Beranda Gerakan Kekuasaan adalah Amanah yang Punya Konsekuensi; Furu' Pertama Fikih Siyasah

Kekuasaan adalah Amanah yang Punya Konsekuensi; Furu’ Pertama Fikih Siyasah

Artikel ini merupakan catatan atas kitab “at-Tibrul Masbuk fi Nashihatil Muluk” karya Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali. Selain “Al-Ahkamus Shulthoniyyah” karya al-Mawardi, kitab al-Ghazali tersebut adalah salah satu kitab rujukan bagi konsep fiqih siyasah di Nusantara [2]

____________________________________________

Dalam pondasi keadilan yang pertama, al-Ghazali menerangkan sekaligus menegaskan kepada sang sultan bahwa kepemimpinan dan kekuasaan yang dipegangnya kini merupakan beban yang memiliki konsekuensi yang sangat berat. Ia bukanlah kemewahan atau baju kebesaran yang layak dibangga-banggakan. Untuk menumbuhkan keadilan, seorang sultan pertama-tama harus membangun kesadarannya bahwa kepemimpinan adalah amanah yang harus dipikul dengan benar.

Al-Ghazali kemudian menyuguhkan ayat al-Qur’an dan beberapa hadis untuk mendukung argumentasinya; bahwa Nabi, melalui sabda-sabdanya, beberapa kali selalu mengulang dan menegaskan bahwa problem kepemimpinan adalah problem krusial yang membawa si pemangkunya pada dua kemungkinan sekaligus; diganjar pahala yang sangat besar, atau dijebloskan ke dalam neraka yang paling dalam.

Al-Ghazali juga menuturkan sebuah kisah; Suatu hari Nabi Dawud As. keluar dari istana dan berkeliling sambil menutupi wajahnya. Beliau hendak melakukan survey kecil-kecilan terkait pemerintahan yang selama ini dipimpinnya. Setiap orang yang beliau temui selalu beliau tanyakan, “bagaimana pendapatmu mengenai kepemimpinan si Dawud?” lalu Malaikat Jibril turun dalam wujud manusia dan sengaja mempertemukan dirinya kepada Nabi Dawud.

Ketika ditanya pertanyaan serupa, Malaikat Jibril menjawab, “beliau adalah hamba yang baik, hanya saja ia masih makan dari uang baitul mal, bukan dari uang hasil kerjanya sendiri!” Nabi Dawud pun kembali ke istana dan menangis di mihrab peribadatannya. Dengan tangis sesegukan beliau berdoa, “Wahai Tuhanku, anugerahilah aku sebuah keahlian yang bisa aku jadikan profesi dan menghasilkan uang untuk aku makan!” Allah swt. kemudian menganugerahi Nabi Dawud kemampuan untuk menempa baju zirah.

Baca Juga: 10 Nilai dan Pondasi Konseptual Fikih Siyasah

Al-Ghazali juga menyuguhkan kisah-kisah seputar kepemimpinan Khalifah Umar bin Khattab untuk menunjukkan kepada sang Sultan bagaimana sebenarnya kekuasaan lebih tampak sebagai sebuah beban dibandingkan sebuah prestasi atau rezeki yang mendatangka kebahagiaan. Maka sudah selayaknya bagi seorang sultan untuk selalu khawatir dan menjaga diri dari kekuasaan yang ada di pangkuannya. Kekhawatiran seorang pemimpin akan anasir-anasir negatif kekuasaan itulah yang kemungkinan besar akan melahirkan sifat amanah politis yang menjaga orientasi kepemimpinannya dari sifat tamak dan ambisi untuk memperkaya diri sendiri.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...