Beranda Keislaman Hikmah Kelakar Hoja Penuh Hikmah Ini Mengajarkanmu Tentang Perbedaan Sudut Pandang

Kelakar Hoja Penuh Hikmah Ini Mengajarkanmu Tentang Perbedaan Sudut Pandang

Harakah.idKelakar hoja ini akan mengajarkanmu tentang perbedaan sudut pandang, khususnya dalam masalah keagamaan yang penuh dengan khilafiyah. Kamu cukup tahu bahwa terkadang ada dua sudut pandang berbeda dan sama-sama benar.

Nasruddin Hoja merupakan figur legendaris, seorang sufi bijak di mana setiap perkataannya mengundang gelak tawa. Ia menawarkan jalan kearifan yang jenaka namun relevan dengan kehidupan bermasyarakat. Hoja lahir di desa Khortu, Sivri Hisar, Anatolia Tengah, Turki pada tahun 776 H/1372 M dan wafat di kota Ak-Shehir, provinsi Konya pada tahun 838 H/1432 H. 

Memasuki abad ke-16, popularitas Hoja kian melejit. Figurnya dinilai membawa angin segar bagi masyarakat yang kala itu tengah jemu dihadapkan dengan beragam hal yang rigid dan formal. Anekdot yang digaungkan Hoja bukan sekedar humor atau kelakar belaka, namun menyimpan seabrek pesan moral-spiritual yang mencerahkan. Karenanya, tidak jarang sosok Nasruddin Hoja menjadi objek perbincangan dalam sebuah pengajian –terutama pada halaqah-halaqah sufi.

Diwartakan pada suatu hari Hoja tengah duduk di emperan sungai, nampak dari arah seberang seseorang melambaikan tangan sembari berteriak kepadanya: “Hei! Bagaimana caranya agar aku dapat sampai ke seberang?” Hoja menjawab dengan berteriak pula: “Kau sudah sampai seberang!” 

Anekdot di atas amat singkat dan sederhana. Namun, secara tidak langsung, cerita tersebut berisikan pesan-pesan mendalam –terutama bagi pembaca yang jeli akan hal itu. Pressure point-nya terletak pada Hoja yang berada di sisi sungai yang satu, dan seseorang yang berdiri di sisi sungai yang lain. Seseorang itu melihat Hoja sebagai figur yang duduk di seberangnya, dan Hoja pun demikian.

Kasus serupa kerap pula terjadi di sekitar kita, terhadap sebuah bangunan, katakanlah toko baju, pengendara yang satu dengan yang lain sudah barang tentu memiliki tilikan yang berbeda. Pelintas jalur kiri meyakini jika posisi bangunan tersebut berada di sisi kirinya, sedangkan pelintas dari arah berlawanan meyakini sebaliknya. Lantas, pertanyaannya, siapakah yang paling akurat? Jawabannya ialah kedua pelintas sama benarnya, tergantung dari mana mereka bertolak.

Adapaun kasus lain yang cukup rumit dan sensitif yakni bertalian dengan problem keagamaan –dalam konteks ini difokuskan pada Islam. Tiap-tiap cluster berlomba-lomba mengedepankan wajah Islam yang damai dan berkeadilan. Para fuqaha (Ahli hukum) memahami Islam sebagai agama yang berorientasikan hukum (Law-oriented religion), sehingga untuk sampai pada kedamaian dan keadilan kiranya wajib untuk mengaplikasikan nilai-nilai hukum yang tertanam dalam al-Qur’an dan hadis Nabi secara ajek. Sedangkan para sufi (Ahli kebatinan) melihat Islam sebagai agama yang orientasinya adala cinta (Love-oriented religion). Bagi mereka, kedamaian dan keadilan dapat tercipta apabila benih-benih cinta telah tersemai ke dunia, dan informasi tersebut secara ekplisit dijelaskan baik oleh al-Qur’an ataupun hadis Nabi. 

Sering kali keduanya terlibat dalam pertikaian untuk memperebutkan titel Islam yang rahmatan lil ‘alamiin. Padahal, bila dicermati, pemikiran mereka bertolak dari sumber yang satu, yakni al-Qur’an sebagai kalam ilahi. Bukankah hukuman hadir sebagai bentuk cinta dari yang Maha Kasih agar para hamba-Nya tidak berulang melakukan kesalahan yang sama. Bukankah Islam cinta ialah Islam yang enggan melihat para pemeluknya terjerembab dalam kepulan asap hitam yang menyesakkan. Oleh karenanya, diberlakukan teguran –untuk tidak mengatakannya hukuman- agar mereka sadar, dan mampu memungut secarik pelajaran. Antara fuqaha dan sufi memiliki kebenaran dalam porsinya masing-masing. Keduanya memuat kebenaran ilahiah, tergantung dari sudut mana kita meniliknya. 

Berdasar pada kisah Nasruddin Hoja di atas, hikmah yang dapat diambil yakni bahwasannya dalam hidup, hal yang diperlukan untuk meminimalisir ketegangan yang terjadi antar dua buah pemikiran –bahkan lebih- dalam menilai satu persoalan ialah memperkaya perspektif. Tentunya, dalam rangka memperkaya perspektif, upaya untuk memperluas pengetahuan merupakan kunci utama. Di samping itu, penggunaan akal dan pengalaman yang lebih adalah elemen yang tidak terelakkan –kesemuanya saling terintegrasi. Sudut pandang yang variatif selain menghasilkan kesimpulan yang beragam, dapat pula menghantarkan pada muara yang sama, yakni kebenaran haqiqi.

Seketika penulis teringat akan maqolah dari Jalaluddin Rumi. Mistikus-penyair asal Persia tersebut berujar: Ketika di langit, ilmu Tuhan layaknya sebuah kaca besar. Tatkala jatuh ke dunia, ia pecah menjadi bagian-bagian kecil yang terserak memenuhi seantero bumi. Dan tiap-tiap anak cucu Adam setidaknya memegang satu serpihan dari kaca tersebut.

Artikel kiriman dari Candra Irwansyah. Seorang pria yang sempat berkeinginan menjadi pesepakbola. Instagram: @cndrairwnsyh

REKOMENDASI

Surah Yang Dianjurkan dan Disunnahkan Dibaca Dalam Pelaksanaan Salat Idul Fitri

Harakah.id - Dalam pelaksanaan salat idul fitri, ada surah-surah yang sunnah dan dianjurkan untuk dibaca. Surah apa saja? Simak artikel di...

Mendamaikan [Kembali] Hisab dan Rukyat, Dua Metode Penentuan Awal-Akhir Bulan Dalam Penanggalan Hijriyah

Harakah.id - Hisab dan Rukyat adalah dua metode yang masyhur digunakan untuk menentukan awal dan akhir dalam penanggalan Hijriyah. Termasuk dalam...

Secercah Kisah Imam al-Bukhari dan Bapaknya; Catatan Singkat Sorogan Buku “Commentary of Forty Hadiths...

Harakah.id - Imam al-Bukhari adalah salah satu ulama yang kontribusinya tidak lagi bisa kita pertanyakan. Kitabnya, Sahih al-Bukhari, adalah kitab sahih...

Apakah Boleh Membayar Zakat Fitrah Menggunakan Uang Pinjaman Dari Rentenir?

Harakah.id - Apakah boleh membayar zakat dengan uang pinjaman dari rentenir, maka sebenarnya tak perlu ditanyakan, karena dia bukan tergolong orang...

TERPOPULER

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...