Kejujuran Seorang Saudagar Permata, Tak Mau Jual dengan Harga Yang Melebihi Standar

0
162

Harakah.idIni adalah kisah seorang Yunus bin Ubaid. Pedagang yang saleh di masa tabi’in. Ia pedagang jujur dan tak mau jual dengan harga yang melebihi standar.

Dikisahkan, pada zaman tabi‘in sebagian masyarakat kala itu perkembangan ekonominya sudah maju mulai berdagang pertanian hingga berdagang perhiasan. Yunus bin Ubaid  salah satu pedagang yang hidup di zaman tersebut. Yunus disebut bekerja berjualan perhiasan permata di sebuah kedai, dan kedai tersebut biasa digunakan Yunus sebagai tempat berjualan perhiasan permata yang ukuran kedainya. tidak begitu besar. Kedai itu menjual sejumlah jenis perhiasan dari perhiasan emas hingga permata, meski jenis perhiasan sedikit  cukup memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Di tengah kesibukannya berdagang, tidak pernah meninggalkan shalat lima waktu dan selalu shalat tepat waktu. Sebagaimana dilakukan saudagar Yunus kesehariannya biasa bekerja sebagai penjual perhiasan permata. Saudagar Yunus dikisahkan, telah lama bekerja sebagai penjual perhiasan, meski Ia sibuk selalu menyempatkan waktu untuk dekat dengan Allah SWT. Itulah kebiasaan yang dilakukan saudagar perhiasan di zaman Tabiin bernama Yunus bin Ubaid. 

Begitu dekatnya pada Allah SWT, karena terlihat  sesaat terdengar suara adzan Yunus segera beranjak dari kedainya menuju masjid untuk beribadah sholat. Ia bergegas memanggil saudaranya yang duduk tidak jauh dari kedainya untuk menjaga kedainya, karena Ia hendak keluar menuaikan ibadah sholat. Setelah dipanggil oleh Yunus saudaranya masuk kedai perhiasan milik Yunus menjalankan tugasnya sebagai penjual permata. 

Saat bertugas menggantikan Yunus berjualan perhiasan, saudaranya Yunus tersebut  berusaha bekerja dengan tenang dan amanah. Hal ini teruji ketika sesaat kemudian, datanglah seorang badwi yang hendak membeli perhiasan di kedai itu. Dari sinilah terjadi jual beli antara badwi dan saudara Yunus. Badwi memilih satu perhiasan yang disukainya dan dibeli seharga 4 ratus dirham, tetapi saudara Yunus menunjukan suatu perhiasan sebetulnya harganya dua ratus dirham.

Perhiasan tersebut dibeli oleh badwi tanpa mengurangkan harga. Seusai membayar perhiasan permata, akhirnya pergi. Di tengah jalan, Yunus bertemu badwi yang membeli perhiasan permata dari kedai miliknya. Yunus mengenali betul perhiasan itu dari kedainya. Kemudian Yunus bertanya kepada badwi penuh heran, “Berapa harga barang ini, kamu beli??” Badwi menjawab, “Empat ratus dirham!” 

Mendengar jawaban dari badwi membuatnya terkejut, “Harga perhiasan itu sebenarnya murah cuma dua ratus dirham, mari ke kedai saya supaya saya dapat kembalikan uang selebihnya kepada saudara.” Kata saudagar Yunus lagi.

Apa yang terjadi, Badwi justru menolaknya, dengan mengatakan, “Biarlah Ia tidak perlu. Aku telah merasa senang dan beruntung dengan harga yang 4 ratus dirham itu, sebab di kampungku harga barang ini paling murah lima ratus dirham.”

Penjelasan dari badwi membuat saudagar Yunus tidak mau melepaskan badwi itu pergi. Didesaknya terus agar badwi kembali ke kedainya, dan akan dikembalikan uang selebihnya kepada badwi, tetapi badwi tetap menolaknya terus pergi meninggalkan saudagar Yunus. Kepergian badwi  yang menolak tawaran untuk kembali ke kedainya membuatnya penasaran 

Segera Ia bergegas menuju ke kedainya menemui saudaranya yang sedang menggantikannya menjaga kedai perhiasan miliknya. Kemudian berkatalah saudagar Yunus kepada saudaranya dengan nada marah, “Apakah kamu tidak merasa malu dan takut kepada Allah, atas perbuatanmu menjual barang tadi dengan dua kali ganda?” 

Mendengar pertanyaan Yunus dengan marah Saudaranya pun menjawabnya, “Tetapi dia sendiri yang mau membelinya dengan harga empat ratus dirham.” Saudaranya berkata jujur apa adanya dan mempertahankan bahwa dia di pihak yang benar.

Mendengar penjelasan saudaranya itu saudagar Yunus kemudian berkata, “Ya, tetapi di atas belakang kita terpikul satu amanah untuk memperlakukan saudara kita seperti memperlakukan  terhadap diri kita sendiri.”

Dari kisah ini dapat diambil hikmah dan teladan. Ketika berdagang dan berbisnis penting bersikap  jujur dan amanah di jalan mencari rezeki yang halal, serta berkah. kekhawatiran terjatuh dalam penipuan terkadang seseorang menghindari membuat harga yang melebihi standar. Jika bersikap jujur pekerjaan apapun membawa berkah dan tidak ada penipuan dalam perdagangan. 

Hal ini sebagaimana sabda Rasullah SAW, “Sesungguhnya Allah SWT ini penetap harga, yang menahan, yang melepas dan memberi rezeki dan sesungguhnya aku harap bertemu Allah di dalam keadaan tidak seorang pun dari kamu menuntut aku lantaran menzalimi di jiwa atau diharga.” (Diriwayatkan 5 imam, kecuali Imam Nasa’i)