Beranda Editorial Kemandirian Sebagai Strategi Pesantren Menghadapi Kelaziman Baru

Kemandirian Sebagai Strategi Pesantren Menghadapi Kelaziman Baru

Harakah.idKebijakan new normal (kelaziman baru) yang sedang diagendakan pemerintah hampir tidak memiliki kebijakan turunan yang menyasar pondok pesantren

Pesantren telah bertahan selama ratusan tahun di bumi nusantara. Menjadi lembaga pendidikan keagamaan yang siap menghadapi berbagai macam tantangan.

Selama ratusan tahun pesantren menjadi basis perlawanan terhadap kolonialisme. Selama itu pula, ketika pemerintah kolonial membangun sistem pendidikannya sendiri, pesantren tidak diakui sebagai bagian dari pendidikan di negara kolonial. Tetapi, sejauh itu, pesantren mampu bertahan dan melewati masa kolonialisme.

Kemerdekaan bangsa Indonesia dari kolonialisme bukan berarti akhir perjuangan pesantren. Dinamika sosial, politik dan ekonomi nasional masih menjadi jalan panjang yang membuat pesantren masih harus menapaki jalan kemandirian. Negara yang diperjuangkan kaum pesantren sejak era kemerdekaan hampir sama sikapnya dengan negara kolonial yang pernah dilawannya.
Belakangan negara secara bertahap mengakui eksistensi pesantren.

Berbagai kebijakan yang bersifat afirmasi (pengakuan) mulai dikeluarkan. Kader-kader pesantren aktif memasuki dunia birokrasi dalam sejumlah lembaga negara seperti kementerian. Kebijakan negara tentang pesantren selama bertahun-tahun dibebankan kepada Kementerian Agama. Direktorat tertentu mulai dibentuk untuk menangani persoalan kepesantrenan.

Pra dan pasca Pemilu 2019, relasi negara dan pesantren semakin diperkuat. Undang-undang tentang pesantren diselesaikan parlemen. Salah satu kontestan pemilihan presiden melibatkan kiai, simbol kultural pesantren, sebagai salah satu kandidatnya. Kemenangan Joko Widodo (Jokowi) bersama KH. Ma’ruf Amin digadang dapat semakin memperkuat posisi pesantren dalam struktur kebijakan negara. Salah satu staff khusus Presiden Jokowi bahkan menggarap isu kepesantrenan.

Munculnya berbagai narasi tentang pesantren dalam struktur narasi perpolitikan nasional, bukan berarti membuat pesantren berada dalam posisi yang semakin kuat. Hal ini dapat dilihat dalam kebijakan new normal yang sedang diagendakan pemerintah yang hampir tidak memiliki kebijakan turunan yang menyasar pondok pesantren. Kementerian agama yang memiliki mandat umum mengelola dan memberikan layanan kepada pondok pesantren hampir tak ada suaranya.

Di sini, ketika lembaga pendidikan non-pesantren yang berada di bawah naungan kementerian pendidikan nasional mendapatkan perhatian sedemikian rupa, pondok pesantren hampir tidak mendapatkannya. Pemerintah seperti berharap agar pesantren mencari sendiri cara untuk bertahan di tengah situasi pandemi.

Tentu pesantren akan melakukannya. Mencari cara sendiri menghadapi tantangan. Sebagaimana dibuktikan selama ratusan tahun menghadapi era penjajahan dan puluhan tahun hidup di bawah rezim otoriter yang abai agama. Pesantren akan bertahan melalui inovasi kultural dan kemandirian kolektif bersama umat yang menjadi jejaringnya.

Kelaziman baru (new normal) yang diinginkan pemerintah adalah kembalinya kehidupan sosial, politik, ekonomi, dan pendidikan dengan protokol kesehatan yang ketat mengingat kita masih dalam situasi pandemi. Lembaga pendidikan umum sudah akan memulai kembali kegiatan belajar-mengajar di sekolah. Tetapi, kalangan pesantren masih gamang bagaimana mereka akan melaksanakan kembali kegiatan pembelajarannya.

Di sinilah mulai marak berbagai pondok pesantren mengadakan diskusi publik untuk menjaring ide tentang model pendidikan keagamaan pesantren di era kelaziman baru. Pesantren Nurul Jadid di Probolinggo Jawa Timur misalnya, baru-baru ini mengadakan diskusi publik dengan tema “Menyusun Protokol Covid-19 Untuk PP Nurul Jadid. Ini merupakan contoh bahwa pesantren tidak akan kehilangan strategi menghadapi tantangan zaman. Pesantren-pesantren lain tentu akan segera menyusul. Artinya, tanpa pemerintah pun, pesantren akan dapat bertahan menghadapi dampak pandemi.



[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...