Kehidupan Sejati Ada di Akhirat, Memahami Istilah Darul Hayawan dalam Al-Quran

0
760
Kehidupan Sejati Ada di Akhirat, Memahami Istilah Darul Hayawan dalam Al-Quran

Harakah.idKehidupan sejati ada di akhirat, bukan di dunia. Dunia adalah kehidupan yang fana dan penuh tipu daya, Al-Quran sudah mengingatkan berkali-kali agar manusia selalu mempersiapkan diri menghadapi kehidupan akhirat dengan bermodalkan kehidupan di dunia.

Kehidupan sejati ada di akhirat. Segala hal yang ada di dunia dan seisinya ini sejatinya hanyalah sementara saja, bukan untuk selamanya. Semua yang ada dunia ini tiada yang abadi, semua ini hanyalah sebatas senda gurau dan main-main. Sebagaimana yang tertulis di dalam surat Al-Ankabut ayat 64

وَمَا هَٰذِهِ ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَآ إِلَّا لَهْوٌ وَلَعِبٌ

Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main

Baca Juga: Gambaran Kengerian Neraka Jahannam Menurut Al-Quran dan Hadis Nabi

Adapun kehidupan abadi adalah kehidupan yang ada di akhirat kelak, sebagaimana lanjutan dari ayat tadi yang berbunyi

وَإِنَّ الدَّارَ الْآخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ

Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan

Sekilas bagi sebagian orang yang sudah belajar bahasa Arab mungkin akan merasa aneh kenapa kata alhayawan di sini diartikan sebagai sebenarnya kehidupan. Karena pada umumnya kata alhayawan ini dalam bahasa Arab mempunyai arti Hewan, bukan sebenarnya kehidupan. Lalu bagaimana penjelasannya?

Di dalam ilmu fiqh al-lughoh, di dalam bahasa Arab ada yang namanya musytarak lafdzi, atau dalam bahasa Indonesianya disebut sebagai homonimi. Singkatnya musytarak lafdzi ini adalah kata dan ejaan yang sama namun berbeda dalam maknanya. Seperti yang terjadi dalam kata alhayawan dalam ayat di atas, yang mana makna yang dimaksud bukanlah hewan, namun makna yang lain. Lalu sebenarnya makna dari alhayawan dalam ayat ini itu apa?

Kata alhayawan dalam ayat ini berasal dari kata الحياة (alhayah), yang mempunyai arti hidup. Di dalam ilmu morfologi bahasa Arab, ada suatu kaidah yang berbunyi ziyadul harfi tadullu ‘ala ziyadatul ma’na (penambahan huruf dalam kata menunjukan penambahan pula dalam artinya). Oleh karenanya jika alhayah mempunyai arti hidup, maka alhayawan diartikan sebagai kehidupan yang sesungguhnya.

Baca Juga: Benarkah Al-Quran Mengatakan Kalau Matahari Mengelilingi Bumi? Inilah Penjelasan Rumitnya

Selain itu Hayawan ini berwazan fa’alan ( فعلان ) sama sepertiغليان  (mendidih) dan طيران  (terbang). Penambahan alif nun di dalam kedua lafadz ini berfaidah sebagai menunjukan makna bergerak dan berubah-berubah atau berbolak balik (تدل على حركة وتقلب  ). Jika diperhatikan antara gholayan dan thoyaron, keduanya mempunya makna dinamis, keduanya sama-sama aktif, sama-sama bergerak tidak berhenti. Yang pada intinya adalah menunjukan makna dinamis bukan statis. Oleh karena itu hayawan diartikan dengan kehidupan yang sebenarnya, yaitu kehidupan yang dinamis (kehidupan yang selalu hidup/selalu bergerak) dengan tanda kutip tidak ada kematian dalam hayawan. Berbeda dengan hayah yang masih terdapat kematian di dalamnya.

Selain dinamis, penambahan alif dan nun dalam lafadz hayawan juga menunjukan akan makna kebenaran sesuatu (  حقيقة الشيء), dan sedangkan tidak ada tambahan alif dan nun menunjukan akan makna penggambaran sesuatu (صورة الشيء  ). Jika di analogikan dengan seseorang yang sedang bercermin, maka bayangan orang yang ada di cermin itulah hayah (tidak ditambah alif dan nun) yang menunjukan makna penggambaran sesuatu (صورة الشيء ). Dan sosok orang yang bercermin inilah hayawan (ditambah alif dan nun) yang menunjukan makna kebenaran sesuatu (حقيقة الشيء ). Oleh karena itu juga hayawan diartikan sebagai kehidupan yang sebenarnya karena telah ditambah alif dan nun yang berfaidah haqiqotus syai’.

Karena untuk memahami Al Qur’an itu membutuhkan ilmu tafsir, setelah penulis sedikit membahas lafadz hayawan dari segi bahasanya. Penulis akan mengambil beberapa pendapat ahli tafsir mengenai tafsiran dari lafadz hayawan ini. Diantaranya adalah:

Menurut Ath Thobari,

الحيوان حياة لا موت فيها

Hayawan adalah kehidupan yang tiada kematian di dalamnya

Menurut Al Baghawi,

الحياة الدائمة الباقية

Hayawan adalah kehidupan yang tersisa yang selamanya

Menurut Ibnu Katsir,

الحياة الحق التي لا زوال ولا انقضاء بل هي مستمرة أبد الآبد

Hayawan adalah kehidupan yang sebenarnya, yang tiada akhir dan tiada habisnya, melainkan justru berlangsung selama-lamanya

Baca Juga: Jurang Paling Mengerikan di Neraka, Inilah Makna Hawiyah dalam Al-Quran

Dari beberapa pendapat para mufassir tersebut maka dapat diambil kesimpulan, bahwasanya hayawan itu adalah kehidupan yang sebenarnya, kehidupan yang abadi, kehidupan yang tiada akhirnya atau selama-lamanya. Sedangkan hayah adalah kehidupan yang mempunyai akhir atau batas dan tidak abadi (الحياة لا بد لها نهاية ليس من معناها الاستمرار).

Terakhir dari penulis, hanya ingin mengingatkan bahwa lafadz hayah tadi dinisbatkannya ke dunia sedangkan hayawan dinisbatkan ke akhirat. Artinya kehidupan sejati ada di akhirat, bukan dunia. Itu artinya kita juga harus selalu ingat bahwa kehidupan dunia ini hanya sementara, sedangkan kehidupan yang sebenarnya itu nanti kelak di akhirat sana. Semoga kita semua bukan termasuk dari golongan orang-orang yang lalai akan kehidupan di akhirat karena terbuai kehidupan dunia.