Beranda Keislaman Akhlak Kehidupan Normal Yang Baru dan “Perluasan” Sikap Istiqamah

Kehidupan Normal Yang Baru dan “Perluasan” Sikap Istiqamah

Harakah.idBeriman dan istiqamahlah. Nasehat tersebut bukan hanya singkat dan padat, namun juga bermanfaat bagi setiap zaman dan setiap tempat. Tidak terkecuali untuk kondisi pandemi seperti saat ini. Memakai masker harus istiqamah.

Ada seorang sahabat Nabi Muhammad SAW yang meminta nasehat kepada Nabi SAW sebagai bekal kehidupannya. Nabi Muhammad SAW memberikan wejangan singkat namun padat berisi. Beliau SAW sabdakan, “Katakanlah: ‘Aamantu billaaHi [aku beriman kepada Allah].’ Kemudian istiqamahlah.” (HR Muslim).

Nasehat tersebut bukan hanya singkat dan padat, namun juga bermanfaat bagi setiap zaman dan setiap tempat. Tidak terkecuali untuk kondisi pandemi seperti saat ini.

Sikap Istiqamah Adalah Kemestian

Alasan utama keberadaan manusia di muka bumi ini adalah untuk beribadah, menyembah dan mengabdi, kepada Allah SWT. Hal ini dinyatakan dalam firman Allah SWT surat Adz Dzariyat (51) ayat 56 yang artinya “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.”

Alasan ini menyebabkan setiap gerak langkah dalam kehidupan manusia seharusnyalah sejalan dengan apa yang digariskan oleh Allah SWT.

Misalnya dalam peribadatan, niat yang ada haruslah hanya karena Allah SWT semata. Allah SWT berfirman dalam surat Al Bayyinah (98) ayat 5 yang artinya “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.

Demikian juga dalam menjalani kehidupan, seharusnyalah manusia menjalani kehidupannya sejalan dengan apa yang telah digariskan Allah SWT dan diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW. Semua itu tertuang dalam ajaran agama Islam. Oleh karenanya di dalam kehidupan, penerapan ajaran agama adalah sesuatu yang menjadi kemestian.

Penerapan ajaran agama dalam kehidupan inlah yang dimaksudkan dengan istiqomah. Hal ini sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam kitabnya Pedoman Ilmu dan Hikmah. Beliau mengatakan “Istiqamah adalah menempuh jalan yang lurus, agama yang benar, tanpa berpaling ke kanan atau ke kiri. Mencakup semua ketaatan, yang dhahir dan yang batin. Juga mencakup semua larangan. Sehingga pesan ini mencakup semua kebaikan.

“Memperluas” Istiqamah Dalam Kehidupan Kenormalan Baru

Ketka kita bicara tentang ajaran agama, seringkali yang terbayang dan terpikirkan oleh kita hanyalah perkara ibadah khsusus seperti shalat, puasa, zakat dan haji. Padahal sesungguhnyalah ajaran agama Islam mencakup seluruh bidang kehidupan manusia, di setiap detik dalam kehidupannya.

Meyakini apa yang benar dan baik

Salah satu hal yang membuat persepsi kita tentang ajaran agama terbatas pada ibadah khusus adalah kebiasaan kita memisahkan “urusan dunia” dengan “urusan agama”. 

Memang benar ada beberapa “urusan dunia” yang belum pernah ada di zaman Nabi Muhammad SAW. Namun bukan berarti tidak ada ajaran agama untuk hal-hal tersebut. Pasti akan selalu ada ada rambu-rambu yang telah diberikan ajaran agama sehingga kita bisa meyakini apa yang benar dan apa yang baik dalam menjalani kehidupan ini. Ini adalah konsekuensi keyakinan kita bahwa Islam adalah agama yang sempurna, sebagaimana Allah SWT firmankan dalam surat Al Maidah (5) ayat 3 yang artinya, “…pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu …”.  

Dan memang inilah hal terpenting, yaitu meyakini “benar dan baik”nya hal-hal yang kita lakukan berdasarkan ukuran-ukuran agama. Bila sudah benar dan baik menurut agama, maka akan selamatlah kehidupan kita di dunia dan di akhirat kelak.

Tetap berada dalam kebenaran dan kebaikan

Salah satu keadaan “baru” bagi kita adalah tatanan kehidupan kenormalan yang baru (new normal).  Tatanan baru ini terbentuk sehubungan dengan wabah penyakit yang melanda dunia.

Tatanan baru ini memang belum dikenal secara khusus dalam ajaran Islam. Oleh karenanya pada beberapa titik terasa ada pertentangan dengan ajaran agama yang biasa kita jalani. Misalnya aturan tentang penjagaan jarak antar individu (physical distancing). Aturan ini bukan hanya dalam pergaulan antar manusia (muamalah) bahkan diterapkan dalam ibadah khusus, misalnya dalam shalat berjamaah. 

Dengan demikian, perlu pemahaman yang lebih lengkap bagi setiap individu kaum Muslimin agar bisa memahami kesesuaian aturan kenormalan yang baru dengan ajaran agama. Pemahaman yang lebih lengkap, akan membawa kepada penemuan bahwa ada nilai-nilai kebenaran dan kebaikan dalam aturan-aturan kenormalan yang baru ini.  Nilai-nilai kebenaran dan kebaikan ini merupakan ajaran agama.

Misalnya, aturan kenormalan baru menghendaki pemakaian masker setiap kali kita keluar rumah guna menjaga diri dan lingkungan kita dari tertular virus. Maka mengenakan masker saat keluar rumah menjadi nilai kebenaran dan kebaikan untuk saat ini. Dan in sesuai dengan ajaran agama.

Dengan demikian, upaya-upaya kita untuk mengikuti aturan kenormalan baru merupakan pengamalan nilai-nilai kebenaran dan kebaikan sesuai ajaran agama Islam. Selanjutnya, yang perlu dilakukan adalah berupaya untuk terus berada dalam koridor aturan kenormalan baru ini. Maka, inilah sikap “istiqamah” dalam tatanan kehidupan kenormalan baru. Kehidupan normal yang baru yang memerlukan “Perluasan” sikap istiqamah.

Semoga Allah SWT menolong kita untuk dapat terus bersikap Istiqamah dalam setiap segi kehidupan kita.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...