Beranda Keislaman Ibadah Terbongkar! Kedustaan Wahabi yang Menyebut Imam Nawawi Membidahkan Melafazkan Niat Puasa

Terbongkar! Kedustaan Wahabi yang Menyebut Imam Nawawi Membidahkan Melafazkan Niat Puasa

Harakah.idDalam pernyataan imam Nawawi yang dinukil tidak ada sedikitpun redaksi dari beliau yang menyatakan bahwa melafazkan niat itu bidah.

Flyer terlampir isinya kacau. Di paragraf awal membidahkan melafazkan niat puasa, lalu di bawahnya membawakan ucapan imam Nawawi. Seakan pembuatnya ingin mengiring opini kepada pembaca, bahwa imam Nawawi membidahkan perkara ini. Padahal, dalam pernyataan imam Nawawi yang dinukil tidak ada sedikitpun redaksi dari beliau yang menyatakan bahwa melafazkan niat itu bidah.

Beliau hanya menyatakan bahwa “tidak disyaratkan untuk melafazkan niat”. Maksudnya, beliau (termasuk ulama yang lain) tidak mewajibkan melafazkan niat, karena memang faktanya tidak wajib. Yang wajib itu niat di dalam hati, karena niat itu tempatnya di hati. Adapun “melafazkan niat”, bukanlah “niat”, tapi hanya sebuah sarana/wasilah untuk memudahkan memunculkan niat yang ada di dalam hati.

Imam Nawawi tidak menjadikan melafazkan niat puasa sebagai syarat sahnya suatu ibadah, tapi beliau hanya menganjurkannya sebagai sarana untuk mempermudah memunculkan niat yang ada di dalam hati. Ingat ! beliau “menganjurkannya”, bukan membidahkannya. Artinya, jika seorang sudah berniat dalam hati tapi tidak melafazkannya, maka ibadahnya sudah sah. Tapi jika dilafazkan, maka itu lebih baik. Dan pendapat yang menganjurkan melafazkan niat, merupakan pendapat jumhur (mayoritas) ulama dari kalangan Hanafiyyah, Syafi’iyyah dan Hanabilah. Adapun Malikiyyah tidak menganjurkan, tapi juga tidak membidahkan. (Simak : Al-Fiqh Al-Islami, karya Syekh Prof. Wahbah Az-Zuhaili : 3/1571).

Imam Nawawi (w. 676 H) rahimahullah menyatakan :

وَلَكِنْ يُسْتَحَبُّ التَّلَفُّظُ مَعَ الْقَلْبِ

“Akan tetapi dianjurkan untuk melafadzkan (niat puasa) mengiringi hati”. (Majmu’ Syarhul Muhadzdzab : 6/289).

Jadi, membidahkan masalah malafazkan niat puasa dengan membawa-bawa pernyataan imam Nawawi, adalah suatu kesalahan fatal. Ini menunjukkan akan ketidakpahaman tentang fiqh (khususnya masalah niat), lebih-lebih mazhab Syafi’i. Perbuatan semacam ini merupakan bentuk khianat dan kezaliman kepada imam Nawawi. Karena disadari atau tidak, dia telah menisbatkan suatu perkara yang tidak pernah dilontarkan oleh beliau (imam Nawawi). Dan semua ini akan ada pertanggungjawabannya kelak di hadapan Allah.

Saran kami, kalau ingin membidahkan suatu amalan, sandarkan saja kepada diri anda sendiri, jangan bawa-bawa para ulama. Yang kedua, berbicaralah sesuai kapasitas anda. Jangan berbicara dalam perkara yang anda sendiri tidak memiliki ilmu tentangnya. Karena hal itu termasuk dosa yang amat besar di sisi Allah. Allah Ta’ala mengharamkan beberapa perkara, salah satunya : ” …Berbicara (mengada-adakan) terhadap Allah apa yang kamu tidak memiliki ilmu tentangnya.”(QS. Al-A’raf : 33).

Akhiran, selamat menunaikan ibadah puasa. Jangan lupa niat puasa tiap malam karena ini wajib menurut pendapat muktamad dalam mazhab Syafi’i , dan dianjurkan untuk dilafazkan. Dan dianjurkan pula untuk berniat puasa sebulan penuh di awal Ramadhan mengikuti pendapat imam Malik, untuk langkah preventif kalau-kalau lupa tidak niat di malam harinya.

Redaksinya, seperti yang disebutkan oleh Imam Muhammad bin Qasim Al-Ghazzi (w.918 H) rahimahullah :

نَوَيتُ صَوْمَ غَدٍ عَن أدَاء فَرْضِ رَمَضَانَ هذِهِ السَّنةِ لِلّهِ تعالى

“Nawaitu shauma ghadin ‘an ada’i fardhi Ramadhana hadzihis sanati lillahi ta’ala (Aku niat puasa besok dari menunaikan kewajiban puasa Ramadhan di tahun ini karena Alloh Ta’ala).(Fathul Qarib Al-Mujib fi Syarhi Al-Fadzi At-Taqrib : 137).

Tulisan singkat ini hanya sebagai “reaksi” atas adanya “aksi”. Kami tidak akan bereaksi jika tidak ada aksi sebelumnya. Motto kami : “Anda sopan, kami segan. Anda diam, kami tahan.” Terima kasih.

Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.

Sumber: FB Ust. Abdullah Al-Jirani.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Kepemimpinan Militer Laksamana Keumalahayati, “Inong Balee” di Benteng Teluk Pasai

Harakah.id - Keumalahayati menempuh pendidikan non-formalnya seperti mengaji di bale (surau) di kampungnya dengan mempelajari hukum-hukum Islam, sebagai agama yang diyakininya. Beliau...

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

Ini Risalah Lengkap Syaikhul Azhar Mengkritik Keras Keputusan Taliban Melarang Pendidikan Perempuan

Harakah.id - Salah satu yang mengeluarkan kritik adalah Syaikhul Azhar, Syaikh Ahmad Tayeb. Berikut adalah pernyataan lengkap beliau. Berbagai...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...