kitab Raudahnya mengatakan;

ويستحب للمالك إظهار إخراج الزكاة – كالصلاة المفروضة – وليراه غيره فيعمل عمله، ولئلا يساء الظن به

“Pemilik harta dianjurkan untuk menampakkan pembayaran zakat – sebagaimana sholat fardhu dilakukan secara terang-terangan – supaya orang lain mengetahuinya, lalu orang yang melihat beramal sebagaimana amalnya, dan juga seseorang yang melihatnya tidak akan berprasangka buruk.” 

Dari kutipan di atas, membuktikan bahwa tidak semua ibadah harus disembunyikan. Karena tidak ada sebagian yang malah justru di anjurkan untuk di “pamerkan”. Denggan demikian, menampakkan ibadah tidak selalu buruk, sebagaimana anggapan sebagian anak muda zaman sekarang.

Ibadah, juga ada yang sunnah ditampakkan bahkan menjadi wajib ditampakkan sekiranya akan menimbulkan fitnah bagi masyarakat sekitar, kalau dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Sementara ibadah-ibadah yang disunnahkan untuk disembunyikan adalah ibadah yang bersifat sunnah seperti sholat sunnah rawatib, memberi hadiah dll. Oleh karena itu, antara sholat fardu dan sholat sunnah berbanding lurus. Sholat fardhu dianjurkan dilaksanakan di depan umum semnetara sholat sunnah ditekankan dikerjakan dalam rumah(sendirian), begitulah Nabi mendidik para sahabatnya.

Al-hasil, memang ikhlas, riya’ dan penyakit hati lainnya itu sangat urgen dalam urusan ibadah. Agamapun memerintahkan untuk dilaksanakan secara sembunyi-sembunyi dari keramaian agar ikhlas, tidak riya’ dll. Ia hanya beribadah untuk tuhan semata. Namun, sekiraya akan menimbulkan fitnah saat dilakukan sembunyi-sembunyi maka seyogyanya ditampakkan. Penting manakah antara ikhlas atau riya’ yang “menimbulalkan fitnah” sehingga menghalalkan darahnya seseorang atau menampakkan ibadahnya supaya keadaan damai sentosa. Bukankan ikhlas tidak melulu harus melaksanakan ibadah secara sembunyi-sembunyi  karena ikhlas perbuatan hati yang perlu dilatih tiap hari dengan penuh ke istiqomahan.